Thursday, 19 March 2015

Hanya Mampu Pandangi Bibir Gubernurmu Yang......

Seperti biasa
aku diam tak bicara
Hanya mampu pandangi
Bibir tipismu yang menarik...
            Penggalan lagu Iwan Fals yang hingga kini masih sering saya senandungkan. Lagu ini sungguh memiliki tempat tersendiri di hati saya; di masa lalu. Mungkin bagian lirik dua baris terakhir di atas bisa diganti, “hanya mampu pandangi bibir gubernurmu yang......” (silakan isi sendiri titik-titiknya).
            Seharian ini (Kamis 19/3/15) saya melihat berbagai tautan di media sosial yang semuanya mengarah pada penayangan video yang kontennya sama, namun hanya redaksinya yang berbeda-beda. Ternyata video tersebut berisi wawancara seorang gubernur yang memimpin di Tanah Jawa, tapi sungguh tak memiliki adab layaknya para pemijak Tanah Jawa. Saya bukan ingin bermain ras, tetapi nyatanya memang gubernur ini melancong dari tanah seberang hanya untuk numpang hidup sebagai orang gede. Hebatnya lagi si gubernur ini mendapat tampuk seseran dari gubernur sebelumnya. Tetapi tingkah polahnya dalam memimpin seolah ingin menyatakan bahwa dunia miliknya sendiri, yang lain hanya ngontrak. Sedetik pun tiada saya beri kesempatan bagi lisan ini untuk tidak mengucap istighfar melihat entengnya mulut si gubernur yang notabene hanya numpang hidup di ibukota.

            Manalah pantas seorang pemimpin sampai hati berkata tidak pantas di hadapan jutaan rakyatnya. Benar saja, provinsi yang dia pimpin memang diduduki oleh orang-orang kota. Sekalipun banyak yang miskin, tetapi mereka jauh lebih mengenal teknologi daripada saudara-saudara kita yang tinggal di pelosok negeri. Umpatan-umpatan yang sejak kecil saya pun diharamkan mengucapnya oleh kedua orang tua saya –yang notabene asli kelahiran Bumi Sriwijaya dan bukan orang Jawa-, mudah sekali dia ucapkan. Begitu mudahnya bibir si gubernur melontarkan kata benda yang seharusnya keluar lewat dubur. Mohon maaf, apakah mulut si gubernur memang tak berbeda dengan dubur?
            Beberapa kali video saya putar. Saya masih tidak percaya, hingga host acara stasiun TV tersebut menunjukkan mimik wajah malu sembari menegur si gubernur bahwa acara ini disiarkan langsung. Si gubernur bersikeras tidak ada kata yang pantas diucap untuk mengumbar kejelekkan orang yang ia maksud selain produk dubur tersebut. Lagi-lagi saya mohon maaf, apakah seorang pemimpin yang sudah mengenyam pendidikan S2 ini tidak memiliki diksi lain dalam mengumbar keburukan orang? Atau memang isi pikirannya hanya produk-produk dubur itu saja?
            Sedikit mengingat pemimpin di masa lampau, di masa kejayaan Islam. Aduhai, lagi-lagi di masa kejayaan Islam. Ada pemimpin yang tidak mau menggunakan fasilitas negaranya semodel Umar bin Abdul Aziz. Ada pemimpin yang tidak berbeda jauh penampilannya dengan ajudannya setipe Umar bin Khaththab. Ada pemimpin yang perawakannya tidak berbeda jauh dengan prajuritnya segagah Shalahuddin al-Ayyubi. Ada pemimpin yang berada di depan ketika rakyatnya terancam sehebat Sulaiman al-Qanuni. Dan semoga Allah rahmati Nabi Musa ‘alaihissalam, manusia tangguh tetapi lisannya rusak –secara harfiah. Teramat miris, hati terasa teriris. Di negeri saya ada pemimpin yang tangguhpun tidak, tetapi lisannya jauh lebih rusak.

            Sekarang ada pemimpin yang gagap nyatanya hanya pelayan partai. Ada pemimpin beragama Islam tapi alergi dengan istilah yang dibawa Islam. Ada lagi pemimpin yang bibir tipisnya busuk. Kiranya kurang afdhal apabila sehari saja tidak berkata-kata kotor. Duhai, ini negeri apa? Rakyat ibukota jadi seakan terbiasa menatap bibir tipis si gubernur. Akankah mereka hanya mampu pandangi bibir tipis si gubernur yang busuk?

0 comments:

Post a Comment

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com