Friday, 10 April 2015

Generasi Hobi Menyalahkan

Pentingnya mengevaluasi dan berkaca diri selalu diajarkan oleh para tetua dan tentunya dalam literatur-literatur agama. Islam saja mengajarkan agar kita melihat dan memperbaiki diri kita untuk menyongsong masa depan. Tak tanggung-tanggung, oleh sebab pentingnya mengevaluasi diri, maka perbuatan tersebut disejajarkan dengan ketakwaan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.[1]
            Apapun yang terjadi, apapun yang kita hadapi, pastilah terkandung berbagai hikmah di dalamnya. Namun, hanya mereka yang mau berpikir yang dapat menyingkap tabir hikmah yang terdapat pada setiap kejadian. Adapun menyingkap hikmah dalam setiap kejadian, tidaklah semudah para motivator bertarif mahal berbicara. Tidaklah mudah ketika kepala kita ditimpuk batu lalu bersabar. Tidak, tidak semudah kata-kata motivator. Saya hampir yakin, apabila mereka ditimpuk batu, mereka juga akan terkesiap dan emosi. Meskipun mereka dibayar untuk mengatakan bahwa kita harus sabar bila tertimpa musibah. Kita harus sabar ketika cinta kita bertepuk sebelah tangan. Kita harus sabar dan sabar dan sabar dan sabar. Bicara memang mudah, apalagi berbicara dalam rangka menghakimi kesalahan orang. Sedangkan beraksi itu butuh tenaga berkali-kali lipat lebih banyak dibanding sekadar bicara layaknya motivator.
            Dewasa ini, berbagai keganjilan terjadi di tengah-tengah umat. Makanan yang semakin hari semakin tidak higienis, propaganda-propaganda liberal dan ajaran sesat yang semakin merajalela, pembajakan iman yang dilakukan oleh kaum beragama yang tidak bertanggung jawab, hingga penyesatan lewat tontonan dan bacaan. Sasarannya hampir identik; generasi muda. Terutama generasi muda umat Islam. Tujuannya jelas; menjauhkan umat Islam dari kebanggaan terhadap agama mereka. Menjauhkan umat Islam dari budaya Islam sendiri. Ketika mereka sudah melupakan ajaran-ajaran Islam, maka status sebagai muslim yang melekat bukan lagi masalah yang besar bagi musuh-musuh Islam. Keadaan inilah yang ingin dicapai, agar musuh-musuh Islam dapat membunuh Islam lewat penganut-penganutnya sendiri.
            Apa yang harus kita lakukan? Jelaslah yang harus kita lakukan adalah beraksi. Beraksi semampu kita. Beraksi sejauh pemahaman kita. Namun yang banyak dilakukan oleh kita sekarang hanyalah bereaksi tapi minim beraksi. Dengan mudahnya kita mencela Syiah, misalnya. Ada film yang diproduksi oleh produsen terindikasi Syiah, serta merta banyak yang menuduh itu propaganda Syiah dalam menyesatkan umat. Ada buku yang memotivasi untuk pacaran, maka kita sebut hal ini adalah liberalisasi yang dilakukan kepada para anak muda. Ketika kebebasan umat Islam berbicara dibungkam, ketika liberalisasi merajalela, ketika media Islam dibredel, adakah kita sebagai umat Islam beraksi untuk memperbaiki keadaan? Kebanyakan dari kita hanya mengutuk keadaan. Menyumpah-serapahi kejadian-kejadian yang terlintas di depan mata kita, tanpa pernah kita berkaca; jangan-jangan semua kerusakan di muka bumi ini terjadi disebabkan minimnya aksi yang kita lakukan. Alih-alih beraksi, justru banyak dari kita yang lebih senang menyalahkan orang lain yang berada di pihak yang berseberangan dengan kita. Kita seperti memiliki hobi baru; menyalahkan orang.
            Jangan salahkan mereka yang menyesatkan umat lewat tulisan-tulisan mereka, tetapi salahkanlah diri kita yang enggan menuliskan kebenaran. Jangan salahkan mereka yang menyebarkan pemikiran-pemikiran merusak umat, tetapi salahkanlah diri kita yang malas mempelajari pemikiran-pemikiran yang lurus dan benar. Jangan salahkan mereka yang merusak generasi muda lewat tayangan atau film-film, tetapi salahkanlah diri kita yang tidak mau membuat atau membantu memajukan film-film bernafaskan Islam. Mengapa pemikiran sesat itu bisa tersebar? Sejatinya itu karena kita yang terus tinggal diam melihat kemungkaran. Padahal dakwah itu hukumnya wajib bagi mereka yang melihat kemungkaran. Thus, Apakah kita masih tidak melihat kemungkaran di zaman yang serba semrawut ini? Kesalahan kita adalah minim beraksi, namun lebih senang bereaksi dan menyalahkan orang lain yang jelas-jelas berada di pihak musuh. Sayangnya hanya sedikit yang menyadari untuk beraksi. Hanya sedikit yang menyadari kesalahan diri sendiri. Kiranya benar apa yang pernah diutarakan sastrawan kenamaan, Ajip Rosidi, beberapa kurun silam, bahwa sebetulnya yang menjadi penyakit bagi bangsa dewasa ini adalah lalai dalam mengakui kesalahan sendiri.[2] Walhasil, menyalahkan orang lain adalah konsekuensi logis dari lalai mengakui kesalahan sendiri.




[1] Lihat QS. Al-Hasyr: 18
[2] Ajip Rosidi. Korupsi dan Kebudayaan. Jakarta: Pustaka Jaya. 2006.

0 comments:

Post a Comment

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com