Friday, 24 April 2015

Dosa Bersejarah itu Bernama Sombong

Inilah tentang sifat yang membuat seorang beriman gagal masuk surga. Inilah tentang sifat yang banyak mendatangkan musuh dan mengusir banyak sahabat. Inilah tentang sifat yang membuat Iblis terusir dari surga-Nya. Inilah tentang sebuah sifat yang menyemarakkan pertumpahan darah di muka bumi. Inilah tentang sifat yang membuat orang terkaya sejagat bernama Qarun harus tenggelam ke perut bumi bersama hartanya. Inilah sifat sombong. Inilah dosa yang paling monumental, dosa yang paling tua, dan dosa yang amat tidak mudah diidentifikasi.

            Ketika Adam diciptakan untuk diproyeksikan sebagai cikal-bakal pemimpin di muka bumi, seluruh malaikat bersujud kepadanya atas titah Tuhan. Namun Iblis menolaknya dengan berdalih, “Aku lebih baik daripada dia. Kau Ciptakan aku dari api, sedangkan Kau Ciptakan dia dari tanah.”[1] Sekalipun mendapat penangguhan dari Tuhannya untuk hidup hingga Hari Kiamat, tetapi kesombongannya mencelakakannya. Kesudahan perjuangan Iblis kelak akan berujung neraka yang menyala-nyala, dimana tiada nikmat sedikitpun di dalamnya. Sombong, dosa yang telah dilakukan semenjak Adam diciptakan.
            Kesombongan pula-lah yang membuat putra Nuh[2] binasa. Alih-alih mengikuti ayah beserta saudaranya ke atas kapal di tengah banjir besar, dirinya malah jumawa. Dia pikir gunung-gunung tinggi dapat menyelamatkannya dari banjir. Nahasnya, banjir yang melanda justru lebih tinggi dan dapat merendam gunung-gunung tinggi sekalipun. Binasalah putra Nuh, dan seluruh manusia yang mendustakan Nuh akibat kesombongan mereka sendiri.
            Kaum ‘Ad juga terperangkap oleh kesombongannya. Sekalipun mereka adalah orang-orang yang tangguh, bahkan kaum ‘Ad adalah pembangun kota serta gedung-gedung berteknologi tinggi ketika itu.[3] Namun kesombongannya ketika menentang Hud untuk menyegerakan azab, justru dikabulkan oleh Allah. Datanglah awan hitam yang mereka kira sebagai pertanda datangnya hujan di musim paceklik, sayangnya dugaan mereka salah besar. Itulah awan pembawa angin dahsyat yang menerbangkan tubuh-tubuh mereka, dan melemparkan mereka dalam keadaan jungkir-balik, seakan-akan mereka adalah tunggul-tunggul pohon kurma yang telah lapuk.[4]
            Hadirlah setelahnya suatu kaum bernama Kaum Tsamud. Kaum ini adalah kaum generasi lanjutan dari Kaum ‘Ad. Meskipun mereka adalah orang-orang kuat, bahkan membangun kota dengan memahat tebing-tebing tinggi nan kokoh, mereka juga kaum yang kualat akibat kesombongan mereka sendiri. Mereka mendustakan Sang Pembawa Kebenaran yang diutus kepada mereka, yakni Shalih. Unta yang dipercayakan Shalih kepada mereka, sebagai bentuk rahmat dari Tuhan mereka, justru mereka sembelih demi kepuasan mereka. Malang nasib mereka, guntur besar yang memekakkan telinga, mereka semua punah seketika.
            Setiap nabi yang diutus kepada suatu kaum, selalu menemukan satu masalah yang membuat kaumnya enggan beriman, yakni sombong. Inilah dosa bersejarah yang telah dilakukan sejak Adam diciptakan. Inilah dosa yang membinasakan kaum-kaum sebelum kita yang bahkan kekuatan mereka melebihi manusia pada zaman sekarang. Kekuatan mereka tidak ada apa-apanya ketika telah terbentur sifat sombong.
            Sombong menghadirkan berjuta musuh dan mengusir bermilyar kawan. Sombong menghadirkan berbagai pikiran busuk dan prasangka tidak baik kepada saudaranya. Sombong berandil besar dalam membantu pemimpin menindas rakyatnya. Sombong pula-lah yang membinasakan orang-orang beriman, dan pada akhirnya mereka ditahan di depan pintu surga. “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim)
            Salah satu hal yang dipesankan oleh Luqman al-Hakim kepada anaknya adalah jangan sombong.[5] Salah satu hal yang dipesankan Nuh kepada anak-anak keturunannya sebelum ia meninggalkan dunia adalah jangan sombong. Salah satu hal yang dipesankan oleh Rasul yang agung Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para umatnya adalah jangan sombong. Ketika semua orang bijak berpesan untuk tidak sombong, adakah kita masih melakukan sifat yang menjadi dosa bersejarah ini? Semoga kita semua terhindar dari sifat sombong. Semoga tulisan ini ditulis tanpa ada sifat sombong di dalamnya. Semoga tulisan ini ditulis tanpa ada sifat sombong di dalamnya. Semoga tulisan ini ditulis tanpa ada sifat sombong di dalamnya.




[1] QS. Al-A’raaf: 12
[2] Beberapa riwayat menyebutkan namanya Kan’an
[3] QS. Al-Fajr: 7-8
[4] QS. Al-Haqqah: 7
[5] QS. Luqman: 18

5 comments:

  1. Tulisannya lezat akh, lanjutkan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. MasyaAllah, seluruh tulisan antum sangat bermanfaat mas Zaky. Izin share juga ya.

      Delete
    2. MasyaAllah, seluruh tulisan antum sangat bermanfaat mas Zaky. Izin share juga ya.

      Delete

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com