Thursday, 29 October 2015

Jadilah Pemuda yang Masih Muda

https://kolomkiri.files.wordpress.com/2012/02/pemuda3.jpg
Sejujurnya, tulisan ini bukanlah untuk menyambut momen Sumpah Pemuda yang dirayakan pada tanggal 28 Oktober itu. Terus terang, saya pun hingga sekarang masih menyangsikan momen Sumpah Pemuda sebagai momen yang luar biasa heroik. Bagaimana tidak, cita-cita yang diangankan dalam Sumpah Pemuda hingga kini belum lagi tercapai. Namun, yang patut diapresiasi adalah bagaimana sejarah tentang Sumpah Pemuda ini lahir. Momen ini ‘dicuri’ Soekarno untuk memberi peringatan keras kepada dalang gerakan separatis yang mulai muncul menentang keutuhan Bangsa Indonesia. Apabila ditelusuri, tidak ada dokumen otentik yang berbicara tentang Sumpah Pemuda. Berdasarkan catatan dan dokumen sejarah diketahui bahwa hari Sumpah Pemuda yang diperingati sebagai peristiwa nasional, merupakan suatu hasil rekontruksi dari sebuah Poetoesan Congres. Ya, kita tidak akan menemukan dokumen otentik tentang Sumpah Pemuda, melainkan yang akan kita temukan adalah dokumen Poetoesan Congres. Tepatnya pada tanggal 28 Oktober 1954, Presiden Soekarno dan Muhammad Yamin[1] membuka Kongres Bahasa Indonesia yang kedua di Medan. Pada saat itu, Soekarno dan Yamin, sedang membangun simbol yang menjadi bagian dari susunan ideologi sebuah bangsa dan negara, dimana pilihannya jatuh pada tanggal 28 Oktober 1928 dan saat itu pula kata “Poetoesan Congres” dibelokkan menjadi “Sumpah Pemuda”.
            Baiklah, saya tidak akan berpanjang lebar lagi mengenai Sumpah Pemuda, karena bukan itu bahasan inti dari tulisan ini. Tulisan ini dibuat karena kegelisahan melihat pemuda hari ini yang tidak muda lagi. Tidak dapat dipungkiri lagi, pemuda zaman ini kebanyakan dilenakan oleh gadget. Akibat dari ketidakmampuan mereka mengoptimalkan fungsi gadget, yang terjadi adalah kehidupan yang tidak produktif dikarenakan terlena oleh gadget. Apabila kehidupan selalu dimanjakan dan difasilitasi, bukankah itu sama halnya dengan orang yang sedang dilanda penyakit? Atau sama halnya dengan orang yang sudah tua renta? Mereka harus dibantu dan difasilitasi untuk menunjang keberlangsungan –sisa- hidupnya. Maka sudah waktunya para pemuda untuk pindah zona, kembali ke zona mudanya.
            Menariknya, peradaban dari zaman ke zaman hampir selalu diarsiteki oleh pemuda. Para nabi diangkat dan berkarya dalam usia yang relatif muda, Napoleon Bonaparte memimpin Prancis dalam usia muda, kemerdekaan dan kebangkitan Indonesia diinisiasi oleh orang-orang muda, dan yang lebih penting lagi; Al-Qur’an dan Hadits seringkali menyebut dan memuji para pemuda. Salah satu hadits yang difokuskan untuk kemajuan pemuda adalah: “Wahai para pemuda, siapa saja di antara kalian yang telah mempunyai ba’ah[2], maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkanpandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya.”[3] Nah! Jelas sekali inilah hadits yang difokuskan untuk kemajuan pemuda.
            Dus, ada beberapa ayat yang menarik dan salah satunya pure menceritakan tentang pemuda. Ini adalah ayat yang –seharusnya- sering dibaca –dan seharusnya, bahkan harus sekali dihafal- oleh orang-orang yang selalu mengajak membacanya setiap Hari Jumat di media-media sosial. Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk; dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”.[4]
            Kisah para pemuda yang diberi petunjuk, dikarenakan keteguhannya dalam beriman, membenarkan yang benar, dan menyalahkan yang salah. Sehingga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan petunjuk bagi mereka dengan melakukan hal tak terduga dalam keadaan terdesak. Inilah salah satu prinsip yang harus dipegang oleh para pemuda; ketika ingin beriman, lakukan saja. Jangan terlalu lama berpikir apa dampaknya. Para pemuda ini lari dari kejaran tentara Dikyanus, si penguasa yang zalim dan meminta seluruh masyarakat untuk berlaku syirik. Beberapa orang di antara tujuh pemuda tersebut adalah orang dalam istana. Karena kebathilan yang jelas tidak cocok di hatinya, kemudian mereka lebih memilih membangkang dan lari dari kejaran penguasa. Sebaliknya, ini juga prinsip yang harus dipegang para pemuda; ketika timbul keinginan bermaksiat, maka baiknya kita berpikir panjang dan menimbang-nimbang kiranya apa dampak yang akan kita terima apabila kita melakukan maksiat tersebut.
            Sejatinya, apabila para pemuda sudah memegang dua prinsip tersebut, maka dapatlah kita katakan cukup. Hal berikutnya yang perlu menjadi suplemen pemuda adalah menjadi orang yang mandiri, kuat, dan terpercaya. Kita ingat ketika Nabi Musa diambil jadi karyawan sekaligus menantu dari seseorang yang juga nabi. Hal in terjadi diawali dengan putri Nabi Syu’ib yang kepincut karena kepekaan, kekuatan, dan dedikasi Nabi Musa ‘alaihissalam. Sehingga Sang Gadis tidak ragu-ragu melancarkan kode kepada ayahnya untuk menikahkan Nabi Musa dengannya dengan dalih merekrutnya sebagai karyawan. “Wahai ayahku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang Ayah ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.[5] Ini contoh nyata seorang pemuda yang mandiri, kuat jasmaninya, dan dapat dipercaya. Sehingga siapapun tidak ragu untuk meminangnya; meminangnya menjadi pendamping hidup, atau meminangnya menjadi pegawai terpercaya.
            Satu hal lagi, prinsip yang sepatutnya dipegang oleh pemuda adalah soal keberanian. Karena pemuda, jangan menjadi tua. Masa muda adalah masanya bereksplorasi. Sebagaimana halnya Nabi Dawud ‘alaihissalam yang berani maju menentang Jalut yang memiliki besar tubuh berlipat-lipat kali dari tubuhnya sendiri. Semua pasukan Thalut mencoba mengalahkan Jalut, namun gagal. Akhirnya Dawud yang ketika itu berusia masih sangat muda, memberanikan diri untuk menentang Jalut. Awalnya, Thalut menyangsikan kemampuan Dawud untuk melawan Jalut. Benar saja, selama dalam masa peperangan, Dawud hanyalah menjadi pembawa makanan. Namun, apa boleh buat bagi Thalut, tekad Dawud begitu kuat dan akhirnya dipersilakan Dawud untuk melawan Jalut. Hanya bermodalkan ketapel berpeluru kerikil diiringi ucapan bismillah yang mantap, voila! Kerikil melesat tepat mengenai bagian kepada Jalut. Jalut-pun linglung dan harus rela roboh hanya karena batu kerikil. Pasukan Jalut pun lari tunggang-langgang, dan pasukan Thalut bersorak kegirangan sembari mengelu-elukan Dawud. “...dan (dalam peperangan itu) Dawud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepada Dawud pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya.”[6] Begitulah prinsipnya pemuda. Untuk berjuang menggapai sesuatu, jangan pernah ragu untuk mencoba. Pastinya, jangan sampai melupakan Tuhan yang memberikan kekuatan dan kesuksesan pada kita.
            “Bangun pemudi-pemuda Indonesia...” begitulah sepenggal lirik lagu wajib nasional kita. Tetapi apakah kalimat tersebut hanya sekadar menjadi lagu yang semakin kesini semakin tidak dihafal para pemuda Indonesia? Maka yang perlu dipertanyakan adalah apakah pemuda Indonesia benar-benar menghayati Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober itu, ataukah hanya sebagai tanda ingin diakui bahwa “Gue Nasionalis”. Toh orang yang nasionalis seharusnya mengetahui sejarah Sumpah Pemuda yang sebenarnya. Kini, ikrar yang tertuang dalam Sumpah Pemuda, apakah hanya akan menjadi jargon pembasah lisan saja?
            Para pemuda haruslah terus menjadi muda. Banyak berusaha, banyak belajar, banyak berbuat, banyak berkarya, banyak berpikir, banyak menulis, banyak bereksplorasi, dan banyak lagi yang harus dilakukan. Karena sebagaimana yang pernah dipesankan oleh Hasan Al-Banna, “Ketahuilah, kewajiban kita lebih banyak daripada waktu yang tersedia. Maka, bantulah saudaramu untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya, dan jika memiliki kepentingan atau tugas, tunaikanlah segera.”
            Poin-poin pesan di atas hanyalah sebagai pedoman agar kita menjadi pemuda yang selalu muda. Bukan pemuda yang manja; dimanjakan orang tua, dimanjakan fasilitas, dimanjakan lingkungan, dan manja-manja lainnya. Pemuda yang selalu bergerak menuntaskan perubahan. Tentunya juga pemuda yang bermanfaat demi kemajuan peradaban, bukan yang hanya menjadi daki peradaban. Pemuda seperti Ashabul Kahfi yang memegang teguh keimanan, akan menjadi pemuda yang bermoral dan selalu berada di depan untuk menumpas kejahatan serta menjunjung tinggi kebenaran. Pemuda yang berprinsip seperti Nabi Musa, akan menjadi pemuda yang bermanfaat bagi kemajuan peradaban, karena fisiknya kuat dan dapat dipercaya. Maka, latihlah fisik kita, dan latihlah diri untuk selalu bersikap baik dimanapun kita berada. Kalau dengan begitu, Nabi Musa bisa dipinang dan dinikahkan dengan anak seorang nabi, barangkali kita –para lelaki- bisa dipinang dan dinikahkan dengan anak Kiyai.




[1] Pada saat itu sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kabinet Ali Sastroamijoyo, Yamin memberikan pidato pembukaan.
[2] Mengenai “ba’ah”, karena definisianya luas, maka tidak saya terjemahkan.
[3] Bukhari-Muslim.
[4] Al-Kahfi (18): 13-14.
[5] Al-Qashash (28): 26.
[6] Al-Baqarah (2): 251.

2 comments:

  1. Masya Allah inspirasi sekalii.... sukses selalu kak zaky

    ReplyDelete
  2. Tulisan yang seharusnya menjadi sebuah renungan, bagi siapapun yang membacanya;
    Tentang jati diri seorang pemuda.

    Mantap, ustadz Zaky (y) (y) (y) (y) (y)

    ReplyDelete

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com