Wednesday, 31 October 2018

Al-Qur’an dan Buruknya Minat Baca Kita



Minat baca adalah ketertarikan yang amat sangat disertai dengan kesenangan dan perhatian yang sangat kuat terhadap aktivitas membaca. Dalam hal ini tentu saja membaca buku. Bukan membaca hal yang tidak tertulis, apalagi membaca hati seseorang. Al-Qur’an adalah bacaan, yang sekaligus menjadi mukjizat bagi Sang Utusan Terakhir, Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam. Lantas, apa hubungannya? Hubungannya sangat erat. Yang saya sebut pertama adalah minat baca, yang saya sebut kedua adalah salah satu bahan bacaan dalam kehidupan umat Islam.
            Dilihat dari beberapa data yang tersebar dalam beberapa referensi yang saya dapat, minat baca kita –umat Islam Indonesia- ternyata sangat menyedihkan. Saya sajikan dua data saja. Pertama, dilansir kompas.com dengan judul Per Hari, Rata-rata Orang Indonesia Hanya Baca Buku Kurang dari Sejam, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani menyatakan bahwa rata-rata orang Indonesia hanya membaca buku 3-4 kali per minggu, dengan durasi waktu membaca per hari rata-rata 30-59 menit, berdasarkan informasi yang dia dapat dari hasil penelitian perpustakaan nasional tahun 2017. Dengan begitu kita berharap menteri kita tersebut memiliki terobosan apik untuk mendobrak budaya yang terbilang memalukan itu. Kedua, dari republika.co.id, didapatkan informasi bahwa minat baca di Indonesia masih rendah, yaitu menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara –alhamdulillah bukan peringkat terakhir, berdasarkan hasil studi Most Literred Nation in the world 2016. Untuk itu, diadakan Safari Gerakan Nasional Gemar Membaca, yang diucapkan oleh Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan RI Woro Titi Haryati di Pekalongan, Jawa Tengah, pada tanggal 20 Februari 2018 silam dalam sambutannya. Informasi ini dapat dicek di laman republika berjudul Minat Baca di Indonesia Disebut Masih Rendah. Dengan demikian, setidaknya minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,01 persen, alias satu berbanding 10 ribu orang. Itu memang masyarakat Indonesia secara keseluruhan, bukan hanya yang beragama Islam. Butuh penelitian yang lebih spesifik untuk menilai seberapa besar minat baca umat Islam Indonesia. Namun, karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, bolehlah kita asumsikan bahwa minat baca umat Islam Indonesia sangatlah rendah.
            Informasi lainnya saya dapat dari literatur yang sudah agak lama, tetapi nampaknya masih relevan hingga hari ini. Buku tersebut berjudul Iqra’ Laa Budda an Taqra’ & al-Qiraatu Minhaj al-Hayah yang ditulis oleh Raghib as-Sirjani dan Amir al-Madari. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Spiritual Reading pada tahun 2007 oleh penerbit Aqwam. Dalam buku tersebut, disajikan informasi bahwa pada salah satu kampus di negara Arab, 72 persen mahasiswanya belum pernah meminjam satu pun buku dari perpustakaan. 37 persen umat Islam tidak bisa baca-tulis. Mau tak mau, penulis membandingkan dengan minat baca dari negara lain. Orang-orang Jepang menghabiskan rata-rata 40 buku dalam setahun, orang-orang Eropa 20 buku dalam setahun. Sementara bangsa Arab hanya satu sepersepuluh buku per tahun. Bangsa Arab, tentu saja didominasi oleh kaum muslimin. Inilah yang menjadi PR besar bagi kita yang menanamkan ideologi dalam diri kita dan anak-anak kita, bahwa al-Aqsha akan kembali ke pangkuan umat Islam. Sulit sekali terjadi, apalagi Raghib as-Sirjani mengutip perkataan seorang tokoh Yahudi, “Kami tidak takut dengan orang Islam, sebab orang Islam adalah umat yang tidak membaca.”
            Masih dalam buku Spiritual Reading, ada sebuah kutipan menarik dari penulis yang patut menjadi pegangan dalam hidup kita, “Sesungguhnya, membaca bukan sekadar hobi, tapi sebuah konsep hidup”. Ya, itulah salah satu masalah yang membuat kita minim ilmu, karena membaca hanya sekadar dijadikan hobi, bukan bagian dari kehidupan. Seharusnya, membaca menjadi kebutuhan kita, sebagaimana makan, minum, dan bahkan bernafas. Dalam Islam, jelas kegiatan membaca adalah ibadah. Karena wahyu pertama yang turun adalah perintah membaca, dan aktivitas yang terpenting selain yang disebutkan dalam rukun Islam adalah membaca al-Qur’an. Mukjizat paling awet sepanjang sejarah adalah bahan bacaan, yakni al-Qur’an yang memuat berbagai kisah dan konsep kehidupan sehari-hari.
            Kurangnya membaca, menjadikan kita manusia yang jumud dalam berpikir, memiliki pikiran yang tidak terbuka, juga mudah tersulut emosi atas hal-hal yang tidak kita kuasai ilmunya. Maka, seringkali orang-orang menyebut ada sebagian kelompok Islam yang sumbu pendek (mudah tersulut amarahnya), mudah memberi cap bid’ah, tidak nyunnah, sesat, kafir, dan cap-cap lain yang sangat alergi didengar oleh sebagian orang. Memang sebagai muslim kita harus tegas jika memang sesat ya katakan saja sesat. Jika memang kafir, ya katakan saja kafir. Jika memang bid’ah ya katakan saja bid’ah. Akan tetapi, mengucapkan hal-hal tersebut tidak semudah membalik telapak tangan. Hanya karena membaca satu ayat dan satu hadits yang shahih, tidak lantas membuat kita punya otoritas khusus untuk menentukan sebuah hukum. Para ulama butuh musyawarah untuk menentukan hukum, yang di antara mereka semua adalah para penghafal ribuan ayat dan hadits, yang tentu saja merek sudah meneliti secara mendalam tentang dalil-dalil yang akan dimusyawarahkan. Jika kita ingin menulis buku tentang psikologi perkembangan, apakah kita cukup hanya membaca satu referensi saja untuk menulis sebuah buku? Tentu saja tidak. kita butuh banya referensi, butuh banyak sudut pandang, juga butuh banyak penelitian lapangan, sehingga apa yang kita tulis bermanfaat dan dapat menjadi referensi bagi orang lain yang sedang mempelajari hal yang sama.
Kasus terakhir soal sumbu pendeknya umat Islam Indonesia adalah ulah Tretan Muslim dan Coki Pardede yang saya pun tidak paham betul apa sesungguhnya profesi mereka. Apakah mereka komedian, penyiar radio, atau koki profesional sebagaimana yang dicantumkan oleh Tretan Muslim dalam akun instagramnya. Saya mengapresiasi kedewasaan pihak mereka untuk menghentikan penampilan mereka di Majelis Lucu Indonesia. Mereka memakai bahan komedi yang sensitif dan terkesan hanya cari sensasi. Seharusnya mereka tahu, budaya Indonesia ini budaya sopan santun. Jangan disamakan dengan negara lain yang kata para penggemarnya ‘terbiasa dengan lawakan jujur’. Sudah, stop. Jangan memperdebatkan itu. Kita punya budaya yang berbeda. banyak materi komedi yang lucu dan cerdas. Contoh saja grup lawak Warkop –meski dalam beberapa filmnya banyak adegan tidak senonoh-, Patrio, Srimulat, Bagito, 4 Sekawan, hingga Cagur. Setidaknya mereka berhasil menampilkan lawakan yang sederhana, namun tidak berlebihan seperti lawakan-lawakan garing yang disajikan berbagai stasiun televisi dalam beberapa tahun terakhir. Dimana penontonnya harus dibayar untuk rela tertawa terpingkal-pingkal. Di sisi yang lain, ini juga PR bagi kita umat Islam. Mereka hanya ingin tenar tanpa mengerti bagaimana cara yang apik untuk tenar. Sudah jelas membawa persoalan agama untuk lucu-lucuan akan menimbulkan reaksi besar dari umat Islam yang memang mereka sebut hobi mengkafir-kafirkan. Justru dengan reaksi umat Islam itulah mereka akan merasa berhasil dan teruji ketangguhannya dalam dunia entertain. Padahal jika kita tidak pedulikan mereka, ujung-ujungnya mereka akan lelah sendiri dan tenggelam dengan kelelahan itu. Lagipula ulah seperti itu sesuai dengan apa yang disebutkan al-Qur’an, Orang-orang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi di dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan Rasul-Nya)”. Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tak usahlah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman,” (at-Taubah: 64-65). Mereka yang membuat lelucon membawa-bawa agama, sudah jelas statusnya. Apalagi memang tujuan mereka mendapat keuntungan dari lelucon tersebut. Biarkan saja. Karena menasihati mereka adalah perbuatan sia-sia. “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (al-Baqarah: 6-7).
Benar kita harus membela agama Allah, yang berarti membela Rasul, dan membela Qur’an. Tetapi ada hal yang patut kita soroti, yakni runcingnya perbedaan yang kemudian jadi santapan empuk olok-olok mereka. Gara-gara lelucon mereka, orang-orang yang berpenampilan nyunnah dengan celana di atas mata kaki, berjanggut lebat, juga berkerudung lebar bahkan bercadar bagi perempuan tetapi tidak sesuai dengan apa yang mereka katakan yang disebut suka mengkafirkan dan membid’ahkan kena getahnya juga. Mereka dicap teroris dan intoleran, padahal tidak ada kekacauan yang mereka buat. Mengapa kita gampang berpecah? Mengapa kita mudah tersinggung dan marah? Salah satunya karena kita kurang membaca. Untungnya ada al-Qur’an, yang pasti dapat pahala jika kita membacanya. Bahkan pahalanya dihitung per huruf, enak sekali. Namun, pahala hanyalah pemicu untuk kita menjadi rajin membacanya, nilai plus dari membaca al-Qur’an akan lebih terasa ketika kita betul-betul mempelajarinya. Masalahnya ktia masih berdebat soal sunnah membaca surah di malam Jumat, apakah membaca surah Yaasiin atau al-Kahfi yang lebih utama. Padahal intinya bukan soal pahalanya, tetapi pelajaran yang kita dapat dari surah-surah itu. Pelajaran tentang pemuda berprinsip, tentang kesombongan yang membinasakan, tentang kesabaran dalam menuntut ilmu, dan tentang menjadi manusia yang bermanfaat bagi masyarakat, termaktub jelas dalam surah al-Kahfi. Tentang nabi yang diusir, tentang Ashabul Qaryah, tentang peredaran benda-benda dalam galaksi kita, juga termaktub elegan dalam surah Yaasiin. Masalahnya, apakah kita mempelajarinya di samping memburu pahala? Andai kita kembali kepada al-Qur’an, dengan benar-benar mempelajarinya, barangkali umat ini akan melaju lebih cepat, dan cita-cita kembalinya al-Aqsha ke pangkuan sudah pasti tercapai lebih cepat. Namun, mungkin itulah takdir agar kita benar-benar mempelajari tanda-tanda dari-Nya.
            Al-Qur’an menyelamatkan kita dari minat baca yang rendah. Al-Qur’an memberitakan kepada kita agar kita menjadi umat yang sempurna dalam berpikir dan bertindak, dengan mengharuskan aktivitas membaca menjadi bagian dari hidup kita. Perintah Allah adalah membaca dengan menyebut nama-Nya dalam QS. al-Alaq ayat 1, berarti membaca basmalah sebelum membaca. Maka sama dengan makan dan minum, membaca basmalah sebelum memulainya. Agar bacaan kita menjadi berkah dan menyehatkan pikiran kita. Selain itu, membaca dengan menyebut nama-Nya tidak akan membuat kita kehilangan rasa rendah hati, alias merasa paling tahu, sebagaiamana yang sering menghinggapi orang-orang yang baru menuntut ilmu. Masalah yang membuat kita kehilangan minat membaca adalah karena belum terbiasa, sehingga cepat merasa bosan. Lihatlah orang Jepang, mereka menyempatkan membaca sambil mengantre atau dalam kendaraan umum. Orang Islandia punya pepatah “Lebih baik telanjang di depan umum dariapada tidak membaca sama sekali,” bagaimana dengan kita? Banyak waktu kita terbuang sia-sia yang sebenarnya bisa saja dihabiskan untuk membaca. Akibat kita yang tidak terbiasa membaca, maka waktu berharga untuk membaca jadi terbuang sia-sia. Penyebab lain yang membuat minat baca menurun adalah karena kita tidak punya tujuan jelas dalam membaca, hanya sekadar ingin tahu atau bahkan hanya membaca tema-tema ringan yang sesungguhnya tidak terlalu penting bagi kehidupan kita.
Bagaimana menumbuhkan minat baca? Pertama, yang pasti harus ada niat yang benar. Sebagaimana yang tadi saya sebutkan, kita menjadikan aktivitas membaca sebagai kebutuhan hidup serta ibadah yang harus membaca basmalah sebelum kita melakukannya. Kedua, harus memiliki perencanaan yang jelas dalam membaca. Sesuaikan dengan kepadatan aktivitas kita. Jika ingin membaca buku setebal 500 halaman, tetapi pekerjaan sangat menyita waktu yang mengharuskan berangkat sejak jam 7 pagi dan baru tiba di rumah jam 6 sore, lebih baik diurungkan dan dialihkan ke buku dengna tema serupa tetapi lebih sedikit halamannya. Kecuali memang sudah terbiasa membaca di sela-sela kesibukan, atau tema buku 500 halaman itu memang tidak terlalu berat untuk dipahami. Ketiga, Jangan membaca satu buku sekaligus, apalagi itu bukan novel. Bacalah per bab atau per sub bab per hari jika buku tersebut memuat halaman yang amat banyak per babnya. Ini akan menghindarkan diri kita dari kebosanan dalam membaca, dan agar kita lebih dapat menyerap informasi dari buku tersebut. Kalau kita mengutamakan kuantitas halaman dalam membaca, maka kita akan kesulitan menyerap informasi dari buku yang kita baca. Keempat, fokus dalam membaca. Seringkali kita rajin membaca, tetapi ada waktu-waktu atau tempat-tempat dimana kita kurang fokus saat membaca. Hindari ini, karena ini akan membawa kita pada kesia-siaan dalam membaca. Kelima, menandai atau menuliskan kembali hal-hal penting dari buku yang kita baca. Ini membantu kita mengingat dan menambah kemanfaatan dalam membaca. Keenam, seimbangkan materi bacaan berat dengan bacaan ringan semisal karya sastra yang sangat seru bagi kita untuk dibaca. Porsinya tidak harus 50:50 antara buku berat dan ringan. Boleh 40:60 atau 30:70 yang penting ada bacaan bermanfaat untuk kita tiap bulannya. Ketujuh, buat perpustakaan di rumah. Kalau belum mampu, setidaknya di rumah atau kamar kita, sediakan tumpukan buku yang ketika kita membuka pintu atau beristirahat di dalamnya, kita melihat buku-buku tersebut. Hal itu setidaknya membantu pikiran kita untuk memaksa kita mengambil dan membaca buku-buku tersebut.
Demikian. Mari membaca!

Wednesday, 24 October 2018

Realita Komoditas ‘Hijrah’ Kita


            Ketika beberapa tahun lalu seorang kawan berkata kepada saya, “Syari’at Islam sangat seksi untuk dijadikan bahan jualan,” saya tersentak, tersinggung, lalu mendebatnya. Apa yang membuatnya berkata seperti itu, apa alasan mendasar yang membuatnya berani berkata seperti itu. Katanya, karena semakin ke sini makin marak saja produk-produk berlabel syari’ah. Hotel syari’ah, bank syari’ah, pariwisata syari’ah, manajemen syari’ah, apa-apa syari’ah. Katanya itu adalah contoh bahwa syari’ah menjadi label dagangan yang menguntungkan. Namun, apapun itu, setuju atau tidak setuju, memanglah kita patut merenung.
            Sebagian pihak memang menganggap produk syari’ah lebih aman dan terpercaya. Sebagiannya lagi menganggap produk syari’ah seringkali lebih merugikan, mereka menyorot contohnya dari bank syari’ah. Sistem bagi hasil yang katanya justru lebih kecil keuntungannya ketimbang bank konvensional. Well, kita tidak akan memperdebatkan rugi-untungnya menggunakan bank syari’ah. Karena bahasan kita memang bukan itu. Setelah maraknya produk-produk syari’ah, selera pasar kemudian bergerak lebih ke kanan, lebih ke brand muslim. Penjualan busana muslim dari yang mahal yang murah meriah, hijab syar’i yang dulunya asing tetapi kini mulai banyak digandrungi, celana laki-laki di atas mata kaki yang nyunnah kini laris dan semakin terdongkrak oleh fesyen secara umum, bahkan bukan cuma hijab syar’i yang panjang dan lebar, tetapi juga cadar yang semakin banyak muslimah percaya diri mengenakannya tanpa memandang golongan dan lingkungannya.
            Islam mulai menarik banyak kalangan. Dahulu, kalangan selebriti, kalangan jet set, kalangan borjuis, kalangan menengah ke atas yang hidupnya serba mewah dianggap jauh dari kehidupan bernuansa Islam. Bahkan hingga tahun 2000-an awal, pengunaan kerudung oleh kebanyakan perempuan biasanya dicurigai berasal dari golongan Islam tertentu, yang tentunya negatif di mata masyarakat pada umumnya. Akan tetapi lihatlah tahun-tahun setelahnya hingga sekarang. Kita akan aneh melihat perempuan muslimah, rajin sholatnya, tetapi jarang menggunakan kerudung. Bahkan –maaf- tidak sedikit akan kita dapati perempuan berkerudung di tempat-tempat hiburan malam, atau tempat-tempat manapun yang memang tidak lazim jika terdapat orang-orang religius berkumpul di sana. Di satu sisi kita akan bersyukur bahwa penggunaan pakaian yang menutup aurat menjadi marak dan lazim, tetapi di sisi lain ini menjadi PR baru untuk memahamkan bahwa pakaian haruslah sejalan dengan perilaku. Karena pakaian adalah pelindung pertama seorang manusia, sebelum diteliti lebih dalam lagi kepada hati dan pikirannya.
            Fenomena ini merembet ke figur-figur publik. Kita melihat banyak sekali artis yang hijrah, alhamdulillah. Sebuah kata yang di zaman sekarang semakin santer didengar, bahkan menjadi salah satu tema kajian keislaman yang paling menarik untuk diikuti, terutama bagi kawula muda. Hijrah, akhirnya menjadi sebuah kata untuk menentukan mana yang sudah benar mana yang masih belum benar. Simpelnya, bagi wanita yang tadinya belum berkerudung, kemudian berkerudung, dapatlah dia disebut hijrah. Atau tadinya sudah berkerudung tetapi belum menutupi dada, kemudian mantap mengenakan kerudung yang lebih lebar dan menutupi dada, bahkan sampai ke bawah lagi, dapatlah dia disebut hijrah.
            Apakah fenomena hijrah ini suatu kebetulan dan spontanitas? Tentu tidak. Sebagaimana yang disebut oleh teman saya di atas, bahwa Syari’at Islam telah menjadi merk dagang yang sangat laris. Segala sesuatu akan menemui titik jenuhnya, begitu juga dalam kehidupan manusia. Orang-orang akan jenuh terus-terusan jauh dari agama, karena tanpa agama, hidup mereka sama saja tanpa norma dan aturan. Mereka butuh sesuatu untuk mengerem maksiat-maksiatnya, mereka akan merasa haus akan wejangan yang menyejukkan, mereka akan mencari apa yang selama ini sesungguhnya mereka butuhkan walau kadang tidak diinginkan. Itulah agama, itulah Islam, yang selama ini tertera di KTP mereka walau mereka tidak sepenuhnya menyadari bahwa tulisan ‘Islam’ itu dibubuhkan sejajar dengan tulisan ‘agama’. Lantas, apakah fenomena ini akan bertahan lama? Iya, akan bertahan, tetapi mungkin tidak begitu lama. Masyarakat juga akan jenuh dengan pamor hijrah yang ‘begitu-begitu saja’. Mengapa saya katakan begitu-begitu saja?
            Sekarang, coba sebutkan sosok figur publik hijrah yang Anda ketahui. Kemudian, sebutkan apa alasannya berhijrah. Lalu, kemukakan dalam benak Anda sekalian, apa hikmah di balik kisah hijrahnya. Terutama bagi Anda yang pernah mendatangi event yang diisi oleh sosok tersebut, pasti Anda bisa membayangkannya. Bagi Anda yang belum pernah datang ke event yang mereka isi, saya berikan contoh saja. Misal, sosok hijrah A awalnya adalah seorang aktor yang telah membintangi banyak sekali film dengan berbagi genre dan konten. Tidak jarang dalam film-filmnya, si A harus beradegan hal-hal yang dilarang agama. Kemudian, dalam pengembaraannya, di suatu malam, di pojok sebuah masjid, dirinya merenung, dan merasakan getaran berbeda dalam dirinya yang membuatnya mantap untuk berhijrah. Begitulah ceritanya, kemudian cerita itu disebarkan ke publik Lalu si A ini diundang kemana-mana untuk bercerita soal hijrahnya. Sampai di sini, coba bayangkan, ketika si A sudah semakin tenar, dan jadwalnya semakin padat, adakah waktu yang dimilikinya untuk belajar ilmu-ilmu agama agar penceritaan kisah hijrahnya lebih berisi dan empuk disantap masyarakat? Mungkin waktunya ada, tetapi tidak banyak. Sayangnya, pengembaraan kisah hijrahnya tidak berhenti sampai di situ. Si A ‘hanya’ untuk bercerita itu saja, mematok tarif sekitar 10 juta rupiah per event tanpa pertanggungjawaban apakah si peserta mengerti atau sekadar ingin foto-foto saja, atau memang tarifnya adalah biaya untuk foto-foto dengan penggemarnya, kemudian tanpa pertanggungjawaban pula apakah ilmu yang disampaikannya sahih atau tidak. Hal ini, jika dibiarkan terus akan seperti bola salju yang menggelinding dan menghempaskan diri sosok tersebut.
            Kita patut bahagia banyak sosok hijrah yang jadi panutan, sehingga banyak orang awam yang tidak canggung-canggung lagi ikut kajian keislaman, atau berbusana sesuai sunnah karena contoh mereka adalah figur publik. Seorang publik figur saja tidak malu, masa sih kita yang bukan apa-apa ini malu menampakkan keislamannya? Maka sosok seperti itu adalah tanggung jawab kita bersama. Pujilah mereka sebagai hadiah atas tekadnya berhijrah, tetapi jangan sampai berlebihan. Karena mereka butuh waktu belajar, demi kesempurnaan hijrahnya. Hijrah itu proses, bukan hasil akhir. Setinggi-tinggi hijrah adalah ketika mereka sudah mampu mengikuti perintah Allah, “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". (30) Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung,” (QS. 24:30-31). Inilah perintah yang paling penting untuk hijrah kita, untuk mencapai derajat orang beriman. Lalu harus meningkat ke derajat orang bertakwa, dan kemudian derajat orang yang ihsan.
            Kita harus saling merangkul sebagai saudara dalam iman. Karena sesungguhnya setiap kita sedang dalam proses hijrah, proses berpindah dari satu keburukan kepada kebaikan, bukan dari satu keburukan kepada keburukan yang lain. Kita semua dalam proses hijrah, proses berpindah dari satu kebaikan kepada kebaikan yang kebaikannya lebih baik, bukan dari satu kebaikan kepada keburukan. Seyogianya saling memuji jika berada dalam kebaikan, pujian yang mengingatkan, bukan pujian yang melalaikan. Sepatutnya saling mengingatkan jika berada dalam keburukan, mengingatkan yang menentramkan, bukan mengingatkan yang menjatuhkan. Stop memuja-muja, menggemarinya bak pangeran yang sangat tampan hingga tanpa sadar kita mengembalikannya ke jurang jahiliyah yang sudah mereka tinggalkan. Hargailah sepantasnya. Begitu pun kepada yang merasa sosok hijrah. Sepatutnya Anda menjadi penunjuk jalan, sebagai orang yang sudah berpengalaman dalam proses melepaskan diri dalam maksiat. Bukan malah jual mahal, seolah-olah ilmu kalian lebih luas daripada langit dan bumi. Ingat, ulama kita di luar sana dicaci-maki hanya karena asistennya minta bayaran yang pantas untuk ustadznya, mengingat jadwalnya yang padat dan sampai harus meninggalkan anak-istrinya. Padahal ilmu Anda dengan ilmu ulama mungkin tidak lebih dari ujung kukunya yang rutin dipotong sepekan sekali. Ulama kita di luar sana, bahkan ada yang tidak pernah memiliki rumah sendiri karena sedemikian ikhlas dan ingin membersihkan diri dari harta yang syubhat, mereka tidak pernah memikirkan bayaran ketika menyampaikan ilmu. Bahkan penginapan yang mereka terima hanyalah rumah warga yang sangat sederhana.
            Kembalilah menginjak bumi, kembalilah ke jalan Allah subhanahu wa ta’ala. Jangan biarkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab semakin yakin, bahwa syari’at Islam, hijrah, dan lain-lain itu memang hanya menjadi tameng dari maksiat-maksiat kita, hanya menjadi merk dagang untuk mempertebal dompet kita.

*ditulis untuk mengingatkan diri sendiri.

Saturday, 28 October 2017

Pribumi dan Asgard


Mohon maaf, bukan saya ingin mempekeruh suasana, atau memperpanjang bahasan soal pribumi, tetapi karena baru-baru ini saya menonton film Marvel keluaran terbaru yang berjudul Thor: Ragnarok, saya jadi tergugah untuk menuliskannya. Tenang saja, saya tidak berniat untuk menyajikan spoiler atau bocoran-bocoran dalam film, jadi bagi yang belum menonton, tidak perlu khawatir untuk membaca tulisan ini sampai selesai.
            Singkatnya, film Thor edisi kali ini adalah tentang tanah airnya para dewa, yakni Asgard, yang akan menemui ujung usianya, atau dengan kata lain kiamat; kiamat lokal. Akhir dari Asgard ini disebut dengan Ragnarok. Memang dalam mitologi Nordik, Ragnarok ini akan terjadi. Dewa sekelas Odin sekalipun tidak akan sanggup melawannya, dengan kata lain, Odin, sebagai penguasa Sembilan Dunia pun akan mati. Dewa kok mati, ya? Lucu juga. Berbeda dengan kisah aslinya, dalam film yang memang disesuaikan dengan alur komik Marvel, Ragnarok ini ternyata didalangi oleh Hela, anak sulung Odin sendiri, yang tak lain adalah kakak dari Thor dan Loki. Kemudian Thor dan Loki, yang di edisi sebelumnya bermusuhan, bergabung untuk sama-sama menyelamatkan Asgard dari Ragnarok. Tetapi suasana menjadi keruh ketika Hela muncul, Thor dan Loki belum siap melawannya. Oleh sebab ketidakmampuan itulah Thor dan Loki terbuang ke tempat antah-berantah. Sampai di sini, saya tidak akan cerita lebih banyak lagi. Karena khawatir akan menjadi spoiler bagi yang belum menontonnya.
            Ketika Thor dilanda pesimis tidak bisa menyelamatkan Asgard, dia bertemu dengan ayahnya, Odin, di alam khayal. Saat bertemu itulah Thor mendapat pelajaran akan satu hal. “Asgard is not a place. It’s people,” demikian Odin berkata, yang kemudian perkataan itu diteruskan kepada saudara angkatnya, Loki. Ya, kata Odin, Asgard bukanlah tempat, tetapi Asgard adalah masyarakat. Maksud Odin, Asgard adalah kita, yang dinisbatkan kepada dia, Thor, dan seluruh rakyatnya. Maka, tidak penting dimana rakyatnya akan tinggal kelak, Asgard tetaplah Asgard, yang menjadi identitas bagi seluruh penduduknya.
            Pikiran saya langsung melayang menuju topik yang belum lagi dingin, yakni soal pribumi. Tempo hari, setelah pelantikan Gubernur DKI Jakarta yang baru, Anies Baswedan dalam pidatonya berbicara soal pribumi. Sebagaimana yang telah diprediksi, kata itu pun langsung menjadi perbincangan hangat di berbagai media, bahkan ada yang mempolisikan pidato Anies tersebut. Isu tersebut terus digoreng untuk memperkuat status Anies sebagai pihak yang intoleran di kancah pilkada DKI. Saya bukan pendukung fanatik Anies, walau tentu saja saya menginginkan dia menjadi gubernur ketimbang dipimpin kembali oleh Pak Basuki yang kurang nyantai itu. Namun, saya memandang tidak ada yang salah dengan sebutan itu. Dengan adanya pihak-pihak yang meributkan pidato tersebut –dan Anda tahu dari kubu mana mereka berasal- saya semakin yakin bahwa orang-orang itu sejatinya hanya mencari-cari kesalahan gubernur baru, karena junjungannya kalah telak di pilkada putaran kedua. Kalau memang mereka merasa sebagai pribumi juga, mengapa harus ribut. Atau jangan-jangan mereka merasa sebagai pihak lain yang disebut dalam pidato itu, yakni kolonial. Jika memang Anda pribumi, mengapa harus tersinggung ketika ada kalimat “pribumi harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri”, kecuali memang Anda merasa disinggung sebagai pihak yang merebut rumah orang.
            Kembali lagi ke Asgard, ketika Odin mengatakan Asgard bukanlah tempat melainkan rakyat, sejatinya itu menegaskan bahwa yang namanya pribumi itu bukan masalah tempat, tetapi soal identitas. Hal itu diperkuat –dengan cerdasnya- saat orang-orang Asgard disorot, mereka terdiri dari berbagai warna kulit, bahkan di antara mereka ada yang berwajah oriental. Identitas sama dengan jati diri, setidaknya itu yang tertera di KBBI. Maka ia akan melekat sesuai jati diri. Kalau orang Indonesia, memiliki kartu identitas sebagai WNI yang artinya diakui sebagai WNI, bertindaklah sebagaimana orang Indonesia bertindak. Jika tidak sesuai, maka Anda bukan pribumi. Jika Anda mengaku bangsa Indonesia, tetapi tidak berusaha untuk berkontribusi bagi Indonesia, berarti Anda bukanlah pribumi. Sesimpel itu.

            Karena pribumi bukan hanya masalah dimana kamu menduduki tempat, tetapi juga soal bagaimana kamu bermanfaat bagi tempat yang kamu duduki tersebut.

Wednesday, 13 September 2017

Columbus, Genosida, dan Rohingya

Belum kering air mata umat Islam melihat penderitaan saudaranya di al-Aqsha, datang kabar baru tentang saudara muslim di Rakhine State. Kendati tentu saja kabar soal Orang-orang Rohingya yang mendapat siksaan oleh Junta militer dan oknum agamawan Budha ini bukanlah berita baru. Setidaknya dalam 3 tahun terakhir ini kita mendapat kabar soal pembantaian di sana. Tetapi memang berita kali ini lebih besar dan menyayat hati. Dengan video-video kekejaman Junta militer Myanmar dan orang-orang Rohingya yang melarikan diri secara menyedihkan, orang-orang awam makin perhatian kepada mereka. Belum lagi penggalangan dana dimana-mana yang meraup dana cukup besar. Meskipun tentu saja ada orang-orang yang sinis, orang-orang yang menganggap toleran tetapi sangat tidak suka melihat orang-orang muslim menjadi solid dalam menyuarakan kebenaran.
            Tentu saja bukan kapasitas saya membicarakan persoalan Rohingya karena ilmu saya yang amat terbatas. Tetapi setidaknya saya mewajibkan diri untuk terus berusaha mengingatkan khalayak akan siksaan yang dialami oleh orang-orang Rohingya di Rakhine State sana, agar terbuka mata kita bahwa banyak ketidakadilan di muka bumi. Bahwa penindasan mayoritas terhadap minoritas masih terjadi di dunia yang damai ini. Mari lihat dengan kacamata logika, apakah mereka pantas dianiaya sedemikian rupa, sehingga mereka harus berpayah-payah melarikan diri ke negeri seberang? Bagi yang hatinya belum mati, pastilah menjawab tidak pantas. Terlepas dari persoalan agama, orang-orang Rohingya dalam beberapa sumber disebutkan telah menduduki wilayah Arakan sejak abad ke-8 Masehi. Sensus Inggris tahun 1872 juga menunjukkan bahwa Rohingya sebagai komunitas muslim yang menduduki wilayah Arakan, saat itu Myanmar di bawah koloni Inggris. Pada tahun 1948, Konstitusi dan UU Kewarganegaraan menyatakan semua etnis diakui, termasuk Rohingya. Pada saat Myanmar merdeka tahun 1947, Rohingya dianggap sebagai etnis asli Myanmar, bukan pendatang, apalagi imigran ilegal seperti yang disebutkan oleh beberapa pihak. Tetapi pada tahun 1965, Junta militer merilis daftar 135 golongan etnis dan agama, yang ternyata di dalamnya etnis Rohingya telah dihapuskan, itu terjadi setelah kudeta militer yang mengawali rezim Junta militer di Myanmar, entah ada hubungannya atau tidak. Faktanya, orang Myanmar yang lahir setelah tahun 1965, kebanyakan mereka tidak tahu ada sebuah etnis di negaranya yang bernama Rohingya, atau setidaknya mereka kenal orang Rohingya sebagai keturuan Bangladesh, bukan orang Myanmar asli, karena memang nama Rohingya dihapuskan dari sejarah nasional secara sistematis.
            Kejahatan yang dilakukan oleh Junta militer memang jelas-jelas kejahatan genosida. Lucunya adalah ketika kita menerima kenyataan bahwa Aung San Suu Kyi, sang presiden sekaligus penerima Nobel Perdamaian hanya bersikap diam atas penyiksaan terhadap orang-orang Rohingya. Jadi, atas dasar apa Suu Kyi tetap menyandang status sebagai penerima Nobel Perdamaian? Myanmar berdiri atas pergulatan sejarah, mereka tidak terdiri dari satu suku aja. Ada banyak etnis yang membentuk negeri Myanmar. Rohingya sendiri bukanlah satu-satunya etnis muslim di Myanmar, tetapi mereka yang mengalami genosida. Kejahatan semacam itu sudah masuk kategori genosida, bukan yang lain. Genosida, menurut Konvensi PBB tahun 1984, tidaklah terbatas pada pembantaian secara fisik saja, tetapi juga menyakiti atau menyiksa sekelompok orang karena alasan identitas yang melekat pada ras, etnis, ataupun agama. Sebagian beranggapan karena Rohingya adalah muslim, tetapi sebagian berpendapat ini soal politik, karena tanah yang didiami orang-orang Rohingya adalah tanah yang memiliki kekayaan alam, dan ini sangat diincar pemerintah. Apapun alasannya, kejahatan menyiksa manusia lain, apalagi ras tertentu, tidak bisa dibenarkan sampai kapanpun. Tidak ada satupun agama yang mengajarkan untuk menganiaya umat agama lain, atau ras tertentu. Soal ini, lagi-lagi harus saya katakan, saya tidak berkapasitas untuk membahasnya. Biarlah ini dijelaskan oleh mereka yang jauh lebih ahli. Harapan kita –yang masih punya hati- pasti sama, orang-orang Rohingya diberi kehidupan yang layak, dan mereka kembali ke tanah mereka.
            Ironisnya, genosida ini termasuk kejahatan yang berkali-kali dibiarkan oleh dunia. Awal abad ke-20, Suku Moriori di Pulau Chatham dibombardir oleh saudaranya sendiri, yakni Suku Mori, hingga tahun 1933 Suku Moriori benar-benar punah. Tahun 1980-an ada pemberantasan ratusan ribu orang Kurdi dengan operasi yang dikenal dengan Chemical Ali. Genosida terhadap suku asli Amerika tak kalah menyedihkan. Columbus bukanlah orang pertama yang menemukan benua Amerika. Jauh sebelum Columbus, sudah ada pelancong Tiongkok dan pelancong Muslim sekelas Ibnu Batutta mendarat di Amerika. Columbus menginjakkan kaki di Amerika sambil terheran-heran melihat peradaban di sana yang katanya ada bangunan mirip bangungan di Persia dan orang-orang melakukan gerakan aneh di dalamnya. Kita pasti langsung tahu bangunan yang dimaksud adalah masjid, dan gerakan aneh yang dimaksud adalah shalat. Hal ini diperkuat dengan ucapan terimakasih kepada Ibnu Batutta atas peta yang telah dibuat dalam catatan perjalanannya. Al-Masudi, seorang sejarawan dan ahli geografi muslim (871 – 957) melaporkan dalam bukunya, Muruj Adh-dhahab wa Maadin al-Jawhar (The Meadows of Gold and Quarries of Jewels), bahwa semasa pemerintahan Khalifah Andalusia, Abdullah Ibn Muhammad (888 – 912), Khashkhash Ibn Sa’id Ibn Aswad berlayar dari Delba (Palos) pada tahun 889, menyeberangi Lautan Atlantik, hingga mencapai wilayah yang belum dikenal yang disebutnya Ard Majhuula, dan kemudian kembali dengan membawa berbagai harta yang menakjubkan.
            Lantas, apa yang dilakukan Columbus? Dia menemui pemuka suku di sana, yang dia sebut dengan Indian, karena mengira tanah yang dipijak adalah tanah Hindia yang terdapat banyak rempah-rempah. Seorang kepala suku yang diminta tunduk kepada Columbus –karena Columbus merasa lebih tinggi derajatnya dibanding penduduk ‘dunia baru’ itu- menolak tunduk. Colombus memerintahkan kepala suku tersebut –yang dalam beberapa sumber disebutkan bernama Hatuey, dan sukunya adalah Indian Arawak- dan pengikutnya diikat di sebuah tonggak kayu mirip salib dan dihukum bakar hidup-hidup. Ketika sang kepala suku diikat ke kayu, seorang Pastor Fransiscan mendekatinya dan mendesaknya untuk mengakui Yesus sebagai tuhan, agar jiwanya dapat pergi ke surga daripada ke neraka. Dengan penuh harga diri sang kepala suku menjawab, bahwa jika surga itu adalah tempat bagi orang-orang seperti Colombus dan kawanannya, maka dia lebih baik pergi ke neraka. Mereka digantung secara serentak, yang berjumlah 13 orang. Demikian catatan para saksi mata yang dalam beberapa buku sejarah tentang kedatangan awal Colombus di Amerika.
            Arsip di Perpustakaan Kongres (Library of Congress) menunjukkan adanya perjanjian pemerintah Amerika Serikat dengan suku Indian Cherokee tahun 1787. Terbubuhkan tanda tangan Kepala Suku Cherokee saat itu, bernama Abde Khak dan Muhammad Ibnu Abdullah. Sebagaimana diskriminasi terhadap etnis Rohingya, begitulah nasib yang diterima para Indian muslim di Amerika, yang notabene adalah penduduk asli. Mereka dianggap sebagai suku primitif nan terbelakang, padahal orang-orang Eropa-lah yang menumpang hidup di sana. Praktis setelah datangnya Columbus, peradaban di sana berubah secara signifikan. Orang-orang kulit putih masuk membawa budak-budak kulit hitam. Mereka menjajah dan meminggirkan semua yang tidak mau tunduk kepada pihaknya. Padahal pelancong-pelancong sebelumnya tidak pernah mengusik penduduk di sana, bahkan mereka menjalin kekerabatan, sebagaimana data yang disajikan oleh Gavin Menzies dalam karya fenomenalnya, 1421: The Year China Discovered America.

            Pemberantasan suku Indian muslim di Amerika, jelas salah satu kejahatan genosida terbesar di dunia. Tetapi, sejarah ditulis oleh yang menang. Sebagaimana Junta militer di Myanmar, Columbus dan para loyalisnya dengan bangga menyatakan bahwa Chritstopher Columbus adalah penemu Amerika, dan dialah yang paling berjasa atas segala kemajuan yang dialami Amerika hingga detik ini. Jika kejahatan genosida sebagaimana yang dilakukan Columbus saja dibiarkan, bahkan sampai kejahatannya saja tidak tercium oleh orang-orang awam yang manggut-manggut saja kepada buku sejarah di sekolahnya, maka tidaklah heran jika suku Rohingya sampai detik ini masih jauh dari perhatian dunia karena masih saja banyak yang menganggap mereka imigran ilegal dari Bangladesh. Saya jadi teringat dengan apa yang pernah dikatakan oleh salah satu pentolan Nazi, Jozef Goebbels: “Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang akan membuat publik menjadi percaya.” Inilah yang kita terima sekarang, terkhusus menyoal Indian muslim di Amerika dan juga Rohingya di Myanmar. Maka, lakukanlah cara yang paling mungkin kita lakukan, selain mendonasikan bantuan tentunya. Jika tidak memiliki pengetahuan yang banyak tentang Rohingya, maka sebarkanlah tulisan-tulisan para ahli dari seumber yang terpercaya, demi kembalinya hak mereka sebagai manusia yang layak hidup di muka bumi.

Thursday, 31 August 2017

Sorban dan Kerbau yang Diqurban


Pernah lihat prosesi qurban kerbau? Atau kalau memang itu kejadian yang cukup asing di mata kita, setidaknya pernahkah Anda makan daging kerbau? Bagi sebagian kita, memang asing memakan daging kerbau, apalagi untuk dijadikan hewan qurban. Tetapi tentu saja itu bukan menjadi pemandangan yang asing di Kudus dan sekitarnya di Provinsi Jawa Tengah. Kebanyakan mereka berqurban kambing atau kerbau yang harganya relatif lebih mahal dibanding harga sapi karena membudayakan “dawuh” Sunan Kudus yang melarang warga Kudus untuk menyembelih sapi. Jika pun ada masyarakat Kudus yang berqurban sapi pada hari raya Idul Adha, biasanya adalah orang luar daerah Kudus yang menetap di Kudus atau kelompok masyarakat yang menyengaja untuk tidak lagi menjaga tradisi ini.
            Ini adalah hasil dakwah dari Ja’far Shadiq, seorang keturunan sultan yang lahir di Palestina. Terinsipirasi dari tanah lahirnya yakni al-Quds, jadilah ia memberikan nama Kudus bagi kota yang didiaminya. Orang pun menjulukinya Sunan Kudus. Julukan ini terus melekat dan pada akhirnya jauh lebih terkenal ketimbang nama aslinya sendiri. Dalam ilmu fiqh, ada istilah al-adat al-muhakkamah, bahwa adat istiadat bisa saja menjadi sebuah hukum di tempat tertentu, selama tidak menentang hal yang pokok atau menentang hal yang berkaitan dengan aqidah. Sunan Kudus berijtihad untuk melarang kaum muslimin di Kudus menyembelih sapi, dan menggantinya dengan kerbau. Sapi adalah hewan yang dianggap suci oleh umat Hindu yang pada saat itu memang sebagai penduduk mayoritas. Untuk menjaga tali persaudaraan tetap terjalin, Sunan Kudus melarang menyembelih sapi, karena mungkin itu akan menyakiti umat Hindu dan mereka justru menjauh, alih-alih mendekat kepada Islam.
            Inilah mudarah yang Rasul shallallahu ‘alayhi wasallam kepada umat Islam yang dengan apik dipraktikkan oleh Sunan Kudus. “Sesungguhnya Allah memerintahkan aku agar mudarah kepada manusia sebagaimana aku diperintahkan untuk menegakkan (menjalankan) semua kewajiban-kewajiban.” (HR. Al-Dailami).
Secara singkat, Mudarah adalah beramah-tamah dengan orang lain, berhubungan dengan cara yang baik, dan bersabar menghadapi gangguan mereka, agar mereka tidak menjauh dari kita, khususnya bagi para da’i. Dalam Fathul Bari disebutkan bahwa Ibnu Baththal menyatakan Mudarah adalah akhlak para mukminin, yaitu bersikap rendah hati kepada manusia, berbicara dengan lemah lembut dan meninggalkan sikap keras terhadap manusia. Dengan mudarah inilah akan tercipta persatuan yang kokoh. Mudarah ini terejawantahkan pula dalam istilah Jawa tepo seliro, yang berarti tenggang rasa, atau mencoba merasakan apa yang dirasakan orang lain, sehingga tercipta keadaan saling menjaga perasaan, baik itu kepada sesama muslim maupun kepada non-muslim.
Mudarah yang dilakukan Sunan Kudus ini tentu saja dilakukan demi kelangsungan ajaran Islam di Tanah Jawa, khususnya di Kudus sendiri. Tujuannya agar umat beragama lain, khususnya Hindu, bisa tertarik, kemudian luluh hatinya untuk menerima Islam. Mudarah ini jelas berbeda dengan mudahanah, yakni mengorbankan agama untuk kemaslahatan duniawi. Orang yang mudarah berlemah lembut kepada non muslim tetapi tidak meninggalkan prinsip agamanya, sedangkan mudahanah akan menghalalkan segala cara untuk menarik simpati yang orientasinya pasti lebih banyak soal duniawi, misalnya untuk meraih kepentingan politik. Hasil yang signifikan dari mudarah ini pun dapat kita lihat dampaknya hingga sekarang. Walau kini di Kudus sudah mayoritas muslim, adat itu tetap dipertahankan, karena memang tidak menentang syari’at yang ada. Qurban kerbau diperbolehkan, walau harganya memang lebih mahal ketimbang sapi apalagi kambing.
Dakwah para wali ini yang agaknya banyak ditinggalkan oleh para da’i zaman sekarang. Dengan alasan purifikasi, kemudian segala hal yang tidak ada dalilnya di dalam al-Qur’an maupun hadits dianggap harus dihindari dan tidak baik digunakan untuk kemaslahatan agama, termasuk untuk dakwah. Sunan Kudus dengan mudarah-nya, Sunan Kalijaga dengan filosofi kebudayaannya, Sunan Giri dan juga sunan yang lain dengan keseniannya. Mereka semua melakukan inovasi dakwah yang terbukti berhasil membumikan Islam di Nusantara khususnya di tanah Jawa.
Sangat mengecewakan ketika ada seorang ustadz yang saya dan publik mengakui ketinggian ilmunya, mengakui keasyikan cara dakwahnya, tetapi menyampaikan sesuatu yang membuat saudaranya menjadi sakit hati. Permasalahannya bukan pada saudara yang sakit hati, karena dakwah dengan cara apapun, tetap saja ada potensi menyakiti pihak lain sekalipun saudara muslim juga. Masalahnya adalah penyampaiannya yang tak berdasar, khususnya soal sorban. Katanya sorban yang digunakan para pahlawan tidaklah islami, sebagaimana sorban yang digunakan oleh Pangeran Diponegoro, Kiyai Mojo, juga Tuanku Imam Bonjol. Katanya lagi, sorban yang mereka pakai itu adalah sorban yang dipakai orang Hindu, juga para pemuka agama yang memakai tasbih tidaklah harus dianggap islami, karena tidak ada tuntunannya menggunakan tasbih untuk berzikir dalam Islam.
Dengan segala kerendahan ilmu, bagi saya yang melihat penyampaian yang demikian lewat video sangat menyayat hati. Kemudian disarankan untuk melihat videonya secara menyeluruh, bukan hanya potongan saja. Ternyata dari keseluruhan video pun tetap tidak ada pencerahan soal anehnya penyampaian itu. Setelah marak protes, kemudian Sang Ustadz pun membuat video klarifikasi, yang bagi saya blunder kedua. Dalam video klarifikasi itu disebutkan bahwa itu video yang dipotong sehingga menimbulkan multipersepsi, dan ngeles sana-sini hingga makin terlihat ketidakbijaksanaannya dalam bersikap. Mengapa tidak buat video berisi permintaan maaf saja tanpa embel-embel ajakan untuk belajar sejarah?
Lucunya, kita –para penonton- video klarifikasi tersebut disarankan untuk membaca sejarah lagi, supaya tidak terbodohi dengan sejarah yang sudah dipelintir. Sekaligus mempertanyakan lukisan-lukisan dan patung-patung pahlawan seperti Diponegoro yang bertempur dengan busana seperti itu. Sekarang, saya kembalikan ajakan itu. Mari belajar sejarah lagi! Sejarah mana yang Anda baca? Referensi apa yang Anda punya? Bukankah sebuah kebodohan jika berbicara tanpa ilmu dan dalil yang jelas? Jika Anda punya waktu sedikit saja, cobalah berkunjung ke Museum Bakorwil II Magelang. Di sana tersimpan jubah perang Diponegoro yang digunakan dalam Perang Sabil-nya melawan Belanda. Menurut penuturan petugas museum, jubah tersebut merupakan pemberian dari Kaisar Tiongkok pada saat itu. Adapun Diponegoro memang selalu menggunakan jubah ala pemuka Perang Sabil, bergaya Arab, menggunakan sorban, jubah dan baju putih sesuai arahan dari penasihatnya, Syekh Ahmad al-Ansari asal Jeddah, Arab Saudi.
Bagi sebagian ulama, menggunakan sorban dianggap sunnah, dengan kata lain kita akan meraih pahala jika menggunakannya dengan niat mengikuti sunnah Rasulullah, tetapi bagi sebagian yang lain hanya sebatas mubah. Jika di antara kita ada yang ikut pendapat bahwa itu sunnah, ya sudah, tidak perlu memaksakan pendapat kepada orang lain, begitu juga sebaliknya. Soal dalil sorban, saya tidak memiliki kompetensi untuk membahasnya. Tetapi soal sorban yang dipakai untuk perang, saya tahu walau hanya sedikit tentangnya. Al-Hakim dalam Mustadrak-nya menyebutkan bahwa Zubair bin Awwam mengenakan sorban kuning dalam Perang Badr. Jika memang menggunakan sorban dalam perang adalah sebuah kesalahan, seharusnya nabi atau sahabat yang lain ada yang menegurnya, tetapi tidak pernah ada penjelasan demikian. Lagipula, di luar dunia Islam juga sudah ada yang menggunakan sorban sebagai pakaian perang. Mungkin sebagian dari kita ada yang familiar dengan “Pemberontakan Sorban Kuning” yang terjadi sekitar abad ke-2 Masehi yang dipimpin oleh tiga bersaudara Zhang Jiao, Zhang Liang, dan Zhang Bao. Mereka memberontak kepada Dinasti Han, dimana saat itu keadaan Dinasti Han memang sedang lemah-lemahnya, meskipun akhirnya berhasil diberantas juga.
Kita juga mengenal syimagh dan ghuthrah yang sering dipakai orang-orang Arab. Syimagh adalah kain putih yang biasanya digunakan di atas peci, ghuthrah juga sama dengan syimagh, hanya saja ia bercorak-corak merah. Kain ini sering digunakan untuk menutup wajah para pejuang perang Hamas ketika berperang. Tentunya, jika hal ini menghambat produktivitas para prajurit, pasti sudah ditinggalkan. Tetapi buktinya mereka justru lebih nyaman jika menggunakannya, karena wajah mereka tidak terlihat yang membantu mereka terhindar dari ‘ujub dan riya’.
Dengan tulisan ini, saya hanya berharap dakwah kita dan utamanya dakwah para da’i yang budiman haruslah lebih tepo seliro, dan sebagaimana kaidah dakwah kita, jangan berbicara hal-hal yang kita tidak punya ilmu terhadapnya. Cukuplah bicara pada hal-hal yang kita dalami ilmunya. Toh kita berdakwah ini menyampaikan agama agar yang haq itu tegak dan yang batil itu musnah, bukan untuk merekrut sebanyak mungkin pengikut. Perdebatan-perdebatan yang ada, hedaklah dihindari, atau diredakan sengan hati yang rendah serta kepala yang dingin. Hindari pula membicarakan hal-hal yang kita tidak punya ilmu mendalam terhadapnya, demi terciptanya kedamaian dan suasanya yang teduh.
Wali Songo yang terkenal sangat berjasa itu pun tidak selalu luput dari perdebatan. Sunan Kudus yang cukup keras beragama, acapkali tidak sepakat dengan segala gagasan dan praktik dakwah milik Sunan Kalijaga. Tetapi mereka tetap bisa menghasilkan dakwah yang produktif untuk membumikan Islam di Nusantara. Maka, soal sejarah bangsa, hingga kepada soal qurban dan sorban, hendaknya tidak menjadikan kita berpecah kembali. Zaman kita memang berbeda dengan zaman para wali, maka pemurnian ajaran Islam harus lebih galak ketimbang masa lalu. Namun, orang Indonesia tetaplah orang Indonesia dari dulu hingga sekarang. Dengan segala kemajemukannya, inovasi dakwah yang makin beragam adalah hal niscaya. Maka jauhilah lisan kita dari hal-hal yang berpotensi menimbulkan perpecahan umat. Tetapi dekatkanlah telinga kita kepada segala penjelasan saudara kita, sehingga hilanglah segala prasangka buruk.

Monday, 31 July 2017

Bangsa Ashabul Kahfi?

Kisah Ashabul Kahfi bukanlah kisah yang asing di telinga umat Islam. Kisah ini termasuk kisah yang populer dan beberapa orang mungkin sudah mendengarnya sejak masa kanak-kanak. Bahkan seharusnya kisah ini sudah sangat dihafal oleh umat Islam hingga hikmah-hikmahnya, karena disunnahkan untuk membacanya setiap Jumat. Dan kisah Ashabul Kahfi ini terletak di tempat yang sangat strategis, yakni di awal-awal surah al-Kahfi.
            Kisah itu begitu menggugah, karena walau bagaimanapun, mereka lari bukan sekadar lari. Tetapi lari dari kejaran tentara raja zalim yang memaksa mereka menggadaikan keimanan mereka. Jumlah mereka hanya enam orang, kemudian di jalan bertemu dengan orang yang satu ideologi dan satu tujuan, jadilah jumlah mereka menjadi tujuh ditambah dengan satu anjing. Apa yang mereka lakukan memang benar-benar hal yang sudah di ambang putus asa. Mereka lari, kemudian masuk ke gua. Padahal, secara logika, mudah saja balatentara itu menemukan mereka di dalam gua. Namun, pada kenyataannya mereka selamat dari kejaran balatentara tersebut. Mereka tertidur lelap di dalam gua, dibersamai dengan seekor anjing. Setelah 309 tahun, mereka terbangun, merasa baru melewatkan sehari atau setengah hari. Tetapi apa yang mereka dapatkan ketika salah satunya keluar gua sangat mengagetkan. Ternyata zaman dan kondisinya sudah berubah total. Raja yang dulu bernafsu sekali menzalimi mereka, kini sudah berganti dengan raja yang adil dan beriman.
            Saya membayangkan, bangsa di negeri yang kita cintai ini, di zaman sekarang adalah bangsa Ashabul Kahfi. Tetapi bukan tindakan revolusionernya yang ingin saya sorot secara tajam, melainkan tidurnya yang panjang sekali. Jumat lalu, tepat pada tanggal 28 Juli 2017, saya shalat Jumat di Masjid Jogokariyan. Memang disengaja shalat di sana, karena setelah shalat Jumat akan diadakan tabligh akbar untuk menggalang dukungan pembebasan al-Aqsha. Tanpa saya nyana sebelumnya, ternyata khatib Jumat waktu itu adalah Ustadz Irfan S. Awwas, seorang mubaligh yang terkenal keras dan tegas dalam menyampaikan kebenaran agama Islam. Pada saat itu saya senang sekali, sebab selain isi khutbah yang pasti berbobot, juga penyampaiannya yang berapi-api tentu saja membuat saya jauh dari hantu Jumatan yang selalu hinggap di mata saya. Hantu itu lebih dikenal dengan sebutan ‘ngantuk’.
            Singkatnya, Ustadz Irfan menyampaikan tentang kesempurnaan Islam sekaligus menyinggung masalah keumatan, terutama masalah al-Aqsha yang hingga saat ini masih diblokir oleh Israel. Berkali-kali Ustadz Irfan berkata “Umat Islam ini masih tidur panjang”, yang walau kalimat seperti itu sudah akrab sekali di telinga saya, tetapi entah mengapa pikiran saya langsung terbang kepada kisah Ashabul Kahfi. Padahal jelas berbeda antara tidurnya Ashabul Kahfi dengan ‘tidur’nya umat Islam saat ini. Tidurnya Ashabul Kahfi jelas tidur yang amat berkualitas, karena tidurnya memang ditakdirkan Allah untuk menjauh dari rezim zalim. Tapi tidurnya umat Islam di negeri ini? Ashabul Kahfi minoritas, sedangkan bangsa ini mayoritas umat Islam. Ashabul Kahfi tak kuasa melawan rezim, tetapi umat sekarang?
            Jadi, sebetulnya tulisan ini memang sengaja saya buat singkat. Kita jelas menang jumlah, kita jelas masih memiliki ‘alim ‘ulama, kita jelas punya banyak saudara yang sejatinya mampu membantu. Namun, apa yang membuat kita tidak bisa bergerak bangkit, melawan, dan memenangkan pertempuran. Saya teringat dengan tulisan-tulisan Syaikh Syakib Arsalan yang kemudian dibukukan berjudul Limaadzaa Ta’akhkharal Muslimuun wa Limaadzaa Taqaddama Ghayruhum. Tulisan itu secara jelas mengungkapkan mengapa umat Islam tertinggal dari umat lainnya, dan sangat relevan tulisan-tulisan itu dengan kondisi saat ini. Tetapi masalahnya, tulisan itu dibuat hampir seabad yang lalu. Saat teknologi tidak secanggih dan semelenakan seperti sekarang.

            Berapa lama lagi kita masih akan tidur? Apakah juga selama dan selelap Ashabul Kahfi yang mencapai tiga abad lamanya. Saya yakin tidak, tetapi sampai kapan?

Tuesday, 27 June 2017

Setelah Menang, Lalu Apa?

Pernah menonton sepak bola? Apa yang terjadi setelah seorang pemain sepak bola mencetak gol? Atau pernahkah menonton Moto GP, Formula 1, dan sejenisnya? Apa yang terjadi ketika seorang pebalap berhasil naik podium setelah ajang balap usai? Atau pernahkah membaca sejarah tentang kisah-kisah perang zaman dahulu? Apa yang terjadi ketika sebuah pasukan –kerajaan Mongol misalnya- meraih kemenangan atas pasukan lain?
            Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas –sekalipun Anda belum pernah menonton atau membacanya- relatif senada. Bergembira, berpesta-pora, bahkan ada yang mengekspresikan kegembiraannya secara berlebihan hingga mencelakai diri sendiri. Kemenangan adalah sebuah keadaan dimana kita memperoleh hasil yang lebih baik daripada yang diperoleh orang lain atau pesaing kita. Oleh sebab itu, banyak sekali orang yang terlena ketika meraih kemenangan.
            Mental adalah satu elemen terpenting dalam menjalani persaingan. Seorang yang bermental pemenang bukanlah mereka yang selalu meraih kemenangan di setiap perombaan, tetapi seorang bermental pemenang adalah mereka yang siap menerima apapun hasilnya, kalah maupun menang dalam setiap persaingan yang dilakoninya. Maka jangan heran bila kita melihat mereka yang mengalami kekalahan langsung meluap emosinya dengan melampiaskannya kepada lingkungan sekitarnya. Bahkan hingga melukai orang lain. Rasanya telah sangat akrab di negeri kita, ketika ada sekelopok suporter tim sepakbola yang mengalami kekalahan lantas membuat kerusuhan setelah pertandingan baik di dalam stadion maupun di luar stadion. Ada pula calon anggota dewan yang mengalami stres dan sakit jiwa tatkala mendapati dirinya gagal menjadi anggota dewan, padahal sudah jor-joran mengeluarkan dana untuk kampanye. Ada juga yang lebih parah, siswa sebuah sekolah diberitakan bunuh diri karena tidak lulus Ujian Nasional! Begitulah yang terjadi apabila mereka tidak memiliki mental pemenang dalam jiwanya. Na’udzubillah min dzalik.
            Pasukan perang Mongol berpesta pora setiap selesai mengalami kemenangan. Sejak zaman keemasan yang dimotori oleh Genghis Khan, hingga kepemimpinan Raja Mongol yang muslim semodel Timur Leng sekalipun, tetap saja budaya itu tidak berubah. Kendatipun hal seperti ini menjadi hal lumrah bagi siapapun yang menang, namun Islam mengajarkan kerendahhatian bagi mereka yang menang.
            Tidak banyak yang tahu bahwasanya Allah mengajarkan hamba-Nya tentang adab menyikapi kemenangan yang diraih. Dalam surah An-Nashr, Allah mengajarkan para hamba-Nya untuk senatiasa mawas diri, sekalipun kita mengalami kemenangan yang besar. Meskipun mayoritas umat Islam sudah menghapal dengan baik surah Madaniyyah (turun setelah Rasulullah hijrah ke Madinah) ini, namun nyatanya mayoritas pula yang tidak memahami makna dari surah yang hanya berisi tiga ayat ini.
            Surah An-Nashr adalah surah terakhir dalam Al-Qur’an yang turun secara keseluruhan. Dari ‘Ubaidillah bin ‘Abdillah bin ‘Utbah, ia berkata: Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu 'anhuma bertanya kepadaku: “Engkau tahu surat terakhir dari al Qur`an yang turun secara keseluruhan?" Ia menjawab: “Ya, idza ja`a nashrullahi wal fath”. Beliau menjawab: “Engkau benar”. (HR. Muslim).
            Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama, tentang keadaan saat diturunkannya surah ini, apakah turun sebelum atau setelah terjadinya peristiwa fathu makkah (penaklukkan Kota Mekkah). Terlepas dari itu semua, kita dapat membuat sebuah kesimpulan, bahwa surah An-Nashr diturunkan berkaitan dengan peristiwa penaklukkan Kota Mekkah. Yaitu pertolongan Allah kepada kaum muslimin untuk merebut dan mengislamkan Kota Mekkah dari tangan kaum kafir Quraisy. Ibnu Katsir dalam tafsirnya pun menyatakan bahwa kata fathu pada akhir ayat pertama merujuk kepada peristiwa Fathu Makkah.
            Serangkaian firman Allah dalam surah ini memaparkan banyak makna. Di antaranya adalah banyaknya nikmat serta pertolongan yang Allah turunkan kepada para hamba-Nya, wajibnya seorang hamba bersyukur manakala meraih kemenangan dan kebahagiaan, dan kewajiban bagi setiap muslim untuk senantiasa beristighfar (meminta ampun) dan bertobat. Hari ini hingga beberapa hari ke depan masih kental dengan nuansa Idul Fitri, yang bagi sebagian orang benar-benar dimaknai sebagai hari kemenangan, tetapi bagi sebagian orang yang hanya sebatas diucap di lisan saja.
            Betapa banyak yang betul-betul menang setelah Ramadhan mereka yang tak disia-siakan, betapa banyak yang betul-betul menang atas berkualitasnya tadarus mereka, betapa banyak yang betul-betul menang atas berkualitasnya waktu yang mereka bagi-bagi untuk keluarga, untuk ibadah, hingga untuk memenuhi hak atas saudaranya, bahkan betapa banyak yang betul-betul menang dalam mudik-mudik mereka, dalam bermedsos ria mereka, dalam senda gurau mereka. Sebaliknya, betapa banyak yang menyia-nyiakan Ramadhan mereka, betapa banyak yang kejar target tilawah namun hasilnya hanya khatam tanpa ada pemahaman dan kesadaran yang baru, betapa banyak yang mudik, bermedsos ria, dan senda gurau mereka justru menghasilkan maksiat yang lebih besar, alih-alih ibadah yang lebih besar.
            Fasabbih, maka bertasbihlah kepada Allah di hari kemenangan kita. Bertasbih di waktu pagi dan petang. Bertasbih untuk menyucikan-Nya dari penuhanan kita kepada Ramadhan, penuhanan kita kepada selain-Nya. Bertasbih untuk mengingat kesucian-Nya yang telah memberikan kita kemuliaan dan kesucian Ramadhan, hingga kita diberikan kesempatan menapaki garis finish di ‘Idul Fitri.
            Bihamdi rabbika, dengan pujian kepada-Nya, kita bersyukur atas kesempatan melipatgandakan amalan kita di Bulan Ramadhan. Kita bersyukur atas ampunan-Nya atas dosa-dosa kecil kita yang telah lampau. Kita bersyukur atas dibelenggunya setan-setan dan neraka yang ditutup hingga kita tidak merasakan godaan dan hawa panasnya neraka. Kita bersyukur dengan adanya momen Ramadhan dan Syawal, bisa kembali berkumpul bersama keluarga dan kerabat, yang mungkin saja di bulan-bulan yang lain tidak sempat bersemuka sama sekali.
            Wastaghfirhu, maka senantiasalah meminta ampunan kepada-Nya setelah mendapat kemenangan. Tiada satupun pihak yang dapat memberikan kita kemenangan selain Dia. Tiada satupun kemenangan yang mendatangkan berkah kecuali karunia dari-Nya. Sebab meminta ampun adalah tindakan tahu diri bagi kita yang senantiasa bermaksiat, namun masih selalu diberikan kebahagiaan oleh-Nya. Sebab meminta ampun adalah perbuatan terpuji yang membuat kita tidak melampaui batas dalam merayakan kemenangan. Sebab meminta ampun adalah perbuatan para nabi, sekalipun mereka sudah memegang jaminan ampunan dari Rabb yang mengutus mereka.

            Setelah kemenangan yang kita terima, marilah kita menang dalam mudik-mudik kita, kemenangan dalam swafoto-swafoto kita, kemenangan dalam sungkem-sungkem kita, kemenangan dalam kenikmatan ketupat serta opor-opor kita, dengan iringan tasbih, tahmid, dan istighfar kita.
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com