Monday, 31 July 2017

Bangsa Ashabul Kahfi?

Kisah Ashabul Kahfi bukanlah kisah yang asing di telinga umat Islam. Kisah ini termasuk kisah yang populer dan beberapa orang mungkin sudah mendengarnya sejak masa kanak-kanak. Bahkan seharusnya kisah ini sudah sangat dihafal oleh umat Islam hingga hikmah-hikmahnya, karena disunnahkan untuk membacanya setiap Jumat. Dan kisah Ashabul Kahfi ini terletak di tempat yang sangat strategis, yakni di awal-awal surah al-Kahfi.
            Kisah itu begitu menggugah, karena walau bagaimanapun, mereka lari bukan sekadar lari. Tetapi lari dari kejaran tentara raja zalim yang memaksa mereka menggadaikan keimanan mereka. Jumlah mereka hanya enam orang, kemudian di jalan bertemu dengan orang yang satu ideologi dan satu tujuan, jadilah jumlah mereka menjadi tujuh ditambah dengan satu anjing. Apa yang mereka lakukan memang benar-benar hal yang sudah di ambang putus asa. Mereka lari, kemudian masuk ke gua. Padahal, secara logika, mudah saja balatentara itu menemukan mereka di dalam gua. Namun, pada kenyataannya mereka selamat dari kejaran balatentara tersebut. Mereka tertidur lelap di dalam gua, dibersamai dengan seekor anjing. Setelah 309 tahun, mereka terbangun, merasa baru melewatkan sehari atau setengah hari. Tetapi apa yang mereka dapatkan ketika salah satunya keluar gua sangat mengagetkan. Ternyata zaman dan kondisinya sudah berubah total. Raja yang dulu bernafsu sekali menzalimi mereka, kini sudah berganti dengan raja yang adil dan beriman.
            Saya membayangkan, bangsa di negeri yang kita cintai ini, di zaman sekarang adalah bangsa Ashabul Kahfi. Tetapi bukan tindakan revolusionernya yang ingin saya sorot secara tajam, melainkan tidurnya yang panjang sekali. Jumat lalu, tepat pada tanggal 28 Juli 2017, saya shalat Jumat di Masjid Jogokariyan. Memang disengaja shalat di sana, karena setelah shalat Jumat akan diadakan tabligh akbar untuk menggalang dukungan pembebasan al-Aqsha. Tanpa saya nyana sebelumnya, ternyata khatib Jumat waktu itu adalah Ustadz Irfan S. Awwas, seorang mubaligh yang terkenal keras dan tegas dalam menyampaikan kebenaran agama Islam. Pada saat itu saya senang sekali, sebab selain isi khutbah yang pasti berbobot, juga penyampaiannya yang berapi-api tentu saja membuat saya jauh dari hantu Jumatan yang selalu hinggap di mata saya. Hantu itu lebih dikenal dengan sebutan ‘ngantuk’.
            Singkatnya, Ustadz Irfan menyampaikan tentang kesempurnaan Islam sekaligus menyinggung masalah keumatan, terutama masalah al-Aqsha yang hingga saat ini masih diblokir oleh Israel. Berkali-kali Ustadz Irfan berkata “Umat Islam ini masih tidur panjang”, yang walau kalimat seperti itu sudah akrab sekali di telinga saya, tetapi entah mengapa pikiran saya langsung terbang kepada kisah Ashabul Kahfi. Padahal jelas berbeda antara tidurnya Ashabul Kahfi dengan ‘tidur’nya umat Islam saat ini. Tidurnya Ashabul Kahfi jelas tidur yang amat berkualitas, karena tidurnya memang ditakdirkan Allah untuk menjauh dari rezim zalim. Tapi tidurnya umat Islam di negeri ini? Ashabul Kahfi minoritas, sedangkan bangsa ini mayoritas umat Islam. Ashabul Kahfi tak kuasa melawan rezim, tetapi umat sekarang?
            Jadi, sebetulnya tulisan ini memang sengaja saya buat singkat. Kita jelas menang jumlah, kita jelas masih memiliki ‘alim ‘ulama, kita jelas punya banyak saudara yang sejatinya mampu membantu. Namun, apa yang membuat kita tidak bisa bergerak bangkit, melawan, dan memenangkan pertempuran. Saya teringat dengan tulisan-tulisan Syaikh Syakib Arsalan yang kemudian dibukukan berjudul Limaadzaa Ta’akhkharal Muslimuun wa Limaadzaa Taqaddama Ghayruhum. Tulisan itu secara jelas mengungkapkan mengapa umat Islam tertinggal dari umat lainnya, dan sangat relevan tulisan-tulisan itu dengan kondisi saat ini. Tetapi masalahnya, tulisan itu dibuat hampir seabad yang lalu. Saat teknologi tidak secanggih dan semelenakan seperti sekarang.

            Berapa lama lagi kita masih akan tidur? Apakah juga selama dan selelap Ashabul Kahfi yang mencapai tiga abad lamanya. Saya yakin tidak, tetapi sampai kapan?

Tuesday, 27 June 2017

Setelah Menang, Lalu Apa?

Pernah menonton sepak bola? Apa yang terjadi setelah seorang pemain sepak bola mencetak gol? Atau pernahkah menonton Moto GP, Formula 1, dan sejenisnya? Apa yang terjadi ketika seorang pebalap berhasil naik podium setelah ajang balap usai? Atau pernahkah membaca sejarah tentang kisah-kisah perang zaman dahulu? Apa yang terjadi ketika sebuah pasukan –kerajaan Mongol misalnya- meraih kemenangan atas pasukan lain?
            Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas –sekalipun Anda belum pernah menonton atau membacanya- relatif senada. Bergembira, berpesta-pora, bahkan ada yang mengekspresikan kegembiraannya secara berlebihan hingga mencelakai diri sendiri. Kemenangan adalah sebuah keadaan dimana kita memperoleh hasil yang lebih baik daripada yang diperoleh orang lain atau pesaing kita. Oleh sebab itu, banyak sekali orang yang terlena ketika meraih kemenangan.
            Mental adalah satu elemen terpenting dalam menjalani persaingan. Seorang yang bermental pemenang bukanlah mereka yang selalu meraih kemenangan di setiap perombaan, tetapi seorang bermental pemenang adalah mereka yang siap menerima apapun hasilnya, kalah maupun menang dalam setiap persaingan yang dilakoninya. Maka jangan heran bila kita melihat mereka yang mengalami kekalahan langsung meluap emosinya dengan melampiaskannya kepada lingkungan sekitarnya. Bahkan hingga melukai orang lain. Rasanya telah sangat akrab di negeri kita, ketika ada sekelopok suporter tim sepakbola yang mengalami kekalahan lantas membuat kerusuhan setelah pertandingan baik di dalam stadion maupun di luar stadion. Ada pula calon anggota dewan yang mengalami stres dan sakit jiwa tatkala mendapati dirinya gagal menjadi anggota dewan, padahal sudah jor-joran mengeluarkan dana untuk kampanye. Ada juga yang lebih parah, siswa sebuah sekolah diberitakan bunuh diri karena tidak lulus Ujian Nasional! Begitulah yang terjadi apabila mereka tidak memiliki mental pemenang dalam jiwanya. Na’udzubillah min dzalik.
            Pasukan perang Mongol berpesta pora setiap selesai mengalami kemenangan. Sejak zaman keemasan yang dimotori oleh Genghis Khan, hingga kepemimpinan Raja Mongol yang muslim semodel Timur Leng sekalipun, tetap saja budaya itu tidak berubah. Kendatipun hal seperti ini menjadi hal lumrah bagi siapapun yang menang, namun Islam mengajarkan kerendahhatian bagi mereka yang menang.
            Tidak banyak yang tahu bahwasanya Allah mengajarkan hamba-Nya tentang adab menyikapi kemenangan yang diraih. Dalam surah An-Nashr, Allah mengajarkan para hamba-Nya untuk senatiasa mawas diri, sekalipun kita mengalami kemenangan yang besar. Meskipun mayoritas umat Islam sudah menghapal dengan baik surah Madaniyyah (turun setelah Rasulullah hijrah ke Madinah) ini, namun nyatanya mayoritas pula yang tidak memahami makna dari surah yang hanya berisi tiga ayat ini.
            Surah An-Nashr adalah surah terakhir dalam Al-Qur’an yang turun secara keseluruhan. Dari ‘Ubaidillah bin ‘Abdillah bin ‘Utbah, ia berkata: Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu 'anhuma bertanya kepadaku: “Engkau tahu surat terakhir dari al Qur`an yang turun secara keseluruhan?" Ia menjawab: “Ya, idza ja`a nashrullahi wal fath”. Beliau menjawab: “Engkau benar”. (HR. Muslim).
            Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama, tentang keadaan saat diturunkannya surah ini, apakah turun sebelum atau setelah terjadinya peristiwa fathu makkah (penaklukkan Kota Mekkah). Terlepas dari itu semua, kita dapat membuat sebuah kesimpulan, bahwa surah An-Nashr diturunkan berkaitan dengan peristiwa penaklukkan Kota Mekkah. Yaitu pertolongan Allah kepada kaum muslimin untuk merebut dan mengislamkan Kota Mekkah dari tangan kaum kafir Quraisy. Ibnu Katsir dalam tafsirnya pun menyatakan bahwa kata fathu pada akhir ayat pertama merujuk kepada peristiwa Fathu Makkah.
            Serangkaian firman Allah dalam surah ini memaparkan banyak makna. Di antaranya adalah banyaknya nikmat serta pertolongan yang Allah turunkan kepada para hamba-Nya, wajibnya seorang hamba bersyukur manakala meraih kemenangan dan kebahagiaan, dan kewajiban bagi setiap muslim untuk senantiasa beristighfar (meminta ampun) dan bertobat. Hari ini hingga beberapa hari ke depan masih kental dengan nuansa Idul Fitri, yang bagi sebagian orang benar-benar dimaknai sebagai hari kemenangan, tetapi bagi sebagian orang yang hanya sebatas diucap di lisan saja.
            Betapa banyak yang betul-betul menang setelah Ramadhan mereka yang tak disia-siakan, betapa banyak yang betul-betul menang atas berkualitasnya tadarus mereka, betapa banyak yang betul-betul menang atas berkualitasnya waktu yang mereka bagi-bagi untuk keluarga, untuk ibadah, hingga untuk memenuhi hak atas saudaranya, bahkan betapa banyak yang betul-betul menang dalam mudik-mudik mereka, dalam bermedsos ria mereka, dalam senda gurau mereka. Sebaliknya, betapa banyak yang menyia-nyiakan Ramadhan mereka, betapa banyak yang kejar target tilawah namun hasilnya hanya khatam tanpa ada pemahaman dan kesadaran yang baru, betapa banyak yang mudik, bermedsos ria, dan senda gurau mereka justru menghasilkan maksiat yang lebih besar, alih-alih ibadah yang lebih besar.
            Fasabbih, maka bertasbihlah kepada Allah di hari kemenangan kita. Bertasbih di waktu pagi dan petang. Bertasbih untuk menyucikan-Nya dari penuhanan kita kepada Ramadhan, penuhanan kita kepada selain-Nya. Bertasbih untuk mengingat kesucian-Nya yang telah memberikan kita kemuliaan dan kesucian Ramadhan, hingga kita diberikan kesempatan menapaki garis finish di ‘Idul Fitri.
            Bihamdi rabbika, dengan pujian kepada-Nya, kita bersyukur atas kesempatan melipatgandakan amalan kita di Bulan Ramadhan. Kita bersyukur atas ampunan-Nya atas dosa-dosa kecil kita yang telah lampau. Kita bersyukur atas dibelenggunya setan-setan dan neraka yang ditutup hingga kita tidak merasakan godaan dan hawa panasnya neraka. Kita bersyukur dengan adanya momen Ramadhan dan Syawal, bisa kembali berkumpul bersama keluarga dan kerabat, yang mungkin saja di bulan-bulan yang lain tidak sempat bersemuka sama sekali.
            Wastaghfirhu, maka senantiasalah meminta ampunan kepada-Nya setelah mendapat kemenangan. Tiada satupun pihak yang dapat memberikan kita kemenangan selain Dia. Tiada satupun kemenangan yang mendatangkan berkah kecuali karunia dari-Nya. Sebab meminta ampun adalah tindakan tahu diri bagi kita yang senantiasa bermaksiat, namun masih selalu diberikan kebahagiaan oleh-Nya. Sebab meminta ampun adalah perbuatan terpuji yang membuat kita tidak melampaui batas dalam merayakan kemenangan. Sebab meminta ampun adalah perbuatan para nabi, sekalipun mereka sudah memegang jaminan ampunan dari Rabb yang mengutus mereka.

            Setelah kemenangan yang kita terima, marilah kita menang dalam mudik-mudik kita, kemenangan dalam swafoto-swafoto kita, kemenangan dalam sungkem-sungkem kita, kemenangan dalam kenikmatan ketupat serta opor-opor kita, dengan iringan tasbih, tahmid, dan istighfar kita.

Sunday, 14 May 2017

Katakanlah Tidak Tahu!

Jika saya bertanya, lebih baik mana antara menjadi orang yang tidak tahu ataukah orang yang sok tahu? Pasti jawaban normatifnya lebih baik tidak tahu. Karena jika kita menjadi orang yang sok tahu maka dampaknya akan menjerumuskan orang ke arah yang salah dan bla bla bla bla. Namun, pada kenyataan di lapangan, tidak jarang yang terjadi justru berlawanan dengan pertanyaan di atas. Tidak percaya?
            Misalnya begini, Anda sedang jatuh hati pada seseorang. Pastinya Anda ingin sekali terlihat baik dan sempurna di matanya, agar perasaan jatuh hati Anda tidak bertepuk sebelah tangan. Pada suatu hari, orang yang hati Anda jatuh padanya bertanya sesuatu kepada Anda, tetapi Anda belum punya pengetahuan yang jelas tentang apa yang ditanyakan tersebut. Apakah Anda yakin akan menjawab tidak tahu dengan polosnya? Belum tentu. Apalagi ditambah tersedianya kesempatan bagi Anda untuk membuka ponsel pintar lantas googling. Kemungkinannya sangat besar Anda akan menggunakan segenap kekuatan Anda untuk menjawab pertanyaan itu. Atau, misalnya, Anda adalah seorang narasumber, atau pembicara dalam sebuah forum. Kemudian ada orang yang bertanya, tak dinyana pertanyaan itu bagus sekali tetapi Anda tak sanggup menjawabnya. Apa yang akan Anda lakukan? Berkata tidak tahu –juga dengan cara yang polos? Rasa gengsi akan menjalar ke seluruh tubuh Anda, mengalir bersama darah Anda, terus memanjat hingga ubun-ubun, memberi kekuatan pada bibir Anda, dan meluncurlah kata-kata manis seakan-akan itulah jawabannya. Ternyata untuk berkata tidak tahu itu amat tidak mudah.
            Satu kisah lucu yang dituturkan oleh Syaikh Nashiruddin al-Albani. Entah cerita ini  fakta atau fiksi, yang jelas Syaikh berpesan untuk ambil 'ibrahnya. Begini, di masa lalu, ada seorang yang dianggap mufti yang rutin memberikan ceramah. Suatu hari, dia berhalangan karena hendak safar, maka anaknya diminta menggantikan posisinya. Sadar anaknya tidak tahu apa-apa tentang ilmu syari’at, Sang Ayah berkata, “Aku akan beri satu petunjuk yang membuat engkau selamat sampai aku kembali”. Maksudnya petunjuk untuk mengisi ceramah. Si Anak menimpali, “Apa itu?”. Ayahnya menjawab, ”Nanti setiap ada yang bertanya padamu suatu masalah, tinggal katakan saja “Fil mas-alah qoulani” (Dalam masalah ini ada dua pendapat) tanpa perlu berpanjang lebar. Misalnya nanti ada orang datang bertanya: “Wahai Syaikh, seseorang sholat dzuhur kurang rakaatnya, apakah shalatnya batal atau tidak?” Jawab saja, “Ada dua pendapat dalam masalah ini”. Alihkan pembicaraan. Beres. Si anak paham dan ayahnya pun pergi. Kemudian datanglah orang-orang ke majelis dan setiap ada pertanyaan dijawab sebagaimana yang telah direncanakan, tanpa malu dijawab dengan jawaban singkat tersebut.
Kemudian di antara mereka ada seorang yang cerdas, mengetahui bahwa anak dari syaikh ini bodoh, dia pun khawatir kebodohannya ini akan menyesatkan jamaah yang hadir. Kemudian dia suruh seseorang di sebelahnya untuk bertanya: “A fillah syakkun?” (Apakah ada keraguan kepada Allah?) dijawab pula sebagaimana biasa, kemudian majelis pun tertawa karena mengetahui ternyata anak si syaikh ini bodoh. Ini kisah mungkin lucu, tetapi tujuan Syaikh Nashiruddin al-Albani bukan sebagai lelucon, melainkan agar menjadi pelarajan bagi sesiapa yang sok tahu dan gengsi untuk sekadar berakta tidak tahu.
Bagi saya tidak penting kisah yang dituturkan itu benar adanya atau tidak, karena yang lebih penting adalah pelajaran bagaimana kita bisa mengelola diri agar tidak sok tahu di depan orang. Hanya karena ingin dipuji dan didamba, kemudian menjawab seenaknya sendiri seolah menguasai materi yang ditanyakan. ‘Umar bin Khaththab pernah mengatakan bahwa ada tiga tingkatan orang yang menuntut ilmu. Apabila seseorang sudah menapaki tingkat pertama, maka dia menjadi tinggi hati, atau bahasa syar’i-nya takabbur. Jika dia menapaki tahap kedua, dia akan mulai rendah hati atau tawadhu’. Kemudian jika dia berhasil menapaki tahap ketiga, maka dia akan merasa bahwa dirinya tidak tahu apa-apa. Berarti jelas bahwa orang yang sok tahu hanya baru menapaki jenjang yang pertama.
Nabi Musa alayhissalam mendapat teguran secara tidak langsung dari Allah subhanahu wa ta’ala. Manakala dirinya ditanya oleh salah seorang dari kaumnya tentang siapa orang paling pintar di dunia ini, Musa menjawab, “sayalah yang paling pintar,” kemudian Allah memerintahkannya untuk mengembara mencari orang yang lebih berilmu darinya. Dengan berbekal makanan dan kawan bepergian yang bernama Yusya’ bin Nun, Musa harus menemukan orang itu yang berada di pertemuan antara dua laut. Orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Khidhr ‘alayhissalam. Kisah mereka dapat disimak saksama dalam al-Qur’an Surah al-Kahfi. Akhir dari kisah tersebut menyebutkan bahwa Musa harus menyesal karena tidak sabar mengais ilmu dari Khidhr, maka sadarlah dirinya bahwa masih ada orang yang lebih berilmu ketimbang dirinya. “dan di atas tiap orang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui.”[1]
Sangat naif bagi kita menjadi orang yang merasa tahu padahal tidak tahu. Padahal Allah hanya memberikan ilmu yang sedikit kepada kita. “dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan hanya sedikit.”[2] Maka gengsi itu harus dihilangkan. Karena menjadi orang yang tidak tahu jauh lebih aman ketimbang menjadi orang yang sok tahu, menjawab di luar pemahaman kita, kemudian menjerumuskan orang lain ke dalam kesesatan. Salah-salah, kita bisa saja mendapatkan dosa jariyah, yakni dosa yang terus-menerus kita dapatkan hanya karena ajaran kita yang salah dilakukan oleh orang-orang yang ada di generasi setelah kita.
Islam adalah agama yang sempurna, yang dapat memberikan solusi bagi segala permasalahan. Maka, untuk menghindari sifat sok tahu dalam diri manusia, Allah memerintahkan kita untuk bertanya kepada orang yang lebih berilmu. “Maka bertanyalah kepada yang memiliki ilmu, jika kalian tidak mengetahui.”[3]



[1] QS. Yusuf (12): 76.
[2] QS. Al-Israa (17): 85.
[3] QS. Al-Anbiya (21): 7.

Sunday, 30 April 2017

Film Surau dan Silek: Perwajahan Adat Berbalut Syari’at

Shalat, shalawat, dan silat. Tiga hal tersebut bukan hanya menjadi topik pembicaraan utama dalam film Surau dan Silek, tetapi juga topik utama bagi siapapun yang ingin mempelajari ilmu bela diri. Kita tahu bahwa Indonesia memiliki seni bela diri khas Nusantara, yakni silat atau pencak silat. Istilah ‘pencak’ lebih merujuk kepada seni, sedangkan silat merujuk pada inti bela diri itu sendiri. Walau seni bela diri ini juga dikenal di negeri-negeri Jiran seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, juga Thailand. Silat, di Indonesia memiliki beragam jenis yang memiliki perbedaan dan keunikan masing-masing. Silat sering sekali –bahkan hampir semua- memiliki ritual khusus. Tidak jarang ritual-ritual tersebut yang tersentuh ilmu hitam. Biasanya ritual-ritual yang ada –tidak terkecuali yang bernuansa ilmu hitam- diperlukan untuk menguatkan tenaga dalam dan memfokuskan diri agar memiliki keluwesan dalam bergerak. Silat di Nusantara memang terbentuk dari budaya orang-orang yang ingin memiliki kemampuan mempertahankan diri dengan menirukan gaya-gaya hewan di sekitarnya seperi kera, harimau, ataupun ular, meskipun tidak pernah diketahui secara pasti asal-muasal dan asal-mulanya. Namun, demikian halnya dengan tarian Nusantara, seni bela diri silat selalu kental dengan nuansa budaya dan spiritualitas.
            Kita mengenal Cimande dan Cikalong di wilayah Jawa Barat, Merpati Putih yang lahir di Jawa Tengah, di Jawa Timur lahir Perisai Diri. Bahkan ormas besar seperti  Muhammadiyah juga memiliki perguruan silat sendiri yang cukup mendunia, yakni Tapak Suci. Daerah lain di Nusantara memiliki silat sendiri dengan istilah yang berbeda-beda. Sebut saja di Tanah Minangkabau, terdapat pula silat yang lidah lokal di sana menyebutnya dengan ‘silek’. Minang, dengan segala kesahajaannya, memiliki prinsip Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah’. Para leluhur Minang adalah orang yang taat beribadah, kuat beragama, juga mampu mempertahankan diri mereka dari serangan orang-orang jahat. Maka sungguh, mereka hanya ingin menerapkan adat di Minang yang bernafaskan syariat Islam nan berdasar al-Qur’an dan as-Sunnah. Maka semangat syariat Islam ini haruslah terus hidup dalam laku perbuatan Urang Awak, tidak terkecuali dalam Silek mereka. Shalat sebagai tiang agama, menjaga perilaku orang-orang Minang agar tidak melakukan perbuatan keji dan mungkar. Mereka bershalawat sebagai perwujudan kecintaan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam, dan mereka ber-silek untuk mempertahankan diri, sebagai perwujudan mukmin yang kuat harus menjaga izzah serta iffah­ diri dan agamanya.
            Shalat, shalawat, dan silek; ungkapan itu meluncur tegas dari lisan Gaek Djohar dalam film Surau dan Silek ketika dirinya diminta untuk mengajari silek kepada tiga anak SD bernama Adil, Dayat, dan Kurip. Motif mereka memang untuk memenangkan lomba, terlebih Adil yang menanam dendam karena dicurangi oleh rivalnya, Hardi, di kompetisi sebelumnya. Layaknya anak-anak seusia mereka, motif untuk belajar silek tentulah tidak seideologis seperti apa yang diinginkan oleh Kakek Djohar. Hal itu pula yang membuat Djohar menolak ketika kembali ditawarkan untuk mengajarkan silek. Namun, dengan dorongan sang istri, juga kesadaran hatinya sebagai ex-pendekar di kampung halamannya, Djohar berubah pikiran dan menyambut gayung yang sudah mampir di hadapannya. Bagi Djohar, seyogianya dirinya mengajari kepada anak-anak itu bersilek dengan segala keutamaan dan filosofinya. Maka hal pertama yang ditanyakan sebelum dirinya mengajar silek kepada anak-anak tersebut adalah, “Bagaimana shalat kalian?”
            Tanpa saya harus memberikan bocoran –walau sebenarnya ini sudah sangat spoiler- dalam tulisan ini tentang filmnya, saya hanya memberikan imbauan kepada masyarakat Indonesia untuk menonton film ini. Indonesia adalah negeri yang kaya akan budaya dan bahasa, tetapi kita semua tahu, film bernuansa kedaerahan di negeri ini seringkali ‘gagal manggung’ kecuali di tanah mereka sendiri. Terakhir, ada film Uang Panai’ yang bisa sintas di bioskop-bioskop Indonesia, walau kenyataannya hal itu amat dipengaruhi dengan penyebaran orang Bugis yang sangat besar di kota-kota seperti Balikpapan, Samarinda, Jayapura, dan tentu saja Makassar. Layar-layar Uang Panai’ di kota lain begitu cepat hilang tanpa bekas. Mengangkat kebudayaan lokal ke layar lebar memang bukan pekerjaan yang mudah. Para pelaku film haruslah jeli melihat kebutuhan dan keinginan pasar, sehingga tercipta cerita, skenario, tema besar, hingga judul yang menarik minat para penonton bioskop Indonesia.
            Film Surau dan Silek dengan biaya yang relatif sedikit, hampir tanpa bintang, juga dengan keterbatasan lain, berkat arahan sutradara Arif Malinmudo, mampu menyajikan tontonan apik dan juga menghibur. Sekalipun sebagian besar dialognya berbahasa Minang –tentu disertai dengan terjemahan- tidak menghalangi penonton yang tertawa terpingkal-pingkal, terkhusus melihat tingkah Dayat yang tetap percaya diri bahwa dirinya bisa mendapatkan Rani. “Dasar bocah!”, mungkin menjadi trending topic melihat tingkah laku Adil, Dayat, dan Kurip ketika menontonnya. Dengan dibalut keindahan alam Sumatera Barat, terutama Bukittingi yang menyegarkan pandangan, membuat sorotan kamera terasa sangkil, meski jika diperhatikan ada beberapa scene yang terlihat pecah dan kurang pencahayaan. Konsentrasi penonton tentu terpecah oleh keindahan alam yang berkali-kali ditampilkan dalam film ini, ketimbang berusaha meneliti dimana letak kekurangan sorotan kamera dan audio yang didengungkan.

            Saya berharap sekali, para sineas Indonesia tergerak untuk terus mengangkat keunikan budaya Indonesia lewat film. Surau dan Silek adalah film bernuansa filosofis keluhuran budaya Minang yang membentuk masyarakatnya menjadi pribadi yang religius, juga tangguh membela diri, bangsa, dan agamanya. Kita mengenal Tuanku Imam Bonjol, M. Natsir, H. Agus Salim, hingga Buya Hamka adalah sebagian dari sederet pejuang tangguh yang dilahirkan oleh Tanah Minang. Tentu saja ini adalah hasil penempaan dari budaya khas Minang, sebagaimana yang dituturkan lewat film Surau dan Silek, “Lahia mancari kawan, batin mancari Tuhan”. Ya, itulah hakikat hidup. Secara lahiriah, kita selalu mencari kawan. Karena memiliki satu lawan terasa terlalu banyak, dan memiliki seribu kawan terasa terlalu sedikit. Sedang batin kita selalu mencari Tuhan, agar tindak-tanduk kita memancarkan aura positif kepada lingkungan sekitar. Maka jelaslah bahwa film Surau dan Silek bukan dikhususkan untuk orang Minang saja, namun juga untuk segenap masyarakat Indonesia yang menginginkan tontonan yang bukan hanya sekadar menjadi tontontan, tetapi juga menjadi tuntunan.

Friday, 10 March 2017

Memang Kafir, Memang Sesat, Memang Munafik; Anda Keberatan?

Beberapa tulisan terakhir saya di sini, semuanya menyinggung hal-hal yang berkenaan dengan Basuki Tjahaja Purnama. Saya pun sebenarnya enggan untuk terus-menerus membahas orang tersebut. Namun, sepertinya saya lebih tertarik untuk bersikap lebih bersahabat. Saya lebih memilih untuk mengucapkan terimakasih kepadanya. Karena setidaknya Pak Basuki telah memberikan inspirasi kepada saya untuk tetap menulis di situs pribadi ini –setidaknya- sebulan sekali.
            Pembicaraan kali ini rasanya sudah pernah saya singgung sekitar satu tahun yang lalu, juga di situs ini. Saya pernah membahas soal kafir, siapa itu kafir, dan konsekuensi orang yang memilih kafir setelah pernah beriman sebelumnya.  Tentunya bukan tanpa sebab saya mengangkat bahasan ini, walau sejujurnya saya yakin bahasan ini adalah bahasan yang biasa –untuk tidak dikatakan usang-. Kita tak bisa memungkiri, bahwa ada sebagian kelompok manusia di negara ini yang sangat alergi dengan kata ‘kafir’, ‘sesat’, dan juga ‘munafik’; entah apa alasannya. Apalagi ketiga kata itu makin santer dibicarakan belakangan ini. Ya, apa lagi penyebabnya selain soal pilkada DKI Jakarta, soal memilih pemimpin yang seiman bagi umat Islam.
            Berawal dari video Basuki Tjahaja Purnama yang sedang berbicara di hadapan khalayak Kepulauan Seribu dengan membahas “jangan mau dibohongin pake Al-Maidah 51”, sontak publik ramai membicarakan soal surah Al-Maidah ayat 51. Padahal, sebelum kasus ini muncul, banyak –bahkan sangat banyak- muslim di Indonesia yang tidak mengetahui makna dari ayat tersebut, bahkan tidak tahu apa isi dari ayat tersebut. Tujuan Pak Basuki ini jelas, bahwa siapapun warga DKI Jakarta yang ingin memilih gubernur pada saat pilkada, jangan terpengaruh oleh omongan orang lain, tetapi pilihlah pasangan calon yang sesuai dengan kehendak hati nurani. Namun, apa mau dikata, Pak Basuki sudah terkenal memiliki mulut yang kerap tidak terkontrol, hingga akhirnya publik tidak percaya bahwa dia tidak sengaja mengucapkan kalimat tersebut.
            Kemudian hari-hari berikutnya, muncullah beberapa aksi menuntut agar keadilan ditegakkan, berharap sanksi yang jelas dan tegas bagi si penista agama. Momen ini disinyalir oleh beberapa pihak sarat dengan muatan politis, karena hanya beberapa bulan jaraknya dengan pilkada. Belum lagi banyak ulama yang menghimbau untuk tidak memilih pemimpin non-muslim. Di pihak lain, seperti mendapat angin segar, adanya kasus penistaan agama memberikan opsi lain bagi para islamis untuk tidak memilih Pak Basuki. Karena status terdakwa yang disandangnya, maka tidaklah pantas bagi Pak Basuki untuk dipilih sebagai pemimpin. Tidak cukup sampai di sana, kemudian bermunculan pula kajian-kajian dan sebaran-sebaran tentang dalil-dalil tidak diperbolehkannya memilih pemimpin muslim. Atas beberapa hal tersebut, yang terjadi kemudian adalah ramainya pembicaraan soal muslim atau kafir.
            Setiap muslim diajarkan oleh ajaran agamanya sendiri untuk tegas dalam bersikap dan berprilaku. Termasuk soal pelabelan terhadap orang lain. Seorang muslim harus tegas menyatakan orang lain kafir. Apapun alasannya, setiap orang yang sudah memenuhi syarat kekafiran, dia harus dikatakan kafir. Syarat mutlak seseorang disebut kafir adalah apabila dia tidak bersyahadat. Itu syarat mutlak yang disepekati oleh semua ulama. Saya rasa bukan hanya muslim yang demikian, umat agama lain juga diajarkan berlaku tegas dalam aqidah mereka. Kalau tidak, untuk apa beragama?
            Kafir hanyalah status. Lalu mengapa dipermasalahkan? Saya tidak pernah marah jika ada seorang Nasrani yang menyebut saya ‘domba tersesat’. Orang Yahudi menyebut orang selain mereka dengan sebutan Ghoyim. Penyebutan tersebut ada untuk pembeda. Orang Hindu mungkin tidak punya penyebutan khusus bagi orang selain Hindu, tetapi mereka punya kasta. Lagi-lagi untuk mengkategorisasikan manusia yang ada dalam kehidupan mereka.
            Hal yang lucu ketika banyak muslim yang justru protes kepada muslim lain yang menggunakan sebutan kafir kepada orang non-muslim. Lho, ini orang kenapa? Haruskah begitu demi dicap toleran? Naif sekali. Untuk apa al-Qur’an menjelaskan ciri-ciri orang kafir dengan begitu gamblang jika umat Islam tidak boleh tegas dalam pengimplementasiannya? Apakah jika saya menyebut orang Budha sebagai kafir lantas saya membenci dan akan membunuh orang itu? Ah, Anda terlalu banyak diracuni media mainstream. Lagipula dalam Islam diajarkan agar berbuat adil meskipun kita dalam keadaan membenci.
            Beralih ke kata lain selain kata ‘kafir’. Kita seringkali menemukan orang muslim yang alergi dengan kata ‘sesat’. Bagaimana mungkin seseorang yang mengaku muslim, paham soal Islam, paham fiqh madzhab ini dan madzhab itu, tetapi alergi dengan kata sesat, meskipun kata tersebut dinisbatkan kepada orang atau golongan yang nyata-nyata kesesatannya? Begini, dalam surah al-Fatihah ayat terakhir, ada kata ‘dhaalliin’ yang artinya orang-orang sesat. Dalam ayat tersebut kita memohon petunjuk kepada Allah, agar tidak ikut menapaki jalan orang yang dimurkai dan orang yang tersesat. Surah al-Fatihah adalah surah yang wajib dibaca dan menjadi rukun dalam shalat. Artinya, tanpa membacanya maka shalat kita tidak sah. Dalam satu hari saja setidaknya kita membaca surah al-Fatihah sebanyak tujuh belas kali. Artinya kita menyebut kata ‘sesat’ dan menilai sesat segolongan manusia hingga tujuh belas kali dalam sehari. Ini belum ditambah lagi jika kita melaksanakan shalat-shalat sunnah, artinya dalam sehari saja kita dapat menyebut kata sesat lebih dari dua puluh kali secara sadar –jika tidak sadar, maka Anda kewajiban shalat atas Anda menjadi gugur. Lantas, mengapa ada orang yang mengaku muslim, mengaku menjalankan shalat lima waktu, tetapi masih ragu untuk menyebut sesat seseorang atau sebuah golongan yang jelas-jelas kesesatannya? Bila memang pakaian kita bau, maka katakanlah pakaian kita bau. Apakah harus kita katakan, “Pakaian ini bukan bau. Hanya karena pakaian ini sering dipakai, dan belum sempat diberi pewangi, maka aromanya jadi begini.”? Kalau memang bau, katakanlah bau. Kalau memang salah katakanlah salah. Kalau memang jelas sesat, maka katakanlah sesat.
            Soal pelabelan kafir dan sesat ini, erat kaitannya dengan status munafik. Saya akan sajikan sebuah ayat yang saya yakin sebagian besar pembaca pernah membaca, mendengar, bahkan mengetahui arti dan maknanya. “Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam al-Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kamu duduk beserta merka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesunguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Neraka Jahannam.” [1] Sangat jelas pembahasan dalam ayat ini. Hebatnya lagi, ayat ini sangat cocok dengan momen yang terjadi belakangan ini. Atau kurang jelas? Baiklah, saya perjelas; bahwa siapapun muslim jika mendukung orang kafir, dimana orang kafir tersebut telah mengolok-olok ayat al-Qur’an (padahal dia tidak paham), atau menggunakannya sebagai alat propaganda, maka orang itu sama juga dengan si pengolok-olok. Dengan kata lain, orang muslim tersebut masuk dalam kategori munafik. Anda masih ingin mencari tafsir yang menjelaskan bahwa ayat ini tidaklah bermakna secara harfiah? Nah, selamat. Anda masuk golongan yang disebut dalam ayat tersebut.
            Saya bukan merasa orang yang paling bersih dari kemunafikan. Tidak. Bahkan manusia sekaliber ‘Umar bin Khaththab saja takut kalau-kalau dirinya termasuk dalam golongan orang-orang munafik. Apalagi saya yang mungkin hanya sebutir air di lautan luas jika dibandingkan dengan khalifah kedua sepanjang sejarah Daulah Islam tersebut. Dengan ketakutan itulah maka saya ingin sekali untuk menaati al-Qur’an yang telah mengajarkan saya berbagai hal; baik yang berat maupun yang ringan, baik yang jelas maupun yang samar-samar, baik yang mudah dipahami maupun yang sukar dipahami. Janji Allah jelas bagi generasi muslim yang tidak tegas alias mencla-mencle, yakni menggantinya dengan generasi muslim yang tegas, mereka keras terhadap orang kafir, dan lemah lembut terhadap sesama muslim.[2]
            Katakanlah yang benar meskipun itu pahit. Layaknya obat, mungkin pahit, namun dapat menyembuhkan penyakit yang diderita. Jika memang percaya al-Qur’an, maka taatilah apa yang termaktub di dalamnya. Ketegasan dalam bersikap, menandakan kekuatan iman seseorang. Jika memang kafir, ya katakanlah dia kafir. Jika memang sesat, ya katakanlah sesat. Jika memang munafik, katakan saja munafik. Anda muslim dan Anda keberatan? Mari cek hati sama-sama; jangan-jangan Anda –dan juga saya- termasuk dalam golongan yang disebut ketiga itu.




[1] An-Nisaa: 140
[2] Lihat al-Maidah:54

Wednesday, 15 February 2017

Sertifikasi Khatib, Kementerian Agama Islam, Kementerian Urusan Orang Lain

Tidak sedikit orang yang setuju –setidaknya saya pribadi- kalau di negeri kita ini terlalu banyak hal formalitas yang berbelit-belit terkesan dipersulit, bahkan terkesan mengada-ada belaka. Lihat bagaimana sekarang pembuatan kartu tanda penduduk yang tidak semudah dahulu. Benar, alasannya agar tertata rapi dan tidak ada lagi KTP ganda bagi satu orang. Tetapi kenyataan di lapangan? Coba saja Anda lakukan survei di lingkungan Anda sendiri; berapa banyak orang yang memiliki KTP lebih dari satu. Pelayanan publik lain juga banyak yang menggunakan aturan berbelit-belit. Transportasi publik belakangan ini mulai banyak menerapkan transaksi non-tunai. Harapannya agar mengurangi antrean dan penumpukan kendaraan atau penumpang. Namun apa yang terjadi di lapangan tidaklah berubah secara signifikan, belum lagi tambahan keluhan masyarakat Indonesia yang kebanyakan dari mereka malas mencoba hal-hal baru. Kasus yang sering saya temui di bidang transportasi publik ini paling sering terjadi di stasiun kereta api, yang sudah pasti dikelola oleh perusahaan milik negara yakni PT. KAI. Sistem yang digunakan sekarang untuk pelayanan kereta jarak jauh menggunakan boarding pass. Mirip pesawat. Penumpang tidak bisa lagi mencetak tiket jauh-jauh hari seperti sebelumnya, namun harus mencetak boarding pass tersebut di stasiun secara mandiri. Walhasil makin banyak penumpang yang ketinggalan kereta, dan penumpukan penumpang di stasiun pun tetap saja tidak pernah berkurang.
            Stigma negatif terhadap pelayanan pemerintah yang berkembang di tengah-tengah masyarakat adalah, “kalau bisa lambat, kenapa harus dipercepat?” hingga kini pun pertumbuhan calo belum menemui kata berhenti, walau mungkin saja berkurang. Mungkin, karena saya memang tidak mencari data soal pertumbuhan calo.
            Belum lama ini santer diperbincangkan isu tentang sertifikasi. Lucunya ini bukan soal sertifikasi pejabat, wakil rakyat, ataupun pegawai pemerintahan yang semakin mendapatkan cap buruk dari masyarakat lapisan bawah. Sertifikasi ini direncanakan untuk diberlakukan terhadap para khatib, atau orang yang memberikan ceramah ketika shalat Jumat berlangsung. Keheranan masyarakat muslim semakin bertambah karena gagasan yang dituturkan langsung oleh Menteri Agama di media massa ini muncul tidak lama setelah seorang Basuki Tjahaja Purnama berstatus tersangka penistaan agama. Memang praktis setelah Basuki menjadi perbincangan di negeri ini soal kasus penistaan agama, keadaan negeri ini relatif berubah. Aparat kepolisian menjadi sangat preventif terhadap aksi-aksi umat Islam, ormas Islam –khususnya FPI- menjadi target pencekalan, hingga pemerintah yang semakin tidak berimbang dalam menetapkan kebijakan. Harus diakui Basuki ini memang hebat, seakan-akan ia seorang putera mahkota yang tidak boleh diganggu kemapanannya.
            Karena satu orang Basuki yang kebetulan hobi berpakaian kotak-kotak, terkotak-kotak pulalah negeri ini. Masyarakat pendukung pemerintah mayoritas mendukung Basuki. Sebaliknya, masyarakat yang kerap kontra dengan pemerintah lebih memilih kontra juga dengan Basuki. Kemudian kini sekonyong-konyong bermunculan (calon) tersangka-tersangka baru di republik ini. Hebatnya lagi mereka muncul dari kalangan yang kontra dengan Basuki. Habib Rizieq Shihab yang paling banyak mendapat gugatan, belakangan ini meyusul kawannya seperjuangan ‘Aksi Bela Islam’, Bachtiar Nasir. Belum lagi sosok-sosok yang diduga melakukan makar yang kemudian digelandang ke kantor polisi. Ini hanyalah kasus yang diada-adakan, negeri ini tiba-tiba menjadi negeri yang sangat peduli dengan kepribadian seseorang. Bagaimana mungkin sebuah tesis yang sudah dipublikasi sejak lama baru diusut sekarang sebagai karya ilmiah yang melanggar hukum? Apalagi sampai ada penyadapan percakapan whatsapp yang nyata-nyata itu melanggar hukum. Meskipun sangat terlihat sekali bahwa percakapan yang menjadi viral di media sosial itu hanyalah bukti palsu yang sangat mudah dibuat.
            Negeri ini seolah memiliki kementerian baru, yakni Kementerian Urusan Orang Lain. Individu-individu tersebut benar-benar dipantau secara intens dan dicari-cari kesalahannya. Lain lagi dengan yang terjadi pada Basuki. Pelecehannya terhadap ulama sekelas KH. Ma’ruf Amin sampai harus ‘diredakan’ seorang menteri yang sekalian membonceng Kapolda Metro Jaya. Ada hubungan apa antara menteri tersebut dengan Basuki?
            Kembali lagi kepada pembicaraan sertifikasi khatib. Gagasan Menteri Agama soal ini terbilang tidak masuk akal. Sebab bila memang harus ada hal semacam ini, seharusnya hal ini sudah dilakukan sejak lama. Namun, silakan Anda lakukan riset sendiri. Keadaan dikebirinya para ulama selama berjalannya pemerintahan Indonesia yang merdeka hanya terjadi pada masa-masa pemerintahan yang tidak stabil. Bila saya sebut itu terjadi pada zaman PKI, atau mungkin zaman Soeharto, mungkin banyak pihak yang langsung antipati dan menutup tulisan ini. Well, saya tidak menyebutkan secara spesifik kapan keadaan dikebirinya para ulama, sekali lagi saya utarakan, silakan Anda riset sendiri. Menag mengatakan di media bahwa seharusnya khatib tidak berceramah yang memunculkan banyak ujaran kebencian, sebaliknya seorang khatib harus mengutamakan pesan-pesan bertakwa kepada Allah dan beramal shalih. Lalu, apa sulitnya berceramah seperti itu? Bukankah justru ajakan untuk bertakwa dan beramal shalih itu sangat mudah, sehingga tidak perlu ada agenda buang-buang duit untuk sertifikasi khatib? Lantas bagaimana bila pada satu kesempatan seorang khatib yang seyogianya khutbah di salah satu masjid kemudian berhalangan hadir, dan di masjid tersebut tidak ada satu pun orang yang memiliki sertifikat khatib? Apakah shalah Jumat harus dibubarkan karena tidak ada khatib yang tersertifikasi?
            Saya pribadi bukannya tidak setuju bila memang harus ada standardisasi bagi para ulama, justru itu hal yang sangat baik sehingga tidak ada orang yang dengan mudahnya mengaku-ngaku sebagai ustadz kemudian menyampaikan pendapat seenak jidatnya. Namun kita semua tahu, soal formalitas seperti ini pasti sarat keputusan politis. Kita bersihkan dulu parlemen dari makelar Undang-undang, bersihkan dulu pemerintahan dari para mafia, barulah bicara soal standardisasi oleh pemerintah. Saya heran –seharusnya Anda pun demikian- MUI yang terdiri dari banyak ulama saja fatwanya sering dicibir oleh para liberalis dan sekularis, mengapa tidak dengan wacana sertifikasi khatib oleh menag? Hei, menag kita hanya bergelar Sarjana Agama, hanya S1 lulusan dalam negeri. Apa kabarnya para ulama di MUI? Mengapa para liberalis itu tidak pernah adil dalam berpendapat?
            Kita tidak jarang mendengar pendapat orang yang tidak suka dengan gerakan Islam yang ingin mendirikan khilafah. Mereka berkata, “Indonesia bukan hanya diduduki orang Islam saja.” Memang benar. Lantas mengapa mereka tidak protes kepada Menteri Agama yang selama ini terkesan hanya mengurusi umat Islam saja? Standardisasi khatib, peraturan pemilihan rektor PTKIN (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri); bukankah itu pencurahan perhatian berlebih kepada umat Islam? Masih ada empat agama lain yang diakui di negeri ini. Jika alasannya adalah karena Islam agama mayoritas yang dianut penduduk Indonesia, maka jangan mencibir para politikus muslim yang ngotot menerapkan perda syariah, jangan mencibir gerakan Islam yang ingin mendirikan khilafah, jangan sinis kepada lelaki berjenggot bercelana cingkrang dan perempuan bercadar; karena mereka mayoritas dan mencoba melaksanakan perintah agamanya dengan benar dan konsisten. Mengapa tidak dibuat saja kementerian khusus bagi orang Islam. Kementerian Agama Islam misalnya.

            Semoga negeri ini tidak semakin terjerumus kepada lumpur kenaifan, beku dalam kefanatikan, juga terombang-ambing dalam arus kebohongan. Revolusi hanya tinggal menunggu waktu. Tuhan akan segera melakukan revolusi itu. Kalau bukan lewat manusia-Nya, berarti lewat bencana-Nya. Bagaimana nasib kita ketika revolusi itu terjadi, tergantung berada di barisan mana kita sekarang.

Tuesday, 31 January 2017

Wahai Api, Jadilah Dingin dan Berikanlah Keselamatan

Seorang pemuda yang membawa risalah baru, mencoba menyebarkan risalah tersebut ke seluruh sudut kota yang dapat dijangkaunya. Namanya Ibrahim. Ayahnya yang bernama Azar menolak risalah yang mulia itu. Bahkan sampai hati menganggap anaknya sendiri sebagai orang gila. Ibrahim, yang telah mendapatkan risalah itu melalui banyak perenungan, proses rasionalisasi, dan kemudian memercayai agama itu sepenuhnya; tentu saja tidaklah mudah menyerah. Lantas Ibrahim melakukan sebuah aksi nyata untuk membungkam golongan ayahnya, yakni para penyembah berhala. Ibrahim mendatangi tempat peribadatan mereka yang di dalamnya banyak terdapat berhala dengan beragam ukuran. Tanpa ada rasa takut dan khawatir sedikitpun, Ibrahim menghancurkan patung-patung tersebut dengan kapak yang dipegangnya. Alih-alih menghancurkan seluruh berhala itu, Ibrahim membiarkan satu berhala yang paling besar, dan menggantungkan kapaknya itu ke leher berhala yang paling besar.
            “Tanyakan pada berhala yang paling besar itu!” jawaban Ibrahim kepada orang yang bertanya perihal siapa yang menghancurkan berhala-berhala itu. “Bagaimana mungkin berhala besar itu dapat menghancurkan berhala lainnya, sedangkan ia hanyalah sebuah patung?” Pertanyaan ini justru menampar dirinya sendiri. Jika memang mereka hanya patung yang tak mungkin bergerak, bagaimana mungkin patung-patung itu dapat menolong mereka, mengakomodasi keinginan mereka, atau sekadar menjawab pertanyaan mereka? Demikian pula halnya ketika Ibrahim dengan beraninya mendebat Namrud si penguasa lalim nan otoriter. “Tuhanku dapat menghidupkan dan mematikan.” Ibrahim menantang Namrud. “Aku pun mampu melakukannya.” Namrud menjawab dengan perasaan tidak mau kalah, seraya memerintahkan pengawalnya untuk memanggil dua orang, yang satu dibunuh dengan dipenggal kepalanya, yang satunya lagi dibiarkan hidup. Sebuah logika dangkal yang diperlihatkan oleh Namrud. Namun, Ibrahim tetap melayaninya dengan berkata, “Tuhanku memunculkan matahari dari timur kemudian menghilangkannya di barat, coba kau lakukan yang serupa!” Namrud merasa bagai disambar petir, tak mampu berkata-kata untuk membantah Ibrahim lagi. Praktis, percakapan itu harus berakhir dengan kemenangan mutlak yang ditorehkan Ibrahim.
            Syahdan, keluarlah karakter asli penguasa otoriter. Namrud memerintahkan staf-staf kerajaannya untuk mempersiapkan pembunuhan Ibrahim dengan cara dibakar dengan dikelilingi warga, layaknya api unggun di malam perkemahan. Ibrahim, yang tak memiliki cukup kawan, harus kalah, setidaknya untuk sementara. Ibrahim dibawa paksa oleh para loyalis Namrud, ia diletakkan di tengah-tengah kayu bakar. Dinyalakanlah api hingga kobarannya hampir mencakar langit. Ketika api semakin berkobar, warga dan para loyalis Namrud berpesta-pora atas matinya ‘si pembuat onar’. Namun, ada komunikasi gaib yang terjadi antara Sang Penolong dengan media penghukum ‘si pembuat onar’, yang tak lain adalah api. Sang Penolong adalah pencipta api, juga pencipta Ibrahim. Sang Penolong inilah yang selalu dipuja dan dipuji oleh Ibrahim. Ibrahim yang semakin dekat dengan Sang Penolong ketika gagal dalam mencari wujud-Nya di langit; ia kira Sang Penolong itu berwujud bintang, nyatanya bukan. Ia kira Sang Penolong berwujud bulan, nyatanya bukan. Ia kira Sang Penolong berwujud matahari, nyatanya Dia lebih besar dari segalanya. Dengan keyakinannya, Ibrahim memuji-Nya sebagai Dzat Yang menciptakannya dan Yang memberi petunjuk kepadanya, Yang memberinya makan dan minum, Yang menyembuhkannya ketika sakit, dan Dia-lah yang sangat diharapkannya untuk mengampuni kesalahannya di Hari Kiamat.
            Selain dialog gaib antara Sang Penolong dengan api itu, ada pula aksi tersembunyi yang dilakukan oleh para makhluk Sang Penolong, di antara mereka adalah dari kalangan cicak dan semut. Semut-semut melakukan hal yang dipandang mustahil, yakni mencoba memadamkan api dengan hanya setitik air. Sedangkan cicak-cicak sebaliknya, mereka justru mencoba meniup api, agar api itu terus berkobar membumbung tinggi, meskipun sesungguhnya para cicak itu mengerjakan sesuatu yang hampir mustahil. Tidak lama kemudian, Sang Penolong, dengan segala keagungan dan kebijaksanaan-Nya berfirman kepada api, “Wahai api, jadilah dingin dan menjadi keselamatan bagi Ibrahim.” Seketika menjadi dinginlah api itu, dan tidak berpengaruh apa-apa kepada Ibrahim kecuali memberikan keselamatan.
            Segala apapun yang tertulis dalam al-Qur’an, atau apapun yang terkatakan lewat lisan utusan-Nya, selalu mengandung pelajaran yang sangat berharga bagi siapapun yang berpikir, asalkan hatinya masih terbuka untuk mendekap kebenaran. Para nabi dan rasul itu ada yang diberikan mukjizat oleh-Nya untuk dapat menunjukkan bahwa apa yang dibawa oleh para utusan-Nya adalah kebenaran yang mutlak tanpa bisa ditawar-tawar. Maka serumit apapun mukjizat, dan semustahil apapun kemungkinan datangnya keajaiban, pastilah mudah dipercaya adanya bagi orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. Dari satu peristiwa yang disebutkan di atas, dapat menjadi ribuan hikmah dan pelajaran bagi umat yang lahir setelahnya.
            Lihatlah, cicak telah resmi menjadi hewan terlaknat hingga hari kiamat disebabkan oleh ulahnya meniup api yang membakar Nabi Ibrahim ‘alayhissalam. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam menganjurkan kepada para umatnya untuk membunuh cicak.  Padahal apa yang dilakukan cicak pada saat itu tergolong pekerjaan yang sia-sia belaka. Segala perbuatan, sekecil apapun, akan ada balasannya.
            Negeri ini sedang mengalami darurat kerukunan. Darurat yang disebabkan oleh satu orang yang tidak mengerti makna kebhinnekaan yang sesungguhnya, tetapi mengaku sebagai orang yang paham. Orang ini menganggap al-Qur’an sebagai alat kebohongan yang menurutnya kerap digunakan oleh para oknum politik busuk agar tidak memilih pemimpin non-muslim, yang notabene termasuk pula dirinya. Lucunya lagi, ia mengaku memahami al-Qur’an dan bisa saja menghafalkannya karena itu hal yang mudah. Orang seperti ini –dan juga tentunya para pendukungnya- tidak menyadari bahwa dialah pembuat keonaran sesungguhnya. Salah, tetapi tidak menyadarinya, malah menuding orang lain yang bersalah. Bodoh tetapi tidak merasa bodoh, malah menuduh orang lain yang bodoh. Sebagaimana Namrud yang bungkam ketika ditantang Ibrahim. Begitupun pendukungnya yang persis seperti penyembah berhala di zaman Ibrahim yang bungkam ketika Ibrahim mengatakan bahwa berhala yang paling besar-lah yang melakukan penghancuran terhadap berhala lainnya.
            Manakala keadaan sekarang sudah sedemikian jelas antara yang haq dan yang bathil, yang hitam dan putih, yang benar dan yang salah, yang pintar dan yang bodoh, yang Ibrahim dan yang Namrud; mengapa masih ada segolongan umat Islam yang tidak melihat kejelasan itu? Apakah tidak pernah diajarkan kepada mereka bagaimana menghormati orang berilmu dan menjauhi orang yang tidak pandai menjaga mulutnya dari ocehan-ocehan kasar? Apakah sampai hati mempercayai tuduhan-tuduhan tak berdasar yang menghina para ulama, padahal sulit bagi kita untuk menyamai kesalihannya, bahkan untuk mendekati kesalihannya saja sulit? Apakah mereka lupa bahwa nabi mereka juga dahulu banyak dituduh, dicemooh, dan dicaci? Ya, para lelaki bersorban dan berpeci itu memang bukan nabi, tetapi apakah mereka lupa bahwa ulama adalah penerus para nabi? Kemana pelajaran agama yang mereka dapatkan sedari keci, atau jangan-jangan memang tidak lagi menganggap agama sebagai pegangan yang sakral nan harus ditaati?
            Sadarlah. Ingatlah bahwa pendukung Fir’aun harus mati menderita menelan air laut hingga ditenggelamkan sehina-hinanya! Ingatlah bahwa pernah ada kaum yang harus ditenggelamkan oleh air bah setinggi gunung ‘hanya’ disebabkan oleh ejekan mereka yang tidak percaya soal proyek pembangunan kapal oleh Nuh ‘alayhissalam.

            Mungkin saja, ‘api’ yang terus membakar umat Islam hingga detik ini justru menjadi ‘dingin’ dan memberikan ‘keselamatan’. Mungkin saja, ada dialog tersembunyi antara Sang Penolong dengan ‘api’ yang semakin membubung tinggi. Mungkin saja, banyak ‘semut’ yang mendapat rahmat hingga haram untuk dibunuh, sedangkan banyak ‘cicak’ terlaknat yang dianjurkan untuk dibunuh. Mungkin saja, pesta pora yang dirayakan oleh para ‘pendukung Namrud’ justru akan mendatangkan azab yang pedih, yang tak pernah terpikirkan oleh mereka. Sebagaimana Namrud yang dapat dikalahkan oleh seekor nyamuk, kemudian tewas sebagai makhluk yang hina.
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com