Saturday, 18 July 2015

Apapun, Asalkan Bukan Islam

Apabila kita melihat berita-berita di media arus utama, kadang kita akan menemukan sesuatu yang identik di antara media-media tersebut. salah satu yang identik tersebut adalah: memberikan citra positif sesedikit mungkin dan memberikan citra negatif sebanyak muslim kepada (umat) Islam. Menuduh aktivis muslim sebagai biang keladi perpecahan, menuduh kurikulum agama dan kegiatan rohis di sekolah-sekolah sebagai pengkaderan teroris, hingga mengambinghitamkan jumlah muslim Indonesia yang mayoritas lalu memberi stempel intoleran.
Faktanya, pasca peristiwa 11 September 2001, runtuhnya gedung World Trade Centre, Barat merancang makar baru yang mengarahkan pandangan publik bahwasanya pelaku dari peristiwa tersebut adalah sekelompok muslim yang menyerukan jihad. Lantas beberapa saat setelah peristiwa tersebut, praktis kini media dan publik yang pro terhadap media-media tersebut menisbatkan label teroris kepada umat Islam. Tentu saja umat Islam di sini yang gandrung bicara jihad, berjanggut lebat, di keningnya terdapat bercak-bercak hitam, bercelana di atas mata kaki bagi laki-laki, dan bagi perempuan mengenakan kerudung besar, apalagi bila ditambah mengenakan cadar. Penggembosan umat Islam terbesar terjadi di lini media.
Kasus-kasus penggusuran gereja beserta jamaahnya, haramnya mengucap selamat natal dan valentine, pemberlakuan Perda Syariah, hingga poligami yang dilakukan para tokoh ormas ataupun partai Islam menjadi isu seksi untuk dibahas yang semakin menguatkan pandangan bahwa umat Islam di Indonesia yang notabene mendominasi secara kuantitas memang intoleran, suka kekerasan, dan mendiskriminasi kaum perempuan. Opini-opini serampangan semakin bertebaran ketika muncul komunitas-komunitas dan beberapa gagasan yang semakin memperkeruh suasana. Yang teranyar, isu “Islam Nusantara” sempat membuat keresahan, hingga para tokoh agama pun bereaksi atas gagasan tersebut. Salah satunya Mamah Dedeh yang terang-terangan menolak gagasan “Islam Nusantara” dalam sebuah acara kontes da’i yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta dalam negeri.
Berita-berita yang semakin menyudutkan umat Islam tak kurang-kurangnya beredar di media-media arus utama, membuat umat Islam sendiripun akhirnya mempercayai berita-berita tersebut. Sehingga apa yang diinginkan memang tercapai di masa sekarang. Banyak sekali muslim yang tidak bangga pada agamanya sendiri. Justru menghujat agamanya sendiri di khalayak ramai, termasuk di dalam kelas-kelas perkuliahan.
Padahal, fakta di lapangan membantah semua yang digembar-gemborkan media arus utama. Umat Islam di tempat-tempat yang mana mereka berposisi sebagai minoritas, justru tertindas dan tidak diberikan hak hidup yang layak. Kita tidak mungkin melupakan orang-orang Rohingya yang telah menduduki Myanmar sejak lama terombang-ambing di laut lepas karena tidak diterima kehadirannya oleh negerinya sendiri. Rakyat muslim Pattani di Thailand bagian selatan sempat diguncang oleh kezaliman pemerintah negara mereka sendiri. Muslim Uyghur di Tiongkok, kini merasakan keadaan “hidup segan mati tak mau” karena serba dilarang untuk menjalankan perintah agamanya. Beberapa negara Eropa bahkan melarang perempuan muslimah menggunakan hijab, sebagai simbol ketaatannya kepada Tuhan Yang Maha Menciptakan. Menariknya, apabila kita mau sedikit saja meneliti sejarah, maka kita juga seharusnya menangis mendengar kekejaman Christopher Columbus yang membantai segenap warga Indian di Amerika, sebab pada kenyataannya mayoritas yang dibantai justru muslim. Serangkaian pembantaian kepada umat Islam yang minoritas di beberapa tempat, tak pernah total diekspos media arus utama. Entah apakah berita tersebut kurang menarik, ataukah memang umat Islam tidak dianggap sebagai manusia pada umumnya yang harus mendapatkan hak hidup yang layak serta kebebasan beribadah menjalankan perintah agama.
Kabar terakhir yang masih hangat, adalah penistaan terhadap umat Islam yang sedang melaksanakan Shalat ‘ied di Kabupaten Tolikara, Papua. Di hari kemengannya, umat Islam Karubaga justru mendapatkan musibah yang tak pernah diharapkan seumur hidup mereka. Ditimpuki, dan mushola mereka dibakar. Sungguh pelecehan yang sangat tidak bisa ditoleransi, terlepas dari alasan apapun yang menyebabkan penduduk beragama Kristen setempat melakukan hal tersebut. Warga muslim Indonesia tentunya belum lupa dengan serangkaian pembantaian yang terjadi dalam tragedi Poso dan Ambon, serta peristiwa-peristiwa penistaan umat Islam lainnya. Tentu saja hal ini memunculkan tanda tanya besar. Siapakah sebenarnya yang intoleran?
Setelah tempo hari saat  memasuki Bulan Ramadhan, umat Islam digelitik oleh menteri agamanya sendiri tentang himbauannya agar warung-warung makan tetap buka, dan umat Islam yang berpuasa harus menghormati yang tidak puasa, kini pertanyaan tersebut akan selalu muncul; siapakah yang sebenarnya intoleran? Ketika umat Islam belum juga lupa dengan komentar unik sang wakil presiden atas suara tilawah Qur’an yang disetel dengan pengeras suara di masjid-masjid itu mengganggu serta menimbulkan polusi suara, seharusnya pertanyaan itu harus selalu dimunculkan; siapakah sebenarnya yang intoleran? Di daerah-daerah minoritas muslim di Indonesia, umat Islam sulit sekali berkembang. Perizinan pembangunan masjid dipersulit, azan tak boleh dikumandangkan, pengajian-pengajian dan ibadah lainnya dibatasi, hingga larangan menggunakan jilbab bagi perempuan muslimah. Anehnya, ini terjadi di negara yang mayoritas muslim. Lagi-lagi, siapakah yang sebenarnya intoleran?
Satu frasa yang seolah-olah sudah menjadi kesepakatan publik dewasa ini. Yakni; “Asalkan Bukan Islam”, kita singkat saja ABI. Siapapun boleh membantai orang, asalkan bukan Islam. Muslim yang mengganggu ketentraman publik, sebutlah ia teroris. Non-muslim yang melakukan pembantaian atau yang lainnya, tidak boleh disebut teroris, tetapi cukuplah mereka hanya disebut “pelaku kriminal”. Kalau ada seorang ustadz yang poligami, tuduhlah ia sebagai orang yang mata keranjang, karena nabinya pun mengajarkan untuk main perempuan. Tetapi kalau ada seorang muslim abangan atau non-muslim yang poligami, maka sebut saja itu sebagai gaya hidup. Atau justru apabila mereka selingkuh dengan beberapa perempuan, anggap saja itu karena mereka memang ada masalah rumah tangga. Bila ada seorang muslim berlaku buruk, memang karena agama Islam mengajarkan keburukan. Tetapi bila ada seorang non-muslim berlaku buruk, maka anggap saja memang sifatnya seperti itu, agama tidak menentukan sifat seseorang.

Demikianlah yang terjadi hingga detik ini. ABI: Asalkan Bukan Islam atau Anything But Islam, telah mendarah daging bagi segenap media untuk menekan umat Islam agar tidak kembali kepada kejayaannya yang terjadi berabad-abad lalu. Dan umat Islam ternyata menikmati saja keadaan ini. 

1 comment:

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com