Thursday, 31 December 2015

Kali Ini Tentang Ayah


Ibumu, ibumu, ibumu, baru ayahmu. Sebuah hierarki orang yang patut dihormati berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam yang cukup familiar. Adalah Rasulullah ditanya perihal siapa yang patut dihormati dalam kehidupan. Tiga kali ditanya, Rasulullah menjawab “Ibu”, hingga yang keempat kalinya, barulah Rasul menjawab “Ayah”. Hadis ini cukup menguatkan posisi seorang ibu dalam rumah tangga. Bagaimana kita menghormati ibu yang telah mengandung dan menyapih kita dalam keadaan payah yang bertambah-tambah. Tentunya menjadi teguran bagi siapapun yang tidak menghormati ibunya. Namun, bukan berarti kita harus melupakan dan meminggirkan sosok ayah. Hanya karena ayah bukan seorang yang mengandung dan menyapih, lantas sosoknya hanya menjadi sumber dimintai uang. Maka pembicaraan kali ini, adalah pembicaraan tentang ayah.
            Sosok ayah adalah sosok yang bekerja dalam diam. Operasi senyap. Kehadiran ayah membawa suasana tegang menjadi tenang, amarah menjadi amanah, diuji menjadi terpuji. Layaknya Luqman al-Hakim, seorang ayah adalah sosok yang diharapkan untuk terus memberikan untaian nasihat bijak. Luqman bukanlah nabi, ia hanyalah seorang yang penuh ilmu dan hikmah. Namanya dapat diabadikan karena pesan-pesan penting kepada anaknya. Jika momen seorang ayah yang menasihati anaknya hanya masuk kategori “momen biasa-biasa saja” tidaklah mungkin momen ini akan dimasukkan ke dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Tentunya, pesan yang dititipkan seorang ayah kepada anaknya adalah peristiwa luar biasa yang harus selalu diingat anaknya hingga ajal menjemputnya.
            Pengaruh ayah sebagai kepala keluarga terhadap keluarganya sangat besar. Karena bila diibaratkan, ayah sebagai teko berisi air yang siap menuangkan isinya kepada setiap anggota keluarganya. Pernah berpikir simpel mengapa lelaki boleh beristri lebih dari satu sedangkan perempuan tidak boleh bersuami lebih dari satu? Maka kita akan kembali ke filosofi teko. Apabila ada 1 teko dan 4 cangkir, kita bisa memenuhi cangkir tersebut dengan air yang ada di dalam teko dengan isi yang sama rata. Ini perumpamaan ketika seorang suami memiliki 4 istri. Namun, bayangkan apabila cangkirnya hanya 1, dan tekonya berjumlah 4. Apakah yang terjadi pada cangkir tersebut? Pastilah cangkir tersebut tidak kuasa menampung air dari 4 teko tersebut.
            Pengaruh ayah kepada anaknya sangatlah besar. Hal ini sebetulnya dijelaskan dalam Al-Qur’an, namun kerapkali luput dari perhatian kita. Mari arahkan perhatian kita kepada ayat berikut: “Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu.”[1]
            Alkisah, Nabi Musa dan Khidhr –‘alaihimas salam- melewati suatu perkampungan. Lalu mereka meminta makanan kepada penduduk di kampung tersebut dan meminta untuk dijamu layaknya tamu. Namun penduduk kampung tersebut enggan menjamu mereka dan justru mencemooh mereka. Lalu mereka berdua melanjutkan perjalanan, kemudian menjumpai dinding yang miring dan hampir roboh di kampung tersebut. Khidr ingin memperbaikinya. Kemudian Musa berkata pada Khidhr, “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.”[2] Nabi Musa tentu bertanya sembari gregetan. Karena sebelum tiba di tempat itu, justru Khidhr melakukan pembunuhan terhadap anak yang tidak bersalah, dan sebelumnya lagi Khidhr membocorkan perahu orang tanpa alasan yang dapat dipahami oleh Nabi Musa. Kali ini, Khidhr malah membantu orang yang di kampung tersebut justru ia tidak dihiraukan bahkan dicemooh. Ada banyak pertanyaan muncul di kepala Nabi Musa.
            Khidhr pun akhirnya menjawab ketidaksabaran Musa, sekaligus menyatakan perpisahan mereka berdua, sesuai janji yang telah diucapkan Musa. Apabila Musa tidak sabar –untuk mempertanyakan- terhadap apa yang dilakukan Khidhr, maka Musa harus pergi dan tidak boleh lagi berguru kepada Khidhr. Tetapi Musa tidak mampu melewati ujiannya. Karena baru tiga kali Khidhr melakukan hal yang di luar nalarnya, tiga kali pula Musa tidak sabar untuk mempertanyakannya. Untuk kasus yang tembok miring tadi, Khidhr menjawab, “Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh.”[3] Mari kita garis bawahi kalimat terakhir, “sedang ayahnya adalah seorang yang saleh”, dan inilah inti dari pembicaraan kita.
            Allah Ta’ala telah menjaga harta dan simpanan dua anak tersebut, karena alasan yang cukup sederhana; karena ayahnya saleh. Ayahnya memberikan simpanan kepada anaknya ini, tentu saja bukan dari yang haram, karena ayahnya saleh. Ayahnya telah mengumpulkan harta untuk anaknya dari yang halal, sehingga karena kesalehannya ini Allah juga senantiasa menjaga anak keturunannya. Berarti peran ayah amat sangat vital dalam keluarga dan masa depan anak-anaknya. Makanan yang dimakan oleh anak-anak dalam keluarga menjadi tanggungan seorang ayah. Maka, kebersihan dan kehalalan makanan mereka adalah tanggung jawab seorang ayah. Manalah mungkin makanannya dapat terjamin kehalalan dan keberkahannya apabila ayahnya tidak saleh dan tidak memilih dan memilah harta yang patut dibelanjakan untuk keluarga.
            Ayah yang saleh akan menjamin kebaikan dan keberkahan dalam keluarga. Sesempit apapun keadaan keluarga, seorang ayah yang saleh akan membawa bahtera rumah tangga selamat dari badai dalam keadaan aman sentosa. Nabi Ibrahim ‘alayhissalam, bertahun-tahun meninggalkan anak dan istrinya. Namun, selama itu pula Ibrahim tidak pernah lelah mendoakan anak dan istrinya. Salah satu doanya yang dapat kita amalkan adalah, “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku, orang yang senantiasa melaksanakan shalat.”[4]
            Kunci dari memiliki anak-anak yang saleh sebenarnya cukup sederhana apabila orang tuanya juga saleh. Orang tua menjadi garansi anak-anaknya. Bila orang tuanya baik, pastilah mereka selalu mengajarkan yang baik-baik kepada anaknya. Bila orang tuanya buruk, sekalipun mengajarkan yang baik kepada anaknya, namun contoh buruk tersebut secara tidak langsung akan melekat terus dalam ingatan anak-anaknya, hingga anak-anaknya secara tidak sadar meniru keburukan orang tuanya. Ayah yang baik, pastinya memberikan makanan yang baik-baik kepada anak-anaknya, dari sumber yang baik-baik pula.
            Kali ini tentang ayah, yang senantiasa mengajarkan kesabaran kepada anak-anaknya, meski mereka tak pernah merasakan beratnya mengandung berbulan-bulan. Kali ini tentang ayah, yang mengajarkan ketegasan kepada anak-anaknya, meski mereka tak perlu membentak anak-anaknya setiap anak-anaknya melanggar aturan. Kali ini tentang ayah, yang gigih mencari harta yang halal demi keberkahan keluarganya. Meskipun mereka harus bekerja banting tulang. Apapun mereka kerjakan, asalkan makanan yang dimakan anak-anak mereka tetap terjaga kehalalannya. Keluarga tanpa sosok ayah, adalah keluarga tanpa ketegasan dan kebijaksanaan. Allah ridho kepada ayah yang saleh. Sehingga sekalipun sang ayah sudah tidak hidup di dunia, namun kehidupan anaknya akan selalu dijaga oleh Allah. Alasannya? Karena ayahnya seorang yang saleh.




[1] Al-Kahfi (18): 82
[2] Al-Kahfi (18): 77
[3] Al-Kahfi (18): 82
[4] Ibrahim (14): 40

Saturday, 19 December 2015

Propaganda Ketulusan

Propaganda. Sebuah kata yang seringkali dikaitkan dengan hal-hal yang berbau negatif. Secara definisi, propaganda adalah penerangan (paham, pendapat, dan sebagainya) yang benar atau salah yang dikembangkan dengan tujuan meyakinkan orang agar menganut suatu aluran, sikap, atau arah tindakan tertentu.[1] Tentunya propaganda selalu dilakukan di ruang-ruang publik. Adapun bentuk dari propaganda tersebut bisa saja disajikan dalam bentuk yang terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi. Apapun medianya, propaganda telah banyak dilakukan dari zaman baheula hingga sekarang. Bedanya, sekarang lebih banyak memanfaatkan kecanggihan teknologi. Siapa yang paling menguasai teknologi, dialah yang paling di atas angin untuk menghembuskan propaganda.
            Banyak sekali bentuk propaganda yang dilakukan di zaman sekarang. Lewat media bacaan, media audio, hingga media visual. Apa yang dilakukan orang-orang media di zaman sekarang, jangan dikira semata-mata hanya mencari nafkah untuk diri dan keluarganya saja. Namun lebih jauh dari itu, mereka sesungguhnya memiliki misi-misi tersendiri untuk dikonsumsi khalayak ramai, agar khalayak secara sadar ataupun tidak sadar ikut menyukseskan misi tersebut. Itulah yang namanya propaganda. Sayangnya, mayoritas misi-misi yang ada di media sekarang, justru dalam hal-hal negatif bahkan cenderung merusak. Sayangnya lagi, kebanyakan di antara kita justru sukarela ikut menyukseskan misi tersebut, dalam keadaan sadar ataupun tidak sadar.
            Sejatinya propaganda telah dilakukan semenjak zaman Adam dan Hawa. Ketika mereka berdua masih hidup damai di surga, datanglah setan menggodanya untuk memakan buah keabadian. Sungguh, Adam tidaklah tergoda. Namun, apalah daya, perempuan memang perempuan; kodratnya dirayu dan digoda. Setelah Hawa termakan bujuk rayu, Adam mengikuti. Seketika tersingkaplah aurat mereka, hingga mereka diturunkan ke bumi oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Propaganda yang paling santer terjadi adalah di masa Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Muhammad adalah  tukang sihir, Muhammad adalah orang gila yang mengaku nabi; sebutan-sebutan yang dihembuskan sebagai propaganda untuk menjatuhkan sosok terpuji bernama Muhammad. Hingga hari ini pun, propaganda untuk menjatuhkan sosok tersebut selalu terjadi dan tak pernah benar-benar berhasil. Muhammad adalah teroris, Muhammad adalah pengidap pedofilia, Muhammad tukang main perempuan; propaganda murahan yang tak pernah berhasil karena memang selalu terbantah dengan sendirinya.
            Adapun, Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat yang berkenaan dengna propaganda. “Dan demikianlah untuk setiap nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan (dari golongan) manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan.”[2]
            Propaganda melalui media kata-kata, memang mudah saja hilang terbawa angin, atau ditelan bumi. Dewasa ini, propaganda yang terjadi gencar dilakukan melalui media cetak –buku- dan film. Buku memang hanya dibaca oleh kalangan tertentu. Tentunya, peminat buku lebih sedikit ketimbang peminat film, setidaknya di Indonesia. Jika saya tanyakan kepada pembaca semua, siapa yang sama sekali belum pernah menonton film? 99% pembaca pasti tidak menjawab, karena hampir semua dari kita pernah menonton film. Film apapun. Secara tidak sadar, terkadang kita mengikuti apa yang dilakukan tokoh-tokoh dalam film. Sebut saja film animasi berseri Captain Tsubasa. Booming di era 90-an, Captain Tsubasa berhasil menghipnotis anak-anak Jepang untuk mencurahkan perhatiannya kepada sepak bola. Hasilnya, tidak terlalu mengecewakan. Jepang sukses menjadi tuan rumah perhelatan sepak bola terakbar tahun 2002 itu bersama Korea Selatan, dan inilah pertama kalinya Jepang mampu melewati fase grup dan menembus 16 besar. Selanjutnya, Jepang tidak pernah absen berpartisipas di Piala Dunia. Propaganda “bola adalah teman” milik Tsubasa secara tidak langsung membakar semangat anak-anak Jepang untuk bermain sepak bola. Kini, pecinta bola mana yang tak mengenal nama-nama seperti Keisuke Honda, Shinji Kagawa, hingga bintang-bintang kawakan macam Shunsuke Nakamura dan Hidetoshi Nakata.
            Ribuan, bahkan ratusan anak-anak di Indonesia, terpengaruh untuk berceloteh “aku siap, aku siap, aku siap” setelah munculnya film animasi seri Spongebob Squarepants menerobos dunia film kartun. Sayang seribu sayang, film tersebut sejatinya bukanlah diperuntukkan bagi anak-anak. Kita seharusnya belum lupa, ketika film V For Vendetta mendulang kecaman dari berbagai pihak karena jelas sekali pesannya berisi tentang perjuangan menuntut keadilan, dan penghinaan terhadap pihak-pihak tertentu –yang memang nyatanya terjadi. Kita juga seharusnya belum lupa, manakala film yang diadaptasi dari novel karya Dan Brown berjudul The Da Vinci Code, berhasil membuat para uskup di Vatikan kebakaran jenggot –meskipun mereka tidak berjenggot. Terakhir, satu film –yang juga diadaptasi dari novel- Indonesia, berjudul 5 CM, berhasil membuat pemuda-pemuda labil di Indonesia, menjadikan kegiatan naik gunung sebagai ajang gaya-gayaan dan pamer tulisan-tulisan memuakkan di atas gunung. Hasilnya, tidak terlalu buruk, Semeru sebagai latar belakang film, kini seperti pasar saja. Antrean mengular, hingga sampah-sampah berserakan di pelbagai sudut. Miris. Itulah hasil propaganda.
            Sekarang, kita mungkin sering muak melihat kualitas sinetron dan film Indonesia. Dengan mudahnya kita mencampakkan acara televisi dan film Indonesia. Namun, adakah upaya dari kita untuk mengubah itu semua? Sah-sah saja kita berpikir individualis, “Ah, yang penting aku sih gak suka nonton. Biar gak jadi bodoh.” Namun, ini tidak menjamin generasi muda dan sanak famili kita untuk tidak menjadi korban propaganda sampah-sampah tersebut. Maka penting bagi kita untuk melakukan sesuatu. Buatlah media tandingan, buatlah tulisan tandingan, buatlah film tandingan. Bukan berarti kita harus mengekor, namun ini berangkat dari kesadaran untuk membuat perubahan ke arah yang lebih baik. Kalau memang belum bisa, setidaknya kita bisa membantu saudara kita yang berusaha melakukan upaya tersebut. Karena bila hari ini kita masih belum berusaha untuk membuat ataupun membantuk menyukseskan upaya-upaya tersebut, itu sama saja dengan kita membiarkan generasi selanjutnya terancam mengalami kemunduran karena terpengaruh propaganda-propaganda yang ada.
            Sedikit curhat untuk mengakhiri pembicaraan ini. Suatu hari, saya dihubungi oleh seseorang yang bertindak sebagai produser dalam film Tausiyah Cinta, yakni Suwandi Basyir untuk membicarakan sebuah proyek. Selanjutnya kami melakukan pembicaraan dengan sutradaranya, Humar Hadi. Ternyata saya ditawari memerankan seorang tokoh bernama Afian dalam film tersebut. Saya tergiur, bukan karena main film akan mendatangkan banyak keuntungan, semisal popularitas dan kekayaan. Namun, karena misi di balik proyek tersebut. Belakangan saya mengetahui, production house yang menggawangi mereka bukanlah PH yang punya banyak uang untuk menggarap film. Kalau hanya mencari popularitas, jelas saya tidak serta-merta menemukannya. Karena memang tokoh yang ditawari oleh Mas Ibas dan Bang Umank –panggilan akrab mereka- justru tokoh yang harus disembunyikan, hingga orang-orang baru tahu tokoh tersebut setelah selesai menonton. Kalau uang yang dituju, jelas sekali bukan. Karena kami di sini, justru harus bersusah-susah bersama untuk menyukseskan penggarapan film ini. Namun, begitulah penggarapan film tersebut memang demi melawan propaganda negatif yang dilakukan oleh film-film lain. Memang perlawanannya tidak sepadan, namun dengan langkah kecil yang dicicil, kita harus yakin bahwa semuanya akan indah pada waktunya, cepat atau lambat. Karena karya yang dibangun dengan ketulusan hati, akan dinikmati oleh mereka yang hatinya tulus pula, dan jangan remehkan kekuatan hati. Setelah film ini ditolak oleh XXI karena disinyalir tidak ada penontonnya, justru kini berhasil membungkam anggapan tersebut. Agenda nonton bareng (nobar) yang digelar di kurang dari 12 titik di kota-kota besar Indonesia, justru berhasil menyedot hingga lebih dari tujuh ribu penonton. Jumlah yang cukup fantastis, mengingat film-film Indonesia sekarang sulit sekali untuk menembus angka ribuan penonton, meskipun sudah nangkring di bioskop lebih dari seminggu.
            Inilah propaganda ketulusan, yang berawal dari ketulusan, dan untuk ketulusan. Maka, bila kita tidak bisa melakukan kebaikan, hal terbaik yang harus dilakukan adalah kita membantu mereka yang sedang berjuang melakukan kebaikan. Masihkah kita ingin membiarkan saudara-saudara kita mengonsumsi sampah-sampah yang mereka dapatkan melalui tontonan?



[1] Kamus Besar Bahasa Indonesia
[2] Al-An’am (6): 112

Monday, 23 November 2015

Tanah Para Pemuka


Tanggal 20 November malam hari, pesawat yang saya tumpangi mendarat mulus di Bandara Internasional Minangkabau. Ada aroma yang berbeda ketika menginjakkan kaki di atasnya. Berbeda, bukan karena bandara ini adalah bandara internasional pertama di dunia yang menggunakan nama etnik –karena kebanyakan penamaan bandara menggunakan nama daerah dan tokoh setempat-, namun karena tanah yang kali ini saya pijak adalah Tanah Para Pemuka. Kebiasaan saya manakala berkunjung ke sebuah daerah di jagat Nusantara ini adalah mencari tahu tentang sejarah daerah dan juga tokoh-tokoh setempat. Khusus untuk Ranah Minang, saya tidak perlu repot-repot mencari tahu menggunakan mesin pencari atau tanya-tanya dengan masyarakat setempat. Karena keindahan alamnya sudah cukup terkenal dan sebagian besar pembesar negeri ini adalah Urang Awak.
            Pinggiran Danau Maninjau menjadi saksi bisu kelahiran tokoh da’i sekaligus sastrawan yang namanya kondang hingga negeri Kaherah. Buya Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih gandrung disapa Buya Hamka, sekalipun tak mengenyam pendidikan tinggi formal, dirinya digelari Guru Besar di Universitas Moestopo. Lebih garang lagi, mendapat gelar Doktor Honoris Causa atas Magnum Opus-nya yang diberi judul “Tafsir Al-Azhar”. Tafsir tersebut digarap saat di balik jeruji besi. Mengingatkan kita pada sosok pemikir Sayyid Quthb yang merampungkan Fii Zhilal al-Qur’an juga dalam masa dibui. Tulisan-tulisannya yang ‘nyastra’ masih dicari orang hingga sekarang. Tak heran orang memercayainya sebagai pemimpin umat. Selain Muhammadiyah, Buya juga pernah memimpin MUI.
            The Grand Old Man Haji Agus Salim. Orang bijak mana yang tidak kenal dengannya? Tokoh pendiri Jong Islamieten Bond ini dalam usia mudanya telah menguasai sedikitnya tujuh bahasa asing; Belanda, Inggris, Arab, Turki, Perancis, Jepang, dan Jerman. Pada 1903 dia lulus HBS (Hogere Burger School) atau sekolah menengah atas 5 tahun pada usia 19 tahun dengan predikat lulusan terbaik di tiga kota; Surabaya, Semarang, dan Jakarta. Ketika Indonesia merdeka, dia diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung. Kepiawaiannya berdiplomasi membuat dia dipercaya sebagai Menteri Muda Luar Negeri dalam Kabinet Syahrir I dan II serta menjadi Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Hatta. Sesudah pengakuan kedaulatan Agus Salim ditunjuk sebagai penasehat Menteri Luar Negeri. Koto Gadang menjadi kesohor karena telah melahirkannya.
            Solok, bukan hanya berbicara masalah Bareh Solok atau Danau Atas dan Danau Bawah saja. Tetapi juga berbicara tentang sosok penting dalam pergerakan Islam yang lahir di Alahan Panjang. Pilihannya memperdalam agama Islam bersama Tuan Hassan di Bandung alih-alih menerima beasiswa sekolah hukum di Belanda, sungguh menjadi berkah bagi kaum muslimin di Indonesia. Sepanjang pendudukan Jepang, ia memilih bergabung dengan Majelis Islam A'la Indonesia –kemudian bertransformasi menjadi Masyumi. Pada tanggal 3 April 1950, ia mengajukan Mosi Integral Natsir dalam sidang pleno parlemen. Mohammad Hatta –yang juga putra Ranah Minang- yang menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia pada waktu itu mendorong keseluruhan pihak untuk berjuang dengan tertib dan sangat merasa terbantu dengan adanya mosi ini. Mosi ini memulihkan keutuhan bangsa Indonesia dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang pada mulanya berupa serikat, hingga kemudian Mohammad Natsir diangkat sebagai perdana menteri oleh Presiden Soekarno pada 17 Agustus 1950.
            Dinamika ormas di Indonesia, tentunya dikuasai oleh dua organisasi besar; Nahdhatul ‘Ulama dan Muhammadiyah. Tentunya, kecemerlangan dua organisasi tersebut tidak lepas dari peran hebat kedua pionirnya. K.H. Hasyim Asy’ari di NU, dan K.H. Ahmad Dahlan di Muhammadiyah. Keduanya sama-sama berguru kepada Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabauwi. Dialah orang ‘ajam (non-Arab) pertama yang menjadi imam di Masjidil Haram, kemudian diikuti jejaknya oleh Syaikh Nawawi al-Bantani dari Banten. Syaikh al-Minangkabauwi lahir di Koto Tuo tahun 1860 M. Selain Ahmad Dahlan dan Hasyimm Asy’ari, murid-muridnya banyak juga yang menjadi ulama terkemuka. Mereka adalah Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul) ayah dari Buya Hamka; Syaikh Muhammad Jamil Jambek, Bukittinggi; Syaikh Sulaiman Ar-Rasuli, Bukittinggi; Syaikh Muhammad Jamil Jaho, Padang Panjang; Syaikh Abbas Qadhi, Bukittinggi; Syaikh Abbas Abdullah, Padang Japang; Syaikh Khatib Ali, Padang; Syaikh Mustafa Husein, Mandailing; dan Syaikh Hasan Maksum, Medan.
            Jauh sebelum mereka, ada Muhammad Sahab, dikenal juga dengan Petto Syarif, dan kini lebih masyhur dengan nama Tuanku Imam Bonjol, karena asalnya memang dari Bonjol. Pada tahun 1821, perang saudara antara kaum Paderi yang ingin melaksanakan ajaran agama dengan baik dan didukung para ulama melawan kaum Adat yang didukung Belanda berkobar kembali. Peperangan ini sebenarnya terjadi karena politik adu domba yang diterapkan Belanda untuk menguasai Sumatera Barat. Tuanku Imam Bonjol memimpin pasukannya untuk menghadapi Belanda. Perlawanan sengit dan pasukan Imam Bonjol membuat Belanda kewalahan. Belanda kemudian terpaksa mengadakan perjanjian damai pada tahun 1824 yang dikenal sebagai Perjanjian Masang. Namun, tidak bertahan lama karena dilanggar sendiri oleh Belanda. Ketika akhirnya Bonjol dapat dikuasai Belanda pada tahun 1837, Imam Bonjol dijebak Belanda dan diasingkan ke Cianjur. Setelah itu dibuang lagi ke Manado dan wafat pula di sana.
            Bukan hanya kaum adam dari Tanah Minang yang menjadi pemuka. Putri Tanah Minang pun tidak boleh dipandang sebelah mata. Syaikhah Rahmah el-Yunusiyyah, perempuan tangguh pendiri Madrasah Diniyah putri, dilahirkan di Padang Panjang tahun 1900 M. Rahmah belajar membaca dan menulis tulisan Arab dan latin dari kakaknya, Zainuddin Labay El Yunusy dan Muhammad Rasyad setelah ayahnya wafat. Ketika pada 1915 Zainudin mendirikan Diniyyah School, sekolah Islam dengan sistem modern, Rahmah ikut belajar disana. Disamping itu, pada sore harinya ia berguru pula kepada Syaikh Abdul Karim Amrullah, yang merupakan ayah Buya Hamka. Pada 1 November 1923 Rahmah merintis sekolah agama untuk putri dengan nama Madrasah Diniyyah lil Banat. Ada juga yang menamakannya dengan Meisjes Diniyyah School. Inilah sekolah khusus perempuan pertama di Nusantara. Atas prestasinya itulah, Universitas al-Azhar memberikan gelar kehormatan padanya. Gelar ini adalah gelar pertama yang disematkan kepada perempuan oleh pihak al-Azhar. Pada 1957 ia menunaikan ibadah haji dan ia diundang oleh Universitas al-Azhar di Kairo untuk memperoleh gelar kehormatan “Syaikhah”.
            Agam tak habis-habisnya melahirkan para pencetak sejarah. Selain Agus Salim dan Buya Hamka, lahir pula dari sana seorang perempuan penoreh tinta emas dalam dunia jurnalistik. Dia adalah sepupu dari Haji Agus Salim, saudari seayah dari Sutan Sjahrir, dan memiliki keponakan penyair terkenal Chairil Anwar. Dia tidak bersekolah, karena umumnya perempuan Minangkabau waktu itu tidak dikirim ke sekolah formal. Meski demikian ia gemar belajar dengan membaca buku dan Koran. Sejak usia 8 tahun ia sudah mahir menulis dalam Bahasa Melayu, Arab, dan Arab Melayu dan kegiatannya tersebut terus berlanjut hingga dewasa. Nama Rohana Kudus, menjadi laporan sejarah, bahwa dialah wartawati pertama Indonesia.
            Jika kita mengenal Raden Ajeng Kartini yang harum namanya, seharusnya kita lebih mengenal nama Hajjah Rangkayo Rasuna Said. Sayangnya, banyak yang mengira nama HR. Rasuna Said yang juga menjadi nama jalan protokol di Jakarta, sebagai seorang lelaki. Sejak kecil telah mengenyam pendidikan Islam di pesantren. Pada saat sekolah inilah, ia pernah menjadi satu-satunya santri perempuan. Sejak saat itu, Rasuna Said sangat memperhatikan kemajuan dan pendidikan bagi kaum perempuan. Pada tahun 1932 Ia sempat ditangkap dan dipenjara oleh pemerintah Belanda karena kemampuan dan cara pikirnya yang sangat kritis. Rasuna Said juga tercatat sebagai wanita pertama yang terkena hukum Speek Delict, yaitu hukum pemerintahan Belanda yang menyatakan bahwa siapapun dapat dihukum karena berbicara menentang Belanda. Pada masa penjajahan Jepang, Rasuna Said merupakan salah satu pendiri organisasi pemuda Nippon Raya. Dalam karir politiknya, HR Rasuna Said pernah menjabat sebagai DPR RIS dan kemudian menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung sejak tahun 1959 sampai meninggal. HR. Rasuna Said juga lahir di Maninjau, Agam, seperti Buya Hamka. Sayang seribu sayang, aksi nyata perempuan Minang berhijab ini tidak membuat namanya di negeri ini lebih harum ketimbang Kartini.
            Sekitar 2 tahun yang lalu, para psikolog muslim Indonesia harus kehilangan sosok inspiratifnya. Ia menghabiskan sisa umurnya sebagai pendidik dan guru besar ilmu psikologi di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta bidang Ilmu Jiwa Agama. Setelah menyelesaikan pendidikan doktor di Mesir pada 1964 --diterima di Fakultas Pendidikan Universitas Ain Shams, Kairo tanpa tes untuk program S2. Setelah selesai, ia melanjutkan S3 di Universitas yang sama-, ia membagi waktu bekerja dan membuka praktik konsultasi psikologi. Ia pernah dipercaya sebagai Direktur Pendidikan Agama dan Direktur Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam, bertanggung jawab atas kebijakan dan eksistensi lembaga-lembaga pendidikan Islam. Ia duduk di Dewan Pertimbangan Agung periode 1983–1988 --satu-satunya perempuan dalam keanggotaan DPA. Pada saat yang sama, ia adalah anggota Dewan Riset Nasional dan mengurusi bidang masalah keluarga dan anak pada Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode kepengurusan pimpinan Hasan Basri. Dialah Prof. Dr. Hj. Zakiah Daradjat, pelopor psikologi Islam.
            Begitu banyak tokoh-tokoh yang dilahirkan di wilayah bersemboyan “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah’ ini. Tokoh-tokoh yang disebutkan ini, hanyalah segelintir dari banyak tokoh hebat lainnya. Bukan hanya memiliki kekayaan alam yang indah, namun juga memiliki putra-putri pembangun bangsa dan agama. Inilah berkah Allah kepada Ranah Minang. Apabila ada penghargaan bertajuk “Daerah Paling Berjasa”, mungkin penghargaan tersebut pantas disematkan kepada Provinsi Sumatera Barat, Tanah Para Pemuka. Bagaimanapun, ungkapan masyhur “Ketek Banamo, Gadang Bagala”[1] bagi saya yang bukan orang Minang, haruslah menjadi ruh bagi setiap orang Minang dimanapun mereka berada. Kini, setelah dikaruniai gubernur yang dekat dengan Tuhannya, akankah ada lagi putra-putri Minangkabau yang dapat mengguncang Nusantara bahkan dunia?




[1] Saat kecil ia memiliki nama, saat besar ia memiliki gelar

Wednesday, 18 November 2015

Jangan Permainkan “InsyaAllah”!

“InsyaAllah-nya InsyaAllah mana nih? InsyaAllah Indonesia atau InsyaAllah beneran?”

Friday, 13 November 2015

Aku Bukan Malaikat

http://www.keepcalm-o-matic.co.uk/p/ibu-malaikat-tak-bersayap/

“Ya wajar kalau banyak salah, kita kan manusia, bukan malaikat!”
   Beberapa kali, bahkan sering kita dengarkan ada ungkapan sejenis seperti di atas. Pemakluman kesalahan karena diri yang hanya berkapasitas sebagai manusia, tidak sempurna dan banyak kekurangan. Hal ini diperkuat dengan bunyi pepatah Arab, “Manusia tempat salah dan lupa” juga dengan hadis, “Setiap anak Adam adalah sering berbuat salah. Dan, sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang-orang yang bertaubat.”[1] Sedangkan malaikat, ia jauh berbeda dengan manusia.

Saturday, 7 November 2015

Jadilah Manusia Peka, Bukan Pekak


Jadilah Manusia Peka , Bukan Pekak

“Cowok tuh suka gak peka deh...”
            Kalimat di atas adalah salah di antara sekian kalimat yang membicarakan masalah kepekaan. Ya, biasanya kaum Adam yang menjadi kambing hitam soal peka. Peka dalam bahasa Indonesia berarti “mudah merasa”. Maka dari itu wajar apabila keluhan banyak perempuan tentang lelakinya adalah karena tidak peka. Karena mayoritas laki-laki lebih mengedepankan logika, ketimbang mayoritas perempuan yang lebih mengedepankan perasaan. Mereka berbeda.
            Bahasan kali ini adalah tentang kita sebagai manusia yang diwajibkan peka. Mengapa wajib? Jelas saja, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam adalah orang yang ma’shum[1] namun sesekali ditegur oleh Allah akibat ketidakpekaannya. Ayat ini menjadi contoh yang paling kentara, “Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling, karena seorang buta telah datang kepadanya.”[2] Allah menegur Rasulullah akibat sikap acuhnya kepada Abdullah bin Ummi Maktum, seorang sahabat Rasulullah yang buta. Kejadiannya ketika itu di Kota Mekkah. Rasulullah yang disibukkan dengan pembicaraan bersama para pembesar Quraisy sekaliber Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Abu Jahal, al-Abbas bin Abdul Muthallib, dan Umayyah bin Khalaf.[3] Sedang serius-seriusnya Rasul berdiplomasi agar mereka tertarik masuk Islam, datanglah Ibnu Ummi Maktum sembari berkata, “Wahai Rasulullah, bacakan dan ajarkanlah apa yang telah Allah ajarkan kepadamu!” Ibnu Ummi Maktum mengulang kata-katanya, sehingga Rasul merasa terganggu dan memalingkan mukanya seraya enggan menjawab permintaan Ibnu Ummi Maktum. Setelah selesai berdialog dengan para pemuka Quraisy, Rasul pun pulang. Sebelum tiba di rumahnya, masih dalam perjalanan, Rasulullah mendapat wahyu dari Allah yang isinya berupa teguran tersebut. Ketidakpekaan dapat saja berbuntut panjang. Rasulullah saja sampai bisa ditegur langsung oleh Allah akibat ketidakpekaannya.
            Sebaliknya, kepekaan seringkali dipuji oleh Allah. Hal ini dapat kita cermati dari kisah Dzulqarnain yang dapat memberikan solusi untuk sebuah permasalahan dalam masyarakat. Demikian halnya Nabi Musa alaihissalam yang kepekaannya berhasil didaulat menjadi menantu seorang Nabi. Dan momen tersebut menghantarkan Nabi Musa ke gerbang pengangkatan dirinya sebagai nabi dan rasul. Kepekaan seorang Isaac Newton berhasil membuat namanya melambung tinggi hingga sekarang. Kisah masyhurnya, Isaac Newton melihat apel yang jatuh dari pohonnya, kemudian entah bagaimana caranya ia langsung menggagas tentang gravitasi bumi. Kepekaan membawa kita pada realita kehidupan.
            Menjadi manusia yang peka adalah suatu keharusan. Karena kriteria pemimpin pun harus peka terhadap lingkungan dan bawahannya. Tidaklah mungkin seorang pemimpin dapat dikatakan baik apabila pemimpin tersebut tidak peka terhadap permasalahan yang ada di sekitarnya, apalagi terhadap keluhan bawahannya. Seperti yang terjadi sekarang. Pemimpin kita mungkin rajin blusukan, namun sayangnya tidak peka terhadap permasalahan yang sebenarnya terjadi berlarut-larut di negeri ini. Seorang kepala rumah tangga pun dituntut peka terhadap apa yang terjadi di dalam rumah tangganya. Sehingga permasalahan rumah tangga akan dapat terselesaikan dengan baik. Karena kepekaan akan memberikan kepedulian. Kepedulian yang memberikan kebahagiaan kepada lingkungan sekitar.
            Kepekaan, adalah juga elemen terpenting bagi kita untuk berdakwah. Seorang dai harus peka terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Sehingga dakwahnya tepat sasaran dan tepat guna. Karena mengatasi problematika yang terjadi di tengah umat, haruslah diawali dengan insting kepekaan seorang dai. Dai yang kurang peka, akan alpa terhadap problematika yang terjadi. Hal ini mengakibatkan problematika umat yang terbengkalai. Kepekaan seperti Dzulqarnain-lah yang secara nyata dapat memberikan solusi bagi problematika umat yang ada. Ketidakpekaan seorang dai akan berujung masalah. Karena kepekaan dibutuhkan juga untuk menjaga perasaan antar-sesama dai. Karena terkadang kita tidak menyadari apa yang kita lakukan justru menyakiti perasaan orang lain.
            Dus, hanya satu topik inilah yang diangkat dalam bahasan kali ini; tentang kepekaan. Banyak alasan bagi kita untuk menjadi manusia peka. Dan banyak alasan bagi kita untuk menghindar dari menjadi manusia pekak.[4] Manusia peka, akhir ceritanya seperti Nabi Nuh ‘alaihissalam, yang berhasil selamat dan menyelamatkan umatnya dari terjangan banjir besar. Sedangkan kaumnya yang pekak terhadap dakwah Nabi Nuh, harus menerima kenyataan menjadi manusia terlaknat dan terombang-ambing dalam banjir besar yang Allah jadikan azab untuk mereka. Mulai hari ini, cobalah untuk lebih peka. Dan kamu harus peka terhadap perasaanku.



[1] Terjaga dari kesalahan
[2] ‘Abasa (80): 1-2
[3] Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Aisar at-Tafaasir li al-Kalaami al-‘Aliyyi al-Kabir, (Madinah: Maktabah al-‘Uluw wa al-Hikam)
[4] Tuli.

Thursday, 29 October 2015

Jadilah Pemuda yang Masih Muda

https://kolomkiri.files.wordpress.com/2012/02/pemuda3.jpg
Sejujurnya, tulisan ini bukanlah untuk menyambut momen Sumpah Pemuda yang dirayakan pada tanggal 28 Oktober itu. Terus terang, saya pun hingga sekarang masih menyangsikan momen Sumpah Pemuda sebagai momen yang luar biasa heroik. Bagaimana tidak, cita-cita yang diangankan dalam Sumpah Pemuda hingga kini belum lagi tercapai. Namun, yang patut diapresiasi adalah bagaimana sejarah tentang Sumpah Pemuda ini lahir. Momen ini ‘dicuri’ Soekarno untuk memberi peringatan keras kepada dalang gerakan separatis yang mulai muncul menentang keutuhan Bangsa Indonesia. Apabila ditelusuri, tidak ada dokumen otentik yang berbicara tentang Sumpah Pemuda. Berdasarkan catatan dan dokumen sejarah diketahui bahwa hari Sumpah Pemuda yang diperingati sebagai peristiwa nasional, merupakan suatu hasil rekontruksi dari sebuah Poetoesan Congres. Ya, kita tidak akan menemukan dokumen otentik tentang Sumpah Pemuda, melainkan yang akan kita temukan adalah dokumen Poetoesan Congres. Tepatnya pada tanggal 28 Oktober 1954, Presiden Soekarno dan Muhammad Yamin[1] membuka Kongres Bahasa Indonesia yang kedua di Medan. Pada saat itu, Soekarno dan Yamin, sedang membangun simbol yang menjadi bagian dari susunan ideologi sebuah bangsa dan negara, dimana pilihannya jatuh pada tanggal 28 Oktober 1928 dan saat itu pula kata “Poetoesan Congres” dibelokkan menjadi “Sumpah Pemuda”.
            Baiklah, saya tidak akan berpanjang lebar lagi mengenai Sumpah Pemuda, karena bukan itu bahasan inti dari tulisan ini. Tulisan ini dibuat karena kegelisahan melihat pemuda hari ini yang tidak muda lagi. Tidak dapat dipungkiri lagi, pemuda zaman ini kebanyakan dilenakan oleh gadget. Akibat dari ketidakmampuan mereka mengoptimalkan fungsi gadget, yang terjadi adalah kehidupan yang tidak produktif dikarenakan terlena oleh gadget. Apabila kehidupan selalu dimanjakan dan difasilitasi, bukankah itu sama halnya dengan orang yang sedang dilanda penyakit? Atau sama halnya dengan orang yang sudah tua renta? Mereka harus dibantu dan difasilitasi untuk menunjang keberlangsungan –sisa- hidupnya. Maka sudah waktunya para pemuda untuk pindah zona, kembali ke zona mudanya.
            Menariknya, peradaban dari zaman ke zaman hampir selalu diarsiteki oleh pemuda. Para nabi diangkat dan berkarya dalam usia yang relatif muda, Napoleon Bonaparte memimpin Prancis dalam usia muda, kemerdekaan dan kebangkitan Indonesia diinisiasi oleh orang-orang muda, dan yang lebih penting lagi; Al-Qur’an dan Hadits seringkali menyebut dan memuji para pemuda. Salah satu hadits yang difokuskan untuk kemajuan pemuda adalah: “Wahai para pemuda, siapa saja di antara kalian yang telah mempunyai ba’ah[2], maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkanpandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya.”[3] Nah! Jelas sekali inilah hadits yang difokuskan untuk kemajuan pemuda.
            Dus, ada beberapa ayat yang menarik dan salah satunya pure menceritakan tentang pemuda. Ini adalah ayat yang –seharusnya- sering dibaca –dan seharusnya, bahkan harus sekali dihafal- oleh orang-orang yang selalu mengajak membacanya setiap Hari Jumat di media-media sosial. Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk; dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”.[4]
            Kisah para pemuda yang diberi petunjuk, dikarenakan keteguhannya dalam beriman, membenarkan yang benar, dan menyalahkan yang salah. Sehingga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan petunjuk bagi mereka dengan melakukan hal tak terduga dalam keadaan terdesak. Inilah salah satu prinsip yang harus dipegang oleh para pemuda; ketika ingin beriman, lakukan saja. Jangan terlalu lama berpikir apa dampaknya. Para pemuda ini lari dari kejaran tentara Dikyanus, si penguasa yang zalim dan meminta seluruh masyarakat untuk berlaku syirik. Beberapa orang di antara tujuh pemuda tersebut adalah orang dalam istana. Karena kebathilan yang jelas tidak cocok di hatinya, kemudian mereka lebih memilih membangkang dan lari dari kejaran penguasa. Sebaliknya, ini juga prinsip yang harus dipegang para pemuda; ketika timbul keinginan bermaksiat, maka baiknya kita berpikir panjang dan menimbang-nimbang kiranya apa dampak yang akan kita terima apabila kita melakukan maksiat tersebut.
            Sejatinya, apabila para pemuda sudah memegang dua prinsip tersebut, maka dapatlah kita katakan cukup. Hal berikutnya yang perlu menjadi suplemen pemuda adalah menjadi orang yang mandiri, kuat, dan terpercaya. Kita ingat ketika Nabi Musa diambil jadi karyawan sekaligus menantu dari seseorang yang juga nabi. Hal in terjadi diawali dengan putri Nabi Syu’ib yang kepincut karena kepekaan, kekuatan, dan dedikasi Nabi Musa ‘alaihissalam. Sehingga Sang Gadis tidak ragu-ragu melancarkan kode kepada ayahnya untuk menikahkan Nabi Musa dengannya dengan dalih merekrutnya sebagai karyawan. “Wahai ayahku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang Ayah ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.[5] Ini contoh nyata seorang pemuda yang mandiri, kuat jasmaninya, dan dapat dipercaya. Sehingga siapapun tidak ragu untuk meminangnya; meminangnya menjadi pendamping hidup, atau meminangnya menjadi pegawai terpercaya.
            Satu hal lagi, prinsip yang sepatutnya dipegang oleh pemuda adalah soal keberanian. Karena pemuda, jangan menjadi tua. Masa muda adalah masanya bereksplorasi. Sebagaimana halnya Nabi Dawud ‘alaihissalam yang berani maju menentang Jalut yang memiliki besar tubuh berlipat-lipat kali dari tubuhnya sendiri. Semua pasukan Thalut mencoba mengalahkan Jalut, namun gagal. Akhirnya Dawud yang ketika itu berusia masih sangat muda, memberanikan diri untuk menentang Jalut. Awalnya, Thalut menyangsikan kemampuan Dawud untuk melawan Jalut. Benar saja, selama dalam masa peperangan, Dawud hanyalah menjadi pembawa makanan. Namun, apa boleh buat bagi Thalut, tekad Dawud begitu kuat dan akhirnya dipersilakan Dawud untuk melawan Jalut. Hanya bermodalkan ketapel berpeluru kerikil diiringi ucapan bismillah yang mantap, voila! Kerikil melesat tepat mengenai bagian kepada Jalut. Jalut-pun linglung dan harus rela roboh hanya karena batu kerikil. Pasukan Jalut pun lari tunggang-langgang, dan pasukan Thalut bersorak kegirangan sembari mengelu-elukan Dawud. “...dan (dalam peperangan itu) Dawud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepada Dawud pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya.”[6] Begitulah prinsipnya pemuda. Untuk berjuang menggapai sesuatu, jangan pernah ragu untuk mencoba. Pastinya, jangan sampai melupakan Tuhan yang memberikan kekuatan dan kesuksesan pada kita.
            “Bangun pemudi-pemuda Indonesia...” begitulah sepenggal lirik lagu wajib nasional kita. Tetapi apakah kalimat tersebut hanya sekadar menjadi lagu yang semakin kesini semakin tidak dihafal para pemuda Indonesia? Maka yang perlu dipertanyakan adalah apakah pemuda Indonesia benar-benar menghayati Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober itu, ataukah hanya sebagai tanda ingin diakui bahwa “Gue Nasionalis”. Toh orang yang nasionalis seharusnya mengetahui sejarah Sumpah Pemuda yang sebenarnya. Kini, ikrar yang tertuang dalam Sumpah Pemuda, apakah hanya akan menjadi jargon pembasah lisan saja?
            Para pemuda haruslah terus menjadi muda. Banyak berusaha, banyak belajar, banyak berbuat, banyak berkarya, banyak berpikir, banyak menulis, banyak bereksplorasi, dan banyak lagi yang harus dilakukan. Karena sebagaimana yang pernah dipesankan oleh Hasan Al-Banna, “Ketahuilah, kewajiban kita lebih banyak daripada waktu yang tersedia. Maka, bantulah saudaramu untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya, dan jika memiliki kepentingan atau tugas, tunaikanlah segera.”
            Poin-poin pesan di atas hanyalah sebagai pedoman agar kita menjadi pemuda yang selalu muda. Bukan pemuda yang manja; dimanjakan orang tua, dimanjakan fasilitas, dimanjakan lingkungan, dan manja-manja lainnya. Pemuda yang selalu bergerak menuntaskan perubahan. Tentunya juga pemuda yang bermanfaat demi kemajuan peradaban, bukan yang hanya menjadi daki peradaban. Pemuda seperti Ashabul Kahfi yang memegang teguh keimanan, akan menjadi pemuda yang bermoral dan selalu berada di depan untuk menumpas kejahatan serta menjunjung tinggi kebenaran. Pemuda yang berprinsip seperti Nabi Musa, akan menjadi pemuda yang bermanfaat bagi kemajuan peradaban, karena fisiknya kuat dan dapat dipercaya. Maka, latihlah fisik kita, dan latihlah diri untuk selalu bersikap baik dimanapun kita berada. Kalau dengan begitu, Nabi Musa bisa dipinang dan dinikahkan dengan anak seorang nabi, barangkali kita –para lelaki- bisa dipinang dan dinikahkan dengan anak Kiyai.




[1] Pada saat itu sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kabinet Ali Sastroamijoyo, Yamin memberikan pidato pembukaan.
[2] Mengenai “ba’ah”, karena definisianya luas, maka tidak saya terjemahkan.
[3] Bukhari-Muslim.
[4] Al-Kahfi (18): 13-14.
[5] Al-Qashash (28): 26.
[6] Al-Baqarah (2): 251.

Friday, 23 October 2015

Cicil Hingga Berhasil

Cicil. Kata ini sesungguhnya bukan hanya berlaku dalam lingkup pembayaran atau pelunasan utang. Cicil, adalah kata yang seharusnya menghibur usaha seseorang. Misalnya saja seorang mahasiswa semester akhir yang sedang menggarap skripsi, mereka tidak bisa menyelesaikannya dalam sekejap. Pekerjaan mereka dalam menyelesaikan skripsi, pastilah dicicil. Skripsinya dicicil hingga berhasil.

Monday, 19 October 2015

Tulis Saja

Ketika mengisi kajian, seminar, atau talkshow; biasanya pertanyaan langganan yang sering mampir adalah, “Mas, apa saja tips menulis?” atau “Mas, bagaimana sih memotivasi diri untuk semangat menulis?” atau banyak pertanyaan-pertanyaan yang bernada sejenis. Padahal tajuk kajiannya bukanlah tentang tulis-menulis, kadang-kadang tema kajiannya jauh sekali dari urusan tulis-menulis. Tetapi entah mengapa topik tentang menulis ini memang menarik sekali untuk dibahas. Namun, tahukah Anda, bahwa sesungguhnya saya pun bingung untuk menjawab apabila ada pertanyaan semacam itu. Sekalipun pertanyaan itu adalah pertanyaan yang akrab di telinga saya. Bahkan sangat akrab.
            Tentang menulis, saya tidak pernah punya tips ataupun motivasi khusus. Lagipula saya juga bukan orang yang sangat produktif dalam menulis. Baru dua buku karya saya yang berhasil terbit, itupun sangat tipis dan beberapa isinya ada yang harus saya copy-paste dari sana-sini. Saya hanya mencoba mengoptimalkan segala potensi yang saya miliki untuk menebar kebaikan, untuk berdakwah. Selain itu, saya menjadikan kegiatan tulis-menulis kebanyakan sebagai curahan hati belaka, tidak lebih. Blog ini adalah saksi bisu curahan hati yang saya tuliskan. Mungkin banyak pembaca yang tidak tahu bahwa tulisan-tulisan saya di blog ini adalah curhat, tetapi nyatanya memang demikian. Alasannya sederhana; saya ingin curhatan saya dapat menjadi manfaat bagi siapapun yang menyimaknya. Menebar kebaikan adalah ibadah, karena itu adalah perintah Yang Maha Kuasa.
            Perlu ditekankan, bahwa motivasi bagi setiap orang tidaklah selalu sama. Misalnya saja, jika seseorang ingin sukses dalam berbisnis adalah harus begini dan begitu, sebagaimana yang dikatakan oleh motivator bisnis kenamaan bernama -sebut saja Mawar. Pada kenyataannya, tidak semua orang yang berbisnis kemudian bisnisnya sukses karena mengikuti perkataan si motivator, bahkan ada yang berujung gagal total. Motivasi tidak melulu berujung keberhasilan, namun setiap amal memang membutuhkan motivasi agar dapat terlaksana dengan maksimal. Oleh sebab itu, carilah motivasi dari dalam diri kita sendiri. Dalam hal menulis, saya menyadari bahwasanya menulis ini adalah perintah dari Allah subhanahu wa ta’ala. Mengapa dalam Al-Qur’an ada sebuah surat yang diberi nama Al-Qalam yang berarti pena? Itulah kode dari Allah.
“Sesungguhnya mahluk yang pertama kali Allah ciptakan adalah Al-Qalam, kemudian Allah berfirman kepadanya: Tulislah! Kemudian Al-Qalam berkata:Wahai Rabbku, apa yang aku tulis? Allah berfirman: Tulislah taqdir segala sesuatu sampai datang hari kiamat”[1]
            Sebuah hadits mengungkapkan bahwasanya pena adalah makhluk yang pertama kali diciptakan Allah.[2] Perintah Allah untuk menulis segala yang terjadi sampai hari kiamat kepada pena. Ini salah satu faktor yang secara tidak langsung memberikan alasan mengapa kita harus menulis. Allah menciptakan pena sebagai makhluk-Nya yang pertama. Lagi-lagi ini sebuah kode bagi makhluk-Nya yang begitu sempurna bernama manusia untuk menulis.
            Menulis itu pekerjaan keabadian. Mengapa? Ya, siapa yang akan tahu sosok bernama Ibnul Qayyim al-Jauziyah apabila dahulu ia tidak menulis? Mungkin juga tidak akan ada yang mengenal Ibnu Taimiyah, Ibnu Khaldun, Badiuzzaman Said Nursi, hingga Buya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) di zaman sekarang apabila mereka dahulu tidak semangat menulis. Kita memang akan mati, jasad kita ditimbun tanah dan tinggallah tulang belulang. Namun nama kita akan terus disebut, pemikiran kita akan terus dikenang, dan keturunan kita bisa saja dipuji banyak orang karena karya kita dalam tulisan. Dengan menulis, kita akan abadi di dunia yang fana.
            Anda bisa saja mencari motivasi menulis dari sisi yang berbeda. Misalnya Anda ingin menulis di koran demi mendapatkan uang saku, menulis buku demi royalti, menulis buku demi dipuji banyak orang. Hal-hal itu sah-sah saja. Namun pikirkanlah kembali. Apabila orientasi kita kepada menebar ilmu, menebar manfaat, pastilah jauh lebih mulia dan manfaatnya akan berlipat. Kita kejar pahala dari menulis. Karena pahala itu abadi, maka manfaat yang akan kita rasakan dari menulis juga akan abadi. Lihatlah para ulama kita. Mereka membebaskan siapapun yang ingin copas karya mereka. Tidak ada harapan royalti yang mereka pikirkan. Hasilnya, kita bisa menikmati karya-karya mereka hingga sekarang, dan banyak ulama besar yang mempelajari karya-karya mereka. Padahal kekayaannya tidak akan habis berribu turunan apabila ada royalti untuk mereka. Mereka tidak membutuhkan adanya Undang-Undang plagiarisme, karena tanggung jawab keilmuannya adalah sanad dan jalur periwayatan.
            Setidaknya tiga hal di atas yang menjadi motivasi saya menulis. Lagi-lagi tidak semua orang harus memiliki motivasi yang sama. Karena motivasi itu seperti juga hikmah, yang Allah tebarkan serpihan-serpihannya di hamparan semesta yang luas ini. Lalu tentang tips, saya pun tidak pernah memiliki tips khusus. Saya hanya punya tiga tips untuk menulis, yakni: (pertama) menulis, (kedua) menulis, dan (ketiga) menulis. Menulis, menulis, dan menulis. Hanya itu kiat-kiatnya. Untuk memulai menulis, kita harus menulis. Untuk melanjutkan tulisan, kita harus menulis. Dan untuk mengakhirinya kita juga harus menulis.
Lalu apa inspirasi untuk memulai tulisan? Sesungguhnya inspirasi itu akan datang apabila kita sering membaca. Karena membaca dan menulis adalah kegiatan yang berkesinambungan. Saya pernah ditanya, “Bagaimana caranya kita bisa menulis banyak tulisan dan kita tidak kehabisan ide dalam menulis?” Sebelum saya menjawab, saya ajukan pertanyaan juga, “Berapa banyak Anda baca dalam sehari? Dan jenis tulisan apa yang Anda baca?” Jawabannya, “Saya jarang membaca, dan saya suka baca novel.” Nah, keep dreaming! Analogi sederhananya; membaca sama dengan makan, dan menulis sama dengan (maaf) buang air besar. Anda ingin BAB dengan jumlah yang banyak, tetapi Anda tidak mau makan. Atau Anda mau makan, tetapi hanya cemilan-cemilan saja. Pasti pencernaan dan kesehatan Anda bermasalah. Begitupun bila Anda ingin menulis, tetapi jarang baca; itu suatu hal yang agak mustahil. Atau Anda hanya suka baca novel, yang dapat kita analogikan dengan cemilan tadi; maka Anda hanya baik dalam menulis cerita pendek ataupun novel juga. Kualitas Anda ditentukan dari bacaan Anda. Jika Anda banyak membaca, peristiwa apapun yang terjadi akan memberikan inspirasi untuk menulis. Karena wawasan Anda menjadi luas dengan banyak membaca. Dan ingat, wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah; perintah membaca!
Terakhir, biasanya saya juga mendapat pertanyaan, “Apa yang paling sulit dalam menulis?” Saya sulit menulis ketika dipaksa. Apalagi menulis tentang topik yang tidak saya kuasai. Lagi-lagi ini karena kurangnya wawasan saya, sehingga minim inspirasi dan ide untuk menulis. Namun yang jauh lebih teramat sulit dalam urusan tulis-menulis adalah; menulis namaku dalam hatimu.



[1] HR. Abu Dawud [no. 4700], Shahih Abi Dawud [no. 3933], at-Tirmidzi [no. 2155, 3319], Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah [no. 102], al-Ajurry dalam asy-Syari’ah [no.180], Ahmad [V/317], Abu Dawud ath-Thayalisi [no. 577], dari Sahabat ‘Ubadah bin ash-Shamit Radhiyallahu ‘anhu, hadits ini shahih.
[2] Ulama berbeda pendapat akan hal ini. Ada yang mengatakan pena diciptakan setelah ‘arsy, ada pula yang berpendapat bahwa pena lebih dahulu diciptakan sebelum ‘arsy. Allahu a’lam.

Wednesday, 7 October 2015

Wahai Para Pendaki, Belajarlah dari Everest dan 5 CM!



Film Everest dan 5 CM, berisi topik yang identik; yakni tentang mendaki gunung. Namun, konten dan hikmah yang dapat diambil dari kedua film tersebut, sangatlah jauh berbeda. Bak langit dan bumi, pendaki gunung yang baik dimanapun mereka berada akan memberikan apresiasi setinggi-tingginya untuk Everest, dan sumpah serapah kepada 5 CM.
            Film Everest berangkat dari kisah nyata yang terjadi pada tahun 1996. Dimana isu komersialisasi gunung mulai booming. Lebih dari sedekade lalu, buku berjudul Into Thin Air diterbitkan. Buku ini ditulis oleh Jon Krakauer, yang juga terlibat dalam pendakian tahun 1996 tersebut. Beberapa bagian film ini diangkat dari buku tersebut, dan juga menambahkan referensi lainnya, termasuk buku bantahannya dari Anatoli Boukreev, The Climb. Menjadi hal yang sangat baik, karena film ini mencoba untuk obyektif dalam memandang tragedi 1996 ini.
            Akibat tragedi tersebut, tahun 1996 menjadi tahun kelam dalam sejarah pendakian Everest. Di musim pendakian, beberapa rombongan pendaki seakan berlomba ingin menggapai puncak. Sebut saja kelompok yang dipimpin Rob Hall, Adventures Consultant. Selain itu, ada pula Scott Fischer yang memimpin grup Mountain Madness. Hingga pendaki dari berbagai negara seperti Taiwan dan Afrika Selatan, semuanya berlomba untuk menggapai puncak tertinggi di dunia. Keramaian rombongan inilah yang mengantarkan penonton untuk menikmati film ini. Warna lain dari film ini adalah beberapa infrastruktur yang terlupa untuk dipersiapkan, badai ganas yang tiba-tiba datang dan banyaknya korban saat pendakian, terbanyak dalam setahun di dekade tersebut.
            Film ini memberikan banyak sekali pelajaran tentang mendaki gunung; teknik pendakian, teknik survival, teknik persiapan sampai manajemen pendakian. Membuat penonton yang cerdas akan lebih banyak mengambil pelajaran, ketimbang hanya menikmati keindahan Everest yang dilapisi salju putih dan membuat pendaki manapun ngiler untuk mendakinya. Salah satu kutipan yang saya catat dalam ingatan saya, dan masih terngiang hingga saat ini adalah ketika Scott Ficsher berkata (kurang-lebih), “It’s not about the altitude, but the attitude.”[1] Ya, kadang kita berpikir bahwa mendaki gunung hanyalah untuk mencapai puncak, berfoto-foto, berteriak-teriak histeris, kemudian menulis kata-kata norak yang kemudian dipublikasikan ke khalayak lewat akun media sosial. Apa sih faedahnya?
            Hal lain yang memberikan warna bagi Everest adalah adanya 2 ego besar. Ego Doug Hansen yang bersikukuh mencapai puncak Everest pada tahun tersebut, walaupun dirinya sudah terlambat 2 jam dari rencana awal untuk menyentuh puncak. Juga ego Scott Fischer yang memaksakan untuk turut menggapai puncak di tanggal 10 Mei 1996, tanggal yang akan selalu disebut dalam film ini. Kedua ego ini coba dikompromikan oleh Rob Hall yang menjadi tokoh utama dalam film ini. Namun apa daya, Rob pun gagal meredam ego tersebut, dan justru terbawa arus dalam yang mengantarkan dirinya menuju tragedi.
Lain ladang lain belalang, lain Everest lain pula 5 CM. Film 5 CM sangat menonjolkan keindahan gunung. Penonton sangat terlena dengan keasyikan dan kemudahan mendaki Semeru yang ditampilkan secara visual oleh film 5 CM. Entah isi novelnya seperti apa, karena jujur saja, saya belum pernah membaca novelnya. Semudah itukah naik gunung? Hanya dengan persiapan beberapa hari, mendaki gunung dengan perlengkapan yang tidak ditampilkan sama sekali penggunaan dan kegunaannya, hingga adegan impossible ketika salah seorang tokoh tertimpa batu runtuhan puncak Gunung Semeru. Dan... dia masih hidup?! How impossible! Baiklah, hidup-mati adalah urusan Tuhan. Tetapi, dia sehat-sehat saja dan melanjutkan perjalan hingga puncuk. Kemudian berenang di danau yang seharusnya tidak boleh dicemplungi manusia. Saya jadi semakin miris ketika belakangan, kalimat geram terlontar dari lisan kawan saya, “Damn! Bohong banget tuh! Temen gua mati dengan kejadian persis kaya gitu!”
            Dus, dampak yang diberikan oleh film 5 CM sangat luar biasa. Luar biasa buruknya. Pendaki-pendaki yang masih culun dengan jumawanya berbondong-bondong ingin naik Semeru. Bahkan yang belum pernah mendaki gunung pun jadi menganggap remeh kegiatan mendaki gunung, sebagai kegiatan yang mudah, mengasyikkan dan buat gaya-gayaan. Lihatlah Semeru hari ini, layaknya pasar malam yang dipenuhi para pendaki dari berbagai daerah. Antrean yang mengular dan sampah menumpuk di tiap sudutnya. Padahal kenyataannya, seperti yang disebutkan oleh Anatoli Boukreev dan ditampilkan dalam film tersebut, “Selalu ada kompetisi di antara orang-orang dan gunung, gununglah yang selalu menjadi pemenang”. Kita tidak akan pernah menang  melawan alam, melawan gunung. Karena merekalah yang akan menang. Memang kita berhasil mencapai puncak gunung. Tapi, berapa banyak pengorbanan yang kita lakukan untuk mencapai puncak makhluk diam itu? Uang, tenaga, pikiran, dan ego yang harus kita gadaikan untuk sekadar berfoto-foto di pucuknya.
            Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, bahwa mendaki gunung adalah bukan soal ketinggian, namun soal sikap. Sikap kita terhadap alam yang harus selalu dijunjung tinggi. Jangan mengotori alam, jangan sakiti alam. Karena merekalah sahabat kita, untuk menunjang kehidupan kita. Apabila kita menyakiti alam, maka alam akan balik menikam kita. Contoh yang paling jelas adalah hari ini, dimana kabut asap yang semakin pekat diakibatkan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dalam pembakaran hutan. Hingga kini, siapapun yang melihat beritanya, hanya menganggap sebagai bencana biasa yang sewaktu-waktu bisa saja datang. Termasuk pemerintah kita yang entah dimana rimbanya seolah tidak ada usaha untuk menanggulanginya. Setelah menganggap remeh banjir Jakarta yang nyatanya tidak bisa diatasi juga, pemegang pucuk pimpinan RI kini dihadapkan dengan asap yang entah kapan akan ditanggulangi.
            Akhirnya, begitulah pelajaran yang akan kita dapatkan dari dua film bertema identik tersebut. Pelajaran bagaimana memaknai pendakian dengan benar dan penuh khidmat. Jadikanlah pendakian sebagai penempa diri, dan bentuk rasa syukur atas keindahan ciptaan Tuhan. Bukan malah menzalimi ciptaan-Nya. Maka ceritakanlah agar mereka berpikir!




[1] Ini bukan hanya tentang ketinggian, tetapi juga sikap.
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com