Wednesday, 15 May 2013

David vs Goliath

Si besar dikalahkan yang kecil. Ketika dikaitkan ke ranah pertarungan, hal ini dikatakan hampir mustahil. Terlepas dari kemenangan Nabi Daud atas Jalut yang zalim, namun kenyataan di lapangan mengatakan bahwa size is matter. Akhirnya timbulah perasaan pesimis dari sejumlah kalangan kecil, karena hidupnya selalu merasa ditindas dan dizalimi. Rakyat kecil merasa ditindas pemerintah yang rakus. Orang miskin merasa ditindas orang kaya. Partai kecil merasa ditindas partai besar.

Namun mari renungkan sejenak, teknologi kini semakin maju, masyarakat kini tidak bodoh lagi. Pusat-pusat perbelanjaan besar, seperti mall dan sebagainya justru semakin lama semakin mengalami penurunan pengunjung disebabkan pasar-pasar modern baru yang relatif jauh lebih kecil, sebut saja Indomaret, Alfamart, atau Seven Eleven sekalipun. Belum lagi kita lihat media, sekarang rakyat sudah tidak mudah dikelabui berita-berita sampah dari televisi, dan Anda tahu benda semacam apa yang dapat mengubah paradigma masyarakat dari yang tadinya menganggap televisi dan koran sebagai media informasi terpercaya, malah sedikit demi sedikit menganggap bahwa berita yang disajikan televisi dan koran, sebagian besarnya adalah sampah? Iya, internet. Dunia maya adalah senjata ampuh melawan sampah-sampah tersebut. Patut disadari, bahwa dunia maya itu lebih 'luas' tinimbang dunia nyata. Dunia maya itu menawarkan ruang gerak yang bebas, tak terbatas ruang dan waktu. Masyarakat sekarang -khususnya mahasiswa dan para intelektual- justru lebih asyik menggandrungi dunia maya tinimbang dunia nyata. Mereka menulis, menyampaikan aspirasinya dan memaparkan fakta-fakta yang tak mungkin terungkap di jagad televisi maupun media cetak.

Jadi sebenarnya, wacana si besar dikalahkan si kecil itu bukan mustahil di zaman yang 'serba ada' ini. Karena sejatinya hal-hal yang kecil tak dapat diremehkan. Hal-hal besar yang terjadi adalah sebuah andil dari hal-hal kecil di sekitarnya. Jika yang kecil-kecil ini bergabung dan terorganisasi dengan baik, maka si besar itu yang akan berubah menjadi kecil. Kita tidak dapat mengutuk diri kita yang kecil, kemudian kita pasrah dengan keadaan sekitar yang jauh lebih besar dari ukuran dan kemampuan kita. Terkadang kita terlalu sibuk mengutuk kegelapan, ketimbang sibuk mencari cahaya, atau sekadar menyalakan obor, lilin, lentera, dan lain sebagainya. Lebih bodoh lagi, terkadang kita berpura-pura sekarang sedang terang benderang.

Perubahan itu dimulai dari hal yang kecil, namun hal-hal kecil yang terkumpul akan menjadi besar. Gunakanlah sesuatu yang kecil untuk memberi dampak yang besar, jangan menggunakan sesuatu yang besar namun memberi dampak yang lebih kecil. Sekali lagi harus diingat, bahwa hal-hal kecil yang bergabung akan menjadi hal-hal besar, memberi dampak yang besar, serta mengalahkan yang besar pula.

Mulai sekarang, bagi mereka yang merasa kecil, atau dianggap kecil oleh yang lain, bergeraklah. Gunakan segala kemampuan serta kebebasan ruang gerak yang telah tersedia. Sehingga, bukan lagi kita yang mencari cahaya, namun kita-lah yang membawa lentera untuk menerangi sekitar kita.

0 comments:

Post a Comment

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com