Friday, 17 April 2015

Ukhuwah; Nilai Tak Terbantah

“Dan berpeganglah kamu sekalian kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati-hatimu, dan dengan nikmat Allah-lah kamu menjadi orang-orang yang bersaudara.” (QS. Ali Imran: 103)
            Bila para ilmuwan Barat menganggap nilai kebenaran adalah relatif, bila para atheis menganggap keberadaan Tuhan hanyalah semu, bila para komunis memastikan bahwa kaum borjuis dan proletar mustahil bersatu, atau bila sekuleris berpendapat bahwa pencampuran agama ke dalam politik adalah utopis, maka para islamis haruslah berbangga pada ajarannya sendiri; yang memiliki nilai tidak relatif, yang memiliki ajaran sempurna, yang memiliki aturan paripurna. Maka salah satu nilai yang dewasa ini dianggap utopis, hingga kapanpun takkan pernah dapat dibantah. Satu nilai itu adalah ukhuwah. Nilai yang bersejarah dan akan terus menyejarah.

            Politik bisa saja menyatukan kawan dan lawan atas satu kepentingan. Pendidikan bisa saja mempersatukan antara si NU dan si Muhammadiyah hanya karena mereka bersekolah di sekolah yang sama. Budaya bisa saja menyatukan antara si kaya dan si miskin oleh sebab mereka dilahirkan di rumpun yang sama, dibesarkan dengan bahasa yang sama. Namun kesemuanya bersifat tidak pasti dan mungkin saja berubah di kemudian hari. Bila berbeda kepentingan, semuanya menjadi musuh dalam kancah politik. Bila telah lulus dari sekolah, si NU dan si Muhammadiyah bisa saja menjadi musuh dalam bersaing untuk sekadar mengadakan pengajian. Apabila dua orang lahir dari rumpun yang berbeda, bahasa yang berbeda, siapa yang menjamin mereka dapat bersatu? Namun ada saja hal yang dapat menyatukan mereka. Itulah ukhuwah. Itulah nilai yang takkan pernah dapat dibantah.
            Kesatuan aqidah adalah alasan yang mempersatukan mereka. Oleh sebab agama yang sempurna dan paripurna, maka alasan mereka bersatu pun sempurna dan paripurna. Oleh karena agama yang memiliki nilai tak terbantahkan, maka persatuan mereka pun memiliki nilai yang tak terbantahkan. Ukhuwah mempunyai bahasa persatuan. Assalamu’alaykum adalah salam seluruh umat Islam dari timur hingga ke barat, dari dunia hingga ke akhirat.
            Konflik dan prasangka seringkali mewarnai kehidupan mereka berdua. Sekalipun mereka mempunyai hubungan sepupu, namun kenyataannya tidak jarang mereka bergulat di masa jahiliyah. Dan hubungan kurang akur tersebut berlanjut hingga ke masa dewasa dan keduanya sama-sama menerima kebenaran Islam. Khalid bin Walid merasakan lebih dari sekali dicopot dari jabatannya dengan tidak hormat oleh Umar bin Khaththab. Sejarawan tak bertanggung jawab mengatakan mereka adalah musuh abadi. Sayangnya, mereka menutup mata terhadap peristiwa detik-detik wafatnya Khalid. Sembari menunggu malaikat maut menjemputnya, dengan tegas ia mengatakan kepada sahabat yang menemaninya bahwa sekontroversial apapun keputusan Umar, tetaplah taat kepadanya. Ada nilai yang tak bisa dibeli dengan uang di antara mereka. Ada nilai tak terbantahkan yang menghiasi perjalanan hidup Umar dan Khalid. Itulah ukhuwah; nilai tak terbantah.
            Pada ukhuwah terdapat beberapa tingkatan. Yang paling rendah adalah salamatus shadr (hati yang bersih). Tingkatan ini adalah sikap kita yang tak berprasangka buruk terhadap saudara kita. Tingkatan ukhuwah yang tertinggi adalah itsar, yakni mendahulukan kepentingan saudara kita di atas kepentingan pribadi.
Ketika sampai di Madinah, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam mempersaudarakan Abdurrahman bin Auf dengan Sa’ad bin ar Rabi’. Dengan senang hati tanpa ada rasa berat, Sa’ad berkata, “Sesungguhnya aku adalah orang Anshar yang paling kaya, maka aku akan bagikan untukmu separuh hartaku, dan silakan kau pilih mana di antara dua istriku yang kau inginkan, maka akan aku lepaskan dia untuk engkau nikahi. Siapapun akan tercengang mengetahui kisah ini. Manakala Abdurrahman bin Auf membuat keputusan mengejutkan di tengah lelah setelah perjalanan jauh Makkah-Madinah dalam keadaan tidak berharta. Ibn Auf menolak tawaran Sa’ad dan hanya meminta ditunjukkan letak keberadaan pasar untuk memulai bisnisnya. Tidak ada yang merasa dirugikan. Mereka bersaudara, dan sebagai saudara mereka pun mengetahui perasaan masing-masing sehingga enggan melukainya.
Ukhuwah adalah nilai yang tak terbantah. Sebabnya adalah ukhuwah tidak mengenal kaya atau miskin, tidak mengenal banyak atau sedikitnya ibadah, bahkan tidak mengenal si pintar dan si bodoh. Nilai ukhuwah ada pada mereka yang mengerahkan segenap yang dimilikinya untuk kebaikan saudaranya. Nilai ukhuwah, ada pada mereka yang melihat orang lain jauh lebih membutuhkan daripada dirinya sendiri. Nilai ukhuwah, ada pada hati yang senantiasa yang berprasangka baik kepada saudaranya. Nilai ukhuwah, hanya terdapat pada diri pejuang sejati. Senyum saudaranya adalah kebahagiaannya. Tangis saudaranya adalah kesedihan baginya. Dan surga saudaranya adalah surganya juga.

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam.” (HR. Muslim).

3 comments:

  1. Jozzz... Inspiratif gan.. (y), Ijin Copas ke blog ane --> trisunaryanto4presiden.blogspot.com :D biar blog ane ada isinya yang lurus-lurus gini :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Monggo, dengan senang hati. Doakan, semoga istiqomah dalam kelurusan :)

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com