Saturday, 10 January 2015

Warna Perjalanan Merajut Pelangi Kehidupan

Lebih dari separuh hidup kita dipenuhi dengan aktivitas bernama ‘perjalanan’. Selain beristirahat, manusia juga butuh dan pasti melakukan perjalanan. Bahkan orang buta sekalipun, mereka juga melakukan perjalanan. Saya beropini demikian didasarkan pada aktivitas saya sendiri. Dalam satu pekan, saya bisa menghabiskan waktu saya di tengah perjalanan. Kendati hanya terbatas di dalam negeri.

            Sekolah, kuliah, kerja, beribadah, rekreasi, semuanya membutuhkan aktivitas perjalanan. Barangkali segelintir orang tidak mendapati aktivitas sekolahnya diiringi perjalanan, sebab ia ambil homeschooling. Ada juga yang pekerjaannya adalah pengusaha rumahan, sehingga tidak perlu repot-repot berangkat ke kantor. Atau seorang marbot masjid yang tidak perlu berjalan ketika panggilan shalat tiba. Namun, aktivitas manusia normal pasti diisi dengan perjalanan. Pasti mereka belanja, pasti mereka berinteraksi dengan lingkungan. Pasti mereka butuh sinar matahari. Pasti mereka butuh perjalanan untuk menggapai tujuannya.
            Para ulama zaman baheula melakukan perjalanan bermil-mil jauhnya hanya untuk mendapatkan secercah ilmu. Imam Bukhari berjalan berminggu-minggu hanya untuk mengejar satu hadis. Tentunya kita tak perlu menirunya. Sebab zaman sekarang sudah ada pesawat, kapal laut, mobil, sepeda motor, ataupun kereta api yang harga tiketnya sekarang meroket. Apapun itu, kita membutuhkan perjalanan.
            Perjalanan yang meminta porsi terbesar dalam hidup kita, secara tidak langsung berkontribusi dalam membentuk dan mengubah kehidupan kita. Perjalanan akan mengubah sikap, mental, serta pola pikir kita. Bagaimana kita menyikapi perjalanan, adalah cerminan dari bagaimana kita menyikapi hidup.
Hampir semua alat transportasi umum di Indonesia –khususnya di Pulau Jawa- telah saya ‘cicipi’. Dari mulai becak hingga pesawat. Bahkan bemo yang kehadirannya sudah punah dari DKI Jakarta beberapa tahun silam juga pernah saya naiki. Alat transportasi umum semacam helicak, oplet, dan alat transportasi umum jadul lainnya belum sempat saya tumpangi. Oleh sebab kelahiran saya yang mepet tahun 2000-an.
            Kereta api adalah alat transportasi yang paling sering saya naiki –selain sepeda motor. Kereta api kelas apapun sudah pernah saya tes kebolehannya. Zaman SLTP-SLTA, saya sering keliling Jakarta menaiki KRL (Kereta Api Listrik) tanpa AC yang hanya bertarif Rp1500. Itupun kalau ingin bayar! Tak jarang saya mlipir duduk di pintu kereta yang terbuka karena memang sengaja dibiarkan terbuka –atau mungkin karena sudah rusak-, supaya tidak ditagih bayaran oleh kondektur kereta. Penampilan yang saya kenakan sangat mendukung ketika naik kereta. Celana belel, sandal jepit, rambut berantakan, kulit gosong, membuat orang-orang kemungkinan menyangka saya hanya sebagai bocah penjajak koran yang dagangannya sudah ludes terjual, atau mungkin tukang minta-minta yang membawa sebendel amplop lusuh guna diedarkan ke seluruh penumpang kereta dalam satu gerbong. Tolong jangan mencoba membayangkan penampilan saya pada saat itu! Karena ku yang dulu bukanlah ku yang sekarang! Hehehe.
            Ketika status saya ‘naik’ menjadi mahasiswa, transportasi kereta yang sering saya gunakan beralih ke kereta jarak jauh. Berbagai kelas juga sudah pernah saya coba, dari ekonomi hingga eksekutif. Rute Stasiun Lempuyangan (dan sesekali Stasiun Yogyakarta atau lebih dikenal dengan Stasiun Tugu) – Stasiun Pasar Senen (dan sesekali Stasiun Gambir –yang konon berkelas internasional itu) adalah rute yang paling rajin saya tumpangi. Beragam pengalaman menarik yang saya lewati di dalamnya. Kereta ekonomi paling murah sekelas Progo, Gaya Baru Malam, ataupun Bengawan dengan kapasitas gerbong yang cenderung dipaksakan, selalu mengajarkan saya agar senantiasa bersabar dan ikhlas. Pelayanan yang tak memuaskan, toilet yang kotor plus ‘sedap’ aromanya, hingga penumpang yang tak tahu aturan, adalah sederet fakta yang harus saya terima. Mungkin karena rata-rata penumpang yang menaiki kereta kelas ini adalah kalangan menengah ke bawah sehingga tata-krama dan pendidikan mereka untuk memahami aturan sebagai penumpang itu sangat kurang. Bukan berarti saya mengatakan kalangan menengah ke bawah itu bodoh semua. Sama sekali bukan. Namun kenyataan yang ada di dalam gerbong kereta memang berbicara seperti itu. Walau di antara mereka ada pula kaum borjuis berkocek tebal yang tidak mau rugi untuk sekadar menaiki kereta dengan kelas di atas ekonomi. Pelbagai tingkah unik nan menyebalkan seringkali mereka tunjukan. Dari mulai memindahkan ‘rumah’nya ke kereta, hingga tidur di lorong yang mengakibatkan orang kesulitan untuk berjalan melewatinya.
            Tahu maksudnya memindahkan rumah ke kereta? Jangan-jangan Anda termasuk dalam golongannya. Mereka itu yang membawa banyak barang bawaan, meletakannya di besi penyangga barang yang terletak di atas bangku penumpang (jujur, saya lupa namanya) sehingga penuh dan penumpang lain tidak bisa meletakkan barangnya di sana. Belum cukup, mereka juga meletakkan barang-barangnya sesuka hati mereka. Pernah sekali ketika sedang emosi, ditambah beratnya barang yang saya bawa, sambil geram saya ‘ngamuk’, “Pak, pindah rumah ya? Bisa gak (barang) ini dipangku aja? Ini kereta, bukan rumahmu. Saya juga bayar di sini!”. Hingga sekarang saya masih merasa berdosa atas kejadian tersebut. Selain hal-hal menyebalkan itu, saya juga punya pengalaman menarik.
            Acapkali saya diajak –atau kadang mengajak- ngobrol penumpang di samping saya. Pernah saya sebangku dan ngobrol dengan seorang pengusaha –lagi-lagi saya lupa namanya- yang sudah malah melintang di kancah nasional maupun internasional. Beberapa kali menjadi narasumber di sebuah stasiun televisi ternama di Indonesia. Sudah dapat banyak pelajaran darinya, sebagian ongkos ditanggung pula olehnya. Beliau tertarik mengajak saya ngobrol setelah beliau melihat saya membuka mushaf dan membacanya beberapa lembar. “Wah hebat. Masih muda, rajin baca qur’an”. Ujarnya sejurus setelah saya rampung tilawah. Pengalaman lainnya ketika saya menumpang kereta kelas bisnis Senja Utama Yogya. Kebetulan di samping saya seorang gadis berparas ayu berusia dua tahun lebih tua dari saya. Kami asyik mengobrol berjam-jam, diawali pertanyaan ‘penting’ tentang pemberhentian kereta hingga masalah yang tidak penting sama sekali; curhat. Bagi saya, ini ujian. Ujian yang dibalut dengan ‘kenikmatan’, hahaha. Oh, ada satu lagi yang jauh lebih ‘nikmat’. Ketika itu saya menaiki kereta kelas ekonomi Bogowonto. Di samping saya duduk seorang –lagi-lagi- gadis yang –lagi-lagi- berusia beberapa tahun di atas saya. Kemudian tanpa disadari –karena ketika itu saya dalam keadaan setengah tertidur- dengan kepercayaan penuh ia tidur dengan menyandarkan kepalanya di bahu saya. Entah ini musibah atau anugerah. Yang jelas saya pelan-pelan memindahkan posisi bahu saya dan berusaha untuk segera tidur, ia mengerti dan memindahkan posisi kepalanya.
            Ini hanya sekelumit cerita perjalanan di dalam kereta, perjalanan dengan transportasi lainnya mungkin akan saya ceritakan lain waktu. Intinya adalah bagaimana kita menyikapi perjalanan adalah cerminan dari bagaimana kita menyikapi hidup. Sama seperti perjalanan, dalam hidup pasti ada masalah, kejadian menyenangkan atau menyebalkan, dan lain sebagainya. Semuanya berkumpul menjadi satu. Anda boleh saja marah-marah melihat tingkah orang yang membersamai perjalanan Anda. Tapi saya sarankan baiknya Anda mensyukuri dan menikmati perjalanan saja. Mereka ibarat masalah dalam hidup kita. Jika kita mengedepankan ego, barangkali mereka akan memusuhi kita. Jika kita mau berlapang dada dan membuka ramah-tamah, barangkali mereka akan berbaik hati kepada kita, atau bisa jadi mereka adalah sumber rezeki yang Allah turunkan pada kita. Pun dengan masalah dalam hidup. Masalah akan sangat mengganggu jika kita hanya mengeluh dan marah-marah. Lain halnya ketika kita mencoba tenang, dan mencoba menyelesaikannya satu per-satu. Pasti akan terasa lebih ringan dan indah.
            Garis akhir dari hidup kita adalah kematian. Lahir dan matinya kita, telah Allah tentukan sebelum kita hidup di dunia. Sedangkan apa yang terjadi selama kita hidup inilah yang dapat kita ubah takdirnya. Untuk itu nikmatilah perjalan hidup ini. Penuhilah dengan ibadah, kesabaran, keikhlasan, dan rasa syukur kepada Sang Maha Pencipta. Jangan beri celah sedikitpun bagi kita untuk melakukan dosa. Kecelakaan mungkin datang kapan saja. Kereta yang berjalan tenang, bisa saja keluar dari jalur bila relnya ada yang rusak. Pun halnya dengan hidup kita. Masalah dan kematian bisa datang kapan saja tanpa kita ketahui penyebabnya. Kapten Algren dalam salah satu adegan penutup film The Last Samurai berkata, “Jangan tanyakan bagaimana ia mati, tapi tanyakanlah bagaimana ia menjalani hidup.” Ketika kaisar bertanya perihal kematian Katsumoto Moritsugu.
            Terakhir, hidup ibarat pelangi yang terdiri dari pelbagai warna sehingga menjadikannya indah bila dipandang. Dan perjalanan, adalah salah satu dari warna itu. Ia akan memberikan warna terindah ketika kita meniatkan perjalanan sebagai ibadah dan semata untuk menggapai ridho-Nya. Itulah mengapa agama mengajarkan doa sebelum memulai perjalanan. Sungguh perjalanan adalah bagian terbesar dalam hidup kita dan bahan terpenting dalam merajut pelangi kehidupan.

            Baiklah, saya harus memulai perjalan lagi.

1 comment:

  1. Setuju banget, Kak Zaky! Belajar banyak dari perjalanan :') Kuliah kan pulang pergi, banyak yang bilang "ngekos aja, sih. Tua di jalan tau." Tapi........ seru aja. Banyak pengalaman, banyak belajar.

    ReplyDelete

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com