Thursday, 23 July 2015

Ketika Al-Qur’an ‘Dicuri’ Ant-Man



Jenius. Sebuah kata yang tepat untuk menggambarkan garapan serius film gawean Marvel besutan sutradara Peyton Reed, Ant-Man. Film ini menceritakan Scott Lang (Paul Rudd) yang frustrasi akibat sempat menjadi narapidana, tak ada satupun tempat kerja yang mau merekrutnya. Percaya diri karena dirinya adalah seorang Sarjana Teknik Listrik, gerai fast food Baskin-Robbins pun menolaknya karena perangainya yang dinilai buruk. Padahal, dia memiliki tanggung jawab tunjangan putrinya, Cassie yang kini tinggal bersama ibunya dan tunangannya yang berprofesi sebagai polisi.

Putus asa, Scott kembali ke profesi awalnya sebagai pencuri. Targetnya, rumah milik ilmuwan jenius dan miliarder Hank Pym (Michael Douglas). Namun, apa yang ia temukan di sana bukanlah harta sebagaimana yang diinginkannya, melainkan sebuah kostum superhero merah-hitam yang dikiranya justru pakaian safety penunggang sepeda motor. Selanjutnya, Anda bisa tonton sendiri. Karena tulisan ini bukanlah sekadar me-review (calon) film sukses Hollywood tersebut.
Saya sungguh tergelitik dan terkagum-kagum ketika melihat bagaimana sesosok semut dapat disulap menjadi begitu spesial. Pelbagai jenis semut, nama ilmiah, serta spesifikasinya disebutkan dalam film tersebut. Alasan lain yang membuat semut diangkat menjadi tema pahlawan super adalah kekuatan dan kesolidannya dalam bekerja. Semut mampu mengangkat beban yang 50 kali lebih berat beban tubuhnya sendiri. Dan kelebihan-kelebihan ini diangkat dengan sangat cantik dalam film Ant-Man, sehingga kita menganggap bahwa semut memang benar-benar hewan yang luar biasa hebatnya. Semut bukanlah pengganggu sebagaimana yang dianggap oleh sebagian orang.
Di sisi lain, saya langsung teringat dengan Al-Qur’an. Di antara surat-suratnya yang berjumlah 114 buah, salah satunya bernama Semut. Surat ke-27 dalam Al-Qur’an dinamai An-Naml yang berarti semut, dikarenakan ada dua ayat di dalamnya yang menyebutkan tentang semut.
Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”, maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdo’a: “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni’mat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu-bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.[1]
Syahdan, justru miris yang terasa dalam hati, manakala hikmah dalam Al-Qur’an ini justru diangkat oleh orang yang tak berkitab Al-Qur’an. Semut, yang di dalam Al-Qur’an disebutkan sebagai hewan yang dapat diajak bekerjasama, taat pada pimpinan, dan mengerti adab serta tata krama ini justru jarang sekali digubris oleh umat Islam. Pembuktian-pembuktian yang dilakukan oleh para ilmuwan, tak terkecuali ilmuwan muslim sekelas Harun Yahya, justru seakan tidak membekas dalam hati umat Islam untuk bersatu padu melawan kemalasan untuk menumpas kebatilan. Padahal, setiap hal yang Allah sebutkan dalam kitab-Nya, selalu menyimpan hikmah yang sangat berharga, tak terkecuali makhluk kecil bernama semut. Hikmah yang Allah tebar, justru telah lebih dulu disambar oleh pihak Hollywood.
Berkaitan dengan hikmah, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah memberikan tanggapannya: “Andaikata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah. Namun akal kita sangat terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia di bawah sinar matahari. Dan ini pun hanya kira-kira, yang sebenarnya tentu lebih dari sekedar gambaran ini.”[2]
Menariknya, Alkitab pun mengangkat semut sebagai hewan yang dapat memberikan pelajaran dan tamparan bagi para pemalas. Barangkali, mereka mengangkat superhero Ant-Man justru karena terinspirasi dari sana.
“Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen. Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? “Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring”, maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.”[3]
Film Ant-Man benar-benar mengangkat derajat semut. Film ini dapat memberi kabar kepada kita, bahwasanya semut adalah hewan yang dapat diorganisasi dengan baik, dan memberikan manfaat, bukan mudharat. Seperti halnya manusia yang mempunyai berbagai kemampuan berbeda-beda, semut pun demikian. Ketika Scott Lang bertanya apa yang dibutuhkan oleh semut-semut yang tangguh tersebut, Hank Pym dengan yakin menjawab, “Mereka butuh pemimpin.” Ya, mereka butuh pemimpin agar bekerja secara terorganisasi dan mampu menggapai tujuannya. Demikian halnya manusia, ketika masing-masing mengedepankan egonya dan merasa dirinyalah yang paling hebat, maka yang terjadi adalah kehancuran. Namun apabila manusia-manusia tersebut mempunyai satu pemimpin yang amanah, kompeten, dan cerdas; maka mereka akan bersatu mengenyahkan segala perbedaan untuk menggapai satu tujuan. Namun, adakah kita dapat mengambil pelajaran? Sayangnya, pelajaran ini justru diambil dan diangkat oleh proyek besar zionis bernama Hollywood. Umat Islam akan terus terpuruk, manakala tidak dapat mengambil pelajaran sekecil apapun dari segenap peristiwa yang terjadi serta tanda-tanda kekuasaan Allah berupa qawliyah maupun kauniyah. Dan Scott Lang dalam film tersebut, sangat mampu mengadopsi pelajaran dari Nabi Sulaiman alayhissalam; yakni mengatur pasukan dari berbagai macam spesies makhluk hidup dengan bahasa mereka masing-masing dan sesuai kemampuan mereka masing-masing.
Apabila saya ditanya, mengapa membantu menyukseskan proyek zionis dengan menonton film Hollywood? Lebih-lebih menontonnya langsung di bioskop yang keuntungannya tidak jelas juntrungannya akan didistribusikan kemana. Jawaban saya; Saya tidak ingin naif. Mayoritas film Hollywood –untuk tidak dikatakan seluruhnya, jelas lebih memberikan nilai plus ketika ditonton ketimbang film-film produksi Indonesia. Selain memberikan hiburan, film-film Hollywood memberikan kita banyak pelajaran dan inspirasi terutama dalam hal makna kehidupan. Meskipun mereka melancarkan pelbagai propaganda yang tersembunyi dalam film-filmnya. Ketimbang saya harus menonton film-film atau sinetron (yang menjual nama) Islam, dan nyatatanya saya harus membayar mahal akan hal itu. Tampilannya Islam, tetapi esensinya malah melemahkan Islam. Bukannya pesimis, tetapi itulah yang banyak terjadi di lapangan. Film yang dikemas islami tetapi menampilkan adegan bersentuhan lawan jenis yang bukan mahram, berperilaku dengan adab-adab yang tidak islami, ataupun film tersebut justru bukan diperankan oleh orang Islam. Jelasnya, haruskah umat Islam menonton film bertema “Assalamu’alaykum” tetapi tidak menampilkan makna luhur dari “Assalamu’alaykum” sama sekali? Haruskah umat Islam menonton sinetron yang mengangkat pedagang kecil menunaikan ibadah rukun Islam  yang kelima tetapi tidak memberikan nilai-nilai luhur rukun Islam sama sekali?
Pesan saya kepada para sineas muslim; please, do something! Kami selalu menunggu sajian-sajian film atau sinetron berkelas yang menaikkan derajat umat Islam, memberikan hikmah, pelajaran, serta menampilkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ajaran Islam. Jangan sampai terjadi lagi ketika hikmah kita dicuri orang. Jangan biarkan anak-anak kalian dan anak-anak saya kelak, lebih gandrung menonton sembari diracuni film Hollywood, ketimbang menonton film islami sembari mengambil pelajaran dari Al-Qur’an.


[1] An-Naml (27): 18-19.
[2] Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Syifa-ul Alil fi Masaail Qadha wal Qadar wa Hikmah wa Ta’lil.
[3] Amsal (6): 6-11.

3 comments:

  1. Tapi mas,
    Ant-Man itu karakter lama. basisnya dari komik -> film.
    jadi sebetulnya pukulannya sudah lama, tapi efeknya baru terasa sekarang.

    Perihal do something,
    ya minimal karya yang udah ada diapresiasi, biar bisa bikin yang lebih bagus lagi. PR umat Islam saya rasa itu sekarang. Karena masih banyak dari kita yang mengapresiasi negatif film2 Islami. yang dilihat selalu saja cela-nya.

    ReplyDelete
  2. Kami sudah do something di Film Ketika Mas Gagah Pergi the Movie, dan insya Allah film2 berikutnya.... Ditonton ya?

    ReplyDelete

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com