Monday, 5 October 2015

Selalu Ada Jalan Untuk Pulang

Ketika kaki terlampau jauh melangkah. Ketika mulut terlampau lancang berkata-kata. Ketika tangan terlampau kasar memukul yang lemah. Ketika hati terlampau kotor dan jauh dari-Nya. Ketika pikiran terlampau jahat dalam berencana. Ketika niat terlampau buruk kadung terlaksana. Maka pulanglah. Selalu ada jalan untuk pulang, sekalipun ia sekeji-kejinya orang. Selalu ada jalan untuk pulang, bagi mereka yang tak ubahnya binatang jalang. Selalu ada jalan untuk pulang, bagi mereka yang hatinya mulai gersang. Selalu ada jalan untuk pulang, bagi mereka yang tak kunjung menang. Pulanglah.

            Alkisah seorang budak berbadan kekar merindukan kemerdekaan. Kekar badan tidak membuatnya hidup bahagia. Nestapa tiada akhir hidup keseharian si budak. Hingga tiba hari itu, hari kemerdekaannya. Tuannya yang bengis, sedang meratapi kekalahannya yang sangat telak. Kaumnya berperang melawan pasukan yang dipimpin oleh putra daerahnya sendiri. Terlalu jumawa memulai perang, kaumnya justru harus lari tunggang-langgang. Semua kerabatnya harus direlakan karena ditakdirkan meregang nyawa di medan perang. Tuan si budak marah besar. Tibalah perang selanjutnya. Rencana busuk tuannya dilancarkan dengan iming-iming merdeka bagi si budak, apabila dapat membunuh dan mencabik-cabik jasad panglima musuh yang kepalang tangguh; Hamzah Putra Abdul Muththalib. Momen yang ditunggu-tunggunya datang jua. Dengan cermat, arahkan lembing andalannya tepat ke tubuh Hamzah. Tubuh perkasa Hamzah tersungkur tak berdaya. Tanpa basa-basi, si budak menghampirinya jenazahnya, dan melaksanakan tugas dari tuannya. Hari itu, si budak sudah merdeka. Hilanglah status kehinaan yang melekat pada dirinya. Namun status hanyalah status. Hatinya tetaplah belum merdeka.
            Syahdan, datanglah masa penaklukkan Makkah kota yang dimuliakan. Si budak yang kini telah berstatus mantan budak berlari ke pantai untuk menjauh dari Rasulullah, menitipkan pertanyaan kepada istrinya untuk disampaikan kepada Rasulullah -orang yang pamannya telah ia bunuh dengan cara yang sangat sadis. “Wahai Rasul, suamiku mempunyai dosa yang sangat besar, kalau ia masuk Islam dan bertaubat, apakah suamiku di ampuni?” tanya sang istri kepada Rasulullah. Maka Rasul pun menjawab: “Allah memaafkan semua yang terdahulu jika orang mau bertaubat”. Maka istrinya pun menemui suaminya di pantai, menyampaikan jawaban Rasulullah. Belum yakin, mantan budak itupun bertanya, “Tahukah Rasul bahwa kau adalah istriku?” istrinya pun menjawab, “tidak ku sampaikan.”
            “Katakanlah kau adalah istriku. Mustahil aku diampuni!”
Maka istrinya kembali lagi kepada Rasulullah dan berkata, “Ya Rasulullah, apakah betul semua dosa akan di ampuni? Suamiku ketakutan.” Rasul menjawab, “Sudah kusampaikan beberapa waktu yang lalu, Allah memaafkan apa-apa yang terdahulu.”
“Ya Rasulullah, suamiku adalah Wahsyi yang telah membunuh pamanmu, merobek dadanya, mengeluarkan jantungnya, mencungkil kedua matanya, dan memotong bibir, hidung dan kedua telinganya”
Berubah wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau terdiam dan tidak menjawab, menunduk, kemudian Jibril datang membawa pesan dari Tuhannya: Katakanlah, Wahai hamba-hambaku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Jangan berputus asa dari kasih sayang Allah, Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”[1]
Rasul menyampaikan ayat tersebut kepada para Sahabat, dan kepada istri Wahsyi. Kemmudian istrinya menyampaikan kepadanya. Datanglah Wahsyi masuk Islam, Rasulullah bertanya, “Kau Wahsyi yang telah membunuh pamanku? Hamzah bin Abdul Muthalib.”
“Betul, wahai Rasul, aku telah berbuat begini dan begitu...”
“Kumaafkan kesalahanmu. Namun camkan satu hal, jangan perlihatkan wajahmu lagi di hadapanku setelah ini.”
“Mengapa wahai Rasulullah, bukankah kau sudah memaafkan aku?”
“Aku sudah memaafkanmu, tetapi kalau aku lihat wajahmu aku terbayang wajah Hamzah yang rusak dihancurkan olehmu saat itu. Maka janganlah wajahmu muncul di hadapanku lagi.”
Remuk redam hati Wahsyi mendengarnya. Hari-hari Wahsyi selalu dirundung gelisah. Hari-hari yang tidak jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya, ketika ia mengalami kegalauan setelah statusnya menjadi merdeka karena membunuh Hamzah dengan keji. Hingga tibalah hari itu. Hari dimana Wahsyi melakukan penebusan kesalahan. Ia berhasil melempar lembingnya menghunjam tubuh Musailamah si nabi palsu. Tentramlah hati Wahsyi, ketika ia menemukan jalan pulang.
Wahsyi, diri yang merasa hina, kotor tak terampuni. Nyatanya membuktikan bahwa Allah memang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ketika sahabat lain menikmati majelis ilmu Rasulullah, ia harus rela mencuri dengar dari kejauhan. Ketika sahabat lain mendapat kehormatan mendampingi Rasulullah, ia harus rela memandangnya dengan tatapan nanar. Ketika siapapun mendapatkan kesejukan bersanding dengan Rasulullah, ia harus rela menerima nasib dijauhi oleh Rasulullah. Wahsyi mendapatkan anugerah surga Allah dengan cara yang lain. Begitulah cinta Allah pada hamba-Nya, hingga terkadang hamba-Nya terlalu bodoh untuk sekadar mensyukuri limpahan nikmat dan kasih-Nya. Wahsyi hanya butuh jalan pulang. Pulang ke dalam dekapan kasih sayang-Nya. Dan Wahsyi menemukannya. Wahsyi pulang, Wahsyi tenggelam dalam kenikmatan menatap wajah-Nya.
Itulah jalan pulang, jalan yang menentramkanmu setelah lelah meniti perjalanan panjang. Itulah jalan pulang, jalan yang menghiburmu setelah lelah mengarungi lautan luas terbentang. Itulah jalan pulang, jalan yang membahagiakanmu setelah lelah mendaki puncak yang jauh sejauh mata memandang. Itulah jalan pulang. Selalu ada jalan untuk pulang, bagi mereka yang tak ubahnya binatang jalang. Selalu ada jalan untuk pulang, bagi mereka yang hatinya mulai gersang. Selalu ada jalan untuk pulang, bagi mereka yang tak kunjung menang. Pulanglah. Pulanglah ke dalam dekapan Tuhanmu.




[1] Az-Zumar (39): 53.

2 comments:

  1. "Selalu ada jalan untuk pulang, bagi mereka yang hatinya mulai gersang. Selalu ada jalan untuk pulang, bagi mereka yang tak kunjung menang. Pulanglah. Pulanglah ke dalam dekapan Tuhanmu."

    ReplyDelete
  2. Yah, selalu ada jalan untuk pulang....

    ReplyDelete

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com