Saturday, 7 November 2015

Jadilah Manusia Peka, Bukan Pekak


Jadilah Manusia Peka , Bukan Pekak

“Cowok tuh suka gak peka deh...”
            Kalimat di atas adalah salah di antara sekian kalimat yang membicarakan masalah kepekaan. Ya, biasanya kaum Adam yang menjadi kambing hitam soal peka. Peka dalam bahasa Indonesia berarti “mudah merasa”. Maka dari itu wajar apabila keluhan banyak perempuan tentang lelakinya adalah karena tidak peka. Karena mayoritas laki-laki lebih mengedepankan logika, ketimbang mayoritas perempuan yang lebih mengedepankan perasaan. Mereka berbeda.
            Bahasan kali ini adalah tentang kita sebagai manusia yang diwajibkan peka. Mengapa wajib? Jelas saja, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam adalah orang yang ma’shum[1] namun sesekali ditegur oleh Allah akibat ketidakpekaannya. Ayat ini menjadi contoh yang paling kentara, “Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling, karena seorang buta telah datang kepadanya.”[2] Allah menegur Rasulullah akibat sikap acuhnya kepada Abdullah bin Ummi Maktum, seorang sahabat Rasulullah yang buta. Kejadiannya ketika itu di Kota Mekkah. Rasulullah yang disibukkan dengan pembicaraan bersama para pembesar Quraisy sekaliber Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Abu Jahal, al-Abbas bin Abdul Muthallib, dan Umayyah bin Khalaf.[3] Sedang serius-seriusnya Rasul berdiplomasi agar mereka tertarik masuk Islam, datanglah Ibnu Ummi Maktum sembari berkata, “Wahai Rasulullah, bacakan dan ajarkanlah apa yang telah Allah ajarkan kepadamu!” Ibnu Ummi Maktum mengulang kata-katanya, sehingga Rasul merasa terganggu dan memalingkan mukanya seraya enggan menjawab permintaan Ibnu Ummi Maktum. Setelah selesai berdialog dengan para pemuka Quraisy, Rasul pun pulang. Sebelum tiba di rumahnya, masih dalam perjalanan, Rasulullah mendapat wahyu dari Allah yang isinya berupa teguran tersebut. Ketidakpekaan dapat saja berbuntut panjang. Rasulullah saja sampai bisa ditegur langsung oleh Allah akibat ketidakpekaannya.
            Sebaliknya, kepekaan seringkali dipuji oleh Allah. Hal ini dapat kita cermati dari kisah Dzulqarnain yang dapat memberikan solusi untuk sebuah permasalahan dalam masyarakat. Demikian halnya Nabi Musa alaihissalam yang kepekaannya berhasil didaulat menjadi menantu seorang Nabi. Dan momen tersebut menghantarkan Nabi Musa ke gerbang pengangkatan dirinya sebagai nabi dan rasul. Kepekaan seorang Isaac Newton berhasil membuat namanya melambung tinggi hingga sekarang. Kisah masyhurnya, Isaac Newton melihat apel yang jatuh dari pohonnya, kemudian entah bagaimana caranya ia langsung menggagas tentang gravitasi bumi. Kepekaan membawa kita pada realita kehidupan.
            Menjadi manusia yang peka adalah suatu keharusan. Karena kriteria pemimpin pun harus peka terhadap lingkungan dan bawahannya. Tidaklah mungkin seorang pemimpin dapat dikatakan baik apabila pemimpin tersebut tidak peka terhadap permasalahan yang ada di sekitarnya, apalagi terhadap keluhan bawahannya. Seperti yang terjadi sekarang. Pemimpin kita mungkin rajin blusukan, namun sayangnya tidak peka terhadap permasalahan yang sebenarnya terjadi berlarut-larut di negeri ini. Seorang kepala rumah tangga pun dituntut peka terhadap apa yang terjadi di dalam rumah tangganya. Sehingga permasalahan rumah tangga akan dapat terselesaikan dengan baik. Karena kepekaan akan memberikan kepedulian. Kepedulian yang memberikan kebahagiaan kepada lingkungan sekitar.
            Kepekaan, adalah juga elemen terpenting bagi kita untuk berdakwah. Seorang dai harus peka terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Sehingga dakwahnya tepat sasaran dan tepat guna. Karena mengatasi problematika yang terjadi di tengah umat, haruslah diawali dengan insting kepekaan seorang dai. Dai yang kurang peka, akan alpa terhadap problematika yang terjadi. Hal ini mengakibatkan problematika umat yang terbengkalai. Kepekaan seperti Dzulqarnain-lah yang secara nyata dapat memberikan solusi bagi problematika umat yang ada. Ketidakpekaan seorang dai akan berujung masalah. Karena kepekaan dibutuhkan juga untuk menjaga perasaan antar-sesama dai. Karena terkadang kita tidak menyadari apa yang kita lakukan justru menyakiti perasaan orang lain.
            Dus, hanya satu topik inilah yang diangkat dalam bahasan kali ini; tentang kepekaan. Banyak alasan bagi kita untuk menjadi manusia peka. Dan banyak alasan bagi kita untuk menghindar dari menjadi manusia pekak.[4] Manusia peka, akhir ceritanya seperti Nabi Nuh ‘alaihissalam, yang berhasil selamat dan menyelamatkan umatnya dari terjangan banjir besar. Sedangkan kaumnya yang pekak terhadap dakwah Nabi Nuh, harus menerima kenyataan menjadi manusia terlaknat dan terombang-ambing dalam banjir besar yang Allah jadikan azab untuk mereka. Mulai hari ini, cobalah untuk lebih peka. Dan kamu harus peka terhadap perasaanku.



[1] Terjaga dari kesalahan
[2] ‘Abasa (80): 1-2
[3] Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Aisar at-Tafaasir li al-Kalaami al-‘Aliyyi al-Kabir, (Madinah: Maktabah al-‘Uluw wa al-Hikam)
[4] Tuli.

1 comment:

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com