Monday, 23 November 2015

Tanah Para Pemuka


Tanggal 20 November malam hari, pesawat yang saya tumpangi mendarat mulus di Bandara Internasional Minangkabau. Ada aroma yang berbeda ketika menginjakkan kaki di atasnya. Berbeda, bukan karena bandara ini adalah bandara internasional pertama di dunia yang menggunakan nama etnik –karena kebanyakan penamaan bandara menggunakan nama daerah dan tokoh setempat-, namun karena tanah yang kali ini saya pijak adalah Tanah Para Pemuka. Kebiasaan saya manakala berkunjung ke sebuah daerah di jagat Nusantara ini adalah mencari tahu tentang sejarah daerah dan juga tokoh-tokoh setempat. Khusus untuk Ranah Minang, saya tidak perlu repot-repot mencari tahu menggunakan mesin pencari atau tanya-tanya dengan masyarakat setempat. Karena keindahan alamnya sudah cukup terkenal dan sebagian besar pembesar negeri ini adalah Urang Awak.
            Pinggiran Danau Maninjau menjadi saksi bisu kelahiran tokoh da’i sekaligus sastrawan yang namanya kondang hingga negeri Kaherah. Buya Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih gandrung disapa Buya Hamka, sekalipun tak mengenyam pendidikan tinggi formal, dirinya digelari Guru Besar di Universitas Moestopo. Lebih garang lagi, mendapat gelar Doktor Honoris Causa atas Magnum Opus-nya yang diberi judul “Tafsir Al-Azhar”. Tafsir tersebut digarap saat di balik jeruji besi. Mengingatkan kita pada sosok pemikir Sayyid Quthb yang merampungkan Fii Zhilal al-Qur’an juga dalam masa dibui. Tulisan-tulisannya yang ‘nyastra’ masih dicari orang hingga sekarang. Tak heran orang memercayainya sebagai pemimpin umat. Selain Muhammadiyah, Buya juga pernah memimpin MUI.
            The Grand Old Man Haji Agus Salim. Orang bijak mana yang tidak kenal dengannya? Tokoh pendiri Jong Islamieten Bond ini dalam usia mudanya telah menguasai sedikitnya tujuh bahasa asing; Belanda, Inggris, Arab, Turki, Perancis, Jepang, dan Jerman. Pada 1903 dia lulus HBS (Hogere Burger School) atau sekolah menengah atas 5 tahun pada usia 19 tahun dengan predikat lulusan terbaik di tiga kota; Surabaya, Semarang, dan Jakarta. Ketika Indonesia merdeka, dia diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung. Kepiawaiannya berdiplomasi membuat dia dipercaya sebagai Menteri Muda Luar Negeri dalam Kabinet Syahrir I dan II serta menjadi Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Hatta. Sesudah pengakuan kedaulatan Agus Salim ditunjuk sebagai penasehat Menteri Luar Negeri. Koto Gadang menjadi kesohor karena telah melahirkannya.
            Solok, bukan hanya berbicara masalah Bareh Solok atau Danau Atas dan Danau Bawah saja. Tetapi juga berbicara tentang sosok penting dalam pergerakan Islam yang lahir di Alahan Panjang. Pilihannya memperdalam agama Islam bersama Tuan Hassan di Bandung alih-alih menerima beasiswa sekolah hukum di Belanda, sungguh menjadi berkah bagi kaum muslimin di Indonesia. Sepanjang pendudukan Jepang, ia memilih bergabung dengan Majelis Islam A'la Indonesia –kemudian bertransformasi menjadi Masyumi. Pada tanggal 3 April 1950, ia mengajukan Mosi Integral Natsir dalam sidang pleno parlemen. Mohammad Hatta –yang juga putra Ranah Minang- yang menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia pada waktu itu mendorong keseluruhan pihak untuk berjuang dengan tertib dan sangat merasa terbantu dengan adanya mosi ini. Mosi ini memulihkan keutuhan bangsa Indonesia dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang pada mulanya berupa serikat, hingga kemudian Mohammad Natsir diangkat sebagai perdana menteri oleh Presiden Soekarno pada 17 Agustus 1950.
            Dinamika ormas di Indonesia, tentunya dikuasai oleh dua organisasi besar; Nahdhatul ‘Ulama dan Muhammadiyah. Tentunya, kecemerlangan dua organisasi tersebut tidak lepas dari peran hebat kedua pionirnya. K.H. Hasyim Asy’ari di NU, dan K.H. Ahmad Dahlan di Muhammadiyah. Keduanya sama-sama berguru kepada Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabauwi. Dialah orang ‘ajam (non-Arab) pertama yang menjadi imam di Masjidil Haram, kemudian diikuti jejaknya oleh Syaikh Nawawi al-Bantani dari Banten. Syaikh al-Minangkabauwi lahir di Koto Tuo tahun 1860 M. Selain Ahmad Dahlan dan Hasyimm Asy’ari, murid-muridnya banyak juga yang menjadi ulama terkemuka. Mereka adalah Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul) ayah dari Buya Hamka; Syaikh Muhammad Jamil Jambek, Bukittinggi; Syaikh Sulaiman Ar-Rasuli, Bukittinggi; Syaikh Muhammad Jamil Jaho, Padang Panjang; Syaikh Abbas Qadhi, Bukittinggi; Syaikh Abbas Abdullah, Padang Japang; Syaikh Khatib Ali, Padang; Syaikh Mustafa Husein, Mandailing; dan Syaikh Hasan Maksum, Medan.
            Jauh sebelum mereka, ada Muhammad Sahab, dikenal juga dengan Petto Syarif, dan kini lebih masyhur dengan nama Tuanku Imam Bonjol, karena asalnya memang dari Bonjol. Pada tahun 1821, perang saudara antara kaum Paderi yang ingin melaksanakan ajaran agama dengan baik dan didukung para ulama melawan kaum Adat yang didukung Belanda berkobar kembali. Peperangan ini sebenarnya terjadi karena politik adu domba yang diterapkan Belanda untuk menguasai Sumatera Barat. Tuanku Imam Bonjol memimpin pasukannya untuk menghadapi Belanda. Perlawanan sengit dan pasukan Imam Bonjol membuat Belanda kewalahan. Belanda kemudian terpaksa mengadakan perjanjian damai pada tahun 1824 yang dikenal sebagai Perjanjian Masang. Namun, tidak bertahan lama karena dilanggar sendiri oleh Belanda. Ketika akhirnya Bonjol dapat dikuasai Belanda pada tahun 1837, Imam Bonjol dijebak Belanda dan diasingkan ke Cianjur. Setelah itu dibuang lagi ke Manado dan wafat pula di sana.
            Bukan hanya kaum adam dari Tanah Minang yang menjadi pemuka. Putri Tanah Minang pun tidak boleh dipandang sebelah mata. Syaikhah Rahmah el-Yunusiyyah, perempuan tangguh pendiri Madrasah Diniyah putri, dilahirkan di Padang Panjang tahun 1900 M. Rahmah belajar membaca dan menulis tulisan Arab dan latin dari kakaknya, Zainuddin Labay El Yunusy dan Muhammad Rasyad setelah ayahnya wafat. Ketika pada 1915 Zainudin mendirikan Diniyyah School, sekolah Islam dengan sistem modern, Rahmah ikut belajar disana. Disamping itu, pada sore harinya ia berguru pula kepada Syaikh Abdul Karim Amrullah, yang merupakan ayah Buya Hamka. Pada 1 November 1923 Rahmah merintis sekolah agama untuk putri dengan nama Madrasah Diniyyah lil Banat. Ada juga yang menamakannya dengan Meisjes Diniyyah School. Inilah sekolah khusus perempuan pertama di Nusantara. Atas prestasinya itulah, Universitas al-Azhar memberikan gelar kehormatan padanya. Gelar ini adalah gelar pertama yang disematkan kepada perempuan oleh pihak al-Azhar. Pada 1957 ia menunaikan ibadah haji dan ia diundang oleh Universitas al-Azhar di Kairo untuk memperoleh gelar kehormatan “Syaikhah”.
            Agam tak habis-habisnya melahirkan para pencetak sejarah. Selain Agus Salim dan Buya Hamka, lahir pula dari sana seorang perempuan penoreh tinta emas dalam dunia jurnalistik. Dia adalah sepupu dari Haji Agus Salim, saudari seayah dari Sutan Sjahrir, dan memiliki keponakan penyair terkenal Chairil Anwar. Dia tidak bersekolah, karena umumnya perempuan Minangkabau waktu itu tidak dikirim ke sekolah formal. Meski demikian ia gemar belajar dengan membaca buku dan Koran. Sejak usia 8 tahun ia sudah mahir menulis dalam Bahasa Melayu, Arab, dan Arab Melayu dan kegiatannya tersebut terus berlanjut hingga dewasa. Nama Rohana Kudus, menjadi laporan sejarah, bahwa dialah wartawati pertama Indonesia.
            Jika kita mengenal Raden Ajeng Kartini yang harum namanya, seharusnya kita lebih mengenal nama Hajjah Rangkayo Rasuna Said. Sayangnya, banyak yang mengira nama HR. Rasuna Said yang juga menjadi nama jalan protokol di Jakarta, sebagai seorang lelaki. Sejak kecil telah mengenyam pendidikan Islam di pesantren. Pada saat sekolah inilah, ia pernah menjadi satu-satunya santri perempuan. Sejak saat itu, Rasuna Said sangat memperhatikan kemajuan dan pendidikan bagi kaum perempuan. Pada tahun 1932 Ia sempat ditangkap dan dipenjara oleh pemerintah Belanda karena kemampuan dan cara pikirnya yang sangat kritis. Rasuna Said juga tercatat sebagai wanita pertama yang terkena hukum Speek Delict, yaitu hukum pemerintahan Belanda yang menyatakan bahwa siapapun dapat dihukum karena berbicara menentang Belanda. Pada masa penjajahan Jepang, Rasuna Said merupakan salah satu pendiri organisasi pemuda Nippon Raya. Dalam karir politiknya, HR Rasuna Said pernah menjabat sebagai DPR RIS dan kemudian menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung sejak tahun 1959 sampai meninggal. HR. Rasuna Said juga lahir di Maninjau, Agam, seperti Buya Hamka. Sayang seribu sayang, aksi nyata perempuan Minang berhijab ini tidak membuat namanya di negeri ini lebih harum ketimbang Kartini.
            Sekitar 2 tahun yang lalu, para psikolog muslim Indonesia harus kehilangan sosok inspiratifnya. Ia menghabiskan sisa umurnya sebagai pendidik dan guru besar ilmu psikologi di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta bidang Ilmu Jiwa Agama. Setelah menyelesaikan pendidikan doktor di Mesir pada 1964 --diterima di Fakultas Pendidikan Universitas Ain Shams, Kairo tanpa tes untuk program S2. Setelah selesai, ia melanjutkan S3 di Universitas yang sama-, ia membagi waktu bekerja dan membuka praktik konsultasi psikologi. Ia pernah dipercaya sebagai Direktur Pendidikan Agama dan Direktur Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam, bertanggung jawab atas kebijakan dan eksistensi lembaga-lembaga pendidikan Islam. Ia duduk di Dewan Pertimbangan Agung periode 1983–1988 --satu-satunya perempuan dalam keanggotaan DPA. Pada saat yang sama, ia adalah anggota Dewan Riset Nasional dan mengurusi bidang masalah keluarga dan anak pada Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode kepengurusan pimpinan Hasan Basri. Dialah Prof. Dr. Hj. Zakiah Daradjat, pelopor psikologi Islam.
            Begitu banyak tokoh-tokoh yang dilahirkan di wilayah bersemboyan “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah’ ini. Tokoh-tokoh yang disebutkan ini, hanyalah segelintir dari banyak tokoh hebat lainnya. Bukan hanya memiliki kekayaan alam yang indah, namun juga memiliki putra-putri pembangun bangsa dan agama. Inilah berkah Allah kepada Ranah Minang. Apabila ada penghargaan bertajuk “Daerah Paling Berjasa”, mungkin penghargaan tersebut pantas disematkan kepada Provinsi Sumatera Barat, Tanah Para Pemuka. Bagaimanapun, ungkapan masyhur “Ketek Banamo, Gadang Bagala”[1] bagi saya yang bukan orang Minang, haruslah menjadi ruh bagi setiap orang Minang dimanapun mereka berada. Kini, setelah dikaruniai gubernur yang dekat dengan Tuhannya, akankah ada lagi putra-putri Minangkabau yang dapat mengguncang Nusantara bahkan dunia?




[1] Saat kecil ia memiliki nama, saat besar ia memiliki gelar

2 comments:

  1. Ketek Banamo, Gadang Bagala !! Get it~

    ReplyDelete
  2. Setelah membaca ini saya sebagai org minang merasa memiliki beban berat yang harus di pikul bg zaky... ����

    ReplyDelete

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com