Saturday, 12 January 2013

#ITJGoesToLawu

Sejak dahulu, saya memang sudah menyimpan keingingan mendaki gunung. Acapkali melihat gunung yang gagah perkasa dari dekat, rasanya ingin sekali saya nangkring di pucuknya. Benar saja, gunung itu Allah ciptakan untuk menahan bumi dari goncangan. Lempengan-lempengan bumi yang saling bertabrakan membentuk gundukan, dan jadilah gunung yang kokoh tak kenal hantaman berdiri angkuh.

Tanggal 26 Desember 2012 itu, menjadi saksi pendakian pertamaku.
Bersama ITJ Jogja yang memang sudah direncanakan sejak lama, akhirnya terealisasi hari itu. Perlengkapan sudah siap semua, dan fisik pun sudah mumpuni untuk menaklukkan Gunung Lawu. Adapun pasukannya saya, mas Rino, mas Pinto, mas Fahmi A, Meda, Aji, Khoiri, mbak Ninik, mbak Fitri, mbak Lani, dan satu orang dari Semarang, mbak Dani. Sisanya, kawan-kawan dari Solo, mas Arif, mas Ashof, dan mas Fahmi menunggu di Tawangmangu, serta satu orang kawan lagi, mas Ari yang sudah menunggu di basecamp. Jadi total kami berjumlah 15 orang.

Kami kumpul di Terminal Giwangan sekitar pukul 13.00 dan berangkat pukul 14.15, menumpang Bus Sumber Selamat dengan tujuan Terminal Solo. Kami tiba di Solo pukul 16.40. Kemudian dari Solo, kami menumpangi bus ke arah Tawangmangu. Sepanjang perjalanan, terasa menanjak, Lawu pun semakin dekat, membuat saya semakin bergairah untuk muncak. Maklum, baru pertama, ghirah-nya sudah sampai ubun-ubun.. hehehehe

Tiba di Tawangmangu pukul 18.20. Kami beli sate dan menunggu sebentar, untuk santap malam sebelum mendaki. Lalu menuju basecamp sekitar pukul 19.00 dan tiba di basecamp pukul 19.30. Sepanjang perjalanan, jalanan terlihat basah karena disiram hujan sebelumnya.
Setibanya di basecamp, kami menunaikan sholat maghrib dan isya dengan jamak takhir.

Selesai sholat, bersantap malam, lalu bergegas untuk mendaki. Tidak lupa briefing, dan berdoa untuk kesuksesan dan keselamatan selama mendaki maupun selama turun.

Cerita dimulai dari sini

Jam menunjukkan angka 21.45 saat kami start muncak. Dipimpin mas Ashof di depan dan dibimbing mas Arif dari belakang. Mereka sudah berpengalaman muncak di Lawu, dan kerap kali jadi instruktur, bersama mas Fahmi juga. Kami berjalan santai menanjak, hinggan berhenti di pos bayangan II pukul 22.35 untuk istirahat dan sekedar ngemil. Setelah itu kami kembali berjalan, dan kembali singgah di pos I pukul 22.50. Jaraknya tidak terlalu jauh, tapi tetap saja membuat lelah luar biasa bagi seorang di antara kami. Harap maklum, masih pemula hehehe.

Sepanjang perjalanan pun kami sering berhenti, karena komitmen pendakian adalah di saat seorang ingin istirahat, maka semuanya harus ikut istirahat. Inilah yang dinamakan "itsar" dalam amalan jama'i. Kita harus "lebih" memikirkan kepentingan bersama dibanding kepentingan pribadi. Ini implikasi dalam berdakwah, dakwah itu berjamaah, maka kita saling menopang satu sama lain, bukan malah saling "gede-gedean".

Perjalanan dilanjut.
Di sinilah mulai beberapa dari kami terlihat kelelahan. Kami banyak berhenti di tengah jalan untuk istirahat. Hingga tiba di pos II pukul 1.10. Itu di luar perkiraan, karena kami terlalu banyak berhenti, otomatis perjalanan dari pos ke pos memakan waktu yang sangat lama.

Kami lanjut menanjak untuk mencapai pos III. Sama seperti tadi, kami banyak berhenti, namun kali ini frekuensi berhenti lebih banyak dan waktu istirahat saat berhenti juga lebih lama. Kemudian sampailah pada suatu keadaan yang sangat tidak kami inginkan. Kami harus meninggalkan beberapa orang. Mbak Fitri harus tinggal karena kondisi tubuhnya tidak memungkinkan untuk lanjut. Maka mas Ashof, mas Arif dan mbak Ninik berhenti untuk menemani. Perjalanan kami lanjut, dan dibimbing oleh mas Fahmi. Sedangkan Aji dengan mas Fahmi A, mereka mendahului kami. Adapun Tiba di pos III pukul 3.20. Sudah mendekati subuh, hujan pun turun. Membuat kami harus menambah "peralatan perang" kami agar tidak basah dan kedinginan.

Jalan semakin curam, dan tenaga pun semakin terkuras. Langkah kami mulai lambat, di samping itu mas Fahmi sangat perhatian pada kami, hingga beliau cukup sabar menunggu kami yang terlalu banyak berhenti. Waktu subuh subuh sudah masuk, fajar pun hendak menyingsing. Akhirnya dengan tempat seadanya, kami menggelar beberapa matras untuk dijadikan alas sholat. Saya yang menjadi imam. Subhanallah, saya merasakan sujud yang berbeda dari biasanya. Begitu sulitnya sujud di tanah yang tidak rata. Jadi terbayang saudara-saudara yang berada di daerah konflik. Seperti Gaza, Suriah, dan daerah-daerah lain seperti Arakan dan Pattani, yang untuk sholat saja, mereka tidak bisa tenang.

Matahari mulai terbit, langit mulai cerah, senter pun kami matikan. Tiba di pos IV pukul 5.20. Perlu diketahui, sepanjang jalan dari pos bayangan hingga pos IV ini saya sering menyanyi. Itu mungkin cara saya untuk tetap ceria, tak peduli teman saya risih atau tidak mendengarnya.. hehehe. Setelah istirahat di pos IV, kami lanjut perjalanan ke pos V yang tidak terlalu jauh. Pukul 5.55 kami sudah tiba di pos V. Tidak terlalu lama, kami lanjut berjalan dan hampir sampai di puncak, kami istirahat di warung sendang drajat (CMIIW). Perlu diketahui, di Gunung Lawu itu sudah ada jalan setapak menuju puncak, dan di atas ada warung. Jadi memang bagi yang masih pemula dan ingin mendaki gunung, Gunung Lawu ini sangatlah direkomendasikan.

Tepat pukul 6.25 kami makan, setelah itu kami tidur. Karena sudah semalaman kami belum tidur. Lalu kami bangun pukul 10.00, bersiap-siap untuk ke puncak. Namun Meda memilih tinggal di persinggahan. Tiba di puncak, kami bentangkan bendera tauhid dan banner #IndonesiaTanpaJIL dengan bangganya. Terlebih saya, seorang pemula yang baru kali itu menginjak puncak gunung. Jadi dari 15 orang pendaki, hanya 10 orang mencapai puncak. Sedangkan Aji dan mas Fahmi A, sudah mencapai puncak terlebih dahulu.

Tidak lama di puncak, pukul 13.00 kami kembali ke persinggahan, menunaikan sholat dzuhur dan ashar, lalu kami turun. Karena perjalanan turun, otomatis lebih cepat. saya tiba di basecamp sekitar pukul 17.15, sedangkan teman-teman yang lain sekitar pukul 18.00. Karena ternyata menolong orang yang pingsan dari rombongan lain. Di samping survival, kami juga harus peka terhadap lingkungan. Memang itulah adab dalam mendaki, dan implikasi dalam berdakwah ialah bagaimana kita menyikapi lingkungan saat berdakwah. Di saat ada yang lemah, kita sebagai pengemban dakwah harus membantu, karena bukan sekadar menyampaikan, tapi juga aksi nyata atas apa yang kita sampaikan.

Pendakian gunung ini, bukan semata-mata rekreasi, tapi juga tadabbur alam, dan bagaimana seorang aktivis dakwah menyikapi tantangan yang ada. Benarlah sepenggal lirik grup nasyid Gradasi dalam lagunya yang berjudul Gantole, "membangun diri di ketinggian pegunungan". Seorang aktivis dakwah harus kuat secara rohani, jasmani dan juga mentalnya haruslah mental pemenang. Inilah yang dibutuhkan para aktivis #IndonesiaTanpaJIL. Gerakan kita adalah gerakan pemurnian aqidah, jadi gerakan kita bukanlah gerakan yang "ringan". Ada rintangan di tiap jalan, ada tikungan di setiap jalan lurus dan ada orang yang patut ditolong sepanjang jalan.



'Isy kariman aw mut syahidan.
Allahu Akbar!
Zaky Ahmad Rivai ^^

0 comments:

Post a Comment

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com