Tuesday, 10 March 2015

Perhatikan Siapa yang Menyampaikan! Tak Perlu Perhatikan Apa yang Disampaikan

“Unzhur maa qaala wa laa tanzhur man qaala” (Perhatikan apa yang dikatakan, bukan perhatikan siapa yang berkata) demikianlah pesan yang masyhur disampaikan oleh Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib. Kira-kira maknanya ialah kita bisa mendapatkan nasihat dari siapapun. Baik ia seorang anak kecil, orang tak dikenal, bahkan ahli maksiat pun asalkan apa yang disampaikan itu baik, maka kita harus mengamini nasihat tersebut. Tidak masalah siapa yang menyampaikan, yang terpenting adalah apa yang disampaikan.


Namun hari ini, kenyataannya berbalik 180 derajat. Banyak orang yang lebih dahulu melihat siapa yang berbicara, bagaimana penampilannya, bagaimana rupanya, hingga bagaimana gaya bicaranya. Hal ini seringkali berlaku di majelis-majelis ilmu. Banyak sekali orang yang mengikuti majelis ilmu atau kajian-kajian hanya mempertimbangkan siapa ustadznya. Yang penting ustadznya, konten kajiannya urusan belakangan. Kaidahnya berubah jadi "Unzhur man qaala wa laa tanzhur maa qaala".


Seringkali terjadi hal ini. Misalkan sebuah kajian dengan tema “Menjadi Muslim Sejati” diadakan dan pembicaranya adalah Ustadz A hadirinnya sepi, dan di waktu lain kajian dengan tema yang sama diadakan dan pembicaranya adalah Ustadz B justru ramai. Padahal Ustadz A ini sudah teruji kualitasnya, ilmunya tidak diragukan lagi, namun karena kurang populer dan kurang beken, banyak orang yang meragukan kajiannya. Sedangkan Ustadz B ini lebih muda, lebih beken, lebih ganteng, lebih aktif di media sosial ketimbang Ustadz A. Sekalipun ilmunya belum terlalu teruji, kualitasnya masih kalah jauh dibanding Ustadz A. Popularitas memang seringkali dapat mengalahkan kualitas.
Tidak jarang ditemukan ada majelis ilmu yang penyampainya justru tidak kompeten. Kajiannya bertema Sejarah Para Nabi, tapi yang menjadi pembicara adalah seorang Ustadz lulusan Tafsir yang nyatanya sang ustadz jarang bersentuhan dengan pelajaran sejarah terutama yang berkaitan dengan para nabi sebelum Rasulullah . Akhirnya substansi dari tema kajian tersebut tak dapat tersampaikan. Lagi-lagi alasannya adalah kalau yang menjadi pembicara ustadz yang lebih kompeten justru kajiannya akan sepi. Sebab ustadz yang kompeten kurang populer. Di sisi lain, ustadz yang menerima undangan kadang tak kuasa untuk menolak. Maka pihak yang mengundang haruslah memahami tujuan kajian tersebut untuk apa. Agar majelis yang diadakan benar-benar tepat sasaran.

Sedikitpun tulisan ini bukan untuk menyerang salah satu pihak, apalagi menyindir salah seorang ulama. Bukan. Sungguh penulisnya jauh lebih hina daripada yang diserang dan disindir. Justru penulisnya sedang menasihati diri dan semoga nasihat kepada dirinya juga menjadi nasihat kepada diri yang lain. Agaknya hal ini penting untuk ditulis. Semata-mata ingin mengembalikan sesuatu kepada kaidah awalnya. Apabila ada yang berbicara, maka simaklah baik-baik konten pembicaraannya. Kalau memang tidak baik atau ngawur, silakan ditinggalkan. Jangan kita potong pembicaraan orang lain sebelum ia selesai berbicara, hanya karena kita tidak menyukainya, atau hanya karena reputasinya buruk di mata orang banyak. Memang dalam Islam, masalah penerimaan dalil-dalil dan riwayat, haruslah disampaikan oleh orang yang terpercaya (tsiqah). Akan tetapi adab unzhur maa qaala wa laa tanzhur man qaala janganlah kita tinggalkan. Sebuah pelajaran akan kita dapatkan dari setiap ciptaan Allah. Dan hanya mereka yang beriman-lah yang mau memikirkan dan menerimanya.

0 comments:

Post a Comment

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com