Thursday, 11 April 2013

Wahai Aktivis, Jangan Lupakan Makna Iman!


            Umumnya, orang akan mengatakan bahwa arti dari iman adalah ‘percaya’. Tidak dapat disalahkan jawaban yang seperti itu. Namun jika masih menjawab seperti itu kita tak ubahnya anak SD yang baru saja selesai mendapat pelajaran Agama Islam di kelas. Atau apa bedanya dengan agama selain Islam? Hindhu, Buddha, Kristen, Katholik, Konghucu, dan lain sebagainya juga mengartikan iman sebagai ‘percaya’. Ada yang lebih ‘lucu’ lagi mengatakan bahwa iman adalah ‘misteri’. Jangan sampai umat Islam terjebak pada pemahaman ini. Karena lemahnya pemahaman akan suatu hal yang mendasar sama saja merusak arti pemahaman itu dan parahnya merusak citra agama hanya karena kita salah dalam memahami hal yang sudah menjadi prinsip dalam agama.

            Makna dari iman –tanpa melupakan fiqih- sejatinya adalah perkataan dan perbuatan yang membenarkan apa yang diturunkan Allah dan dibawa Rasul-Nya. Iman bagi kaum muslimin adalah sesuatu yang amat sangat sukar dijaga, karena ia dapat naik dan dapat pula turun. Karena iman letaknya di hati, dan hati adalah sesuatu yang bisa terbolak-balik. Jadi dalam bahasa Arab qalb (hati) adalah sesuatu yang dapat bolak-balik. Iman tidak dilakukan setengah-setengah. Karena jika hanya mengimani sebagian dan mengkufuri sebagian, sama saja membatalkan iman itu sendiri dan kemungkinan dapat membatalkan keislamannya. Allah menyindir kaum di luar Islam dalam firman-Nya.

“Apakah kamu ingkar kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-Baqarah: 85)

            Dengan lisan ia membenarkan, dengan lisan pula ia menyampaikan segala kebenaran yang ada dalam Islam, yang diturunkan langsung oleh Allah, dan disebarkan dalam bentuk dakwah oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam. Begitu pula dengan perbuatannya. Melakukan segala sesuatunya sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah, menjauhi larangan-Nya, dan taat kepada Rasul-Nya. Makna sejati dari iman sangatlah penting untuk berdakwah. Karena kekurangan kaum muslimin dewasa ini justru meremehkan hal-hal dasar yang seharusnya tidak dianggap remeh dalam agama. Membahas iman adalah keharusan karena ianya penting untuk membersihkan hati dari kotoran. Jikalau hati sudah kotor, kelak yang akan didakwahkan kepada orang-orang juga kotor.

            Dengan iman kita dapat menunjukkan betapa sempurnanya Islam, dengan iman pula kita dapat berkata-kata lembut, sehingga orang lain semakin yakin bahwa Islam memang agama yang lembut dan rahmatan lil ‘alamin. Iman juga yang menolong kita dari siksa neraka. Iman pula yang dapat membantu anak-anak Adam berpadu berjuang. Karena kesatuan iman akan membuat keterikatan manusia satu sama lain. Maka latihlah diri agar selalu menjaga imannya agar senantiasa on fire.

“Iman itu tujuh puluh cabang lebih atau enam puluh cabang lebih yang paling utama adalah ucapan “la ilaha illallahu” dan yang paling rendah adalah menyingkirkan rintangan (kotoran) dari tengah jalan, sedang rasa malu itu (juga) salah satu cabang dari iman.” (HR. Muslim)

            Iman pun mempunyai cabang-cabangnya sendiri, dari cabang itu bisa dikelompokkan yang mana yang paling kuat dan yang mana yang paling lemah. Begitu pula balasan yang diterima, tergantung dari cabang iman tersebut. Di antara cabang-cabang ini ada yang bisa membuat lenyapnya iman manakala ia ditinggalkan, menurut ijma’ ulama; seperti dua kalimat syahadat. Ada pula yang tidak sampai menghilangkan iman menurut ijma’ ulama manakala ia ditinggalkan; seperti menyingkirkan rintangan dan gangguan dari jalan.

          “Siapa yang melihat kemungkaran di antara kalian, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika ia tidak mampu maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

           Semakin beriman ia, maka akan semakin takut kepada Allah. Dirinya senantiasa merasa diawasi dimanapun berada. Karena Allah Maha Segalanya. Apabila mendengar nama Allah, semakin kuat getaran imannya, getaran yang dirasa atas ketakutan akan siksa dan kecintaannya yang tiada batas kepada Sang Pencipta. Karenanya ia selalu memperbaiki diri dan meng-upgrade imannya sehingga menjadi insan bertaqwa.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal” (Al-Anfaal: 2)

            Jika gerakan dakwah diisi oleh para pengemban dakwah yang mempunyai semangat militan, kuat fisiknya dan iman di hatinya, maka akan semakin kuatlah Islam secara luar dalam di zaman yang serba ‘menggilas’ ini. Bahkan Islam akan lebih kuat ketimbang kejayaan yang pernah dirasakan kaum muslimin di masa lalu. Keluasan ilmu dan keluasan iman para pengemban dakwah akan terasa dengan (kembali) meluasnya Islam ke seluruh pelosok bumi. Akhlaqnya yang lembut, lebih lembut dibanding sejumput kapas, pun sejuknya lebih sejuk daripada angin pagi yang berhembus menyapa kulit. Mereka sadar betapa kecil diri mereka hingga tak sesaat pun mereka ingin menyombongkan diri di muka bumi. Itulah cerminan pengemban dakwah, yang di bahunya terpikul segala kehormatan dan kemuliaan Islam. Tidak secuil pun terpikir olehnya melainkan Allah pasti menolongnya. Kemudian mereka bertemu pula dengan orang-orang beriman yang lainnya, lalu terbentuklah sebuah barisan yang kokoh, yang tak akan tertembus peluru sebesar apapun. Allah pun mencintai dan mengokohkan mereka.


“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara.” (Al-Hujurat: 10)
“Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati-hati mereka (kaum mukminin), seandainya kamu membelanjakan dunia dan seisinya, niscaya kamu tidak akan dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah lah yang mempersatukan hati-hati mereka.” (Al-Anfal: 63)

“Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya adalah laksana bangunan yang saling menguatkan bagian satu dengan bagian yang lainnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)


            Mereka itulah orang-orang yang bertawakkal kepada Allah. Mereka tidak mengharapkan selain-Nya, tidak menuju kecuali kepada-Nya dan tidak mengadukan hajatnya kecuali kepada-Nya. Mereka itu orang-orang yang memiliki sifat selalu melaksanakan amal ibadah yang di syariatkan maupun menjauhi segala yang dilarang. Mereka adalah orang-orang yang benar-benar beriman, dengan tercapainya hal-hal tersebut baik dalam i’tiqad maupun amal perbuatan.

0 comments:

Post a Comment

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com