Friday, 22 May 2015

Kezaliman yang Dilazimkan: Rohingya, Eksekusi Mati, dan Para Aktivis Lapar

Era globalisasi memungkinkan siapapun untuk mendapatkan berita-berita teranyar dan terpanas. Dahulu kita hanya mengandalkan surat kabar dan radio untuk menunggu berita terbaru. Itupun jarak waktu antara kejadian dengan turunnya berita ke media cukup lama. Bisa saja kejadian siang ini, beritanya baru turun esok hari, atau bahkan dua hari ke depan. Hari ini, akses berita terlampau mudah. Portal berita online bertebaran dimana-mana. Publik dimanjakan oleh kemudahan mengakses informasi, dan mereka dapat memilih dan memilah sendiri berita yang diinginkan.
            Terdapat tiga kata kunci pada judul pembicaraan kali ini. Terlihat tidak ada keterkaitannya sama sekali. Namun, mari kita uraikan tiga masalah tersebut satu per satu.
Ya, para Manusia Perahu yang terdiri dari orang-orang Myanmar muslim dan Bangladesh, terombang-ambing di laut lepas. Bangsa-bangsa yang mereka lalui enggan turun tangan. Syukurlah Tuhan memberi keajaiban kepada mereka dengan memberi petunjuk kepada manusia-manusia berhati baik di Aceh sana untuk menolong saudaranya. Kini, mereka diperlakukan sebagai manusia. Tidak seperti di tempat kelahiran mereka. Bahkan mereka mendapatkan bantuan dari berbagai pelosok negeri. Banyak aktivis dan lembaga muslim yang melakukan penggalangan dana, lembaga-lembaga kemanusiaan, hingga pemerintah Turki pun mengulurkan bantuan. Tak ayal, senyum mengembang dari bibir-bibir kering mereka. Mata mereka yang berhari-hari meneteskan air mata harapan, kini berganti dengan linangan air mata kebahagiaan.
            Berita tentang eksekusi mati Presiden Mesir yang terpilih secara sah dan fair Dr. Muhammad Mursi juga menjadi headline di berbagai media, tak terkecuali di Indonesia. Tak pelak, portal-portal online yang memihak umat Islam menggembar-gemborkan berita eksekusi mati tersebut. Manusia manapun yang masih memiliki hati nurani, pasti merasa kasihan kepada Mursi dan merasa kesal terhadap rezim kudeta Assisi. Bagaimana tidak, tanpa duduk perkara yang jelas, Mursi dikudeta, dijebloskan ke penjara bertahun-tahun, hingga kini mendapat vonis eksekusi mati. Ketika video putusan pengadilan tersebar, kita semua dapat melihat tak ada penyesalan ataupun ekspresi ketakutan di wajah Mursi. Seolah yang terlihat hanyalah kelegaan atas segala masalah yang menderanya selama ini. Mengingatkan kita akan sikap Nabi Yusuf ‘alaihissalam yang lebih memilih penjara daripada tipu daya serta cobaan yang menderanya. “Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada ajakan mereka” (QS. Yusuf: 34).
            Lalu kita akan bicarakan masalah aktivis lapar. Ya, mereka adalah aktivis mahasiswa yang semakin tidak jelas aktif dalam hal apa. Sikap menggebu-gebu yang akan menggulingkan kezaliman pemerintah, sekejap sirna dalam jamuan makan malam. Aksi-aksi yang dilakukan gerakan-gerakan mahasiswa bak debu tertiup angin. Berlelah-lelah suarakan bukti kezaliman rezim baru seakan tidak ada artinya. Manakala saudara sesama aktivis yang duduk sebagai eksekutif di kampus malah menjual diri mereka dalam jamuan makan malam. Sebegitu laparkah mereka sehingga langsung puas hanya dengan jamuan makan malam? Mahasiswa-mahasiswa kelas eksekutif ini pun tanpa malu-malu makan malam di atas penderitaan rakyat. Seakan putus urat malunya, mereka berfoto narsis selepas acara.
            Well, sudahkah Anda temukan korelasi dari tiga topik pembicaraan kali ini? Terlalu rumit memang untuk menemukan benang merahnya. Namun satu hal yang membuat ketiga topik tersebut memilik keterkaitan, yakni “Kezaliman yang Dilazimkan”.
Kezaliman orang-orang berkepala plontos di negeri jiran telah menelantarkan saudara-saudara mereka sendiri yang notabene berstatus kewarganegaraan yang sama. Sayangnya, mereka tidak dicap teroris, hanya karena mereka tidak berjenggot, mereka tidak berteriak “Allahu Akbar”, dan yang paling penting adalah mereka bukan muslim. Jadi, lazim-lazim saja apabila mereka membantai dan menelantarkan orang muslim.
            Kezaliman rezim dengki yang telah mengudeta presiden yang terpilih secara sah dan fair telah menistakan orang-orang shalih. Orang-orang yang tidak pernah terbersit dalam hatinya untuk melukai orang lain dengan otoritasnya. Namun para pendengki mengudeta disebabkan oleh rasa benci dan dengkinya kepada umat Islam. Sayangnya mereka tidak dicap teroris. Sekalipun mereka berjenggot dan beragama Islam, tetapi karena mereka menistakan orang Islam yang memimpin secara benar dan berkuasa secara benar, maka sikap zalim yang mereka lakukan sudah cukup untuk dikatakan lazim.
            Terakhir, kezaliman rezim baru melenakan para aktivis lapar. Jurus jamuan makan malam terbukti jitu untuk menyurutkan semangat ogah-ogahan mereka untuk membela rakyat. Barangkali setelah dipikir-pikir, mahasiswa eksekutif ini juga bisa dikategorikan sebagai rakyat, berarti jamuan makan malam ini dapat pula dianggap sebagai proses menyejahterakan rakyat. Mereka tidak peduli saudaranya sesama aktivis berlapar-lapar dan berhaus-haus melakukan aksi untuk berusaha menurunkan rezim zalim.

            Beginilah zaman kehidupan kita. Zaman dimana kezaliman menjadi sesuatu yang lazim. Kekuasaan menjadi tolak ukur kesuksesan. Menyuarakan syariat dan meneriakkan takbir, menjadi ciri bahwa seseorang dapat dikatakan teroris. Siapapun boleh naik, siapapun boleh maju, siapapun boleh sejahtera, asalkan bukan Islam.

1 comment:

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com