Friday, 13 November 2015

Aku Bukan Malaikat

http://www.keepcalm-o-matic.co.uk/p/ibu-malaikat-tak-bersayap/

“Ya wajar kalau banyak salah, kita kan manusia, bukan malaikat!”
   Beberapa kali, bahkan sering kita dengarkan ada ungkapan sejenis seperti di atas. Pemakluman kesalahan karena diri yang hanya berkapasitas sebagai manusia, tidak sempurna dan banyak kekurangan. Hal ini diperkuat dengan bunyi pepatah Arab, “Manusia tempat salah dan lupa” juga dengan hadis, “Setiap anak Adam adalah sering berbuat salah. Dan, sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang-orang yang bertaubat.”[1] Sedangkan malaikat, ia jauh berbeda dengan manusia.

 
            Penggunaan kata malaikat dalam bahasa Indonesia biasanya dianggap berbentuk tunggal, sama dengan kata ulama. Dalam bahasa Arab–dari mana kata-kata itu berasal–keduanya merupakan bentuk jamak dari kata malak (ملك) untuk malaikat. Ada ulama yang berpendapat bahwa kata malak, terambil dari kata alaka (ألك) malaikah (ملكة) yang berarti mengutus atau perutusan/risalah. Adapun karakternya adalah suci dari sifat-sifat manusia dan jin, selalu bertasbih kepada Allah, selalu takut kepada Allah, tidak pernah bermaksiat, tidak makan dan minum, dan yang lebih membedakannya dari manusia adalah malaikat diciptakan dari cahaya, sedangkan manusia diciptakan dari tanah. Dari beberapa sifat-sifatnya yang terlihat sempurna itu, sehingga seringkali kita mengatakan bahwa kita bukan makhluk sempurna seperti malaikat. Padahal, seharusnya tidak begitu.
            Manusia, Allah ciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna. Bahkan bila dibandingkan dengan malaikat sekalipun. Satu ayat familiar akan menjadi pendukung bahasan kita kali ini, “sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”[2] Manusia telah diciptakan dalam bentuk terbaik. Bentuk terbaik Ciptaan Allah, termanifestasi dalam diri manusia. “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”[3] Manusia memiliki segala kesempurnaan ciptaan Allah ketimbang makhluk yang lain.
Manusia memiliki nafsu, sedangkan malaikat tidak. Manusia memiliki akal yang dinamis, sedangkan malaikat hanya memiliki akal yang statis. Manusia berjenis kelamin, sedangkan malaikat tidak. Dan yang lebih penting, manusia bisa bercanda, dan malaikat tidak bisa bercanda. Seharusnya ini menjadi pertanda bahwasanya kita sebagai makhluk bernama manusia jauh lebih sempurna ketimbang malaikat. Masalahnya hanya ada pada satu hal, yakni potensi.
Potensi dalam definisinya adalah suatu hal yang dapat dikembangkan. Manusia, memiliki potensi, karena manusia memiliki nafsu. Inilah salah satu di antara keistimewaan manusia ketimbang makhluk lainnya. Hewan, dia tidak diberikan akal yang dinamis seperti manusia, sehingga nafsunya selalu lebih di depan ketimbang pikirannya. Malaikat, tidak diberikan nafsu oleh Allah, sehingga orientasi hidupnya hanyalah mengabdi kepada Sang Pencipta. Sedangkan manusia, diberikan nafsu oleh Allah. Sehingga dengan nafsu tersebut, manusia sendirilah yang menentukan, dia manusia sungguhan atau bukan. Ketika manusia mengedepankan hawa nafsunya, maka ia akan lebih hina daripada hewan. Oleh sebab itu, Allah seringkali menjadikan hewan sebagai perumpaan manusia yang mengedepankan hawa nafsu dan menafikan akal serta hatinya. Tersebutlah laba-laba sebagai analogi manusia yang lemah iman, anjing sebagai analogi orang yang ngeyel apabila diajak ke jalan yang benar, keledai sebagai analogi manusia yang tidak paham akan kitab sucinya sendiri, semut sebagai analogi pasukan yang patuh terhadap komando atasan, kuda sebagai perwujudan siap-siaga, hingga binatang ternak –ingat, babi juga binatang ternak- sebagai analogi manusia yang tidak menggunakan hati, mata, dan telinganya di jalan yang benar.
Potensi yang dimunculkan oleh nafsu inilah yang harus dikontrol oleh manusia, dan sungguh Allah-pun telah mewanti-wanti agar manusia tidak teledor terhadap potensi tersebut. “Maka dia mengilhamkan kepada jiwa (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”[4] Ayat tersebut sebagai jawaban atas ayat, “sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada keburukan, kecuali yang dirahmati oleh Tuhanku.”[5] Malaikat dan hewan, tidak diberikan kesempatan untuk memilih seperti itu. Hidup mereka statis dan tidak berwarna. Begitu-begitu saja. Maka inilah satu dari sekian banyak kelebihan manusia ketimbang makhluk lainnya. Manusia diberi pilihan dalam hidupnya. Maka tinggal manusia ingin memilih yang mana; karena potensinya bisa menjadi lebih baik daripada malaikat, atau lebih buruk daripada binatang.
Manusia adalah makhluk yang sempurna. Sesungguhnya Allah telah melebihkan manusia di atas semua makhluk, tetapi manusia yang seringkali lupa bahwa Allah telah meninggikan mereka. Malaikat adalah perwujudan ketaatan tanpa cela, bukan perwujudan kesempurnaan makhluk. Mereka jelas taat kepada Allah, karena Allah tidak memberikan mereka nafsu dan akal yang dinamis. Sepatutnya manusia banyak-banyak bersyukur atas itu semua. Kita bisa merasakan nikmatnya minum kopi, kita bisa merasakan lezatnya makan pempek, dan juga kita bisa menilai seseorang tampan atau cantik. Itulah karunia Allah kepada manusia. Bersyukurlah dengan banyak-banyak beribadah dan bertobat kepadanya. Maksiat, adalah wujud dari pembangkangan terhadap-Nya, dan tobat adalah jalan kembali kepada-Nya. Semua manusia, pasti pernah bermaksiat, bahkan seorang nabi pun tak memungkirinya. “(Yusuf berkata) Dan aku tidak menyatakan diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu selalu mendorong kepada keburukan.”[6]
Manusia paling sanggup mengemban amanah Allah, dan juga paling sanggup untuk lari dari amanah Allah. Allah memberi amanah khalifah di muka bumi pada manusia di hadapan para malaikat untuk menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang jauh lebih baik daripada malikat. Bahkan ketika Adam ‘alahissalam diminta untuk menyebutkan nama-nama benda, malaikat pun bungkam dan malu kepada Allah. Bahkan amanah Allah ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Mereka semua tidak ada yang sanggup, dan hanya manusia yang menyanggupinya. “Sesungguhnya Kami telan Menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir tidak mampu melaksanakannya, lalu dipikullah amanah itu oleh manusia. Sungguh, manusia sangat zalim dan sangat bodoh, sehingga Allah akan mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan; dan Allah akan menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah Maha Pengampun, dan Maha Penyayang.”[7]
Hidup kita sebagai manusia, hanya memilih satu di antara dua pilihan; menjadi lebih baik daripada malaikat, atau lebih hina daripada binatang. Ketika kita berbuat maksiat, maka bertobatlah. Bukan malah berdalih, “Aku hanya manusia, bukan malaikat”. Karena manusia sejatinya lebih baik dari malaikat, berarti ketika manusia berdalih seperti itu, mereka sedang mencoba menjadi lebih hina daripada binatang.




[1] HR. Tirmidzi
[2] At-Tiin (95): 4
[3] Al-Israa (17): 70
[4] Asy-Syams (91): 8-10
[5] Yusuf (12): 53
[6] Yusuf (12): 53.
[7] Al-Ahzab (33): 72

5 comments:

  1. Biasanya kalau di kaskus. Pertamax gan :D

    ReplyDelete
  2. Bisakah beri pendapat anda definisi nafsu yang dirahmati oleh Allah ta'ala. Karena kita biasanya manusia sering salah menafsirkan nafsu yang dtgnya dri Allah atau dari bisikan syaitan

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada 3 jenis nafsu:

      1. Nafsu amarah
      Yaitu jiwa yang masih cenderung kepada kesenangan-kesenangan yang rendah, yaitu kesenangan yang bersifat duniawi. Dalilnya sudah disebutkan di atas (QS. Yusuf: 53)

      2. Nafsu Lawwamah
      Yaitu jiwa yang sudah sadar dan mampu melihat kekurangan-kekurangan diri sendiri, dengan kesadaran itu ia terdorong untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan rendah dan selalu berupaya melakukan sesuatu yang mengantarkan kebahagian yang bernilai tinggi. Dalilnya dalam QS. Al-Qiyamah: 2

      Nafsu Mutmainnah
      Yakni jiwa tenang, tentram, karena nafsu ini tergolong tahap tertinggi, nafsu yang sempurna berada dalam kebenaran dan kebajikan, itulah nafsu yang dipanggil dan dirahmati oleh Allah SWT, Sebagaimana firman Allah:
      Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. (QS. Al - Fajr : 27-28).

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Syukron akhi atas penjelasannya

    ReplyDelete

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com