Thursday, 29 January 2015

Ujian Bagi Sang Rupawan

Impian hanyalah impian.
Aduhai, andai wajahku tampan.
Jadi saingan Sahrul Gunawan.
Menarik hati nan rupawan.
Banyak peluang jadi jutawan.
Senyum gemilang jadi pujaan.
Bersih gagah pujaan para perempuan.


            Sebuah puisi murahan yang sengaja saya buat untuk mengawali pembicaraan kita kali ini. Itu curhatan pribadi ya? Oh, jangan gegabah dalam berprasankga! Sejatinya itu curhatan seorang sahabat saya yang memiliki wajah pas-pasan. Kemudian saya buatkan puisi untuknya sebagai tenggang rasa atas rupanya yang buruk. Akan tetapi, saya merasa puisi itu cocok juga untuk saya. Atau lebih tepatnya, pernah cocok dengan saya.
            Keluhan orang-orang yang tak percaya diri tampil di hadapan publik (hanya) karena wajahnya atau penampilan yang kurang menarik, sangat sering kita dengar. “Duh, jerawat mengalihkan dunia gue banget nih!” celoteh seorang pemilik beberapa butir jerawat yang menghiasi wajah putihnya. Segala sabun wajah ia coba, bahkan hingga terapi kecantikan. Setengah gajinya sebulan dihabiskan untuk perawatan wajah semata.
            “Waduh, perut buncit nih! Sampe menggelambir gini coba. Ntar kalo si Bunga (nama disamarkan) ngeliat bisa hancur reputasi gue sebagai cowo ter-atletis di Kampung Kampret. Besok harus fitness!” seloroh pemuda –yang menurut ibunya- tampan yang shalat subuhnya sering di-jamak dengan shalat dhuha (baca: kesiangan). Hari-harinya dipenuhi untuk menyempurnakan penampilan, demi meraih perhatian si Bunga. Lari pagi demi si Bunga. Diet demi si Bunga. Fitness demi si Bunga. Push-up 100 kali sehari demi si Bunga. Bahkan, menunaikan shalat Jum’at juga demi si Bunga. Harapannya nanti si Bunga update status, “yang berangkat shalat Jumat siang ini, ketampananannya naik 5000%”. Olahraga dan ibadah li-Bunga ta’ala. Na’udzubillahi min dzalik.
            Sejenak, perhatikan orang-orang sekeliling kita; adakah mereka seperti ilustrasi-ilustrasi di atas? Atau sebelum itu, berkacalah terlebih dahulu. Jangan-jangan kita sama saja dengan dua ilustrasi di atas. Menyempurnakan penampilan fisik agar mendapat perhatian khalayak atau minimal mendapat perhatian dari orang yang disukainya. Pertanyaannya; untuk apakah sejatinya kita membaguskan penampilan lahiriyah kita? Apabila sekadar mendapat perhatian makhluk-makhluk-Nya, sungguh hina diri ini. Mengejar keindahan hanya untuk sesuatu yang fana, tidak kekal dan tidak menguntungkan sama sekali.
            Bagi sebagian orang, menjadi rupawan adalah impian. Hidup bergelimang pujian menjadi angan-angan. Belum lagi ditambah kocek yang tebal, tak ayal diri menjadi dambaan.
            Namun tahukah Anda, bahwasanya menjadi rupawan sesungguhnya adalah ujian? Ketika itulah sulit membedakan antara pujian dan makian. Lebih parah lagi, banyaknya pujian menjadikan diri lupa daratan. Seolah mudah mencapai puncak gunung di ketinggian.
            Bukan mudah menjalani hidup menjadi seorang yang rupawan. Jangan kira kehidupan para selebritis yang rupawan itu nikmat dan lurus-lurus saja. Justru mereka lebih mudah stres dikarenakan apapun aktivitasnya akan menjadi perhatian khalayak. Bagi mereka, ketenangan adalah hal yang cukup langka. Terkadang kita hanya melihat tampak luarnya saja, tanpa berpikir lebih jauh apa sebenarnya yang mereka rasakan.
            Cukuplah kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam sebagai bahan perenungan bagi kita. “Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk munundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata, “Marilah kesini.” Yusuf berkata,”Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan beruntung. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS: Yusuf 23-24).
            Siapapun tahu, Yusuf ‘alaihissalam adalah seseorang yang Allah karuniakan ketampanan pada-Nya. Ketampanan Yusuf membuat dirinya menjadi pujaan hati para perempuan. Namun, di lain sisi ketampanannya, nyatanya banyak sekali ujian yang menerpa dirinya. Mulai dari saudara-saudara seayah yang tega menzaliminya, dijual sebagai budak, dijebloskan ke penjara, hingga diajak berbuat zina oleh istri tuannya yang cantik jelita. Bukanlah hal mudah menolak diajak bercumbu asmara dengan perempuan cantik lagi berkedudukan tinggi, sehingga memungkinkan si perempuan memanjakan ‘si brondong’. Sungguh, Yusuf –yang notabene seorang Nabi Allah- pun tergiur untuk melakukannya. “Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya.”
            Allah menyisipkan hikmah yang begitu besar dalam kisah ini. Godaan Zulaykha dan permintaannya kepada Yusuf adalah sesuatu yang merendahkan diri Zulaykha sendiri. Wanita itu berada di puncak kecantikan, kejelitaan, kedudukannya, dan masih muda. Ia menutup semua pintu untuk mereka berdua. Zulaykha siap menyerahkan dirinya, berhias, dan mengenakan pakaiannya yang paling indah dan mewah; padahal dirinya adalah istri seorang penguasa negeri. Sedangkan Yusuf kala itu adalah seorang pemuda tampan, elok, muda, diinginkan (oleh para wanita), masih perjaka pula. Ia jauh dari keluarga dan kampung halamannya. Sedangkan orang yang tinggal di tengah-tengah keluarga dan sahabatnya tentu akan malu jika mereka mengetahui perbuatan kejinya, sehingga akan jatuhlah kehormatan, hatrkat dan martabatnya dalam pandangan mereka. Tetapi, jika ia berada di negeri asing, maka kendala itu sirna. Apalagi wanita itu sendiri yang meminta, sehingga menjadi hilanglah kendala yang biasa menghinggapi laki-laki; permintaannya, dan rasa takutnya untuk ditolak. Dan wanita itu berada dalam kekuasaan dan rumahnya sendiri, sehingga ia tahu persis kapan waktu yang tepat, dan di tempat mana yang tak ada seorang pun bisa melihat.
            Lewat kisah ini, Allah ta’ala sejatinya menunjukkan bahwa keadaan fisik yang bagus, wajah yang rupawan, bukanlah semata anugerah, melainkan juga cobaan. Kelebihan yang Allah berikan kepada mereka tidaklah diberikan secara cuma-cuma. Sebab Allah tidak akan membiarkan manusia hidup tanpa mengujinya. “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan [saja] mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-‘Ankabut: 2). Lewat ketampanan, Allah menguji Nabi Yusuf. Tampan yang tiada duanya di zaman itu. Hingga para perempuan saat itu berkata, "Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia."
            Sungguh kisah Nabi Yusuf adalah contoh yang agung bagi mereka yang menginginkan wajah rupawan dan penampilan yang menarik. Maka, apakah tujuan kita berlomba-lomba memperbagus diri untuk mengejar ketertarikan lawan jenis? Atau untuk meraih pujian sebanyak-banyaknya dari manusia? Yusuf-lah contoh sempurna untuk mendapatkan salah satu dari tujuh golongan yang mendapat naungan Allah di Hari Akhir kelak: laki-laki yang diajak (berzina) oleh wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, (tetapi) ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’. “

            Dalam wajah yang rupawan, ada begitu banyak ujian. Dalam penampilan yang menarik, ada jutaan setan yang berbisik. Dalam mengenakan pakaian yang indah dan mewah, ada sekelumit kesombongan yang mewabah. Maka janganlah sekali-kali mengeluh karena tidak rupawan. Jangan sering mengeluh karena kurangnya tinggi badan. Jangan pula bersedih hati oleh sebab kurang menariknya penampilan. Karena sejatinya itu semua hanya pemberian dari Allah yang tiada abadi di dunia. Sungguh seorang nabi-pun hampir tak sanggup menanggung ‘ujian rupawan’ yang menghinggapinya.

2 comments:

  1. ia terkadang manusia itu menyibukan dirinya dengan, bagaimana caranya agar ia tampil sempurna dihadapan khalayak umum atau pada someone yang ia sayangi.. padahal dibalik semua itu banyak sekali akibat yang akan ia raskan, toh Allah melihat manusia itu baukan dari segi fisiknya.
    kang zaky salam kenal dari ane jandi

    ReplyDelete

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com