Monday, 10 August 2015

Mencari Kebaikan yang Sempurna (Makna Lagu Cublak-Cublak Suweng)

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”[1]
Sebagian besar manusia berlomba-lomba menggapai kesenangan hidup. Mereka mencari harta, mencari tahta, mencari penghargaan dari orang lain, mencari apapun yang sifatnya duniawi untuk kesenangan yang sesungguhnya hanya sesaat. Namun adakalanya mereka merasa bosan dengan apa yang telah mereka raih. Tak jarang mereka bingung akan digunakan untuk apa harta yang sedemikian banyak yang mereka miliki. Celakanya, ketika seseorang bingung di atas tahta kekuasaannya. Amanah yang dipercayakan kepadanya, justru disalahgunakan. Hal ini terjadi, oleh sebab mereka belum menggapai kebaikan yang sempurna.
            Kebaikan yang sempurna, akan melahirkan kepuasan yang sempurna. Tentunya kepuasan dalam Islam, bukanlah seperti kepuasan yang diterangkan oleh para ahli ekonomi konvensional. Kepuasan yang hakiki adalah kepuasan yang memberi ketentraman kepada hati, jiwa, dan raga. Apabila hati tidak merasa terpuaskan, maka ia belum mendapatkan kepuasan yang sempurna. Orang yang bingung ketika hartanya banyak, atau jabatannya sudah semakin tinggi, ialah orang yang belum mendapatkan kepuasan sempurna. Jika kepuasan sempurna belum didapat, maka yang terjadi adalah kekosongan jiwa, dan melemahnya fisik. Maka banyak sekali kita melihat para konglomerat yang jatuh sakit dan tidak kunjung sembuh. Juga dapat kita lihat negara-negara yang dicap sebagai negara maju. Penduduknya sejahtera dan mayoritas hidup jauh di atas garis kemiskinan. Namun, memiliki tingkat bunuh diri yang tinggi.
            Tak jauh berbeda dengan orang kaya yang bingung bagaimana menggunakan hartanya, kepuasan yang tidak sempurna pun dirasakan para pejabat yang jauh akhlak islami. Akhirnya mereka menyalahgunakan jabatannya, dan hasilnya seperti yang banyak terjadi hingga sekarang; Tindak Pidana Korupsi yang tak kunjung berkurang. Lagi-lagi penyebabnya adalah karena mereka belum pernah mencapai kepuasan yang sempurna. Dan kepuasan tersebut hanya akan didapat apabila kita melakukan kebaikan yang sempurna.
            Kebaikan yang sempurna, disebut dengan istilah Al-Birr. Birr artinya kebajikan. Kata ini terdapat di delapan tempat dalam Al Qur’an. Beberapa di antaranya ialah dalam QS. Al-Baqarah: 44, 177, 189; QS. Ali-Imran: 92; QS. Al-Maidah: 2, dan QS. Al-Mujadilah: 9. Al-Birr inilah yang seharusnya dikejar oleh setiap muslim, bahkan mungkin seluruh manusia. Karena ketika seseorang meraih Al-Birr, maka orang tersebut dapat memuaskan dirinya dari segala aspek. Baik aspek rohani, jasmani, maupun ketentraman hati. Lain halnya dengan orang yang tidak tahu-menahu akan adanya Al-Birr. Maka yang terjadi adalah seperti yang dipaparkan sebelumnya, mereka justru memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis.
            Jauh-jauh abad sebelum milenium, Raden ‘Ainul Yaqin sudah memberikan ajaran luhur tentang mengejar Al-Birr dalam syiar-syiarnya. Lagu Cublak-Cublek Suweng yang masih kita kenal hingga saat ini, adalah Magnum Opus dari seorang ‘alim yang jauh lebih dikenal dengan sebutan Sunan Giri ini. Memang telah banyak tulisan-tulisan yang memaparkan makna dari lagu tersebut. Namun saya rasa perlu untuk mengangkat kembali tentang lagu ini yang dipandang sebagai cara dakwah yang menghormati kearifan lokal, di tengah-tengah maraknya isu Islam Nusantara.
            Berikut ini lirik lagu Cublak-Cublak Suweng beserta makananya yang saya ambil dari berbagai sumber:
1. Cublak-cublak suweng
Cublak Suweng = tempat Suweng. Suweng adalah perhiasan perempuan Jawa. Jadi, Cublak-cublak suweng, artinya adalah tempat harta berharga; yakni Suweng (Suwung, Sepi, Sejati) atau Harta Sejati.
2. Suwenge teng gelenter,
Suwenge Teng Gelenter = suweng-nya berserakan. Harta Sejati itu berupa kebahagiaan sejati sebenarnya sudah ada berserakan di sekitar manusia.
3. Mambu ketundhung gudel
Mambu (baunya) Ketundhung (dituju) Gudel (anak Kerbau). Maknanya, banyak orang berusaha mencari harta sejati tersebut. Bahkan orang-orang bodoh (diibaratkan Gudel) mencari harta itu dengan penuh nafsu ego, korupsi dan keserakahan, tujuannya untuk menemukan kebahagiaan sejati.
4. Pak empo lera-lere
Pak empo (bapak ompong) Lera-lere (menengok kanan kiri). Orang-orang bodoh itu mirip orang tua ompong yang kebingungan. Meskipun hartanya melimpah, ternyata itu harta palsu, bukan Harta Sejati atau kebahagiaan yang sempurna. Mereka kebingungan karena dikuasai oleh hawa nafsu keserakahannya sendiri.
5. Sopo ngguyu ndheli’ake,
Sopo ngguyu (siapa tertawa) Ndhelikake (dia yg menyembunyikan). Menggambarkan bahwa barang siapa bijaksana, dialah yang menemukan Tempat Harta Sejati atau kebahagian yang sempurna. Dia adalah orang yang tersenyum gembira dalam menjalani setiap keadaan hidup, sekalipun berada di tengah-tengah kehidupan orang-orang yang serakah.
6. Sir-sir pong dele kopong,
Sir (hati nurani) pong dele kopong (kedelai kosong tanpa isi). Artinya di dalam hati nurani yang kosong. Maknanya bahwa untuk sampai kepada Tempat Harta Sejati (Cublak Suweng) atau kebahagiaan yang sempurna, orang harus melepaskan diri dari kecintaan pada harta benda duniawi, mengosongkan diri, rendah hati, tidak merendahkan sesama, serta senantiasa memakai rasa dan mengasah tajam Sir-nya / hati nuraninya. Dan penelitian ilmiah sudah membuktikan bahwa kedelai mengandung kandungan gizi yang sangat tinggi manfaatnya.

Kesimpulannya adalah setiap manusia dalam mencari kebahagiaan yang sempurna, hendaklah tidak serakah dan terus menerus menghidupkan ibadah yang wajib dan sunnah agar hatinya senantiasa bersih dan ikhlas dalam menjalani hidup. Apabila manusia menjalani hidup dengan hanya terfokus pada harta dunia dan mengabaikan nilai-nilai budi pekerti yang luhur, mereka akan kehilangan tujuan sejati dalam hidup, yakni akhirat yang kekal. Dan hidup mereka di dunia, akan banyak melakukan maksiat dan dosa, sebagaimana yang telah dipaparkan di atas. Maraknya bunuh diri dan korupsi, adalah salah satu dari sekian banyak akibat dari kotornya hati dalam menjalani hidup. Lagu Cublak-Cublak Suweng ini, mengingatkan kita bahwasanya kita harus melakukan Al-Birr agar tidak terjerumus kepada kemaksiatan dan kesesatan dikarenakan kebodohan kita yang membabi-buta mencari harta dunia.
“Al-Birr itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, akan tetapi sesunguhnya Al-Birr itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”[2] Demikian Al-Qur’an memerintahkan kita untuk mengaplikasikan Al-Birr. Contoh praktis lainnya adalah seperti yang diterangkan dalam ayat yang menjadi pembuka pembicaraan ini, yakni dalam QS. Ali-Imran (3): 72.
Banyak pelajaran yang diberikan oleh leluhur bangsa lewat syiar-syiarnya dalam bentuk yang beraneka-ragam. Namun terkadang kita yang enggan mencari tahu tentang kesenian yang disyiar-kan tersebut, malah hari ini banyak yang disalahgunakan. Seperti lagu Lingsir Wengi yang kini justru banyak diketahui para pemuda sebagai lagu pemanggil hantu mitos Kuntilanak. Amat sangat perlu bagi kita untuk terus melestarikan budaya-budaya dakwah Nusantara. Dakwah yang dilakukan para ulama Nusantara di masa awal dan membuat orang-orang awam justru sangat tertarik kepada Islam. Karena dakwah Islam adalah mengajak, bukan memaksa. Islam meluruskan bukan menghakimi. Hal ini sangat penting, terlebih bagi mereka yang sepakat dengan gagasan Islam Nusantara yang semakin tidak jelas juntrungannya. Karena semakin banyak cendekiawan yang menafsirkan sendiri makna dari Islam Nusantara.

Hari ini, kita melihat para pemuda Indonesia lebih gandrung bersenandung lagu Korea dan berpakaian ala-barat yang justru terlihat semakin ala-kadarnya. Entah di generasi setelah saya, anak-anak masih mengenal Cublak-Cublak Suweng, permainan congklak, petak umpet, dan segenap permainan lain ataukah mereka hanya duduk menunduk memainkan gadget pemberian orangtuanya.

[1] Ali-Imran (3): 92.
[2] Al-Baqarah (2): 177.

3 comments:

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com