Thursday, 10 September 2015

Tergantung Pakaianmu



“Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu…”[1]

            Pakaian. Semua tahu bahwa fungsi pakaian adalah untuk melindungi tubuh. Ketika musim dingin di Eropa, orang-orang menggunakan baju dan mantel berlapis-lapis, menggunakan syal, penutup kepala, hingga penyumbat telinga. Musim kemarau di negara-negara Khatulistiwa disesuaikan para penikmatnya dengan bahan-bahan pakaian yang tipis serta tidak gerah ketika dikenakan. Tentunya pakaian mereka berbeda pula dengan manusia Timur Tengah yang akan lebih sering kita lihat mereka berpakaian yang itu-itu saja; lelakinya menggunakan baju gamis hingga mata kaki, begitupun perempuannya dengan ditambah kerudung dan lazimnya dilengkapi dengan cadar. Kondisi alam memaksa mereka menyesuaikan diri dalam hal berpakaian.
            Selain berfungsi melindungi tubuh sebagaimana yang dipaparkan di atas, pakaian memiliki banyak fungsi lainnya. Seiring berkembangnya zaman, apakah pakaian hanya menjadi pemenuhan kebutuhan primer sebagai pelindung diri semata? Sesuai realita yang ada, jawabannya tentu tidak. Selalu ada pengembangan dan modifikasi dari setiap pakaian yang digunakan orang-orang dari zaman ke zaman. Tujuannya agar sedap dipandang. Pakaian menjadi bagian dari penampilan manusia yang mengenakannya. Pakaian tidak akan lepas dari kehidupan umat manusia sepanjang zaman, kecuali bila ada suatu wilayah yang memberlakukan tradisi tidak berpakaian bagi penduduknya.[2]
            Lalu, sejatinya siapakah yang memopulerkan konsep berpakaian yang baik? Cukup mengejutkan apabila kita membuka kitab suci agama masing-masing, karena di dalamnya tertuang pelbagai perintah berpakaian. Kabar buruk bagi para agnostik dan atheis, karena ajaran tata cara berpakaian adalah produk perintah dari agama. Bagaimana agama memandang pakaian itu sendiri? Sebagian muslim sudah familiar dengan perintah berpakaian demi menutup aurat beserta dalil-dalilnya. Laki-laki wajib menutup auratnya setidaknya dari pusar hingga lutut, sedangkan perempuan diwajibkan menutup seluruh tubuhnya, kecuali yang sering tampak,[3] serta mengenakan kerudung hingga menutup dada. Pakaian seperti ini banyak ditanggapi sinis oleh orang-orang Barat dan penganut paham kebaratan. Wajar, karena mungkin mereka kurang mengimani agama yang mereka anut. Seorang pemuka agama Yahudi, Rabbi Dr. Menachem M. Brayer, Professor Literatur Injil pada Universitas Yeshiva dalam bukunya, The Jewish woman in Rabbinic Literature, ia menulis bahwa baju bagi wanita Yahudi saat bepergian keluar rumah yaitu mengenakan penutup kepala yang terkadang bahkan harus menutup hampir seluruh muka dan hanya meninggalkan sebelah mata saja. Dalam bukunya tersebut ia mengutip pernyataan beberapa Rabbi (pendeta Yahudi) kuno yang terkenal: “Tidak layak bagi anak-anak perempuan Israel yang berjalan keluar tanpa penutup kepala” dan “Terkutuklah laki-laki yang membiarkan rambut istrinya terlihat,” dan “Wanita yang membiarkan rambutnya terbuka untuk berdandan membawa kemelaratan.”[4]
Alkitab milik umat Kristiani secara jelas juga mengatur cara berpakaian yang benar. Perempuan diwajibkan pula untuk berpakaian yang baik dengan menggunakan kerudung.
“Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak berkerudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya. Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya. Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: ia menyinarkan gambaran dan kemuliaan Allah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki. Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki. Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan diciptakan karena laki-laki. Sebab itu, perempuan harus mengenakan tanda wibawa di kepalanya oleh karena para malaikat. Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan. Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal dari Allah. Pertimbangkanlah sendiri: patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala tidak berkerudung?”[5]
            Kita akan tengok ajaran Hindu. Nyatanya, konsep pakaian mereka juga memerintahkan perempuannya untuk berpakaian tertutup. “Ketika Brahma berpapasan, ketika Brahma memilihkan anda seorang perempuan, kalian hendaknya menundukkan pandangan, tidak boleh memandang. Anda harus menyembunyikan pergelangan anda, dan tidak boleh memperlihatkan apa yang dipergelangan anda.”[6] Dalam agama Budha, saya tidak menemukan referensi pasti tentang konsep berpakaian ini. Tetapi setidaknya Dewi Kwan Im (Avalokitesvara Bodhisattva) , yang dikenal sebagai Buddha dengan 20 ajaran welas asih, juga digambarkan memakai pakaian suci yang panjang menutup seluruh tubuh dengan kerudung berwarna putih menutup kepala.
            Secara kasar, dapat dikatakan bahwa Islam hanya memperbarui hukum yang telah ada. Karena jika menilik terus sejarah peradaban dari masa ke masa, setiap peradaban maju tidak pernah memberikan kesempatan bagi perempuan baik-baik untuk berpakaian “ala kadarnya”. Sangat naif apabila menyatakan perintah berjilbab bagi perempuan hanya adalah dalam Islam. Hukum berjibab tidaklah dimonopoli oleh Islam semata. Baiklah, kita akan membahas lebih dalam konsep pakaian ini dalam budaya Islam. Dalil-dalil dalam Al-Qur’an maupun Hadis, telah jelas mengatur tata cara berpakaian untuk menutup aurat. Aurat secara bahasa berasal dari kata ‘araa, dari kata tersebut muncul derivasi kata bentukan baru dan makna baru pula. Bentuk ‘awira (menjadikan buta sebelah mata), ‘awwara (menyimpangkan, membelokkan dan memalingkan), a’wara (tampak lahir atau auratnya), al-‘awaar (cela atau aib), al-‘awwar (yang lemah, penakut), al-‘aura’ (kata-kata dan perbuatan buruk, keji dan kotor), sedangkan al-‘aurat sendiri adalah segala perkara yang terasa malu apabila tampak. Jadi, Anda dapat mengambil kesimpulan; apabila para perempuan dengan pede-nya menampakkan paha dan dadanya di hadapan publik, artinya ia tidak punya malu.
            Dalil-dalil tentang perintah berpakaian, sekaligus memberikan konsep dan filosofi pakaian dalam Islam. Ayat “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[7] Memberikan gambaran bahwasanya pakaian yang dikenakan dengan baik dan benar akan memberikan proteksi lebih bagi penggunanya. Dalam hal ini disebutkan bahwa berpakaian yang baik bagi perempuan beriman adalah dengan menutup seluruh tubuh mereka. Dengan begitu, perempuan beriman lebih mudah dikenali dan akan jauh lebih dihormati ketimbang perempuan yang membuka tubuhnya untuk dilihat orang banyak. Namun, sekali lagi ini hanya perintah bagi perempuan beriman. Hanya untuk perempuan beriman. Dan inilah bentuk Maha Penyayang-nya Allah kepada para perempuan beriman.
            Selanjutnya, kita juga akan bertemu ayat Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudungnya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.[8] Lagi-lagi memberikan himbauan khusus bagi perempuan beriman. Setelah sebelum ayat tersebut hanya memberikan perintah “ala kadarnya” bagi para lelaki beriman, perintah yang benar-benar memberikan perhatian lebih kepada perempuan beriman dirilis oleh Allah dengan ayat yang cukup panjang. Menariknya adalah ayat ini diakhiri dengan kalimat perintah: “Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” Yang secara jelas mengindikasikan bahwa pakaianmu menunjukkan ketaatanmu kepada Tuhan. Apabila pakaianmu hanya ala kadarnya, minimalis, dan asal-asalan; berarti itu kadar ketaatan kepada Tuhanmu yang juga ala kadarnya, minimalis, dan asal-asalan. Maka dari itu, ayat ini hanyalah himbauan bagi mereka yang beriman. Bagi yang tidak (ingin) beriman, silakan buat aturan pakaian sendiri, dan silakan bangun surga sendiri.
            Rasanya cukup untuk saya akhiri bahasan pakaian ini. Namun topik ini akan saya antar menuju penutup dengan membahas ayat “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” Pakaian takwa disebutkan di sini, dan ia adalah sebaik-baik pakaian. Namun bukan berarti kesimpulannya menjadi “Pakaian apapun tidak terlalu penting, yang penting hatinya (taat kepada Allah)”. Ini menjadi kesimpulan yang salah kuadrat! Justru pakaian itulah yang mengawali ketaatan kita kepada Allah. Bila Anda bekerja, Anda harus menaati aturan tempat kerja Anda. Sebelum berangkat ke kantor, Anda harus berpakaian yang rapi, bahkan mungkin harus mengenakan seragam. Apakah mungkin Anda berangkat ke kantor tanpa berpakaian (rapi) terlebih dahulu? Kemudian ketika bos Anda bertanya, Anda menjawab “yang penting hatinya, Bos!”
            Pakaian akan memberikan gambaran diri Anda. Tidak mungkin dipungkiri; baik-tidaknya Anda pada kesan pertama di mata orang dilihat dari cara Anda berpenampilan. Jadi, konsep berpakaian dalam Islam justru lebih baik daripada konsep mode yang berkembang sekarang. Pakaian dalam Islam, selain  untuk melindungi tubuh dari cuaca yang mengganggu kesehatan, juga agar meningkatkan derajat pemakainya di hadapan publik, sebagai identitas diri, dan yang lebih penting adalah sebagai ukuran ketaatan kepada-Nya. Siapa diri Anda, tergantung pakaian Anda.


[1] Al-A’raf (7): 26
[2] Di Desa Spielplatz, Hertfordshire, London, penduduk yang tidak bertelanjang bulat akan dikucilkan.
[3] Menurut Ibnu Katsir, yang sering tampak adalah wajah dan telapak tangan.
[4] Sherif Abdel Azeem, Sabda Langit Perempuan dalam Tradisi Islam, Yahudi, dan Kristen, (Yogyakarta: Gama Media,  2001)
[5] Korintus (11): 5-13.
[6] Rigveda Book 8 Hymn 33 Verses 19.
[7] Al-Ahzab (33): 59.
[8] An-Nuur (24): 31.

1 comment:

  1. Assalamu'alaikum.. Masya Allah bagus ka artikelnya, saya setuju dengan kata2 kakak ini, memang benar seorang perempuan beriman harus memakai jilbab yang baik menurut syariat Islam. Sarah pikir masih dibilang tak pantas seorang wanita tidak berkerudung tapi mereka akhlaknya baik, karena kunci utama perempuan masuk Syurga Allah adalah cara ia berpakaian. Kalau rambut masih keliatan walau sudah dikerudung sama aja bohong kan kak? miris melihat jaman sekarang ini kak. Semua mungkin sebenarnya memang kembali pada orang tersebut, tapi kita yang menilai malah sangat tidak wajar, malah melihatnya ga enak dipandang. Wassalam

    ReplyDelete

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com