Saturday, 26 September 2015

Seteguh Ibrahim, Setaat Isma’il, dan Setegar Sarah

Mustahil rasanya apabila di dunia ini terdapat keluarga yang lebih bahagia ketimbang keluarga yang dimiliki oleh Ibrahim ‘alaihissalam. Bukan karena keluarganya bergelimang harta, atau anak yang berjumlah banyak, atau bahkan mendapatkan penghargaan dari masyarakat sekitar. Namun yang membuat keluarga ini sedemikian bahagia ialah naungan berkah dan limpahan hidayah yang tiada kenal henti dari Sang Khaliq.
            Ibrahim ‘alaihissalam. Seorang nabi yang mendapat julukan “Bapaknya Para Nabi” mengalami perjalanan kariernya sebagai nabi dengan begitu sukses. Sejak awal hidupnya telah memiliki keberanian yang dipadu dengan kecerdasan intelektual yang mumpuni. Sehingga terpatri sebentuk mental pemenang untuk mengibarkan kebenaran di bumi Babilonia. Keyakinan ayahnya yang keliru berusaha diluruskan olehnya. Sehingga ketika dirinya terlalu gemas dengan kebodohan masyarakat yang menyembah berhala, ia bergegas pergi menghancurkan barisan berhala-berhala yang dibuat sendiri oleh penyembahnya. Sontak, masyarakat penyembah berhala terperanjat melihat berhala-berhala centang-perenang di depan hidung mereka. “Siapa yang melakukannya?” kecam si tokoh masyarakat. Dengan tenang, Ibrahim menjawab, “Tanyakan saja pada yang paling besar itu,” sembari menunjuk berhala yang paling besar dengan kapak yang terkalung di lehernya. Tidak cukup sampai di situ, bahkan ia beradu kecerdasan dengan Penguasa Babilon ketika itu; Namrud. Nasib Ibrahim hampir tragis ketika dirinya harus diarak dan dibakar dengan api yang sangat besar. Namun, Tuhannya selalu bersamanya. Dia-lah yang memberikan rahmat kepadanya, Dia-lah yang memberikan makan untuknya, Dia jua yang menyembuhkannya ketika ia terserang penyakit. Kurang Maha Penyayang apa lagi? Hingga ketika api menyala semakin besar, perintahnya turun kepada Sang Api, “Wahai api, jadilah dingin dan berikanlah keselamatan kepada Ibrahim.” Serta-merta api pun mendingin dan Ibrahim melenggang keluar dari api bak seorang pemenang Olimpiade. Namrud dan balatentaranya pun terkejut tak percaya.
            Bukan main senangnya Ibrahim ketika harapannya yang telah dibangun sejak menjalin kasih dengan Sarah yang cantik jelita, akhirnya datang juga. Kehadiran seorang putra untuk melanjutkan estafet perjuangannya. Isma’il lahir ke dunia, ketika Ibrahim menginjak usia tua. Isma’il inilah yang menjadi pelengkap kebahagiaan Ibrahim. Jauh-jauh kurun sebelum kelahiran Isma’il, Ibrahim pernah bernazar untuk berqurban apabila mendapatkan putra. Tak kurang dari 1.000 ekor kambing, 300 ekor sapi, dan 100 ekor unta diqurbankan olehnya sebelum kelahiran Isma’il. Hingga akhirnya Allah berbicara kepadanya untuk menagih janjinya ketika dahulu; berqurban apabila mendapatkan putra. Datanglah Ibrahim ke kediaman Isma’il, menyampaikan apa yang ada dalam mimpinya; Allah memerintahkan Ibrahim menyembelih Isma’il. Maka Isma’il diberikan waktu untuk memikirkan hal itu. Isma’il, bukan anak sembarangan. Anak ini telah melewati lika-liku kehidupan bahkan semenjak dirinya belum bisa berjalan dan merapal kata-kata. Ketika kaki-kaki ajaibnya memunculkan air yang kelak dinamakan Zam-Zam, maka tempat itu dijadikan kediaman. Dan lihatlah hari ini, kota yang dimuliakan bernama Makkah, telah menjadi kota yang paling masyhur seantero bumi dan tak habis-habisnya dikunjungi oleh manusia setiap tahunnya, bahkan setiap detiknya! Inilah andil dari bocah bernama Isma’il. Benar saja, tempaan lingkungan yang begitu keras membentuk Isma’il, membuat dirinya serta-merta taat atas perintah Allah dan ayahnya. Ketika menginjak usia belia, Isma’il rela disembelih, dan jalan cerita berubah ketika sosok Isma’il ternyata diganti oleh Allah dengan seekor biri-biri. Ketaatannya membuahkan syariat berqurban, dan qurban akhirnya memberikan makna tentang sebuah pendekatan; pendekatan kepada-Nya. Lagi-lagi andil seorang bocah bernama Isma’il. Mulianya Isma’il terus berlanjut. Dialah ahli tunggang kuda pertama di dunia, dan dialah yang mendapat kehormatan menjadi pucuk dari garis keturunan Sang Nabi Terakhir.
            Malang bagi Sarah, bertahun-tahun merindukan kehadiran buah hati, justru dirinya digentayangi keputusasaan. Paras cantik dan kebaikan perangainya tidak lantas memberinya kemudahan untuk beranak-pinak. Sarah yang begitu tegar, melihat suaminya, yang sekalipun kuat, tetap saja membutuhkan kehadiran pewaris. Ia relakan budaknya yang bernama Hajar nan berkulit hitam legam untuk dipersunting oleh suami tercintanya. Tahniah. Betapa gembiranya Ibrahim menyambut kelahiran seorang putra yang diberi nama Isma’il. Namun kegembiraan tidak berkobar di hati Sarah. Senyum berbalut kepiluan mengiringi kebahagiaan suaminya. Sarah memang tegar. Bahkan jauh lebih tegar lagi manakala ia harus merelakan kepergian suaminya. Mengembara bersama Hajar, budak yang pernah dihadiahkan kepada suaminya. Sudahlah ia berbagi cinta dengan budaknya, ditinggal pula ia oleh suaminya. Kurang tegar apa lagi? Tetapi semua hal baik, akan mendatangi mereka yang bersabar dan bersyukur. Itu rumus pasti, maka percayalah!
            Kita mungkin pernah merasakah dihimpit masalah, seakan tiada satupun makhluk di muka bumi ini akan membela. Seumpama para pendukung Namrud yang bernafsu membakar Ibrahim. Ibrahim memang terbakar, namun apinya sungguh bersahabat, ia menjadi dingin dan memberi keselamatan kepadanya. Sebab dari kepercayaannya yang penuh kepada Sang Rahim, maka rahmat-Nya pun datang dari segala penjuru. Sebab dari sifatnya yang tawakal, maka Allah memberikan jalan keluar. Bahkan api pun bersahabat dengannya. Begitulah bila bertakwa, percaya sepenuhnya akan pertolongan Allah, maka masalah bukan musibah bagi kita, melainkan dapat bersahabat, menjadi dingin, dan memberi keselamatan kepada kita.
            Kita mungkin pernah terancam bahaya, seakan tiada satupun sebab yang akan menyelamatkan kita. Seumpama dinginnya mata pisau terasah yang siap mengiris leher Isma’il. Isma’il memang disembelih. Namun nyatanya, Yang Maha Kuasa, punya kehendak lain. Skenario ini hanya menguji ketaatan pasangan Bapak-Anak dalam bab kedekatan pada ilahi. Begitulah bahaya yang mengancam kita. Ia datang sebagai elemen penguji kedekatan kita pada ilahi. Kepada siapa kita memohon pertolongan di saat genting? Betapa durhaka apabila kita tidak berdoa dan tidak meminta pertolongan kepada-Nya.
            Semua hal baik, akan mendatangi mereka yang bersabar dan bersyukur. Itu rumus pasti, maka percayalah! Sarah percaya akan hal itu. Memasuki usia senja, statusnya berubah dari yang awalnya berstatus perempuan mandul, berubah menjadi Ibu. Ibu dari seorang anak yang kelak juga menjadi nabi. Betapa terkejutnya; tawa dan tangis bercampur-baur. Tawa dan tangis yang memberi inspirasi untuk memberi nama pada putranya; Ishaq.

            Teguhlah dalam beriman, seteguh Ibrahim. Bahkan karang pun akan hancur, karena kekokohannya dikalahkan oleh kekokohan iman milik Ibrahim. Taatlah dalam beriman, setaat Isma’il. Karena ketaatan, bukanlah pertanda seseorang lemah, namun justru dalam ketaatan akan terpatri kekuatan. Kekuatan yang menentramkan, bukan menakutkan. Tegarlah dalam beriman, setegar Sarah. Bahkan ketegaran menghapuskan kegelisahan dan mendatangkan kesejukan. Itulah tugas kita dalam beriman; harus teguh, harus taat, dan harus tegar. Karena semua hal baik, akan mendatangi mereka yang bersabar dan bersyukur. Itu rumus pasti, maka percayalah!

1 comment:

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com