Friday, 10 July 2015

Persiapkanlah Apa yang Kau Miliki!

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu serta orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, sedangkan Allah Mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan di jalan Allah niscaya dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Anfaal: 60).
            Hari ini, kita melihat banyak sekali kemaksiatan hampir setiap kita melangkah keluar rumah. Bahkan dengan hanya duduk di rumah pun kita dapat melihat kemaksiatan. Anehnya kemaksiatan ini ada yang memfasilitasi dan konsumennya rela membayar untuk itu. Media-media yang semakin mudah kita akses mulai dari media cetak, televisi, hingga yang paling mudah kita akses, yakni internet. Sedemikian mudahnya bagi siapapun di era sekarang untuk menikmati panggung kemaksiatan tanpa gangguan dari  pihak manapun.

            Hari ini, kita melihat banyak sekali racun-racun dan virus-virus yang menjangkiti umat Islam, khususnya bagi para remaja dan anak-anak. Bahkan orang tua pun terkena virus tersebut. Hingga apabila kita tidak waspada terhadap racun dan virus tersebut, kita pun harus rela menjadi korbannya yang kesekian. Racun-racun dan virus itu bukanlah menjangkiti jasmani kita, tetapi juga pikiran hingga rohani kita. Paham liberalisme dan isme-isme lain yang sama bahayanya, telah merasuki relung-relung kehidupan masyarakat muslim dewasa ini. Bahkan mereka memasuki peredaran darah masyarakat, hingga bersemayam di sekolah-sekolah dan kampus-kampus ternama. Anak-anak, saudara-saudara kita, mereka berada di sana dan terancam oleh virus-virus paham berbahaya tanpa mereka sadari. Apabila kita tidak waspada dan mengingatkan mereka, maka mereka akan menjadi musuh kita dan musuh Allah di kemudian hari. “Wahai orang-orang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah terhadap mereka!” (QS. At-Taghabun: 14).
            Hari ini, kita melihat saudara-saudara kita di Palestina, Suriah, Thailand, Myanmar, dan negeri-negeri lainnya yang terdapat muslim tertindas di sana. Mereka seakan tidak lagi memiliki harapan untuk dibantu. Yang ada dalam benak mereka hanyalah melawan kezaliman semampu mereka. Usaha yang tak kenal lelah, doa yang tak pernah putus menjadi senjata andalan mereka melawan musuh-musuh Allah. Hanya itu yang dapat mereka kerahkan. Satu hal yang mereka pahami; bahwa Allah itu dekat, dan pertolongan Allah akan selalu datang kapanpun dan dimanapun.
            Hari ini, penggembosan terhadap generasi penerus bangsa terus digencarkan. Pornografi, narkoba, kekerasan, dan pelecehan seksual seakan tiada habisnya. Narkoba meraibkan masa depan generasi penerus bangsa. Mereka menjadi orang-orang yang berjalan tanpa arah. Pornografi merusak pikiran dan moral para pemuda, bahkan anak-anak. Mereka tak dapat berkonsentrasi dan berpikiran dengan jernih disebabkan adegan-adegan yang seharusnya tak mereka lihat terus menghantui pikiran-pikiran polos mereka. Belum lagi pelecehan seksual di masa kanak-kanak dan remaja yang mengubah orientasi seksual mereka ketika dewasa. Sehingga melakukan dan menghalalkan penyimpangan yang berabad-abad lalu telah dilakukan oleh kaum Nabi Luth ‘alaihissalam.
            Hari ini, jurang menganga di depan mata kita. Konspirasi internasional yang menggurita telah melilit bangsa kita dan mendorongnya menuju jurang tersebut. Lilitan utang yang justru semakin ingin dibudayakan oleh pemegang kekuasaan, watak rakus para birokrat, dan jajaran penegak hukum yang menghapus kata ‘adil’ dalam kamus mereka semakin menjadikan bangsa ini demikian terpuruk. Hampir di setiap lini bangsa ini digembosi. Lini ekonomi, lini hukum, lini olahraga, lini informasi dan teknologi, hingga lini kebebasan berpendapat mulai dikungkung di negeri ini. Sayang sekali hanya segelintir warga negara yang sadar akan hal ini. Dari beberapa yang sadar, hanya segelintir yang mau bergerak memerhatikan. Dari sekian yang bergerak memerhatikan, hanya segelintir yang bergerak untuk mengubahnya ke arah yang lebih baik. Hanya segelintir, dan entah kita berada pada posisi yang mana.
            Hari ini, kemalaratan menjadi hal yang lumrah di negeri kita. Padahal tak dipungkiri, orang bilang tanah kita tanah surga. Bahkan menanam tongkat kayu saja dapat menjadi tanaman yang menghasilkan sesuatu untuk dikonsumsi dan nyatanya baik untuk kesehatan. Namun sayang seribu sayang, kemiskinan seolah enggan angkat kaki dari tanah negeri ini. Entah siapa yang salah, karena hingga detik ini pun kita mendapatkan hampir semua pihak saling menyalahkan. Sedikit sekali yang mengajak duduk bersama dan menyelesaikannya secara perlahan. Paradigma “yang penting saya dan anak-cucu saya sejahtera” membuat negeri ini makin terpuruk dan jatuh miskin walau dikelilingi oleh emas dan berlian.
            Hari ini, apa yang akan kita lakukan? Kita tahu media-media mainstream menawarkan racun kenikmatan dunia dan memberikan berita-berita yang di luar nalar obyektif. Akan tetapi kita hanya pasrah pada keadaan, sambil membiarkan anak-anak kita menikmati tontonan-tontonan hasil karya zionis yang mendidik mereka menjadi teroris sesungguhnya. Kita mungkin akan beralih pada media-media yang berafiliasi kepada Islam, akan tetapi hal itu terkadang membuat kita tidak berimbang dan serampangan menuduh siapapun yang memiliki pikiran berbeda dengan kita sebagai musuh dan tak dapat dipercaya.
            Hari ini, kita apa yang akan kita lakukan? Kita memang memahami virus liberalisme itu berbahaya, tetapi kita hanya bisa mengutuknya dan memaki-memaki antek-antek liberal dengan sebutan-sebutan yang tidak manusiawi. Padahal Islam mengajarkan kita untuk duduk berdiskusi untuk menggapai kata mufakat. Padahal Islam mengajarkan kita untuk membalas suatu hal dengan suatu hal yang setimpal, membalas karya dengan karya, tulisan dengan tulisan, film dengan film, A dengan A, B dengan B, hingga Z dengan Z. Islam tidak mengajarkan membalas pendapat dengan cemoohan, karya dengan cibiran, tulisan dengan hinaan, film dengan sumpah serapah, A dengan C, B dengan D, atau Z dengan S. Tidak sama sekali!
            Hari ini, apa yang akan kita lakukan? Duduk diam mendengarkan segala berita tersebut dan hanya berucap “prihatin” tanpa melakukan apa-apa? Kita seringkali menonton wajah korban perang di Palestina, Suriah, dan negeri-negeri konflik dimana umat Islam menjadi sasaran kezaliman dengan tangis kesedihan sembari mengutuk rezim kezaliman dengan sumpah serapah. Tetapi setelah tontonan tersebut usai, kita bisa dapat melupakannya dan tertawa gembira lagi bersama sanak-famili dan kolega. Kita makan makanan bergizi, meminum minuman segar tanpa mengingat saudara kita yang harus memakan sampah dan minum air seni sendiri.
            Hari ini, seharusnya kita bisa melakukan sesuatu. Apapun itu, yang penting memberi kemajuan meskipun hanya sejengkal. Persiapkan apapun yang dapat kita persiapkan untuk menghadapi musuh-musuh kita demi kejayaan Islam. Mungkin smartphone yang kita genggam, laptop yang berdiam di meja kerja kita, uang yang mengendap di tabungan kita, perabot rumah tangga, hingga diri kita sendiri. Apapun yang kita miliki, gunakanlah untuk kemajuan agama. Berbuatlah sekecil apapun, mulai saat ini, mulai dari diri sendiri.

            “Hai orang-orang beruman, maukah kau kutunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Ash-Shaff: 10-11).

0 comments:

Post a Comment

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com