Monday, 29 June 2015

Mereka Murtad Karena Enggan Berpikir

Beberapa hari belakangan, media-media online gencar memberitakan seorang aktor yang sudah keluar dari Islam (murtad). Aktor yang juga pernah berperan sebagai panutan setiap warga Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan, dalam film Sang Pencerah tersebut terang-terangan mendeklarasikan dirinya dalam sebuah video yang tersebar di youtube. Sontak saja publik yang didominasi para netizen ramai membicarakan kemurtadan putra dari seniman kawakan, Idris Sardi, ini.
            Mayoritas penduduk Indonesia yang notabene beragama Islam, nyatanya masih peduli dengan kepercayaan yang dianut oleh para public figure yang sering muncul di layar kaca mereka. Meskipun tidak sedikit muslim awam di negeri ini, tak dapat dipungkiri bahwa kepercayaan masih menjadi patokan fundamental untuk menilai kepribadian seseorang. Sebelum berita tentang Lukman Sardi luas dibincangkan, beredar pula tentang kemurtadan Asmirandah yang dilewati dengan proses penipuan dan penculikan. Asmirandah beserta suaminya mungkin kalah lihai ketimbang Lukman Sardi dalam menyembunyikan kebahagiaannya setelah mendapatkan hidayah dari “Allah yang berbeda”. Lukman Sardi sudah menjalani hidup sebagai “orang yang mendapat petunjuk” selama kurang lebih enam tahun. Bahkan ia bisa dengan tenang memerankan sekaligus menginjak-injak tokoh Ahmad Dahlan dalam keyakinan Kristen-nya. Berbeda dengan Asmirandah yang justru diinjak-injak oleh publik tak lama setelah menikah dengan suaminya, yang sebelum menikah –pura-pura- menyatakan diri masuk Islam.

            Well, apabila kita berlarut-larut dalam pembahasan ini, mungkin kaum Liberal akan mencibir dengan perkataan yang sudah tidak asing lagi, bahkan sudah basi mampir di telinga kita; “Jangan urusi agama orang lain, agama itu urusan pribadi!” Namun akan kita jadikan bahasan ini bahasan yang lebih memberikan pelajaran dan bernilai ilmiah. Seringkali Allah mengorelasikan orang yang beriman dengan orang yang berpikir atau memiliki wawasan luas. Sedangkan di sisi lain, Allah seringkali mengaitkan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya atau sebut saja kafir, sebagai orang yang enggan berpikir bahkan mereka dihinakan sebagaimana hinanya hewan ternak. Allah pun beberapa kali menegaskan bahwasanya tidak pernah ada paksaan untuk beragama Islam, sekalipun Allah menegaskan bahwasanya mereka yang mencari agama selain Islam maka serta-merta tertolak. Dan mereka yang beramal tanpa beriman, maka amalnya tidak berpahala bak debu yang tertiup angin.
            Istilah-istilah yang dipopulerkan Al-Qur’an semacam ulil albab, ulil abshar, ataupun ulin nuha yang diterjemahkan sebagai orang-orang yang mempunyai pandangan, orang-orang yang berwawasan, ataupun orang-orang berakal selalu merujuk kepada orang-orang yang beriman.“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulil albab (orang yang berakal), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.”[1] Allah Menyebutkan orang berakal, kemudian dengan akalnya mereka berpikir, menelaah, hingga meneliti ciptaan Allah adalah orang beriman yang senantiasa mengingat Allah dalam pelbagai keadaan. Artinya, beriman dan berpikir adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Seorang muslim yang beriman, pastilah mereka berpikir mengapa harus beriman. Mengapa harus Allah, mengapa Allah tak terlihat wujudnya, mengapa harus shalat, mengapa harus puasa, mengapa harus melakukan ritual-ritual yang menjadi syarat kenikmatan abadi bernama surga, sedangkan surga itu belum pernah ia rasakan sama sekali. Maka apabila seorang yang tadinya beragama Islam, kemudian dengan mudahnya mengganti kepercayaannya, berarti ia tidak berpikir dengan matang terkait apa yang dianut dan dipercayanya. Dengan kata lain, ia enggan berpikir.
            Islam adalah agama yang mengajak penganutnya untuk berpikir. Dengan berpikir, maka seseorang dapat bertambah keimanannya. Salah satu dari bukti bahwa Islam itu benar, yaitu tidak ada kontradiksi antar satu ayat dengan ayat lain dalam kitab sucinya, yakni Al-Qur’an. Hal ini tidak dapat diketahui apabila seorang muslim tidak menggunakan akalnya untuk berpikir. Kejadian-kejadian alam yang bersesuaian dengan Al-Qur’an, juga tidak akan dapat diidentifikasi apabila seorang muslim tidak menggunakan akalnya untuk berpikir. Bertentangan dengan logika atheis, bahwasanya apabila seseorang semakin berpikir, maka ia semakin tak mempercayai adanya tuhan. Dalam Islam justru sebaliknya, semakin seseorang berpikir maka ia semakin beriman. Hingga kini, hanya Islam satu-satunya agama yang tidak tersentuh revisi dan menghargai serta mengajak pemeluknya berpikir secara kontinyu. Diperkuat pula oleh peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadis shahih yang mewajibkan setiap muslim untuk belajar dan menuntut ilmu. “Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim.[2] Terlebih Allah menaikkan derajat orang-orang yang menuntut ilmu; “niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kaluan dan orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”[3] Ayat ini pun jelas sekali mengorelasikan antara beriman dengan berilmu. Iman tak dapat kokoh tanpa ditopang ilmu. Sebaliknya, ilmu tidak akan menjadi sesuatu yang dapat memberi kebahagiaan manakala tiada keimanan padanya.
            Di sisi yang lain, orang-orang yang enggan menggunakan akalnya untuk berpikir, atau malas belajar justru mendapatkan tempat yang hina di sisi Allah. “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi) Neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat) Allah. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi (daripada binatang ternak). Mereka itulah orang-orang yang lalai.”[4] Dalam ayat tersebut secara jelas Allah menghinakan mereka dan menyamakan derajat mereka dengan binatang ternak, bahkan lebih buruk lagi. Sebabnya, mereka tidak mempergunakan karunia yang Allah berikan untuk beribadah. Mereka lebih memilih kufur dan mengingkari ayat-ayat ataupun tanda-tanda kekuasaan Allah. Padahal mereka diberi hati, untuk mengendalikan segala indra mereka, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami tanda-tanda kekuasaan Allah. Mereka diberi mata untuk membac dan meneliti, namun tidak dipergunakan untuk membaca dan meneliti tanda-tanda kekuasaan Allah. Mereka juga diberi telinga, untuk mendengarkan keindahan ayat-ayat Al-Qur’an, namun tidak pula dipergunakan untuk mendengarkannya. Maka derajat mereka sama dengan binatang ternak, bahkan lebih hina lagi. Karena binatang ternak masih bersujud kepada Allah, sedangkan mereka tidak.
            Allah tidak memaksa manusia untuk beriman, Allah hanya mengajak manusia berpikir untuk memilih pilihan yang baik. “Tidak ada paksaan dalam (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari yang sesat.”[5] Hanya mereka yang berpikir yang dapat mengidentifikasi mana jalan yang benar dan mana jalan yang sesat. Maka sekali lagi kami katakan, bahwa Islam adalah agama yang mengajak sekaligus menghargai pemeluknya yang berpikir. Ditawarkan kepada manusia yang haq dan bathil, dan manusia hanya tinggal memilihnya. Orang yang cerdas, tanpa perlu diajak, pastilah ia memilih kebaikan dan kebenaran.
            Hidup ini memang menawarkan banyak pilihan. Dan hanya mereka yang mempergunakan akalnya-lah dapat memilih pilihan terbaik. Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman. Dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang yang zalim itu neraka yang gejolaknya mengepung mereka.[6][7] Tidaklah heran apabila mereka yang menggunakan akal pikirannya, maka mereka akan memilih beriman. Sekalipun jalan yang mereka lalui pastilah terjal dan banyak sekali hambatannya. Sebab mereka meyakini bahwa surga yang Allah janjikan pasti adanya. Maka mereka termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung. “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Beruntunglah bagi yang mensucikannya. Merugilah bagi yang mengotorinya.”[8]
            Demikianlah adanya orang-orang yang murtad, mereka terlena oleh kenikmatan semu yang berlalu di hadapan mereka. Sedangkan Islam menawarkan kenikmatan abadi di akhir cerita bagi setiap orang-orang yang beriman. Wajib menjadi pelajaran bagi kita atas orang-orang tersebut. Pun wajib menjadi pelajaran bagi kita atas orang-orang yang menyatakan diri masuk Islam. Maka teruslah berpikir dan belajar, agar senantiasa menjadi manusia seutuhnya dan mengokohkan iman yang utuh dalam diri kita.



[1] Ali-Imran (3): 190-191
[2] HR. Ibnu Majah
[3] Al-Mujadilah (58): 11
[4] Al-A’raaf (7): 179
[5] Al-Baqarah (2): 256
[6] Al-Kahfi (18): 29
[7] Ayat ini pernah saya bahas dalam kultwit #AlKahfiers Series. Dapat dilihat di https://storify.com/ITJJogja/silakan-beriman-silakan-kafir
[8] Asy-Syams (91): 8-10

0 comments:

Post a Comment

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com