Monday, 15 June 2015

Bulan Ramadhan Bulan Kontroversial

Bulan Ramadhan memang ajaib. Ketika datang masanya, maka kita melihat banyak artis setengah telanjang seketika bergamis plus berjilbab panjang. Banyak perempuan jahat berbusana akhwat. Banyak perempuan yang sering tak berjubah, seketika berubah layaknya ustadzah. Banyak lelaki yang semasa sebelass bulan seolah tak memiliki harga diri, seketika berubah menjadi paling alim sendiri. Bulan Ramadhan memang ajaib, Bulan Ramadhan bulan yang kontroversial.
            Ketika kita membicarakan keutamaan di Bulan Ramadhan, sungguh indah bila digapai. Amalan yang berlipat pahalanya, dosa-dosa yang ditangguhkan adanya, siksa kubur yang terhenti karenanya, hingga setan-setan yang terbelenggu sebulan penuh lamanya. Umat beriman, haruslah memanfaatkan momen ini dengan sebaik-baiknya. Tilawah quran yang lebih panjang dari biasanya. Sajadah yang mulai disarangi oleh laba-laba karena jarang digunakan untuk shalat malam, kini berubah layaknya permadani kerajaan. Masjid-masjid yang biasanya sepi hanya berisi manusia-manusia usia senja nan hanya menunggu habis masa aktifnya di dunia, kini ramai membludak. Bulan Ramadhan memang bulan perubahan. Bulan Ramadhan bulan yang kontroversial.
            Saat itulah kita melihat rumah kembali kepada kondisi aslinya. Diramaikan oleh sanak famili yang menjelang maghrib menunggu datangnya waktu berbuka puasa. Masjid di waktu subuh hingga kembali subuh tetap ramai sebagaimana mestinya. Saat Ramadhan, seluruh muslim kembali ke masjid. Benar-benar kembali ke masjid. Tidak hanya shalat dan tilawah quran di masjid, bahkan ketika sela-sela waktu istirahat kantor, mereka gunakan masjid untuk tidur siang. Jadilah ruang masjid layaknya tempat menjemur ikan asin di siang hari oleh sebab terhampar manusia-manusia tidur mengeluarkan suara merdu yang dikenal dengan sebutan “ngorok”. Bulan Ramadhan memang bulan yang beda. Bulan Ramadhan bulan yang kontroversial.
            Pada Bulan Ramadhan, perut kita yang selama sebelas bulan menyimpan sampah, mendapat jatah waktu istirahatnya selama sebulan dengan bekerja lebih ringan dari biasanya. Pedagang-pedagang makanan  yang mandi peluh berjualan di tengah terik matahari, mendapat giliran rehatnya selama sebulan dan mendapat bonus berkumpul bersama sanak famili di akhir bulan. Para perantau, terutama mahasiswa yang harus bernegosiasi ketat dengan dompetnya masing-masing selama sebelas bulan, mendapatkan bonus hemat selama sebulan. Masjid-masjid membuka pintu lebar-lebar bagi mereka yang hendak berbuka puasa tanpa dipungut biaya. Siapapun muslim yang rajin marah, harus berubah agar selalu ramah. Siapapun muslim yang rakus terhadap makanan, harus merelakan waktu istirahat bagi perutnya. Siapapun muslim yang tinggal berjauhan dengan keluarganya, akhirnya mendapat kesempatan bercengkerama dengan keluarga di akhir bulan. Bulan Ramadhan memang bulan yang istimewa. Bulan Ramadhan bulan yang kontroversial.
            Merugilah bagi siapapun yang tak mencuri kesempatan di bulan yang kontrversial ini. Ketika kau menjadi seorang pemain sepakbola, dan kau mendapat keuntungan ketika melihat pemain-pemain lawan seluruhnya diikat dan tak bisa bergerak. Maka apabila kau gagal menceploskan bola ke gawang lawan, berarti kau menjadi manusia paling bodoh di dunia. Demikianlah halnya di Bulan Ramadhan. Kau mendapati setan-setan yang kerap menghalangi amalan-amalanmu dalam sebelas bulan, dibelenggu tak bisa mengganggumu dalam sebulan penuh. Apabila kau tidak dapat menjadi orang bertakwa sebagaimana yang difirmankan Allah setelah Ramadhan, atau minimal kau menjadi pribadi yang lebih baik ketimbang sebelum Ramadhan, maka terimalah keadaan dirimu yang telah menjadi orang terbodoh di dunia.
            Jika di antara kalian ada yang bertanya, “Setan dibelenggu, tetapi mengapa masih banyak maling sandal di malam tarawih? Mengapa masih banyak pencabul merajalela? Mengapa masih banyak muslim tidak berpuasa?” Maka jawabannya adalah “maka Allah telah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.”[1] Setiap jiwa diberi dua jalan, maka hanyalah jiwa kita yang tinggal menentukan satu di antara dua pilihan tersebut. Bila kau masih saja cabul di Bulan Ramadhan, berarti memang pilihan hidupmu untuk menjadi cabul! Bila kau masih saja menjadi begal di Bulan Ramadhan, berarti memang pilihan hidupmu menjadi begal! Tanpa ada setan, kau tetaplah memiliki potensi menjadi jahat, tinggal kau yang menentukan untuk memilih menjadi baik ataukah menjadi jahat.
            Bulan mana yang lebih kontroversial daripada Ramadhan yang menjanjikan perubahan sangat signifikan hanya dalam jangka satu bulan? Bulan mana yang lebih kontroversial ketimbang Ramadhan yang menjanjikan kebaikan meningkat dalam satu bulan? Bulan mana yang lebih kontroversial daripada Ramadhan yang menjanjikan kemenangan demi kemenangan setiap harinya?[2] Bulan mana yang lebih kontroversial daripada Ramadhan yang menjanjikan setiap orang beriman naik derajat menjadi orang bertakwa hanya dalam satu bulan? Jikalau kau tak mampu memanfaatkannya dengan baik, berarti kau jauh lebih kontroversial ketimbang Ramadhan. Jika kau tak mampu melanjutkan konsistensi amalan baik pasca-Ramadhan, berarti kau jauh lebih kontroversial ketimbang Ramadhan. Sebab amalan bukan dihitung dari kuantitasnya, namun dihitung dari konsistensinya yang dinamakan istiqomah. Setelah imanmu dipertanyakan, ada istiqomah yang juga harus dipertanyakan. Dan salah satu jawabannya berada pada satu bulan bernama Ramadhan.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari- hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari- hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”[3]



[1] Asy-Syams: 8
[2] Kemenangan yang kita rasakan ketika berbuka puasa dan mengalahkan hawa nafsu.
[3] Al-Baqarah: 183-186

1 comment:

  1. Subhanallah, sebuah tulisan yg menginspirasi jiwa-jiwa yg redup agar terang-benderang kembali.

    ReplyDelete

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com