Wednesday, 18 February 2015

Kecewa dalam Berdoa?

“Dan aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku” (QS. Maryam: 3). Sebuah kalimat yang meluncur dari lisan seorang lelaki tua berambut penuh uban yang gundah gulana mengharap kehadiran seorang anak. Sejatinya mempunyai anak adalah termasuk ketepan-Nya.
Ada yang ditakdirkan memiliki anak banyak, ada yang ditakdirkan hanya memiliki seorang anak, ada pula yang ditakdirkan tidak memiliki anak sama sekali. Sayang seribu sayang, lelaki tua ini adalah seorang nabi yang Allah teteskan karunia padanya. Tidak memiliki putra, berarti tidak memiliki penerus perjuangan. Tubuh Zakariya ‘alaihissalam telah ringkih, rambutnya sudah memutih, hatinya bersedih, kemudian berdoa dengan suara lirih.
            Zakariya harus menerima kenyataan bahwa dirinya bersama istrinya belum memiliki anak, bahkan hingga usia mereka senja. Padahal hal yang sangat mendesak adalah kebutuhan sosok putra demi melanjutkan berjalannya dakwah yang telah diperjuangkan oleh Zakariya. Sekalipun kecemasannya telah mencapai titik maksimal dan kegelisahannya telah membuncah, Zakariya tetaplah seorang hamba yang santun. Sekalipun ia adalah seorang nabi, harapannya tetap disandarkan kepada Allah azza wa jalla, tanpa ada prasangka buruk sedikitpun bahwa doanya tidak akan dikabulkan. Baginya, cukuplah kenyataan bahwa Tuhannya adalah Dzat yang Maha Mengabulkan doa dan tidak akan pernah mengingkari janji. Zakariya yakin bahwa rahmat yang sudah dinanti-natikan sejak lama, akan datang dengan cara yang tidak diduga-duganya.
            Terpatrilah janji Rabb kepadanya. Yakni janji akan menghadirkan seorang lelaki yang tidak pernah ada lelaki serupa dengan anaknya. Yahya namanya. Kelak Yahya melanjutkan perjuangan dakwah ayahnya sekaligus meneruskan tongkat estafet kenabian ayahnya. Meskipun akhir hidup ayah-anak ini cenderung identik menyedihkan. Dibunuh dengan cara yang sadis oleh orang-orang yang zalim dan mengingkari ajakan mereka untuk menyembah Allah subhanahu wa ta’ala.
            Banyak sekali orang-orang yang merasa kecewa oleh sebab merasa doanya tidak pernah dikabulkan. Padahal banyak ibadah yang mereka tunaikan, atau amalan-amalan yang mereka lakukan sepanjang hidup belum tentu pantas untuk diganjar pahala. Tetapi seringkali meminta hal yang muluk-muluk untuk segera dikabulkan. Bahkan ada sebagian orang yang putus asa dan menggantungkan hidupnya kepada sesama makhluk. Celakalah kita apabila kita termasuk dalam golongan orang-orang ini. Dipikirnya Tuhan itu sama saja seperti lembaga asuransi; memberikan modal sedikit dan berharap keuntungan yang banyak. Beramal ala kadarnya, berharap doanya yang muluk-muluk dikabulkan.
Bercerminlah kepada Zakariya ‘alaihissalam, hamba shalih nan terpilih sebagai nabi yang sudah pasti akan masuk surga. Tatkala dirinya berdoa dengan penuh harap, tetap menunjukkan kesantunan disertai prasangka baik kepada Tuhannya. Alangkah lebih baik lagi, kita gunakan adab Nabi Adam ‘alaihissalam ketika berdoa setelah melakukan dosanya di surga. Ia tidaklah meminta, tetapi lebih condong mengakui kesalahan yang diperbuatnya. Sehingga ia akan merasa menjadi orang yang paling merugi sedunia, apabila Tuhannya tidak mengampuninya. Tidak akan ada hamba-Nya yang kecewa dalam berdoa kepada-Nya. Sebab mereka yang beriman memahami bahwa doa mereka bukanlah tidak dikabulkan, tetapi Allah menghendaki takdir yang lebih baik baginya.

“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri, dan apabila Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, sungguh kami termasuk dalam golongan orang-orang yang rugi.”

2 comments:

  1. Hidupku adalah seluruh jawaban doa-doaku kepada Allah ... seluruhnya segalanya
    pada waktunya dan pada saat yang tepat ...

    ReplyDelete

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com