Thursday, 22 January 2015

Kecil nan Menyentil

Ada sebuah filosofi yang sering digunakan dalam penyelesaian masalah. Yakni “selesaikan yang besar dahulu kemudian yang kecil akan mengikuti.” Filosofi ini biasanya digambarkan dengan ember yang harus diisi berbagai material di dalamnya. Adapun material yang tersedia adalah bebatuan berukuran besar, batu-batu berukuran lebih kecil, kerikil, dan pasir. Dengan memasukkan batu yang berukuran besar terlebih dahulu, maka materi-materi yang lain akan mudah dimasukkan. Batu kecil, kerikil, serta pasir akan masuk ke ember dengan melewati celah-celah kecil yang disisakan oleh bebatuan besar tadi. Intinya; utamakan yang besar.

            Dalam hal lain, misalnya seorang pecinta coklat ditawarkan dan harus memilih antara dua batang coklat, dengan merk dan rasa yang sama. Namun yang satu berukuran besar, dan yang satunya berukuran kecil. Agak mustahil rasanya jika ia tidak memilih yang besar. Atau apabila Anda dipekerjakan di sebuah perusahaan, kemudian mendapat tawaran gaji dengan kisaran empat hingga enam juta rupiah. Hampir pasti Anda memilih batas maksimalnya, yakni enam juta rupiah. Dalam beberapa hal, melupakan hal-hal yang besar justru akan berakibat buruk pada diri kita, bahkan lingkungan kita.
            Ketika ada sebuah bus yang berhenti melintang di jalan utama, pasti akan memicu kemacetan. Seandainya yang berhenti hanya sebuah mobil berukuran sedang yang notabene jauh lebih kecil daripada bus, pasti tidak akan terjadi kemacetan yang panjang dan lama. Toh mobilnya bisa didorong ke pinggir jalan. Sebuah kereta api yang batal melakukan perjalanan secara otomatis akan menghambat jadwal perjalanan kereta pada hari tersebut, lain halnya apabila yang batal melakukan perjalanan hanya sebuah bus kota yang hendak berangkat dari terminal. Pasti lebih mudah mengatasi masalah keberangkatan bus ketimbang kereta api.
            Namun, apakah pernah terpikir oleh Anda, bahwa ada sebuah agama yang amat sangat memerhatikan hal-hal kecil? Dan hal-hal kecil inilah justru yang sangat memengaruhi kehidupan seorang penganutnya.
            Islam mengajarkan segala hal; dari yang paling kecil, hingga yang paling besar. Dari hal yang paling rumit, hingga hal yang paling remeh. Dari kancah pemerintahan, hingga kancah rumah tangga. Makan, minum, cara berbicara, cara berpenampilan, gaya hidup, bahkan masuk kamar kecil pun diatur adab-adabnya. Lantas, apakah hanya karena itu kemudian Islam dianggap sebagai agama yang amat memerhatikan hal-hal kecil.
            Baiklah. Sebelumnya harus kita pahami, terkadang kita tidak menyadari bahwa di sekitar kita banyak sekali hal-hal kecil yang sering menyentil. Ada sebuah hadis yang berbunyi begini, “Sebutlah nama Allah (baca basmalah), dan makanlah dengan tangan kananmu, serta makanlah dari makanan yang dekat dengan kamu.” (HR. Muslim). Satu hal yang dapat dipertanyakan, mengapa harus tangan kanan? Mengapa harus baca basmalah? Mengapa harus memulai menyantap dari makanan yang paling dekat dengan kita? Ternyata dalam hadis (riwayat Muslim) yang lain, disebutkan bahwasanya setan ikut makan bersama kita apabila kita tidak membaca basmalah. Berat ya? Cuma gara-gara gak pake bismillah, makannya bareng setan. Ini hal kecil yang sungguh menyentil. Bila kita tidak memerhatikannya, justru berdampak besar bagi diri kita.
Lalu di kancah negara, apabila seorang pemimpin tidak menggunakan syariat Islam sebagai landasan bernegara, apakah lantas negaranya jadi negara setan? Atau kepemimpinannya berubah jadi kepemimpinan setan? Tentu tidak. Bahkan telah disepakati beberapa ulama, bahwa pemimpin yang fasik namun kuat lebih diutamakan ketimbang pemimpin yang shalih namun lemah. Lalu bagaimana bila pemimpinnya zalim? Islam tetap memerintahkan para pemeluknya untuk menaati pemimpin. Ibnu Taimiyah dalam Siyasah Syar’iyyah-nya menerangkan bahwa taat pada pemerintah adalah bagian dari aqidah. Ini hal besar. Kancah negara itu perkara besar, namun juga ada toleransi besar di dalamnya.
Selain itu, nyatanya golongan yang besar itu justru berpotensi masuk neraka ketimbang golongan yang kecil. “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS. Al-An’am-116). Lagi-lagi membuktikan bahwa yang besar belum tentu gahar, dan yang kecil justru menyentil. Golongan yang kecil seringkali dicap aneh. Akan tetapi justru Allah memutuskan bahwa golongan yang kecil inilah yang masuk surga. Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku (Iblis) sesatkan keturunannya (Adam as), kecuali sebahagian kecil." (QS. Al-Israa: 72). Golongan kecil inilah yang lolos dari godaan iblis dikarenakan mereka senantiasa ber-ittiba’ kepada ajaran dan sunnah Rasul-Nya.

Lalu, sebenarnya apa inti dari pembicaraan ini? Simpel saja, hanya mengingatkan agar kita tidak pernah melupakan hal-hal kecil. Ingatlah, angka 99 tidak akan menjadi 100 tanpa kehadiran angka 1 yang melengkapinya. Hal-hal besar tidak akan terjadi tanpa ada hal-hal kecil yang menopangnya. Masih banyak manusia di dunia ini –terutama umat Islam- yang meremehkan hal-hal kecil dalam hidupnya. Makan/minum sambil berdiri, makan/minum menggunakan tangan kiri, makan/minum tanpa baca basmalah, melupakan doa sebelum tidur, shalat tidak di awal waktu (dan berjamaah di masjid bagi laki-laki), atau hal-hal apapun yang banyak dianggap remeh orang-orang. Bahkan di antara hal-hal kecil yang sering dilupakan tersebut, beberapa ahli kesehatan sudah pernah menelitinya dan menyatakan kebenaran ajaran Islam dalam mengatur pola hidup umatnya. Islam mengatur semua hal remeh tersebut agar kita sebagai umat Islam mengatur kehidupan dengan baik, dan ini berpengaruh pada kemaslahatan umat. Lihatlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak pernah mengalami sakit. Ya, itu semua karena beliau menjaga pola hidupnya dengan baik, yang sebagian besar diremehkan orang banyak.

0 comments:

Post a Comment

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com