Sunday, 11 January 2015

Agama Baru itu Bernama 'Vaksin'

Tempo hari, tidak sengaja saya melihat komentar di facebook dari status seseorang yang membagikan tautan ceramah seorang ustadz di akunnya. Ada satu komentar yang cukup menggelitik, salah satunya kurang lebih begini (nama disamarkan), “Ustadz Fulan ini pro-vaksin ya?” Atas dasar Ustadz Fulan pro terhadap vaksinasi, kemudian pemilik akun ini tidak mau lagi mendengar taushiah dari sang ustadz. Mungkin baginya beda pandangan terhadap sesuatu, akan mempengaruhi cara beragama seseorang. Ini lucu. Padahal mereka seagama, dan lebih aneh lagi, mereka se-fikrah se-harakah.
            Hal yang membuat saya tercenung adalah, bagaimana mungkin perbedaan pandangan terhadap vaksin sampai menjadikan orang alergi terhadap saudaranya? Baiklah jika memang ia percaya bahwa vaksin itu beracun dan mengandung barang-barang haram. Tetapi apakah vaksin ini menjadi faktor baru dalam perpecahan (satu) agama? Ini harus segera dibenahi.
            Sebelum kita lebih jauh membahas tentang perbedaan ini, ada baiknya kita membicarakan kontroversi vaksin ini. Vaksin mulai digunakan di Indonesia tahun 1956, yaitu untuk imunisasi cacar.[1] Programnya di Indonesia secara gencar dimulai pada medio 1970-an. Sebelum kita lanjutkan lebih jauh, pernahkan terlintas di pikiran Anda, mengapa usia harapan hidup manusia di dunia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya mengalami penurunan yang cukup drastis? Mengapa dewasa ini banyak penyakit-penyakit baru yang relatif aneh bermunculan? Apakah semuanya terjadi secara alami? Para tetua kita usianya panjang-panjang. Penyakitnya relatif biasa-biasa saja, tiada yang aneh. Masih berpikir vaksin ini baik bagi manusia?

            Baiklah, sebelum kita lanjutkan, tolong bersihkan pikiran Anda. Jangan alergi dulu dengan kata ‘konspirasi’. Jangan close tab dulu sebelum baca sampai selesai. Begini, dunia kita sudah lama dikendalikan oleh tangan-tangan tidak terlihat, The Invisible Hand. Semua ini tidak terlepas dari adanya misi menguasai dunia dalam satu pemerintahan yang disusun dalam The Protocol of Zion. Kemudian ini berhubungan pula dengan adanya depopulation program, pengurangan jumlah manusia agar terus terjaga dalam jumlah tertentu, agar tercipta keselarasan antara manusia dengan bumi. Merupakan program rahasia yang awalnya dari keyakinan pagan. Jumlah yang telah ditetapkan adalah hanya 500 ribu orang. Padahal sensus dunia menyatakan total manusia di bumi sudah menembus angka yang lebih dari enam milyar. Artinya apa? Ya, jumlah manusia di muka bumi harus terus digerus lebih dari 500 juta jiwa. Program ini terpatri dengan jelas pada Georgia Guidestones, sebuah bangunan batu granit raksasa yang diselesaikan pada tahun 1980 berada di pedalaman Georgia, Ameria Serikat.[2] Bangunan ini ada pula yang menyebutnya dengan The Illuminati Stonehenge, karena memang bentuknya yang sekilas mengingatkan kita pada Stonehenge yang berada di dataran Britania Raya.[3] Bebatuan ini memuat sepuluh perintah tentang Depopulation Program dalam delapan bahasa; Inggris, Spanyol, Swahili, Hindi, Ibrani, Arab, Mandarin, dan Rusia. Perintah pertama ialah: “Pertahankan umat manusia di bawah 500.000.000 dalam memelihara keseimbangan alam.” Apakah Anda mengira saya mengada-ada? Ayolah, informasi semacam ini sejatinya informasi basi. Sudah dibahas ratusan kali oleh para pakar konspirasi global. Banyak pula buku yang telah membahasnya. Semuanya bermuara pada satu topik, The New World Order, atau dalam bahasa Latin Novus Ordo Seclorum. Tatanan dunia baru, yang menginginkan dunia berada dalam satu pemerintahan dan juga lebih paranya satu agama. Siapa yang disembah? Setan terkemuka yang bernama Lucifer.
            Program penurunan jumlah manusia inilah yang dilakukan salah satunya dengan cara meracuni manusia di seluruh dunia, agar mereka mati pelan-pelan. Ini memang cara jangka panjang, dan cara jangka pendeknya adalah perang. Siapa lagi yang diuntungkan dalam perang kalau bukan kaum kapitalis yang bersarang di negara-negara Barat dan Amerika sebagai ibunya? Dunia damai tiada perang, maka mereka bangkrut, senjata yang mereka produksi adalah aset yang memberikan keuntungan berlipat. Proyek jangka panjang inilah yang dilakukan lewat makanan dan tentunya vaksinasi. Perusahaan Monsanto mengembangkan produk pertanian hasil rekayasa genetik, sehingga merugikan petani dan konsumen-konsumennya. Makanan yang kita konsumsi, terlebih membelinya di supermarket sudah banyak terkontaminasi oleh racun yang mereka produksi, sekalipun itu sayuran dan buah-buahan. Sejatinya hal ini telah terjadi dalam Perang Dunia II. IG Farben, perusahaan kimia di Jerman dimanfaatkan Hittler untuk menjadi pemasok utama pengadaan racun di kamp-kamp Nazi. Salah satu produknya ketika itu ialah Zyklon B, instektisida berbahan hydrogen sianida yang tentunya racun. Lucunya ketika Perang Dunia II usai dan Jerman dinyatakan kalah perang, IG Farben tidak ikut dihancurkan, tetapi terus dihidupkan dan berkembang menjadi empat perusahaan besar: Bayer, Hoechst, AGFA, dan BASF. Hari ini, racun-racun semodel fluoride, aspartam, MSG barangkali hampir setiap hari masuk ke tubuh kita. Pantaslah usia umat manusia sekarang pendek. Memang usia itu urusan Tuhan. Tapi ingatlah bahwa Tuhan selalu menunjukkan tanda-tandanya bagi orang yang berpikir.
            Beralih ke vaksin. Bahwa vaksin adalah tulang punggung perusahaan farmasi dunia. tanpa adanya proyek vaksin, mereka akan bangkrut. Maka program ini harus terus diusahakan –untuk tidak disebut dipaksakan- berkembang. Dalam Freemasonry: A Celebration of The Craft yang ditulis oleh John Hamill dan Robert Gilbert dinyatakan bahwa, “Para Freemason merupakan pelopor dan penganjur vaksinasi. Sebenarnya seorang Freemason dan dokter bernama Edward Jenner-lah pada tahun 1796 mulai menganjurkan vaksinasi ‘pencegahan’, sebuah fakta yang amat dibanggakan Freemason.” Seseorang yang terserang penyakit tidaklah membuat seseorang kebal, dan hal ini terjadi pula pada vaksin. Thimerosal, Formaldehyde, Carbolic Acid, Acetone, Alum, MSG dan lain-lain adalah beberapa bahan yang ada dalam vaksin. Sejujurnya saya tidak bisa menjelaskan lebih detail tentang bahan-bahan tersebut. Namun yang perlu Anda ketahui bahwasanya benda-benda tersebut sangat mematikan. Pada intinya, vaksinasi adalah satu cara bagi para konspirator global –yang jelas-jelas memusuhi Islam- untuk menekan populasi manusia. Oh iya! Jangan lupakan program Keluarga Berencana (KB) yang jelas-jelas bertentangan dengan anjuran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, "Nikahilah oleh kalian wanita yang penuh kasih sayang dan subur. Karena sesungguhnya pada hari kiamat kelak, aku akan berbangga dihadapan para Nabi dengan jumlah kalian yang banyak." (HR. Abu Dawud).
            Henry Kissinger (mantan Menterli Luar Negeri AS) pernah berkata, “Pengurangan populasi merupakan prioritas utama kebijakan luar negeri AS terhadap negara-negara dunia ketiga. Pengurangan penduduk negara-negara ini merupakan masalah vital bagi keamanan nasional Amerika.” Hal-hal yang digembar-gemborkan konspirator memang sulit untuk dikuak, sebab media –yang notabene mayoritas dikuasai mereka- tidak akan mengekspos ini. Banyak orang-orang terkenal yang mati mengenaskan setelah mengungkapnya, atau menolak tunduk padanya. Kita tahu kemisteriusan kematian John Fitzgerald Kennedy dan Abraham Lincoln yang tidak pernah ada kejelasannya. Ya, mereka dibunuh karena menolak bank sentral –yang menjadi proyek utama Freemason dan nyata-nyata didalangi dinasti Rotschild. Pekerjaan para konspirator adalah bagaimana caranya mereka berkonspirasi tanpa diketahui orang, dan membuat orang menjadi berpikir bahwa konspirasi tersebut adalah irasional, tidak masuk akal.[4]
Sejatinya saya lebih suka menghindari pembicaraan masalah vaksin. Karena ini berkenaan dengan hak hajat hidup banyak orang. Saya pun baru-baru ini menerima vaksin meningitis. Tidak terlalu bermasalah bagi saya, karena di dalam tubuh saya sudah kadung berkeliaran pelbagai macam vaksin. Ditambah lagi, saya bukanlah seorang ahli kimia ataupun kedokteran yang paham terhadap zat-zat yang membahayakan tubuh maupun yang tidak berbahaya sama sekali. Telah banyak buku-buku yang membahas ini, bahkan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Anda hanya perlu mempelajari dan mencarinya. Buku pembantahnya juga silakan dibaca, dan saya usulkan buku berjudul Kontroversi Imunisasi yang disusun oleh Dr. Siti Aisyah Ismail, dkk. Setuju atau tidak, itu terserah Anda. Atau mungkin Anda mengira saya mengada-ada atau terlalu fanatik? Itu juga terserah, yang jelas Anda harus lebih sering membaca dan mengkaji. Ingatlah, segala yang terjadi di dunia ini tidak secara kebetulan. Semuanya dirancang secara khusus oleh ‘tangan-tangan yang tidak terlihat’. Kita jangan pernah buta, sebab Allah memerintahkan kita untuk selalu meneliti ciptaan Allah di langit dan bumi. Ada yang tersurat, pastilah ada yang tersirat.
Kembali lagi ke persoalan awal, bahwasanya jangan sampai kita terbawa emosi dan menjadikan polemik pro-vaksin dan anti-vaksin sebagai bahasan serius apalagi sampai memecah belah umat seagama. Ini adalah proyek para konspirator yang lainnya; memecah belah umat Islam dari dalam. Persoalan furu’ dalam agama saja sudah tidak karuan membuat umat ribut dan saling memaki. Janganlah kita tambah dengan masalah baru. Adapun informasi yang saya paparkan di atas bukanlah bertujuan memecah belah, tetapi untuk membuka ruang diskusi yang lebih intens. Agar semua pihak merasa terpuaskan dan tidak ada perasaan benci satu sama lain. Oh ya, MUI pun menghalalkan vaksin. Kalau data yang saya paparkan benar adanya, mengapa MUI bertolak belakang? Soal ini, kita bisa buka forum diskusi di lain tempat. Anda hanya perlu menaati mereka yang berilmu. “Maka bertanyalah pada ahlinya jika kamu bukan orang yang mengerti.” (QS. Al-Anbiya: 7). Karena saya semata-mata hanya menjalankan titah dari-Nya, “faqshushi al-qashasha la’allahum yatafakkaruun!” (maka ceritakanlah kisah itu agar mereka berpikir).
Allahu a’lam.




[1] http://infoimunisasi.com/vaksin/sejarah-imunisasi-di-indonesia/
[2] Jagad A. Purbawati. The New World Order. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. 2013. Hlm.258
[3] Silakan cari gambarnya di google tentang Georgia Guidestones ini.
[4] Ralph Epperson. The Synagogue of Satan. 2011.

4 comments:

  1. Bismillah.

    Memilih teman yang baik adalah sesuatu yang tak bisa dianggap remeh. Karena itu, Islam mengajarkan agar kita tak salah dalam memilihnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

    Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman.

    Sudah dapat dipastikan, bahwa seorang teman memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap temannya. Teman bisa mempengaruhi agama, pandangan hidup, kebiasaan dan sifat-sifat seseorang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com