Thursday, 3 September 2015

Shakespeare Salah Besar!

Segelintir kawan yang telah menikah dan sedang menunggu kehadiran sang buah hati, sedang sibuk mencari nama yang pas untuk anaknya kelak ketika lahir. Tidak sedikit dari mereka yang berkegiatan nembung kepada para ustadz ataupun kiyai untuk sekadar mengais wejangan tentang menamai anak dengan nama yang baik dan menjadi doa dalam kehidupan si anak. Sekali waktu, saya bertemu dengan orang yang memiliki nama yang bagi saya asing. Benar saja, namanya memang bermakna tidak baik, untuk tidak dikatakan buruk. Bagi kalangan yang menamai anaknya dengan sembarang nama, maka ia  akan menjadikan Shakespeare sebagai perilis fatwa bolehnya memberi nama asal-asalan. Karena menurut Shakespeare, “What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.”
            Bagi Shakespeare, apalah arti sebuah nama. Sebab jikalau bunga mawar diberi nama selain “mawar” ia pun akan tetap wangi. Namun benarkah pendapat Shakespeare tentang nama? Bagi mereka yang kadung diberi nama tidak bagus, mungkin akan mengiyakan. Tetapi nampaknya pernyataan Shakespeare ini tidak jauh berbeda dengan penelitian Darwin yang menyatakan monyet dapat berevolusi menjadi manusia. Pendapat Shakespeare seperti itu memang banyak diamini orang-orang. Tetapi kebanyakan orang-orang mengapriori pernyataannya karena Shakespeare sudah terlanjur basah menjadi sastra kenamaan seantero dunia.
            Saya sendiri berpandangan bahwa nama memiliki makna dan filosofi yang sangat tinggi. Karena nama akan melekat pada dirinya dan memberikan image pada si empunya. Misalnya saja jika seseorang bernama Ibrahim Abdul Rahman; orang-orang sudah pasti menganggap ia sebagai muslim dan rasanya amat tidak pantas apabila lelaki bernama Ibrahim Abdul Rahman menenggak minuman keras dan mengonsumsi obat-obat terlarang. Contoh lain adalah jika ada seseorang bernama Susanto Prakoso, pastilah orang lain menganggapnya sebagai orang Jawa. Agak mustahil ada orang Ambon asli bernama Susanto Prakoso. Sampai di sini kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa sebuah nama akan memberikan identitas dan image kepada si empunya.
            Kini kita akan mengganti kacamata kita dalam memandang persoalan ini. Pastinya saya akan menggunakan kacamata Islam. Islam sendiri memberikan pesan untuk memberi nama dengan nama yang baik. Ada satu kasus unik yang sering luput dari perhatian muslim, bahwasanya sebuah penamaan adalah hal yang sangat penting. Mari simak ayat berikut: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama semua benda, kemudian mengemukakannya kepada mereka yang diberikan kendali, lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!”[1]
            Andaikata memang nama tidaklah penting, Allah yang Maha Memiliki segala filosofi tidak akan mungkin mengangkat kasus ini ke dalam kitab suci-Nya. Karena tidak ada kesia-siaan dari apa yang telah diperbuat dan difirmankan oleh Allah azza wa jalla. Adam alaihissalam diajarkan nama-nama benda karena penamaan memang penting, dan itu akan sangat berguna untuk mengetahui identitas sesuatu atau seseorang. Sebenarnya sah-sah saja ketika Shakespeare mengatakan apalah arti sebuah nama. Karena sejatinya Shakespeare sedang mengajak para pembacanya untuk merenungkan esensi dari sesuatu. Shakespeare menginginkan orang-orang untuk menghargai atau menilai sesuatu dari esensinya, bukan dari namanya. Sekalipun seseorang namanya tidak bagus, tetapi akhlaknya bagus, mengapa kita harus menjauhinya? Namun ini menjadi suatu blunder oleh seorang pujangga besar, karena kata-katanya akan diterima fans fanatiknya dengan taken for granted.
            Kita lanjutkan tentang pesan Islam untuk memberikan nama yang baik. Salah satu pesan Rasul dan para sahabat adalah dalam hal penamaan anak. Di antara hak-hak anak yang patut dituntut kepada orang tuanya adalah ia mendapatkan nama yang baik. Selain itu, Islam melarang umatnya untuk menggelari orang lain dengan nama atau panggilan yang jelek. “Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah memanggil dengan nama-nama yang buruk.”[2] Dalam konteks keislaman, jelas Shakespeare sudah salah besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa tedeng aling mengganti nama sahabatnya apabila sahabatnya tersebut memiliki nama yang tidak bagus maknanya. Rasul juga menegur ‘Ali bin Abi Thalib ketika ingin memberi nama anaknya ‘Harb’ yang berarti perang. Karena ia ingin sekali dipanggil ‘Abu Harb’ yakni Bapak Perang. Karena memang hobinya adalah berperang. Kemudian Rasulullah pun mengeluarkan pernyataan bahwa seburuk-buruk nama adalah ‘perang’ dan ‘pahit’.
            Sekarang coba kita bayangkan. Apabila kita benar-benar ingin mengadopsi pendapat Shakespeare, cobalah Anda memproduksi minuman dan berilah merknya dengan nama “Obat Nyamuk”. Kira-kira, adakah orang yang ingin membelinya untuk meminumnya? Paling tidak, ketika melihat minuman tersebut, orang akan beranggapan bahwa benda cair dalam kemasan itu adalah obat nyamuk. Untuk apa repot-repot memikirkan esensinya, wong sudah jelas-jelas tertulis “Obat Nyamuk” di kemasannya. Patut diakui bahwa kebanyakan dari kita lebih sering berpikir sesuatu secara simbolis, ketimbang ingin memikirkan esensinya terlebih dahulu. Kita tahu bunga mawar memang harum seperti yang dikatakan Shakespeare. Sekalipun KBBI edisi terbaru ingin mengganti penyebutan terhadap bunga mawar, sifat asli Sang Mawar tidak akan berubah. Ia akan tetap menawan, mewangi, dan berduri. Tetapi apabila bunga tersebut diganti namanya dengan Bunga Kotoran Ayam, apakah para pecinta mawar akan sudi dengan kenyataan tersebut?
            Bila berpikir nama tidaklah penting, maka dunia ini akan menjadi panggung orang-orang bisu. Kita tidak akan dapat mengatakan bahwa perempuan bernama Azalia itu cantik. Karena Azalia adalah nama, cantik juga merupakan nama untuk menjelaskan menarik dan sedap dipandangnya suatu benda atau seorang makhluk bernama perempuan. Kita tidak akan dapat menyembut kasur ketika ingin tidur, karena kasur juga sebuah nama.
            Terakhir, saya ingin membahas kembali apa yang di awal tulisan. Yakni berilah nama yang baik kepada anak-anak kita. Karena nama tersebut akan menjadi harapan, doa dan identitas bagi anak-anak kita semasa hidupnya.



[1] Al-Baqarah (2): 31.
[2] Al-Hujuraat (49): 11.

1 comment:

  1. Seandainya gak ada 'nama', maka mungkin aja setiap manusia menjadi seorang pujangga atau penyair. Karena biasanya, penyair dalam menyampaikan 1 kata, bisa berbaris-baris kalimat atau bahkan beberapa halaman.

    Contoh kasus,
    Nama: Kasur
    Karena gak ada nama, diterjemahkan menjadi: sebuah tempat, untuk tidur, bisa buat leyeh-leyeh, baca Buku, ngorok dan ngiler.
    Jadinya rempong dah :))

    Emang penyair kan kurang kerjaan, mau bilang 'lapar' aja pake merangkai kata-kata. Hahaha, padahal mah tinggal makan.

    Lagian, wong bikin program computer aja pake 'nama' variabel. (ini agak pudar dari ingatan, disebutnya apa). Kalo enggak, mungkin programmer sekarang rambutnya selalu keriting. Saking pusingnya nulis nama variabel kayak penyair.

    Mungkin Shakespeare dulu belum kenalan sama programmer *ngarang banget*

    Deh ah!

    Panjang..

    ReplyDelete

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com