Thursday, 15 August 2013

Islam Liberal: Potret Kemunduran dalam Berpikir



Mempertanyakan keabsahan Al-Qur’an, mempertanyakan finalitas kenabian Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam, mencaci-maki orang Islam yang menjalankan syariat dengan benar, mendukung yang buruk dan menghina yang baik. Itu adalah beberapa ‘pekerjaan rutin’ orang-orang pembenci Islam. Lucunya, ada dari kalangan (orang yang mengaku) muslim yang ikut dalam pekerjaan tersebut. Mereka menyebut dirinya Islam liberal. Bukannya jadi keren, malah seharusnya belas kasihan yang kita layangkan pada mereka. Mereka tidak mampu mempelajari Islam secara mendalam dan mengambil hikmahnya, akhirnya malah membencinya. Sama saja dengan orang yang (merasa) tak mampu dan malas belajar matematika, kemudian membenci pelajaran matematika, dan bahkan gurunya pun dibenci juga.

            Liberal adalah bebas, dan setiap kebebasan pasti ada batasnya. Namun, sila tanyakan kepada orang-orang liberal itu, sampai mana batas kebebasan mereka, dan kita akan mendapat jawaban yang muter-muter ibarat jet coaster. Mereka pun sebenarnya bingung untuk sekadar menafsirkan apa itu ‘islam liberal’. Ini cuma salah satu dari berbagai kelucuan dan kekonyolan mereka dalam berpikir. Maklum lah, karena orang Islam yang merasa terkungkung dan ingin bebas dalam berislam adalah orang yang sedang mengalami kemunduruan berpikir.
            Setiap sistem ada panduannya. Begitupula dalam hidup, setiap agama memiliki buku panduannya. Buku panduan manusia penganut Islam ialah Al-Qur’an, selainnya ada hadis yang berisi perkataan, perbuatan, ataupun perintah-perintah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam. Hanya agama yang mengatakan zina itu haram. Hanya agama yang mengatakan homoseksual itu haram. Hanya agama yang mengatakan mencuri itu haram. Hanya agama yang mengatakan membunuh tanpa alasan itu haram. Hanya agama, bukan logika, bukan pikiran. Allah mengaruniakan pikiran kepada setiap manusia. Pikiran itu yang dapat membawa manusia dalam melakukan tindakan sehari-harinya. Lalu Allah turunkan kitab suci yang disempurnakan oleh Al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia supaya terhindar dari segala kebinasaan. “Kitab ini (Al-Qur’an) tidak ada keraguan di dalamnya,” (QS. 2:2) begitu kata Allah. Allah turunkan pedoman agar manusia tidak keluar jalur dalam menjalani hidupnya. Allah memberikan manusia pikiran agar mengambil hikmah dari setiap yang terkandung dalam pedoman yang diturunkannya. Allah selalu menghendaki kemudahan bagi kita, bukan kesulitan. Sudah jelas dan tak diragukan lagi, maka yang meragukan kejelasannya adalah orang-orang yang mengalami kemunduran dalam berpikir dan orang-orang yang malas berpikir.
            Salah satu panutan mereka, Charles Kurzman, memulai pengantar dalam bukunya Wacana Islam Liberal dengan pernyataan yang aneh, nyeleneh dan bikin kepala geleh-geleh! Kurzman bilang, ungkapan ‘islam liberal’ (liberal islam) mungkin terdengar seperti sebuah kontradiksi dalam peristilahan (a contradictio in terms). Buku karangannya diberi judul Wacana Islam Liberal, tetapi iapun bingung dalam mengistilahkan ‘islam liberal’. Pasti ia bingung, apa mungkin bisa Islam jadi liberal? Pasrah tapi bebas? Pada akhirnya Kurzman tetap bersikukuh bahwa ‘islam liberal’ itu tidak kontradiktif. Tetapi segala penjelasan dan definisi yang dia apungkan dalam tulisannya, justru membuat kita lagi-lagi bingung. Kurzman benar-benar tidak menjelaskan definisi ‘islam liberal’ secara rinci. Kemudian Kurzman ‘main aman’ dengan mengutip pernyataan dari sarjana hukum asal India, Ali Ashgar Fyzee yang menulis, "Kita tidak perlu menghiraukan nomenklatur, tetapi jika sebuah nama harus diberikan padanya, marilah kita sebut itu 'islam liberal'." Tambah konyol lagi, Fyzee munculkan istilah lain; 'islam protestan'. Nah, pengekornya, Luthfi Assyaukanie (dosen Universitas Paramadina) manut dengan istilah ini. Ditambah oleh Luthfi, "Dengan istilah ini ('islam protestan' atau 'islam liberal'), Fyzee ingin menyampaikan pesan perlunya menghadirkan wajah Islam yang lain, yaitu Islam yang non-ortodoks; Islam yang kompatibel terhadap perubahan zaman; dan Islam yang berorientasi ke masa depan dan bukan masa silam."
            Di antara tokoh (yang mengaku) muslim yang menghujat keaslian dan otentisitas Al-Qur’an ialah Nasr Hamid Abu Zayd. Abu Zayd telah diputuskan murtad oleh pengadilan di tanah kelahirannya, Mesir. Setelah gelarnya sebagai guru besar ditolak di Mesir, ia kemudian pindah ke Belanda dan menjadi ‘tamu agung’ di sana, tepatnya di Leiden University. Di antara hujatannya terhadap Al-Qur’an, dia juga mengatakan dalam bukunya Teks Otoritas Kebenaran bahwa, teks (dalam Al-Qur’an) bukanlah satu-satunya medium yang memiliki otoritas untuk memperoleh otoritas kebenaran. Masih banyak lagi pemikiran-pemikirannya yang menunjukkan bahwa seorang yang sudah mendapat gelar akademik yang tinggi pun masih bisa tersesat dan mengalami kemunduran dalam berpikir. Dalam bukunya Al-Qur’an Dihujat, Ustadz Henri Shalahuddin benar-benar menelanjangi pemikiran-pemikiran sesat Nasr Hamid Abu Zayd dalam mengkritik Al-Qur’an. Bagi kalangan pengasong liberal di Indonesia, Abu Zayd adalah idola. Kekaguman tokoh liberal terhadap Abu Zayd ini termasuk kepada pendapatnya tentang Al-Qur’an sebagai produk budaya (muntaj tsaqafi), teks linguistik (nash lughawi), teks sejarah (nashun tarikhiyyun), dan sebagainya. Pokoknya segala pemikiran dan pernyataan Abu Zayd adalah benar menurut mereka. Ini juga lucu, sebab mereka meragukan dan menghujat para ulama yang dia katakan belum tentu benar karena para ulama juga manusia. Sedangkan perkataan-perkataan ‘ulama’ mereka tidak pernah dikritik dan pasti langsung diamini.
            Ada lagi Irshad Manji dari kalangan homoseksual. Manji adalah feminis-lesbianis (dan pastinya) liberalis asal Kanada dan mengaku muslimah, padahal prilakunya sangat menyimpang jauh. Manji aktif berkampanye mempromosikan ide-idenya tentang perjuangan kaum lesbian dan kawan-kawannya ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Manji pernah dua kali ke Indonesia. Kunjungan pertama mendapat respon luar biasa dari kalangan liberalis dalam mempromosikan bukunya, The Trouble With Islam Today yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Beriman Tanpa Rasa Takut. Namun, kedatangan keduanya, justru disambut dengan ‘gegap gempita’ oleh beberapa ormas Islam. Dihujat, dan acara-acara yang mengundang Manji sebagai pembicara dibubarkan. Kedatangan keduanya dalam rangka mempromosikan bukunya yang berjudul Allah, Love, and Liberty. Manji bahkan dibawa ke kantor polisi saat menghadiri bedah bukunya di komunitas Salihara di Pejaten. Komunitas Salihara ini tempat kongkownya manusia-manusia liberal. Tokoh-tokoh ‘muslimah liberal’ Indonesia seperti Nong Darol Mahmada (mantan pemakai kerudung) dan Siti Musdah Mulia (guru besar UIN Syarif Hidayatullah) adalah pengagum berat Irshad Manji. Bahkan Musdah Mulia mengatakan, bahwa homoseksual, lesbi, dan bisesksual itu diakui dalam Islam. Sungguh gila.
 Mengultuskan ‘Ulama’ Mereka
            Banyak pula tokoh-tokoh orientalis yang berusaha meliberalisasi Islam dari luar. Mereka secara serius mempelajari Islam hanya untuk mencari-cari kesalahannya. Mereka belajar bahasa Arab dan segala ilmu yang mendukung mereka untuk mempelajari Islam. Tak sedikit di antara mereka yang justru terbawa oleh kedamaian Islam dan akhirnya memeluk Islam. Namun banyak juga di antara mereka yang justru semakin membenci Islam karena sulitnya mereka dalam menangkap ajaran-ajaran Islam yang selalu memancing pemeluknya untuk berpikir. Barangkali mereka tidak tersiram segarnya hidayah dari Allah, wallahu a’lam.
            Mereka terus-menerus mengatakan bahwa Al-Qur’an yang sekarang kita pegang ini adalah hasil permainan politik ‘Utsman bin Affan. Karena mereka anggap ‘Utsman melakukan keputusan nepotisme dengan mengangkat saudara-saudaranya jadi pejabat. Begitu juga dengan Al-Qur’an, mereka katakan itu hasil egoisme dari Khalifah ‘Utsman bin Affan. Jangankan para ulama, para sahabat, bahkan Nabi pun, mereka tak segan-segan untuk menghina.
            Namun anehnya, mereka mengultuskan para ‘ulama’nya. Apa yang dikatakan orang-orang semacam Nasr Hamid Abu Zayd, Irshad Manji, Jalaluddin Rakhmat, Nurcholish Majid, dan kawan-kawan mereka anggap selalu benar tanpa celah sedikitpun. Ini bentuk kekonyolan dan ‘kecurangan’ mereka. Mereka katakan tak boleh mengklaim kebenaran sepihak, tetapi mereka sendiri yang berlaku seperti itu. Mereka bilang tidak boleh langsung percaya begitu saja kepada para ulama, karena mereka juga manusia. Padahal mereka juga manusia, dan omongan itu lebih pantas tertuju kepada diri mereka sendiri. ‘Ulama’ mereka memusuhi kita umat Muslim yang berusaha menjalankan syariat dengan benar. Mereka melabeli kita dengan ‘islam fundamentalis’ atau ‘islam radikal’. Jadi, kalau sekarang banyak yang bertanya-tanya darimana sebenarnya asal-usul istilah-istilah baru dalam Islam, salahkanlah mereka para liberalis. Islam ya Islam. Tanpa embel-embel di belakang namanya, hanya satu dan takkan tergantikan.
            Barangkali kita juga harus berkaca pada diri kita sendiri. Boleh jadi kita juga sudah menjadi liberal tanpa kita sadari. Kita juga masih harus belajar dan mengkaji Islam lebih dalam di samping mempelajari cara menangkal liberalisasi dalam Islam. Jangan sampai kita malah tertular virus mereka, di kala kita menjauhi mereka sebagai ancaman berbahaya. Paling tidak, kita harus membaca dan berguru. Membaca itu penting, tetapi adanya guru gak kalah penting juga. Terkadang kita bisa salah menafsirkan makna dari buku yang kita baca. Jangan pula langsung percaya dengan segala informasi yang kita dapatkan dari berbagai media. Kita harus mengutamakan prinsip tabayun, atau menggali informasi secara mendalam kepada suatu masalah dan mencari sumbernya. Supaya kita tidak disesatkan oleh informasi yang kita dapatkan secara mudah dan gratis.
            Melihat ini semua, mungkin kita bisa mengambil hikmah bahwa Allah menurunkan ujian kita berupa manusia-manusia liberal yang justru akan membuat kita semangat mempelajari Islam lebih dalam lagi. Agar anak-cucu kita terjaga dari virus berbahaya ini. Selain itu, kita juga bisa terinspirasi dari orang-orang liberal dan para orientalis karena sikap kritis mereka. Mereka juga semangat mempelajari Islam, bahkan lebih semangat dari kita yang muslim. Kita malah masih saja berleha-leha dan terlena dengan segala kenikmatan semu dunia. Malah lebih parah lagi, kita merasa sudah menguasai ilmu-ilmu agama. Padahal ilmu kita belumlah seberapa. Ulama-ulama hijrah dari kota ke kota, negara ke negara hanya untuk belajar, dan bukan dalam waktu yang singkat.
            Semoga kita tak pernah lelah untuk belajar, dan senantiasa saling mengingatkan dengan kebenaran, kesabaran, serta kasih sayang.



'Isy Kariiman aw Mut Syahiidan

0 comments:

Post a Comment

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com