Wednesday, 11 March 2015

Ustadznya Ustadz

Tak terbayang pahala yang didapat oleh seorang yang berilmu. Sekali menyebarkan ilmu, ia dapat pahala. Belum lagi ketika ilmu yang disebarkan kemudian disebarkan lagi oleh penerima ilmu tersebut, dan setelahnya disebarkan lagi terus-menerus turun-temurun, maka berlipatlah pahala orang berilmu. Apalagi faktanya, ilmu justru akan bertambah ketika dibagikan. Cara belajar terbaik ialah mengajar. Maka ajarkanlah ilmu.

“Demi Allah, sesungguhnya Allah memberikan hidayah kepada seseorang dengan (dakwah)mu, maka itu lebih baik daripada unta merah.” (Muttafaq ‘alaih)
            Terkadang kita kagum atas kecerdasan dan kepintaran seorang ustadz. Masalah apapun yang ditanyakan kepada ustadz tersebut, maka seketika masalahnya tuntas. Atau kita kagum, sedemikian hebatnya, hingga banyak jamaah kajiannya. Atau kita kagum, sebab sedemikian lihainya mengolah kata-kata, bukunya laris terjual hingga diterjemahkan ke berbagai bahasa. Namun, seringkali kita lupa, bahwa sang ustadz tidak akan mencapai posisi tersebut tanpa pengajaran dari ustadznya.
“Sesungguhnya Allah memberi banyak kebaikan, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, sampai semut-semut di lubangnya dan ikan-ikan selalu mendoakan orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.” (HR. Tirmidzi)
            Kita mengagumi kecerdasan ‘Aisyah yang menghapal lebih dari 2200 hadis dan apabila sahabat bertanya kepadanya tentang suatu masalah, maka masalah tersebut rampung dalam sekejap. Siapa yang membuat ‘Aisyah menjadi cerdas dan pandai menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan agama bak mesin pencari google? Pastilah suaminya tercinta, Rasulullah Muhammad . Kita mengagumi kehebatan Shalahuddin al-Ayyubi meruntuhkan hegemoni Syiah dalam tubuh Dinasti Fathimiyyah, dan lebih dari itu adalah jasanya dalam pembebasan Al-Quds. Namun sepatutnya kita tidak boleh melupakan jasa para ustadznya yang tak kenal lelah membentuk pribadi seorang Shalahuddin. Nuruddin Zanki yang menjadi sultan sebelum Shalahuddin selalu mempercayainya. Jangan pula kita melupakan jasa paman dan ayahnya yang membinanya secara berkala hingga pantas mengemban amanah pimpinan perang. Mereka adalah Asaduddin Syirkuh dan Najmuddin Ayyub. Seringkali kita mengagungkan Muhammad al-Fatih atas kemenangannya yang gemilang menaklukkan Konstantinopel. Namun kita melupakan jasa ustadznya yang selalu menggelorakan semangat untuk meruntuhkan tembok Konstantinopel. Ialah Syaikh Aaq Syamsuddin (dan ulama lainnya).
“Barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikit pun.” (HR. Muslim)
            Kutuklah diri, manakala kita menggapai kesuksesan, namun kita lupa bahwa kesuksesan ini justru hasil kontribusi para guru dan orang tua kita. Kadang kita merasa bahwa kita berusaha sendiri untuk menggapai apa yang cita-citakan. Padahal mereka yang telah berjasa, tak pernah meminta ganti rugi dan upah lelah untuk menunjang kesuksesan kita. Dan terpujilah para guru, para ustadz, para murabbi, para orang tua yang telah bersimbah keringat bercampur darah demi membantu perjalanan gemilang para didikan, asuhan, dan binaannya.
            Betapa indah hidup ustadznya ustadz. Ketika muridnya yang telah menjadi da’i terkenal dan menyebarkan ilmu Allah kepada khalayak, maka pahalanya semakin bertambah. Padahal muridnya susah payah mengatur jadwal, berjalan kesana-kemari, hingga dihinggapi kelelahan karena sibuknya berdakwah. Mereka barangkali hanya santai di rumah, bercengkerama bersama keluarga, atau mungkin telah tenang bersemayam di liang lahat, namun pahala mereka mengalir deras bak air terjun di pegunungan oleh sebab sepak terjang sang murid dalam berdakwah, dan itu adalah hasil karya dari ustadznya para ustadz.
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i)
            Hargailah ilmu. Hargailah orang berilmu. Hargailah orang yang menyebarkan ilmunya dengan ikhlas dan sabar. Allah pun menghargai mereka dan menaikkan derajat mereka. Sungguh, dunia ini akan hancur lebih cepat tanpa orang-orang berilmu dan mengajarkan ilmunya.
“Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…” (Al-Mujaadalah: 11)

0 comments:

Post a Comment

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com