Wednesday, 15 July 2015

Dzulqarnain Sang Direktur Perubahan

Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulqarnain. Katakanlah: “Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya.”[1]

            Dzulqarnain, salah satu dari beberapa orang shalih non-25 nabi yang secara istimewa disebutkan dalam Al-Qur’an secara gamblang. Selain Maryam binti Imran, Zaid bin Haritsah, Uzair, dan Luqman yang Penuh Hikmah; ada nama Dzulqarnain di sana dan disebutkan beberapa kali. Kisahnya diceritakan dari ayat 83 hingga 98 dalam QS. Al-Kahfi. Rupanya memang istimewa pula ceritanya. Dan kita akan terkagum-kagum pada sosok Dzulqarnain.
            Secara harfiah kata Dzul Qarnayn memiliki arti “Pemilik Dua Tanduk” atau “Ia yang memiliki Dua Tanduk”. “Dzu” (Bahasa Arab: ذو) berarti “pemilik”. Ibnu Katsir membahasnya dalam Al-Bidayah wan Nihayah, dan juga membahasnya sedikit dalam Qishashul Anbiya. Dzul Qarnain adalah seorang raja yang adil nan bijaksana yang telah menjelajahi bumi dari timur hingga ke barat. Ia adalah seorang mukmin penyebar agama Allah, melaksanakan sebab-sebab dalam mencapai tujuannya dan mempunyai banyak keajaiban atas kuasa Allah subhanahu wa ta’ala. Ia mengajak penduduk negeri-negeri yang ditaklukkannya untuk beriman kepada Allah.[2] Beberapa pendapat mengenai etimologi dari kata “Dzul Qarnayn”[3] adalah sebagai berikut:
  • Ia pernah meninggal dan hidup kembali setelah mendapat pukulan tepat di kepala bagian kanan dan kiri.
  • Rancangan tembok besinya memiliki tanduk.
  • Ia bisa melihat dengan jelas di siang hari dan di kegelapan malam.
  • Ia pernah hidup selama dua abad sehingga beliau AS dapat disebut “Dzu al-Qarnayn”
“Qarn” (قرن) berarti: Kekuasaan; wilayah kekuasaannya meliputi wilayah Barat hingga Timur; Kuat; dan Berani. Dzulqarnain adalah sepupu Nabi Khidr ‘alaihissalam dari pihak ibu, hidup sezaman dengan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Nabi Luth ‘alaihissalam. Namun mengenai riwayat kekerabatannya, menjadi perdebatan di kalangan ahli ulama dan sejarah. Dzulqarnain memiliki nama asli Abu Karb Al-Himyari atau Abu Bakar bin Ifraiqisy dari Daulah Al-Jumairiyah (115 SM – 552 M) dan kerajaannya disebut At-Tababi’ah. Menurut Syaikh Abu Bakar al-Jazairi, Dzulqarnain berasal dari Mesir[4]. Dan di dalam catatan yang lain mengisahkan bahwa nama aslinya adalah Mush’ab bin ‘Abdullah keturunan Kahlal bin Saba’. Adapun, mengenai pendapat yang mengatakan Dzulqarnain adalah The Great Alexander, merupakan kekeliruan yang sangat jauh menyimpang. Allahu a’lam.
Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan kisah tentang Dzulqarnain, agar para ahli kitab yang bertanya perihal Dzulqarnain semakin yakin bahwasanya Muhammad benarlah seorang Utusan Terakhir. Selain itu, agar kisah tentangnya menjadi pelajaran bagi siapapun yang hendak belajar. Kisah Dzulqarnain mengandung pelajaran kehidupan yang sungguh tinggi nilainya. Siapapun yang pernah menggebu-gebu membahas agen tentang agent of change –agen perubahan- haruslah belajar darinya. Dzulqarnain bukan sekadar agen perubahan, namun ia lebih layak disebut sebagai direktur perubahan. Jelaslah jabatan direktur lebih tinggi ketimbang hanya sekadar agen.
Kelebihan dari Allah Berupa Sebab Kemenangan
            Dzulqarnain memiliki kelebihan yang dikhususkan oleh Allah kepadanya. Allah memberikan kekuasaan di muka bumi, dan memberi karunia berupa segala sebab atau sarana untuk mencapai segala sesuatu yang dituju oleh Dzulqarnain. “Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi.”[5] Maksudnya, Allah azza wa jalla Memberikan kekuasaan dan memantapkan pengaruhnya di segenap penjuru bumi, dan ketundukan kepadanya. “Dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu, maka diapun menempuh suatu jalan.”[6] Maksudnya, Allah Memberikan sebab-sebab yang menyampaikan kepada kedudukan yang dicapainya itu. Sebab-sebab itu membantunya untuk menaklukkan berbagai negeri, memudahkannya mencapai tempat-tempat yang paling jauh yang didiami manusia. Dia menggunakan sebab-sebab yang telah Allah berikan, sesuai dengan apa yang dibutuhkan.[7] Karena tidak setiap orang yang mempunyai sebuah sebab (untuk mencapai sesuatu), kemudian dia mau menjalaninya. Dan tidak setiap orang pula mempunyai kemampuan untuk menjalani sebab itu. Sehingga, ketika terkumpul antara kemampuan untuk menjalani sebab yang hakiki dan (kemauan) menjalaninya, tercapailah tujuan. Dan bila keduanya -kemampuan dan kemauan- atau salah satunya tidak ada, maka tujuan tidak akan tercapai.
Director of Change
            Dzulqarnain yang diberi kekuasaan oleh Allah, serta segala sebab untuk menggapai sesuatu yang dituju, sangat mudah untuk menjalankan aktivitasnya. Menempuh perjalanan yang singkat antara penghujung timur dan penghujung barat muka bumi. Dimanapun ia singgah, ia akan menaklukkan tempat tersebut dan berhasil menjadikan mereka beriman kepada Allah azza wa jalla. Petualangan pertama –yang dikisahkan dalam QS. Al-Kahfi- Dzulqarnain adalah ke negeri di ujung barat. “Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapat segolongan umat. Kami berkata: “Hai Dzulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.”[8] Ketika singgah di kaum tersebut, Dzulqarnain diberikan keleluasaan oleh Allah untuk berlaku sesuka hatinya. Namun Dzulqarnain lebih memilih untuk memperbaiki keadaan kaum tersebut, dan mengajak mereka semua untuk beriman. Padahal bisa saja Dzulqarnain menaklukkan mereka dan memperlakukan mereka sebagai budak. Tetapi apa yang dipilih oleh Dzulqarnain adalah sebaik-baik pilihan di antara dua pilihan yang Allah tawarkan. “Sungguh beruntung bagi orang yang mensucikannya (memilih jalan kebaikan).”[9]
            Petualangannya pun berlanjut hingga ke bagian bumi sebelah timur. Kaum yang ditemukannya adalah kaum terbelakangan yang tidak memiliki rumah. Atau memiliki rumah tetapi tidak permanen dan tidak memiliki atap. Di tempat ini pula Dzulqarnain lagi-lagi memberikan pencerahan kepada kaum tersebut. Setelah itu Dzulqarnain bersama pasukannya kembali berjalan hingga tiba di antara dua buah gunung dan menemukan suatu kaum primitif.[10] Kaum ini hampir tidak mengerti perkataan manusia pada umumnya ketika pada saat itu.
            Dzulqarnain diberikan sarana keistimewaan oleh Allah berupa kecakapan lisan, sehingga kaum tersebut dapat berkomunikasi dengan Dzulqarnain dengan baik. Kemudian dikeluhkanlah oleh kaum tersebut perihal Ya’juj dan Ma’juj (Gog and Magog) yang meresahkan rakyat sekitar. Lalu diputuskanlah untuk membangun sebuah dinding pemisah antara kaum tersebut dengan Ya’juj dan Ma’juj agar tidak mengganggu penduduk serta berbuat kerusakan di muka bumi. Betapa senangnya kaum tersebut, hingga mereka rela untuk memberi upah kepada Dzulqarnain. Mendengar hal tersebut, Dzulqarnain menolaknya secara halus. Sebab ia bukanlah orang yang cinta harta, tetapi mencintai kebenaran dan beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Apa yang menjadi jawaban Dzulqarnain, adalah sebaik-baik jawaban bagi orang yang membantu saudaranya yang kesusahan; “Apa yang dikuasakan oleh Rabbku kepadaku adalah lebih baik.”[11] Jadilah rakyat kaum tersebut bergotong-royong untuk membantu Dzulqarnain membangun tembok pemisah yang terbuat dari besi tembaga.
            Tembok yang selesai dibangun begitu kokoh dan tinggi. Hingga Ya’juj dan Ma’juj tidak akan sanggup memanjat ataupun melubangi tembok tersebut, hingga waktu yang telah ditentukan. Tembok itu juga menjadi ghaib, sehingga kita tidak mengetahui keberadaannya hingga hari ini. Para ulama dan sejarawan memunculkan pendapat yang berbeda-beda terkait hal ini. Apa yang harus kita yakini adalah bahwasanya tembok itu benar adanya, dan akan hancur sebagai pertanda Hari Kiamat bersamaan dengan meluncurnya Ya’juj dan Ma’juj dari tembok tersebut. “Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, lalu mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.”[12] Pada akhirnya, hanya keimananlah imbalan yang diharapkan oleh Dzulqarnain terhadap kaum tersebut. Tanpa ada rasa jumawa sedikitpun, setelah menyelesaikan pekerjaannya, Dzulqarnain pun berkata, “Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku.”[13]
            Kisah Dzulqarnain yang cukup singkat diceritakan oleh Al-Qur’an seyogianya memberikan pelajaran bagi kita akan sebuah makna yang tinggi dalam kehidupan. Bahwasanya ketika mendapat kekuasaan, haruslah diiringi dengan rasa penuh syukur. Bukan malahs sebaliknya, yakni menyalahgunakan kekuasaan yang kita miliki. Ada beberapa pelajaran tentang director of change yang dapat kita ambil dari kisah Dzulqarnain tersebut. Pertama, kekuasaan adalah karunia dari Allah yang harus disyukuri. Cara bersyukur yang diperlihatkan Dzulqarnain adalah dengan menjadi bermanfaat bagi orang banyak. Menggunakan otoritas dan kekuasaannya untuk melayani rakyat, memperbaiki keadaan manusia yang tidak mendapat kehidupan layak, juga memberi pertolongan bagi siapapun yang membutuhkan tanpa pamrih dan minta pujian. Sebagaimana Sulaiman ‘alaihissalam yang juga mendapat berbagai kenikmatan dan kemudahan dari Allah. Nabi Sulaiman tidak merasa bangga, namun justru merendah dan tetap menginjak bumi. Ia menganggap segalanya adalah pemberian dari Allah yang sewaktu-waktu dapat menguji keimanannya. “Ini termasuk karunia Rabbku untuk menguji aku apakah aku bersyukut ataukah kufur (akan nikmat-Nya).”[14]
            Kedua, kepekaan yang terbangun ketika melihat orang yang kesusahan harus selalu dimiliki oleh siapapun. Terlebih lagi dia adalah seorang pemimpin. Dan Dzulqarnain memiliki hal ini. Dzulqarnain sangat peka terhadap problematika umat yang terjadi. Melihat realita dan kemudian memberikan solusinya yang telah Allah ilhamkan kepadanya. Hari ini, kita banyak sekali melihat aktivis muslim yang justru menambah masalah ketika menawarkan solusi. Terkadang gagal dalam membaca realita, sehingga gagal pula dalam memberikan solusi. Salah satu faktornya adalah karena tidak mencari referensi solusi dari segala permasalahan ke tempat yang benar. Padahal ada Al-Qur’an yang menyediakan solusi bagi setiap permasalahan kehidupan.
            Ketiga, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang cerdas dan baik budi pekertinya. Ketika kedua elemen ini disatukan, maka akan menciptakan ketentraman bagi negerinya. Ditambah lagi, kecerdasannya tersebut haruslah aplikatif, harus dapat memberikan solusi dan kesejahteraan rakyat. Inilah yang dicontohkan oleh Dzulqarnain. Sehingga ketika dirinya dipuji dan dipuji oleh penduduk bumi hingga penduduk langit sekalipun, dirinya tidak lantas menjadi sombong ataupun jumawa. Ia tetap menginjak bumi, tanpa lupa untuk bersyukur dan terus berdakwah, mengajak orang-orang kepada kebenaran dan beriman kepada Allah. Pemimpin yang cerdas tetapi tidak shalih, berpotensi menyalahgunakan kekuasaannya untuk memuaskan hawa nafsunya, sehingga menyengsarakan bangsa. Sebaliknya, pemimpin yang hanya shalih tetapi tidak cerdas, hanya akan memberikan kegamangan dan ketidakstabilan negara. Karena ia tidak dapat memberikan solusi dan inovasi demi kemajuan bangsanya sendiri. Selain itu, dia tidak dapat menularkan keshalihannya kepada seluruh penjuru negeri, karena ketidakcakapannya berpikir dan bertindak cepat dalam memimpin.
            Keempat, direktur perubahan selalu memberikan pengaruh kepada lingkungannya. Dengan pengaruh tersebut, maka pada gilirannya akan menciptakan iklim yang lebih baik dan kondusif ketimbang sebelumnya. Maka kehadiran mereka selalu dinanti. Dzulqarnain senantiasa memberikan pengaruh kepada setiap tempat kaum yang disinggahinya. Ia bukan hanya sekadar penakluk, tapi juga pencerah bagi kaum-kaum yang ditemuinya. Oleh sebab itu, ketika sebuah kaum menerima kedatangannya, bukan kekhawatiran yang mereka rasakan, melainkan harapan besar akan datangnya pembaharuan.
            Kelima, kata adalah tombak, dan bahasa adalah ujung tombaknya. Ketika kata-kata yang kita gunakan tidak menggunakan bahasa yang baik, maka akan sulit dimengerti oleh mereka yang mendengarkan. Maka target dari sebuah pembicaraan justru tidak tercapai. Dzulqarnain mencontohkan bahwasanya bahasa adalah senjata dakwah. Kita dapat diterima oleh masyarakat yang kita datangi apabila kita dapat memahami bahasa yang mereka gunakan, dan kita pun menyampaikan dengan bahasa yang mereka pahami pula. Akan sulit bagi kita diterima masyarakat dengan budaya Jawa yang kental apabila kita menggunakan bahasa dan budaya Minang dalam berdakwah dan menyampaikan ilmu. Maka seorang direktur perubahan, akan mempelajari setiap bahasa yang berkembang dan menggunakannya untuk mencuri hati para obyek dakwah dan pendengarnya.
            Demikianlah hal-hal tersebut dikisahkan oleh Allah. Agar setiap manusia senantiasa berpikir dan mengambil pelajaran dari segala hikmah yang terserak di muka bumi. Dan sebaik-baik kisah adalah kisah yang diceritakan dalam Al-Qur’an. “Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir!”[15]




[1] Al-Kahfi (18): 83.
[2] Ibnu Katsir. Al-Bidayah wa An-Nihayah.
[3] Ibnu Katsir. Qishashul Anbiya.
[4] Abu Bakar Jabir al-Jazairi. Tafsir al-Aisar.
[5] Al-Kahfi (18): 84.
[6] Al-Kahfi (18): 84-85.
[7] Abdurrahman As-Sa’di. Taisir Al-Karimirrahman.
[8] Al-Kahfi (18): 86.
[9] Asy-Syams (91): 9.
[10] Para ahli tafsir mengatakan bahwa ia berjalan dari negeri timur ke arah utara.
[11] Al-Kahfi (18): 95.
[12] Al-Anbiyaa (21): 96.
[13] Al-Kahfi (18: 98.
[14] An-Naml (27): 40.
[15] Al-A’raaf (7): 176.

0 comments:

Post a Comment

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com