Wednesday, 18 November 2015

Jangan Permainkan “InsyaAllah”!

“InsyaAllah-nya InsyaAllah mana nih? InsyaAllah Indonesia atau InsyaAllah beneran?”

            Mengernyitkan dahi, berpikir keras, dan gregetan. Itu beberapa reaksi spontan saya ketika mendengar ucapan seperti di atas. Ya, apa bedanya InsyaAllah di Indonesia, di Malaysia atau di Arab Saudi? Nyatanya, orang Indonesia memang mempunyai PR besar ketika berjanji dan datang tepat waktu. Ketika mereka bersepakat akan suatu hal, dan mereka enggan berjanji karena ragu, maka InsyaAllah menjadi jurus andalan mereka. Ya, InsyaAllah deh!
            Ada lagi kasus yang lebih lucu. Ketika saya mengajar di kelas, atau bertanya tentang suatu hal yang kejadiannya sudah lewat, dijawab juga dengan “InsyaAllah”. Contohnya begini: “Bagaimana, apakah semuanya sudah paham terhadap apa yang saya jelaskan?” Beberapa menjawab, “InsyaAllah, Mas!”. Kedengarannya memang lazim, namun sebenarnya jawaban itu sangat lucu. Dimana letak kelucuannya, akan kita bahas di belakang.
            Seharusnya tidak boleh ada lagi ungkapan seperti kalimat pembuka topik bahasan ini. Karena kata InsyaAllah bukanlah mainan, ataupun menjadi legitimasi untuk melepaskan tanggung jawab terhadap janji kita. Patutlah kita ketahui bahwasanya kata InsyaAllah ini maknanya sangat agung dan sangat sakral. Maka tidaklah pantas menjadi mainan atau sekadar menjadi pemanis janji-janji. Ada beberapa hal yang akan membuat kita lebih berhati-hati dalam menggunakan kata InsyaAllah, dan ini pun menjadi peringatan bagi saya pribadi.
            Kata InsyaAllah, telah sangat jelas disyariatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. “Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut); 'Insya Allah'.”[1] Asbabun Nuzulnya, sebagaimana yang telah masyhur diceritakan, adalah ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dijadikan bahan fit and proper test oleh orang Yahudi. Karena ingin memastikan apakah Muhammad memang benar seorang nabi atau bukan. Suatu hari, kaum Quraisy mengutus an-Nadlr bin al-Harts dan Uqbah bin Abi Mu'ith menemui seorang pendeta Yahudi di Madinah untuk menanyakan kenabian Muhammad. Lalu, kedua utusan itu menceritakan segala hal yang berkaitan dengan sikap, perkataan, dan perbuatan Muhammad. Lalu, pendeta Yahudi berkata kepada mereka berdua, “Tanyakanlah kepada Muhammad akan tiga hal. Jika dapat menjawabnya, ia memang benar nabi yang diutus. Akan tetapi, jika tak dapat menjawabnya, ia hanyalah orang yang mengaku sebagai Nabi. Pertama, tanyakan tentang pemuda-pemuda pada zaman dahulu yang bepergian dan apa yang terjadi kepada mereka. Kedua, tanyakan juga tentang seorang pengembara yang sampai ke timur dan barat serta apa yang terjadi padanya. Ketiga, tanyakan pula kepadanya tentang ruh.”
Pulanglah utusan itu kepada kaum Quraisy. Lalu, mereka bergegas menemui Rasulullah dan menanyakan ketiga persoalan tersebut di atas. Dengan pede-nya, Rasulullah bersabda, “Aku akan menjawab pertanyaan kalian esok hari.” Rasulullah SAW menunggu-nunggu wahyu sampai 15 malam, namun wahyu tak kunjung turun. Orang-orang Makkah mulai mencemooh dan Rasulullah menjadi gundah sekaligus dan malu karena tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada kaum Quraisy. Kemudian, datanglah Jibril membawa wahyu QS. Al-Kahfi:23-24 yang menegur Rasul karena memastikan sesuatu yang belum terjadi tanpa mengucapkan “InsyaAllah”. Jibril sekaligus menyampaikan wahyu tentang pertanyaan titipan pendeta Yahudi tersebut. Yakni tentang pemuda-pemuda yang bepergian (Ashabul Kahfi) (18:9-26); seorang pengembara, yakni Dzulqarnain (18:83-101); dan perkara ruh (17:85). Ini perkara pertama untuk mengubah cara pandang kita terhadap kesakralan kata InsyaAllah. Kata InsyaAllah harus kita gunakan untuk berjanji, atau memastikan suatu hal yang nanti terjadi, bukan yang sudah terjadi. Maka dialog yang tadi --“Bagaimana, apakah semuanya sudah paham terhadap apa yang saya jelaskan?” Beberapa menjawab, “InsyaAllah, Mas!”—itu menjadi lucu, karena jawaban tersebut menandakan bahwa si penjawab belum paham. Karena InsyaAllah digunakan untuk suatu hal yang belum terjadi. Apabila kita ditanya, “Sudah makan belum?” Sepanjang kita belum pikun, kita pasti akan menjawab saklek, “sudah” atau “belum”, tidak mungkin “InsyaAllah sudah”.
Perkara kedua, adalah bahwasanya kata InsyaAllah bukanlah hanya disyariatkan kepada Nabi Muhammad dan para umatnya saja. Umat-umat terdahulu juga menggunakan kata InsyaAllah agar mereka dimudahkan dalam menjalankan urusan. Artinya, InsyaAllah juga sudah membudaya di zaman para nabi sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita dapat melihatnya dalam QS. Al-Baqarah: 67-71, tentang orang-orang Bani Israil yang ngeyel ketika diperintah untuk menyembelih sapi betina. Pada ayat ke-70, diterangkan kengeyelan mereka dengan meminta penjelasan untuk kesekian kalinya tentang sapi betina. Namun, kali ini mereka mengatakan InsyaAllah sebagai “penjamin” agar Nabi Musa tetap menjawab. “Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk.”[2] Kemudian barulah mereka melaksanakan perintah tersebut, dan ini menunjukkan bahwa InsyaAllah bermakna sebagai kepastian akan sebuah janji.
Selain itu, ada perkara ketiga yang akan mengubah cara pandang negatif masyarakat terhadap InsyaAllah. Ternyata Nabi Sulaiman ‘alaihissalam mendapat teguran yang identik dengan apa yang didapat oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana dalam hadis shahih ini, “Sulaiman bin Dawud berkata, ‘Sungguh aku akan menggilir sembilan puluh istriku pada malam ini, masing-masing akan melahirkan satu pejuang yang akan berjuang di jalan Allah.’ Lalu sahabatnya berkata, ‘Ucapkan Insya Allah!’ tetapi beliau tidak mengucapkannya, akhirnya dia menggauli semua isterinya itu dan tidak satu orang pun dari mereka hamil kecuali satu isteri saja yang melahirkan anak dengan wujud setengah manusia. Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, seandainya dia mengucapkan, ‘Insya Allah‘ niscaya mereka semua akan (melahirkan) para pejuang yang berjuang di jalan Allah.”[3] Ternyata kata InsyaAllah memang menjadi kunci pertolongan Allah azza wa jalla. Hadis shahih lainnya, menjadi dalil dari perkara ketiga ini. Yakni tentang Ya’juj dan Ma’juj yang menjadi pertanda datangnya hari kiamat. “Sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj membongkarnya setiap hari, sampai ketika mereka hampir melihat cahaya matahari. Pemimpin mereka berkata, “Kita pulang, dan kita teruskan esok hari. Lalu Allah mengembalikan (tembok)nya lebih kuat dari sebelumnya. Ketika masa mereka telah tiba dan Allah ingin mengeluarkan mereka kepada manusia, mereka menggali, ketika mereka hampir melihat cahaya matahari, pemimpin mereka berkata, “Kita pulang, kita teruskan besok insya Allah”. Mereka mengucapkan insya Allah. Mereka kembali ke tempat mereka menggali, mereka mendapatkan galian seperti kemarin (sudah berlubang). Akhirnya mereka berhasil menggali dan keluar kepada manusia.”[4]
Perkara keempat atau terakhir dalam topik bahasan kali ini adalah tentang seorang pemilik kebun yang sesumbar akan mendapatkan panen yang baik. “Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah mennguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)-nya di pagi hari, tetapi mereka tidak menyisihkan (dengan mengucapkan “InsyaAllah”). Lalu kebun itu ditimpa bencana yang datang dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur. Maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita.”[5] Dalam ayat ke-18 dengan lafaz “وَلَا يَسْتَثْنُونَditerjemahkan oleh Al-Qur’an terbitan Departemen Agama “tetapi mereka tidak menyisihkan (dengan mengucapkan “InsyaAllah”). Begitupun dalam tafsir Al-Qurthubi, penjelasannya juga tidak menyisihkan dengan mengucap InsyaAllah.[6] Lagi-lagi InsyaAllah menjadi sesuatu yang sakral dan sangat berpengaruh bagi masa depan yang sifatnya masih gaib.
Demikianlah, sesungguhnya begitu agung dan sakralnya makna InsyaAllah ini. Tetapi sangat disayangkan, mengapa masih ada saja ungkapan “InsyaAllah-nya InsyaAllah mana nih? InsyaAllah Indonesia atau InsyaAllah beneran?” atau yang menjadikan kata InsyaAllah sebagai tameng untuk menghindar dari tanggung jawab. Padahal InsyaAllah adalah sebuah janji, dan kita berharap Allah membantu urusan kita. Gunakanlah InsyaAllah dengan bijak, niscaya Allah akan membantu urusan kita. Tidak ada perbedaan InsyaAllah yang diucapkan oleh siapapun dan dimanapun, semuanya sama, karena berasal dari syariat yang sama. Teruntuk para ‘aktivis InsyaAllah’, jangan permainkan kata “InsyaAllah”!



[1] Al-Kahfi (18): 23-24.
[2] Al-Baqarah: 70
[3] Bukhari-Muslim
[4] HR Ibnu Majah dan at Tirmidzi dishahihkan oleh Al Albani dalam silsilah ash-Shahihah.
[5] Al-Qalam (68): 17-18
[6] Abu 'Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakr Al-Anshari al-Qurthubi , Al-Jami’ liahkam al-Qur’an wa al-Mubayyin Lima Tadhammanahu Min as-Sunnah wa Ayi al-Furqan

4 comments:

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com