Thursday, 16 October 2014

Peran Penting oleh Pemeran (Tak) Penting

            Hidup ini memang beragam. Manusia yang diciptakan dengan sebaik-baik bentuk, nyatanya memiliki ciri khas masing-masing. Dari segi fisik, pikiran, psikologi, sifat, mental, dan sebagainya. Mereka berbeda. Banyak yang bilang, perbedaan itu pelangi. Berlainan warnanya, namun berpadu menciptakan sebuah harmoni. Memunculkan warna baru yang sedap dipandang mata. Perbedaan yang menyejukkan. Satu hal yang dapat kita pelajari, bahwa perbedaan mengajarkan kita untuk bekerjasama. Ya, bekerjasama. Bukan bekerja bersama.
            Sebuah bangunan akan terselesaikan dengan baik apabila arsitek, mandor, dan kuli bangunan menciptakan sebuah kerjasama yang apik. Kerjasama adalah saling bekerja dengan pekerjaan yang berlainan untuk menggapai satu tujuan. Lain halnya dengan bekerja bersama; yakni bekerja melakukan satu pekerjaan dalam satu waktu. Mereka berbeda.
            Saya penikmat sepakbola sejak kecil. Saya penggemar berat Manchester United. Ketika menginjak usia 7 tahun saya sudah bisa mengerti dan menjelaskan peran Gary Neville di sisi kanan pertahanan MU. Sama baiknya ketika saya menjelaskan peran Roy Keane sebagai gelandang ‘pengangkut air’ serta peran Paul Scholes sebagai pengatur permainan –playmaker. Manakala orang-orang lebih senang membicarakan Ruud van Nistelrooy sebagai mesin gol MU, atau naik-turun performa kiper MU di era tersebut, saya justru lebih suka memperhatikan pemain-pemain di lapangan tengah itu. Saya beri nama mereka “Invisible Hero”. Mereka adalah pahlawan yang tak terlihat, atau mungkin lebih tepatnya tidak ada yang ingin melihat. Cetak gol? Bukan keahlian mereka. Umpan-umpan manis? Itu pekerjaan sayap kiri dan kanan. Melakukan penyelamatan gemilang di depan gawang? Itu lebih pantas dikerjakan oleh kiper dan bek, bukan gelandang. Mereka bekerja sebagai penyeimbang permainan. Apabila mereka lemah, maka akan terganggu suplai bola dari belakang ke depan, serta akan hilang koordinasi di antara keduanya.
            Lalu apa hubungannya dengan judul di atas? Bukan, bukan maksud saya memaksa kalian untuk memahami sepak bola –bagi yang tidak paham- atau memaksa kalian menyukai Manchester United –sekalipun kalian fans Chelsea, City, Liverpool, atau klub pecundang lainnya.
            Begini, kadang kita terlalu melihat mereka yang lihai berbicara sebagai orang yang cerdas, dan penentu keberhasilan sebuah organisasi. Maka tidak jarang orang seperti ini ditunjuk sebagai pemimpin. Padahal faktanya di lapangan, ia gagap beraktivitas. Pembicaraannya pun kosong tanpa wawasan. Hanya pintar bicara. Tong kosong nyaring bunyinya. Kita tidak pernah memperhatikan para konseptor dalam organisasi, atau mereka yang bekerja dalam kesunyian. Tanpa ada kamera yang mengintai, tanpa ada siapapun yang menceritakan kerja hebatnya. Tanpa kita sadari, mereka juga punya andil menyukseskan organisasi. Bahkan andilnya sangat besar. Kita luput.
Kita sering menganggap bagusnya bangunan adalah hasil kerja keras arsitek semata. Kita tidak pernah berpikir tentang pengaduk semen yang dengan telaten mencampur semen, batu, dan pasir hingga semen siap menjadi tembok yang kokoh. Kita tidak pernah berpikir siapa yang membuat batu bata –yang harganya sangat murah bila dibandingkan lelahnya bekerja sebagai pembuat batu bata-, sehingga kita bisa melihat bangunan yang kokoh.
Kadang kita lupa untuk memuji mereka yang bekerja dalam kesunyian. Kadang kita lupa menghargai kerja mereka yang ikhlas mewakafkan harta dan jiwanya untuk pekerjaan yang sering kita anggap remeh. Kadang perhatian kita luput dari mereka yang banting-tulang demi keberhasilan kita.

Jangan lupakan mereka yang sejatinya bekerja untuk kita. Bila kita lupa pada mereka, maka kerja kita pun akan dilupakan. Hal buruknya, bukan dilupakan oleh penduduk bumi, namun dilupakan oleh penduduk langit.

0 comments:

Post a Comment

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com