Sunday, 26 April 2015

Bukan Kamu yang Bergerak, Tapi Dia-lah yang Menggerakkan!

Cuaca terik seakan menyapa mereka dengan bersahabat dan penuh keramahan. Kala itu, bulan suci Ramadhan menemani aktivitas mereka yang tidak seperti biasanya, yang tentram aman nan damai di sebuah kota bermasyarakat madani. Perjuangan suci, atau populer dengan sebutan jihad, dijalankan oleh mereka yang di dalam hatinya sudah tertanam iman yang kuat. Perang kali ini adalah perang besar pertama yang akan diikuti oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama orang-orang beriman yang terdiri dari kaum Anshar dan kaum Muhajirin. Medan perang yang berlokasi di Badar, menjadi saksi bisu sejarah yang akan terkenang sepanjang masa. Di sinilah penentuan apakah agama yang dibawa oleh Muhammad akan eksis, atau punah saat itu juga.

            Rasulullah membawa serta 313 prajurit dengan bendera putih di depan yang dibawa oleh Mush’ab bin Umair, dua bendera hitam di depan Nabi yang diusung oleh  ‘Ali bin Abi Thalib dan Sa’d bin Mu’adz.[1] Dengan keyakinan akan kebenaran Islam di benak pasukan muslim, dan dendam kesumat di benak pasukan kafir Quraisy. Diawali dengan duel yang dimenangkan pasukan muslim. Utbah dan Syaibah bin Rabi’ah bersama Walid bin Utbah dari pihak Quraisy maju menentang duel yang diladeni oleh para kerabat Rasul; Hamzah bin Abdul Muththalib, Ubaidah bin al-Harits bin Abdul Muththalib, dan Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muththalib. Tak berapa lama, ketiga perwakilan Quraisy segera ditumbangkan oleh para kerabat Nabi. Ubaidah yang terluka langsung dibopong oleh Hamzah. Kekuatan moral bertambah, melihat duel yang dimenangkan oleh kaum muslimin. Terjadilah peperangan yang sengit dan dimenangkan oleh kaum muslimin.
            Ada beberapa hal menarik yang terjadi dalam peperangan. Salah satunya adalah ketika pasukan muslim merasa ditemani oleh ‘prajurit bayangan’ yang berjubah putih dan menyerang kafir Quraisy. Ditambah pula dengan semangat menggebu-gebu kaum muslimin seakan-akan ada kekuatan tambahan dalam diri mereka. Maka Allah merekam kisah bersejarah ini di dalam Al-Qur’an:
“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mu’min, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”[2]
            Bukan mereka yang membunuh, melainkan ada yang menggerakkan tangan mereka untuk membunuh. Bukan mereka yang melempar, melainkan ada yang menggerakkan tangan mereka untuk melempar.
            Tak jarang kita merasakan kemudahan dalam berbuat kebaikan. Tak jarang kita merasakan keringanan untuk melangkahkan kaki kita ke tempat ibadah. Tak jarang pula kita merasakan harta kita cukup banyak untuk bersedekah. Namun juga tak kalah jarang manakala kita merasa kemudahan berbuat kebaikan adalah atas andil kita sendiri. Tak jarang pula kita merasakan keringanan langkah kita ke tempat ibadah oleh sebab fisik yang rajin yang berolahraga. Bahkan tak jarang pula kita merasakan harta kita yang banyak disebabkan oleh kita yang gigih dan giat bekerja dalam meraup keuntungan dunia. Malangnya, hal-hal tersebut pula yang membuat amalan kita yang sedemikian banyak menjadi musnah bak debu tertiup angin.
            Tiada hal yang akan terjadi tanpa seizin Yang Maha Kuasa. Bumi mungkin akan bertabrakan dengan Planet Mars apabila tidak ada yang mengaturnya. Bahkan lalu lintas akan terjadi kekacauan jikalau tidak ada traffic light ataupun polisi lalu lintas. Akankah kita akan menjadi manusia serupa Qarun yang menganggap hartanya dapat membeli apapun termasuk surga? Seringkali kita tidak menyadari bahwa ada Dzat Yang Maha Menggerakkan tangan kita. Ada Dzat Yang Maha Mengendalikan hati kita. Ada Dzat Yang Maha Berkehendak, sehingga hal yang mustahil ketika dipandang logika, menjadi hal yang nyata terjadi di depan mata kita.
            Sungguh, bukanlah kita bergerak untuk berdakwah, melainkan ada yang menggerakan kita untuk berdakwah. Bukanlah tangan kita yang terlalu ringan untuk berinfak, melainkan ada yang lebih mempunyai wewenang untuk menggerakkan tangan-tangan kita. Bukanlah kita yang terlalu cerdas dalam menyerap pelajaran, tetapi ada yang lebih cerdas yang menguasai segala pelajaran yang menyingkapkan hikmahnya kepada kita. Sungguh, segala hal pasti ada yang mengaturnya. Namun kita terlalu bodoh dan seringkali lengah untuk membenarkan keberadaan dan andil-Nya.




[1] Nizar Abazhah. Taht Raayah al-Rasuul. Damaskus: Daarul Fikr. 2011.
[2] QS. Al-Anfal:  17

1 comment:

  1. Yaa muqalabbil qulub...tsabit qulubana ala fii dini'

    Wahai yang maha membolak-balikan hati.. tetapkanlah hati kami ini dalam agamaMu...

    ReplyDelete

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com