Monday, 20 July 2015

Generasi Terlaknat

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang buruk) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.”[1]

            Generasi yang kuat adalah hasil didikan yang baik dari generasi sebelumnya. Sebaliknya, generasi yang lemah adalah karena gagalnya generasi sebelumnya dalam mempersiapkan generasi setelahnya dengan pelbagai pendidikan dan pengajaran. Generasi adalah aset berharga yang harus dipelihara dan dibentuk agar dapat melanjutkan keberhasilan generasi-generasi sebelumnya. Atau apabila generasi sebelumnya tidak dapat dikatakan baik, maka seharusnya generasi selanjutnya melakukan perbaikan.
            Tugas sebuah generasi selain berkarya dan melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya adalah mendidik generasi setelahnya, agar siap menyongsong masa depan. Nyatanya, ini bukanlah tugas yang mudah. Tidak semua orang yang sukses berhasil mendidik anaknya untuk menjadi sukses pula. Banyak sekali da’i yang memiliki keturunan durjana, orang kaya yang anaknya justru hidup di bawah garis kemiskinan, orang cerdas yang anaknya tidak naik kelas, orang baik yang anaknya justru menjadi bad boy, bahkan seorang nabi yang mempunyai anak durhaka. Sebaliknya, banyak pula seorang durjana yang mempunyai anak shalih, orang miskin yang mempunyai anak kaya raya, orang bodoh yang mempunyai anak cerdas, bahkan seorang yang musyrik mempunyai anak seorang nabi. Tergantung bagaimana cara mendidiknya, atau lingkungan hidupnya. Karena bisa jadi anak-anaknya tidak terdidik di rumah, tetapi lingkungan hidupnya yang justru memberikan pendidikan kepadanya.
            Telah sampai kepada kita kisah-kisah umat terdahulu. Kisah-kisah yang memuat tentang generasi-generasi penerus yang buruk dan terlaknat. Kita pernah mendengar tentang peristiwa pembunuhan saudara kandung yang dilakukan oleh putra Nabi Adam kepada putranya yang lain. Putra Nabi Nuh tak kalah menghebohkan; tatkala banjir telah melanda, dan bahtera Nuh mulai berlayar, putranya yang bernama Qan’an malah enggan menaiki bahtera dan ingin berjuang sendiri tanpa pertolongan Allah. Kaum-kaum setelahnya justru lebih buruk lagi; Kaum ‘Ad, Kaum Tsamud, dan Kaum Nabi Luth yang mendurhakai Allah sehingga diturunkan azab kepada mereka yang lantas memusnahkan mereka secara keseluruhan. Kaum pilihan Allah, Bani Israil pun tidak jauh berbeda. Ketika mereka ditinggal oleh Nabi Musa ‘alaihissalam selama empat puluh hari, mereka menuruti Samiri untuk menyembah patung anak sapi. Padahal ada Nabi Harun ‘alaihissalam yang memberi peringatan ketika itu.
            Setiap zaman memiliki tantangan yang berbeda. Bila kemarin tantangan zaman adalah lemahnya umat Islam karena kristenisasi yang dilakukan misionaris, hari ini adalah penyebaran pemikiran yang perlahan menjauhkan kita dari Islam. Agama tetap Islam, tetapi pikiran, akhlak, dan perilaku justru bukan Islam sama sekali. Apabila kita malah acuh tak acuh terhadap kenyataan ini, maka kita akan menjadi korban dari isme-isme yang ada. Apabila kita tidak menjadi korban, berarti generasi setelah kita-lah yang akan menjadi korban selanjutnya. Inilah yang membuat kita harus mempersiapkan generasi.
Generasi Rabbani
            Jikalau kita gagal dalam mendidik generasi penerus, maka generasi penerus kita terancam merusak tatanan yang sudah ada, sebagaimana yang disebutkan dalam QS. Maryam: 59. Maka penting sekali untuk menciptakan Generasi Rabbani. Rabbani diambil dari kata dasar “rabb” yang artinya Tuhan, yakni Allah. Rabbani berarti orang yang memiliki sifat yang sangat sesuai dengan kehendak Allah. Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib menyebutkan bahwa Generasi Rabbani adalah generasi yang memberikan sajian rohani bagi manusia dengan ilmu (hikmah) dan mendidik mereka atas dasar ilmu. Sementara Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menerangkan bahwa rabbani itu adalah orang yang berilmu dan mengajarkan ilmunya. Maka Generasi Rabbani adalah generasi yang (1) berilmu dan memiliki pengetahuan tentang Al-Qur’an dan as-Sunnah, (2) mengamalkan ilmu yang telah dipelajarinya, dan (3) mengajarkannya.
            Mendidik masyarakat dan generasi penerus untuk menjadi Generasi Rabbani adalah tugas setiap kita, setiap orang muslim dan mukmin. Al-Qur’an mengajarkannya dalam beberapa tempat. Salah satunya “Wahai orang-orang yang beriman, lindungilah diri kalian dan keluarga kalian dari neraka...”[2] Ini perintah yang jelas sekali wajib dilaksanakan oleh orang-orang beriman. Agaknya penting untuk dapat dibahas di sini tentang metode mewujudkan Generasi Rabbani: Pertama, Ajari mereka untuk bertauhid. Al-Qur’an menceritakan tentang wasiat yang disampaikan Nabi Ya’qub ‘alaihissalam ketika hampir meninggal dunia, Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”[3] Ayat ini mengajarkan kepada kita satu prinsip penting tentang penanaman aqidah kepada keluarga.
Kedua, ajarilah mereka melaksanakan shalat dengan benar. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perintahkanlah anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia 7 tahun. Dan pukullah mereka untuk dipaksa shalat, ketika mereka berusia 10 tahun.”[4] Pada asalnya hukum shalat tidak wajib bagi anak-anak. Akan tetapi, Ibnu Hajar al-Atsqalani pernah menjelaskannya dalam Fathul Bari’, bahwa ketika ada seorang anak  meninggalkan shalat, sementara orang tuanya tidak memerintahkannya atau memaksanya maka si anak tidak berdosa, namun orang tuanya telah melanggar kewajiban. Karena dirinya wajib untuk memerintahkan anaknya agar melaksanakan shalat.
Ketiga, beri peringatan keras atau ancaman apabila melakukan maksiat. Tujuannya adalah agar anak tidak berani melawan orang tua, atau istri melawan suami. Salah satu ajaran Rasulullah adalah memberikan semacam rambu-rambu di rumah, agar anggota keluarga segera mengingat azab dan menjauhi maksiat. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Gantunglah cemeti di tempat yang bisa dilihat penghuni rumah. Karena ini akan mendidik mereka.”[5]
Keempat, banyak berdoa demi kebaikan keluarga. Salah satunya adalah doa Nabi Ibrahim Khalilullah dalam mendoakan generasi penerusnya. Tak ayal, Nabi Ibrahim menjadi bapak bagi para nabi. Kedua anaknya –Isma’il dan Ishaq- menjadi nabi, dan dari mereka lahirlah nabi-nabi setelahnya. Allah menakdirkan seluruh nabi setelah Nabiyullah Ibrahim adalah dari keturunannya. “Ya Allah, jadikanlah diriku dan keturunanku orang yang bisa menegakkan shalat. Ya Allah, kabulkanlah do’a.”[6]
Nabi Nuh ‘alahissalam juga pernah berdoa untuk kebaikan keluarganya. Ini dapat kita praktikkan dalam doa kita. “Ya Allah, ampunilah diriku, kedua orang tuaku. Ampunilah setiap orang yang masuk rumahku dalam keadaan beriman, dan kepada seluruh orang mukmin laki-laki maupun perempuan.”[7] Allah juga mengajarkan, diantara doa orang mukmin adalah, “Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”[8] Selain itu, kita dapat mempersiapkan generasi selanjutnya dengan banyak belajar dari pesan Luqmanul Hakim yang termaktub dalam QS. Luqman dari ayat 12 hingga ayat 19.
Demikianlah, menjadi tugas kita untuk mendidik generasi selanjutnya menjadi Generasi Rabbani. Agar tidak terlahir generasi buruk nan terlaknat yang justru menciptakan perpecahan dan kerusakan di muka bumi. Tentunya, kebaikan adalah impian setiap manusia, dan untuk itulah Al-Qur’an menjelaskan segala yang berhubungan dengan kehidupan manusia, agar kita dapat belajar darinya dan hidup dalam kebaikan.




[1] Maryam (19): 59.
[2] At- Tahrim: 6.
[3] Al-Baqarah (2): 133.
[4] HR. Abu Dawud.
[5] HR. Thabrani.
[6] Ibrahim (14): 40.
[7] Nuh: 28.
[8] Al-Furqan (25): 74.

0 comments:

Post a Comment

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com