Saturday, 17 January 2015

Beginilah Istiqomah

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fushilat: 30).


Istiqomah adalah lambang keimanan seseorang kepada Allah. Keyakinan hati, kebenaran lisan dan kesungguhan beramal adalah unsur-unsur keimanan yang dapat dijalankan dengan baik dengan istiqomah. Istiqomah artinya keteguhan dalam memegang prinsip. Istiqomah adalah terus komitmen pada kebenaran dan terus beribadah. Istiqomah adalah sikap yang sangat menakjubkan. Bahkan itu lebih menakjubkan daripada seseorang yang terus menerus beribadah kemudian ia menjauh dari dunia. Dengan istiqomah, maka jelaslah keimanan seseorang.
Terkisahlah Nuh ‘alaihissalam. Dengan mengiba mengadukan masalahnya kepada Tuhannya. Masalah dakwah yang tak kunjung usai. Ratusan tahun berdakwah nyatanya tidak menjamin jumlah pengikutnya. Nuh, Sang Utusan Pertama harus dikecewakan oleh jumlah pengikutnya yang tak lebih dari delapan puluh orang. Nuh bersedih. Meskipun sedihnya Nuh tidak sama tingkatannya bila dibandingkan dengan kesedihan tingkat banci para aktivis kacangan organisasi dakwah milenium yang meratapi kekurangan rekrutannya. Curahan hati Nuh, Allah catat dalam firman-Nya beberapa ayat. Tetapi hiburan dari Tuhannya adalah seelok-elok hiburan. Tak pelak, berbagai ocehan dan cemoohan tak dihiraukannya. Hingga terbentuklah bahtera besar hasil karya tangannya. Tak dinyana, hujan pun turun begitu derasnya. Hingga menutup seluruh daratan, bahkan airnya melingkupi perbukitan. Semua tenggelam, namun tidak bagi Nuh beserta pengikut-pengikutnya. Nuh istiqomah, pun para pengikutnya. Mereka selamat, selamat di dunia. Namun yang paling penting adalah mereka kelak selamat dan mendapat kebahagiaan di akhirat. Surga didapat, dengan kunci istiqomah dalam dakwahnya. Adakah kita?
Istiqomah memang perintah, namun istiqomah bukanlah di lisan. Istiqomah dapat dilihat pada kesungguhan seorang yang tidak lelah berlama-lama shalat tarawih berjamaah. Istiqomah dapat dilihat dari ketangguhan seorang tukang becak yang siang-malam mengayuh demi keridhoan Allah dan menafkahi keluarganya. Istiqomah dapat dilihat dari seorang guru yang tanpa pamrih menghadapi kenakalan-kenakalan muridnya, namun ia tetap mengajar dengan sungguh-sungguh tanpa menghiraukan turun atau tidaknya gaji bulan ini. Istiqomah dapat dilihat pada seorang istri yang setia menjaga kehormatan selagi suaminya pergi mencari nafkah. Istiqomah ada pada diri mereka yang beriman, dan istiqomah pasti bergaris akhir di jannah. Perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Katakanlah: “Rabbku adalah Allah” dan Istiqomahlah!” (HR. At-Tirmidzi). Mampukah kita?
Berkurun-kurun hidup bergelimang harta, bukan ahli waris raja pula. Tak dinyana, mahkota kerajaan rela mampir pada dirinya. Ketika tiba hari pelantikannya, disadarinya bahwa ia kini seorang pelayan umat. Selama tiga hari masa pelantikannya, ia memperoleh pencerahan; dengan tegas menolak seluruh fasilitas istana yang diperuntukkan bagi seorang sultan. Istrinya terkejut bukan kepalang tatkala mendengar berita bahwa suaminya, sang khalifah baru, menolak segala fasilitas istana dan hanya memilih menunggang keledai untuk kendaraan sehari-hari, ditambah membatalkan acara pelantikan dirinya sebagai khalifah yang akan diadakan besar-besaran dan penuh kemewahan. Sang istri pun tercenung heran, sebab suaminya adalah orang yang dimaklumi dengan kemewahan yang melekat padanya. Tidak lebih dari dua tahun memimpin, pemerintahannya berhasil menihilkan kemiskinan. Umar bin Abdul Aziz ber-istiqomah, istiqomah dalam kepemimpinannya. Istiqomah dalam menyejahterakan rakyatnya. Adakah kita?
Dalam ayat pembuka pembicaraan ini, dijelaskan bahwasanya kelak jika para pelaku istiqomah ini meninggal (dalam keadaan istiqomah dalam beriman) maka malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata, “Janganlah kalian merasa takut”. Malaikat menghibur mereka untuk tidak takut akan apa yang mereka temui nanti di Alam Barzakh dan di Hari Kiamat. Kemudian malaikat pun melanjutkan kalimatnya, “Dan janganlah kalian bersedih” untuk menghibur mereka yang telah meninggalkan segala harta dan keluarganya di dunia. Serta ditambahkan pula, “Dan bergembiralah kalian” sedang saat itu yang dimaksud oleh malaikat adalah agar mereka gembira terhadap surga yang telah Allah janjikan untuk mereka. Mungkinkah kita?
Mahar terbaik, adalah mahar yang paling ringan. Namun barangkali tak ada yang lebih ringan dan lebih agung bila dibandingkan dengan mahar yang diberikan Abu Thalhah kepada Ummu Sulaim binti Milhan. Ummu Sulaim adalah seorang janda, Abu Thalhah mengidamkannya. Ketika Abu Thalhah datang melamar, naga-naganya Ummu Sulaim tak kuasa menolak pinangannya. Namun sebuah tabir menghalangi; Abu Thalhah bukanlah muslim. Sejurus kemudian, pergilah Abu Thalhah menemui Rasulullah. Saat itulah Rasulullah melihat cahaya Islam pada kedua mata Abu Thalhah. Arkian, saudara muslim bertambah seorang; Abu Thalhah menyatakan bahwa dirinya kini termasuk dalam golongan orang-orang yang berserah diri. Kembalilah ia kepada Ummu Sulaim. Atas persetujuan putranya, Anas bin Malik, Ummu Sulaim rela dipinang dengan mahar terindah sepanjang sejarah Islam. Bukan sebongkah emas, ribuan hewan ternak, atau berdirham-dirham perak; melainkan keislaman sang mempelai lelaki. Tiada kerugian yang didapat dari pernikahan tersebut. Abu Thalhah didapati sebagai sahabat Nabi yang taat dan pembela Islam yang gigih. Dari rumah tangga mereka, lahirlah para penghafal Qur’an yang memberi bobot bagi bumi dengan kalimatullah. Abu Thalhah istiqomah dalam keislamannya. Ummu Sulaim istiqomah dalam ketaatannya. Mereka istiqomah. Adakah kita?
Hadiah para pelaku istiqomah bukanlah di sini (dunia) tetapi di sana (akhirat). Maka mereka yang istiqomah adalah yang sabar terhadap godaan dan tipu daya dunia yang melenakan. Adalah pula mereka yang gigih mempertahankan keimanannya atas segala iming-iming duniawi yang sungguh sangat melalaikan. Juga mereka yang sadar bahwasanya dunia ini hanya media untuk menggapai akhirat yang kekal dan pasti adanya.
Tidak takut dan tidak bersedih. Itulah perasaan orang-orang yang istiqomah ketika mereka meninggalkan alam fatamorgana ini. Perasaan ini akan dialami oleh semua orang yang istiqomah. Termasuk orang-orang yang ketika di dunia sangat bahagia, memiliki anak yang banyak, kaya raya dan berkedudukan tinggi. Karena kebahagiaan yang akan mereka terima di akhirat, akan jauh lebih baik dari apa yang selama ini mereka rasakan di dunia.
Sebaliknya, orang-orang yang kufur, tidak beriman, tidak istiqomah, gandrung bermaksiat dan sombong, kelak akan merasakan ketakutan yang amat sangat dan kesedihan yang mendalam. Meskipun di dunia mereka adalah orang yang paling nelangsa dan sengsara. Karena, kesengsaraannya selama mereka di dunia, masih jauh lebih baik dari kerugian yang akan diterimanya di akhirat.
Istiqomah seolah menjadi sebuah jawaban dari segala pertanyaan orang beriman. Dalam sebuah hadis, diceritakan bahwa ada seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. “Ya, Rasul ajarkan kepadaku agama Islam, ucapan yang mencakup seluruhnya sehingga aku tidak bertanya lagi kepadamu sesudah ini.” Beliau menjawab, “Yakinlah kepada Allah dan istiqomah.” (HR. Muslim)
Orang-orang yang istiqomah itu juga bergembira dengan surga yang dijanjikan Allah; tempat segala kenikmatan. Maka kedudukan istiqomah tidak kalah istimewanya dengan amalan lain. Pantaslah mereka mendapatkan segala kenikmatan tersebut, sebagai balasan yang Allah gambarkan dengan firmannya dalam hadis qudsi, “Sesuatu yang tidak ada satu mata pun yang pernah melihatnya, tidak ada satu telinga pun yang pernah mendengarnya dan tidak pernah terlintas sedikitpun dalam hati manusia.” (HR. Bukhari-Muslim).

Beginilah istiqomah. Apabila ada sikap yang ingin kita utamakan selain sabar, itulah istiqomah. Istiqomah bukanlah pada lisan yang menyihir pendengar, bukan pula pada ibadah terus menerus tanpa lelah. Akan tetapi istiqomah terbentuk dalam perilaku ketaatan kepada-Nya; senantiasa menepati janji, beramal tanpa pamrih pujian, jujur perkataannya, selaras lisan dengan perbuatan baiknya, serta bersih pada hatinya. Balasan bagi pelaku istiqomah bukanlah di sini (dunia) melainkan di sana (akhirat). Dapatkah kita?

0 comments:

Post a Comment

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com