Thursday, 12 March 2015

Wapres Naif, Arabisasi, dan Ala Indonesia

Tak kurang dari ratusan jumlahnya kata serapan dari bahasa asing dalam kamus Bahasa Indonesia. Hal ini tidak lepas dari pengaruh penjajahan, invasi, kunjungan kafilah pulau sebrang, hingga akulturasi sehingga menciptakan bahasa yang tercampur dan beragam perbedaan antar daerah. Dapat dikatakan Bahasa Indonesia ini terdiri dari berbagai bahasa yang tercampur. Bahasa Sansekerta dan Melayu –yang sejatinya juga tercampur Bahasa Arab- dapat kita katakan sebagai bahasa asli Nusantara, dalam arti bahasa-bahasa tersebut memang dituturkan di Nusantara sebelum didatangi orang-orang asing dari negeri-negeri yang jauh terpisah samudera.

            Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan Bahasa Belanda adalah bahasa yang paling banyak berperan dalam memperkaya kosakata Bahasa Indonesia. Bahasa Arab pernah menjadi bahasa dunia dan digunakan sebagai bahasa pengantar antar bangsa yang belum saling mengenal. Selain itu para kafilah dagang dan ulama dari Arab yang pastinya menggunakan Bahasa Arab sebagai bahasa sehari-harinya juga turut memengaruhi corak bahasa Indonesia. Masyarakat, musyawarah, mufakat, ilmu, umat, mafhum, maklum, kitab, madani, sejarah, ibadah, dan deretan kata-kata lainnya adalah bagian dari kata-kata serapan ke dalam Bahasa Indonesia. Di samping itu, nama-nama hari di Indonesia juga berasal dari Bahasa Arab, kecuali Minggu. Bahkan hingga nama-nama daerah di negeri ini, banyak yang terilhami dari kosakata Bahasa Arab. Sebut saja Maluku yang asalnya dari Jaziratul Muluk (Tanah Para Raja). Irian berasal dari kata Urian yang berarti tidak berpakaian. Andalas, sebutan akrab bagi Pulau Sumatera, diilhami dari keindahan peradabannya yang mirip dengan negeri nun jauh di barat sana, Andalusia. Pulau Jawa yang sejak lahir sudah saya tempati ini, juga berasal dari kata Jawi yang diartikan dengan atas. Sebab posisi Jawa berada di atas bila disesuaikan dengan peta para pelancong Arab masa dahulu. Penyebutan daerah ini bukan hanya berlaku di Nusantara, namun juga hingga ke negeri di sekitarnya. Salah satunya adalah Manila, ibukota Filipina yang sejatinya berasal dari kata Amanillah yang bermakna ‘dalam lindungan Allah’.[1] Hal ini menunjukkan pengaruh Arab yang sangat besar bagi perkembangan peradaban Indonesia di masa mendatang.
            Inggris pernah menjajah Indonesia, sebelum Belanda memulai penjajahannya yang sangat lama di Nusantara. Bila menilik sejarah, watak penjajah yang satu ini agak unik. Semua negeri jajahan Inggris menjadikan penduduknya menguasai Bahasa Inggris, bahkan setelah mereka merdeka -tapi tidak terjadi pada Indonesia, oleh sebab diperbodoh dan diperbudak Belanda tiga abad lebih. Hingga hari ini, Bahasa Inggris masih menjadi bahasa dunia. Penuturnya adalah penutur bahasa paling banyak di muka bumi. Hingga negeri-negeri bekas jajahannya semacam Singapura, Malaysia, Hongkong, dan India menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Indonesia tidak luput dari pengaruh bahasa mereka. Fesyen, syuting, aplikasi, komputer, kalkulator, botol, adalah sederet kata yang terserap dari Bahasa Inggris. Hingga seringkali kita sulit membedakan mana kata yang asli Indonesia dan mana kata yang serapan dari Bahasa Inggris.
            Kantor, adalah salah satu kata –yang paling saya ingat- sebagai kata serapan dari Bahasa Belanda. Di samping berandil dalam membentuk mental penduduk Indonesia menjadi penduduk bermental budak, Belanda juga berhasil membodohi Indonesia dengan kenyataan hingga sekarang masih menggunakan hukum produk Belanda. Padahal Belanda sendiri sudah memperbaharui hukumnya. Bukan seperti peradaban Arab atau Inggris yang ketika memasuki suatu negeri memberikan pendidikan khusus untuk menjadi bangsa yang lebih maju, Belanda justru memberikan pendidikan khusus bagi Indonesia agar menjadi bangsa yang selalu terdepan dalam kebodohan. Hasilnya, masih bisa kita nikmati hingga sekarang. Entah apa yang mereka perbuat, hingga banyak pemimpin di Indonesia berprilaku menjajah negeri sendiri.
            Belum lama ini, kabar menarik datang dari seorang pimpinan tertinggi kedua di republik ini. Setelah saya pernah menonton sebuah video yang memperlihatkan seorang presiden yang tidak mengetahui dengan baik usia anaknya, sekarang berita yang cukup menggelikan muncul lagi –di samping berita-berita carut-marutnya negeri ini atas hasil ulah para petinggi yang kurang kompeten mengurus negara. Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta istilah-istilah Arab di Bank Syariah diganti dengan bahasa Indonesia agar Bank Syariah lebih dekat ke ekonomi Islam ala Indonesia daripada ekonomi Islam ala Timur Tengah. Misalnya istilah mudarabah, wakalah, dan istilah-istilah Arab lainnya. Wajarlah kalau aktivis-aktivis Islam bereaksi atas hal ini. Dan jangan salahkan mereka kalau pada akhirnya menghina sang wapres.
            Dengan kenyataan yang telah saya paparkan di atas, bahwasanya Bahasa Indonesia dewasa ini sudah menyerap kosakata dari berbagai bahasa, apakah masih relevan untuk mengganti istilah yang sesungguhnya tak terlalu urgent untuk diganti? Apalagi dalihnya hanyalah dalih tidak rasional. Lagi-lagi bahas ‘ala Indonesia’. Mengapa tidak ada bank ala Indonesia? Toh istilah kliring, kredit, debet juga bukan istilah murni dari Indonesia. Banyak istilah bahasa Inggris di sana, bahkan ‘bank’ juga bukan istilah Indonesia. Tidakkah kata-kata tersebut diganti untuk menciptakan bank yang murni Indonesia? Atau menjauhkan negara ini dari pengaruh barat dan inggrisisasi?
            Terlalu banyak istilah asing yang masuk dan diterima sebagai bahasa nasional di negeri ini. Lalu mengapa selalu istilah Arab yang harus diganti? Dalihnya selalu menghindari arabisasi atau naifnya ingin menciptakan 'Islam ala Indonesia'. Kali ini komentar memuakkan datang dari wapres yang –dulunya- saya anggap negarawan yang cukup cerdas. Dan saya usulkan agar nama istrinya diganti saja dari yang aslinya bernama Mufidah (dalam Bahasa Arab artinya bermanfaat) menjadi Ibu Bermanfaat, anak-anaknya bisa saja diganti (dari Solichin) menjadi Orang Baik, anak pertamanya lebih baik diganti (dari Muchlisa) menjadi Perempuan yang Tulus-Murni, mungkin juga nama putrinya Chaerani diganti menjadi Putri yang Baik. Saya kira usulan ini adil bagi Pak JK. Agar keluarga Pak JK tidak terlalu identik dengan Timur Tengah, dan tercipta nuansa yang murni Indonesia dalam keluarga Pak JK.



[1] Ahmad Mansur Suryanegara. Api Sejarah. Bandung: Salamadani. 2010.

0 comments:

Post a Comment

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com