Wednesday, 7 October 2015

Wahai Para Pendaki, Belajarlah dari Everest dan 5 CM!



Film Everest dan 5 CM, berisi topik yang identik; yakni tentang mendaki gunung. Namun, konten dan hikmah yang dapat diambil dari kedua film tersebut, sangatlah jauh berbeda. Bak langit dan bumi, pendaki gunung yang baik dimanapun mereka berada akan memberikan apresiasi setinggi-tingginya untuk Everest, dan sumpah serapah kepada 5 CM.
            Film Everest berangkat dari kisah nyata yang terjadi pada tahun 1996. Dimana isu komersialisasi gunung mulai booming. Lebih dari sedekade lalu, buku berjudul Into Thin Air diterbitkan. Buku ini ditulis oleh Jon Krakauer, yang juga terlibat dalam pendakian tahun 1996 tersebut. Beberapa bagian film ini diangkat dari buku tersebut, dan juga menambahkan referensi lainnya, termasuk buku bantahannya dari Anatoli Boukreev, The Climb. Menjadi hal yang sangat baik, karena film ini mencoba untuk obyektif dalam memandang tragedi 1996 ini.
            Akibat tragedi tersebut, tahun 1996 menjadi tahun kelam dalam sejarah pendakian Everest. Di musim pendakian, beberapa rombongan pendaki seakan berlomba ingin menggapai puncak. Sebut saja kelompok yang dipimpin Rob Hall, Adventures Consultant. Selain itu, ada pula Scott Fischer yang memimpin grup Mountain Madness. Hingga pendaki dari berbagai negara seperti Taiwan dan Afrika Selatan, semuanya berlomba untuk menggapai puncak tertinggi di dunia. Keramaian rombongan inilah yang mengantarkan penonton untuk menikmati film ini. Warna lain dari film ini adalah beberapa infrastruktur yang terlupa untuk dipersiapkan, badai ganas yang tiba-tiba datang dan banyaknya korban saat pendakian, terbanyak dalam setahun di dekade tersebut.
            Film ini memberikan banyak sekali pelajaran tentang mendaki gunung; teknik pendakian, teknik survival, teknik persiapan sampai manajemen pendakian. Membuat penonton yang cerdas akan lebih banyak mengambil pelajaran, ketimbang hanya menikmati keindahan Everest yang dilapisi salju putih dan membuat pendaki manapun ngiler untuk mendakinya. Salah satu kutipan yang saya catat dalam ingatan saya, dan masih terngiang hingga saat ini adalah ketika Scott Ficsher berkata (kurang-lebih), “It’s not about the altitude, but the attitude.”[1] Ya, kadang kita berpikir bahwa mendaki gunung hanyalah untuk mencapai puncak, berfoto-foto, berteriak-teriak histeris, kemudian menulis kata-kata norak yang kemudian dipublikasikan ke khalayak lewat akun media sosial. Apa sih faedahnya?
            Hal lain yang memberikan warna bagi Everest adalah adanya 2 ego besar. Ego Doug Hansen yang bersikukuh mencapai puncak Everest pada tahun tersebut, walaupun dirinya sudah terlambat 2 jam dari rencana awal untuk menyentuh puncak. Juga ego Scott Fischer yang memaksakan untuk turut menggapai puncak di tanggal 10 Mei 1996, tanggal yang akan selalu disebut dalam film ini. Kedua ego ini coba dikompromikan oleh Rob Hall yang menjadi tokoh utama dalam film ini. Namun apa daya, Rob pun gagal meredam ego tersebut, dan justru terbawa arus dalam yang mengantarkan dirinya menuju tragedi.
Lain ladang lain belalang, lain Everest lain pula 5 CM. Film 5 CM sangat menonjolkan keindahan gunung. Penonton sangat terlena dengan keasyikan dan kemudahan mendaki Semeru yang ditampilkan secara visual oleh film 5 CM. Entah isi novelnya seperti apa, karena jujur saja, saya belum pernah membaca novelnya. Semudah itukah naik gunung? Hanya dengan persiapan beberapa hari, mendaki gunung dengan perlengkapan yang tidak ditampilkan sama sekali penggunaan dan kegunaannya, hingga adegan impossible ketika salah seorang tokoh tertimpa batu runtuhan puncak Gunung Semeru. Dan... dia masih hidup?! How impossible! Baiklah, hidup-mati adalah urusan Tuhan. Tetapi, dia sehat-sehat saja dan melanjutkan perjalan hingga puncuk. Kemudian berenang di danau yang seharusnya tidak boleh dicemplungi manusia. Saya jadi semakin miris ketika belakangan, kalimat geram terlontar dari lisan kawan saya, “Damn! Bohong banget tuh! Temen gua mati dengan kejadian persis kaya gitu!”
            Dus, dampak yang diberikan oleh film 5 CM sangat luar biasa. Luar biasa buruknya. Pendaki-pendaki yang masih culun dengan jumawanya berbondong-bondong ingin naik Semeru. Bahkan yang belum pernah mendaki gunung pun jadi menganggap remeh kegiatan mendaki gunung, sebagai kegiatan yang mudah, mengasyikkan dan buat gaya-gayaan. Lihatlah Semeru hari ini, layaknya pasar malam yang dipenuhi para pendaki dari berbagai daerah. Antrean yang mengular dan sampah menumpuk di tiap sudutnya. Padahal kenyataannya, seperti yang disebutkan oleh Anatoli Boukreev dan ditampilkan dalam film tersebut, “Selalu ada kompetisi di antara orang-orang dan gunung, gununglah yang selalu menjadi pemenang”. Kita tidak akan pernah menang  melawan alam, melawan gunung. Karena merekalah yang akan menang. Memang kita berhasil mencapai puncak gunung. Tapi, berapa banyak pengorbanan yang kita lakukan untuk mencapai puncak makhluk diam itu? Uang, tenaga, pikiran, dan ego yang harus kita gadaikan untuk sekadar berfoto-foto di pucuknya.
            Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, bahwa mendaki gunung adalah bukan soal ketinggian, namun soal sikap. Sikap kita terhadap alam yang harus selalu dijunjung tinggi. Jangan mengotori alam, jangan sakiti alam. Karena merekalah sahabat kita, untuk menunjang kehidupan kita. Apabila kita menyakiti alam, maka alam akan balik menikam kita. Contoh yang paling jelas adalah hari ini, dimana kabut asap yang semakin pekat diakibatkan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dalam pembakaran hutan. Hingga kini, siapapun yang melihat beritanya, hanya menganggap sebagai bencana biasa yang sewaktu-waktu bisa saja datang. Termasuk pemerintah kita yang entah dimana rimbanya seolah tidak ada usaha untuk menanggulanginya. Setelah menganggap remeh banjir Jakarta yang nyatanya tidak bisa diatasi juga, pemegang pucuk pimpinan RI kini dihadapkan dengan asap yang entah kapan akan ditanggulangi.
            Akhirnya, begitulah pelajaran yang akan kita dapatkan dari dua film bertema identik tersebut. Pelajaran bagaimana memaknai pendakian dengan benar dan penuh khidmat. Jadikanlah pendakian sebagai penempa diri, dan bentuk rasa syukur atas keindahan ciptaan Tuhan. Bukan malah menzalimi ciptaan-Nya. Maka ceritakanlah agar mereka berpikir!




[1] Ini bukan hanya tentang ketinggian, tetapi juga sikap.

3 comments:

  1. Alhamdulillah dapat sedikit inspirasi baca ini proposal thesis pun kelar (karena judul proposalnya dari film Everest), syukron

    ReplyDelete

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com