Thursday, 31 December 2015

Kali Ini Tentang Ayah


Ibumu, ibumu, ibumu, baru ayahmu. Sebuah hierarki orang yang patut dihormati berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam yang cukup familiar. Adalah Rasulullah ditanya perihal siapa yang patut dihormati dalam kehidupan. Tiga kali ditanya, Rasulullah menjawab “Ibu”, hingga yang keempat kalinya, barulah Rasul menjawab “Ayah”. Hadis ini cukup menguatkan posisi seorang ibu dalam rumah tangga. Bagaimana kita menghormati ibu yang telah mengandung dan menyapih kita dalam keadaan payah yang bertambah-tambah. Tentunya menjadi teguran bagi siapapun yang tidak menghormati ibunya. Namun, bukan berarti kita harus melupakan dan meminggirkan sosok ayah. Hanya karena ayah bukan seorang yang mengandung dan menyapih, lantas sosoknya hanya menjadi sumber dimintai uang. Maka pembicaraan kali ini, adalah pembicaraan tentang ayah.
            Sosok ayah adalah sosok yang bekerja dalam diam. Operasi senyap. Kehadiran ayah membawa suasana tegang menjadi tenang, amarah menjadi amanah, diuji menjadi terpuji. Layaknya Luqman al-Hakim, seorang ayah adalah sosok yang diharapkan untuk terus memberikan untaian nasihat bijak. Luqman bukanlah nabi, ia hanyalah seorang yang penuh ilmu dan hikmah. Namanya dapat diabadikan karena pesan-pesan penting kepada anaknya. Jika momen seorang ayah yang menasihati anaknya hanya masuk kategori “momen biasa-biasa saja” tidaklah mungkin momen ini akan dimasukkan ke dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Tentunya, pesan yang dititipkan seorang ayah kepada anaknya adalah peristiwa luar biasa yang harus selalu diingat anaknya hingga ajal menjemputnya.
            Pengaruh ayah sebagai kepala keluarga terhadap keluarganya sangat besar. Karena bila diibaratkan, ayah sebagai teko berisi air yang siap menuangkan isinya kepada setiap anggota keluarganya. Pernah berpikir simpel mengapa lelaki boleh beristri lebih dari satu sedangkan perempuan tidak boleh bersuami lebih dari satu? Maka kita akan kembali ke filosofi teko. Apabila ada 1 teko dan 4 cangkir, kita bisa memenuhi cangkir tersebut dengan air yang ada di dalam teko dengan isi yang sama rata. Ini perumpamaan ketika seorang suami memiliki 4 istri. Namun, bayangkan apabila cangkirnya hanya 1, dan tekonya berjumlah 4. Apakah yang terjadi pada cangkir tersebut? Pastilah cangkir tersebut tidak kuasa menampung air dari 4 teko tersebut.
            Pengaruh ayah kepada anaknya sangatlah besar. Hal ini sebetulnya dijelaskan dalam Al-Qur’an, namun kerapkali luput dari perhatian kita. Mari arahkan perhatian kita kepada ayat berikut: “Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu.”[1]
            Alkisah, Nabi Musa dan Khidhr –‘alaihimas salam- melewati suatu perkampungan. Lalu mereka meminta makanan kepada penduduk di kampung tersebut dan meminta untuk dijamu layaknya tamu. Namun penduduk kampung tersebut enggan menjamu mereka dan justru mencemooh mereka. Lalu mereka berdua melanjutkan perjalanan, kemudian menjumpai dinding yang miring dan hampir roboh di kampung tersebut. Khidr ingin memperbaikinya. Kemudian Musa berkata pada Khidhr, “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.”[2] Nabi Musa tentu bertanya sembari gregetan. Karena sebelum tiba di tempat itu, justru Khidhr melakukan pembunuhan terhadap anak yang tidak bersalah, dan sebelumnya lagi Khidhr membocorkan perahu orang tanpa alasan yang dapat dipahami oleh Nabi Musa. Kali ini, Khidhr malah membantu orang yang di kampung tersebut justru ia tidak dihiraukan bahkan dicemooh. Ada banyak pertanyaan muncul di kepala Nabi Musa.
            Khidhr pun akhirnya menjawab ketidaksabaran Musa, sekaligus menyatakan perpisahan mereka berdua, sesuai janji yang telah diucapkan Musa. Apabila Musa tidak sabar –untuk mempertanyakan- terhadap apa yang dilakukan Khidhr, maka Musa harus pergi dan tidak boleh lagi berguru kepada Khidhr. Tetapi Musa tidak mampu melewati ujiannya. Karena baru tiga kali Khidhr melakukan hal yang di luar nalarnya, tiga kali pula Musa tidak sabar untuk mempertanyakannya. Untuk kasus yang tembok miring tadi, Khidhr menjawab, “Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh.”[3] Mari kita garis bawahi kalimat terakhir, “sedang ayahnya adalah seorang yang saleh”, dan inilah inti dari pembicaraan kita.
            Allah Ta’ala telah menjaga harta dan simpanan dua anak tersebut, karena alasan yang cukup sederhana; karena ayahnya saleh. Ayahnya memberikan simpanan kepada anaknya ini, tentu saja bukan dari yang haram, karena ayahnya saleh. Ayahnya telah mengumpulkan harta untuk anaknya dari yang halal, sehingga karena kesalehannya ini Allah juga senantiasa menjaga anak keturunannya. Berarti peran ayah amat sangat vital dalam keluarga dan masa depan anak-anaknya. Makanan yang dimakan oleh anak-anak dalam keluarga menjadi tanggungan seorang ayah. Maka, kebersihan dan kehalalan makanan mereka adalah tanggung jawab seorang ayah. Manalah mungkin makanannya dapat terjamin kehalalan dan keberkahannya apabila ayahnya tidak saleh dan tidak memilih dan memilah harta yang patut dibelanjakan untuk keluarga.
            Ayah yang saleh akan menjamin kebaikan dan keberkahan dalam keluarga. Sesempit apapun keadaan keluarga, seorang ayah yang saleh akan membawa bahtera rumah tangga selamat dari badai dalam keadaan aman sentosa. Nabi Ibrahim ‘alayhissalam, bertahun-tahun meninggalkan anak dan istrinya. Namun, selama itu pula Ibrahim tidak pernah lelah mendoakan anak dan istrinya. Salah satu doanya yang dapat kita amalkan adalah, “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku, orang yang senantiasa melaksanakan shalat.”[4]
            Kunci dari memiliki anak-anak yang saleh sebenarnya cukup sederhana apabila orang tuanya juga saleh. Orang tua menjadi garansi anak-anaknya. Bila orang tuanya baik, pastilah mereka selalu mengajarkan yang baik-baik kepada anaknya. Bila orang tuanya buruk, sekalipun mengajarkan yang baik kepada anaknya, namun contoh buruk tersebut secara tidak langsung akan melekat terus dalam ingatan anak-anaknya, hingga anak-anaknya secara tidak sadar meniru keburukan orang tuanya. Ayah yang baik, pastinya memberikan makanan yang baik-baik kepada anak-anaknya, dari sumber yang baik-baik pula.
            Kali ini tentang ayah, yang senantiasa mengajarkan kesabaran kepada anak-anaknya, meski mereka tak pernah merasakan beratnya mengandung berbulan-bulan. Kali ini tentang ayah, yang mengajarkan ketegasan kepada anak-anaknya, meski mereka tak perlu membentak anak-anaknya setiap anak-anaknya melanggar aturan. Kali ini tentang ayah, yang gigih mencari harta yang halal demi keberkahan keluarganya. Meskipun mereka harus bekerja banting tulang. Apapun mereka kerjakan, asalkan makanan yang dimakan anak-anak mereka tetap terjaga kehalalannya. Keluarga tanpa sosok ayah, adalah keluarga tanpa ketegasan dan kebijaksanaan. Allah ridho kepada ayah yang saleh. Sehingga sekalipun sang ayah sudah tidak hidup di dunia, namun kehidupan anaknya akan selalu dijaga oleh Allah. Alasannya? Karena ayahnya seorang yang saleh.




[1] Al-Kahfi (18): 82
[2] Al-Kahfi (18): 77
[3] Al-Kahfi (18): 82
[4] Ibrahim (14): 40

4 comments:

  1. keluarga tanpa sosok ayah, adalah keluarga tanpa ketegasan dan kebijaksanaan? gmna sama anak yg yatim, atau anak yg org tua nya berpisah, atau anak anak lainnya yg tidak ada kehadiran seorang ayah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sosok ayah itu tidak mesti ayah secara biologis. Karena banyak sekali orang yang masih punya ayah tetapi merasa sosok ayah itu tidak hadir di rumahnya

      Delete
    2. Sosok ayah itu tidak mesti ayah secara biologis. Karena banyak sekali orang yang masih punya ayah tetapi merasa sosok ayah itu tidak hadir di rumahnya

      Delete
  2. Keluarga tanpa ayah keluarga tanpa ketegasan dan kebijaksanaan, itu yg mungkin sy rasakan.. Rasanya emang cuma sosok ayah yang bisa melakukan ketegasan dan kebijaksanaan itu saat ada perempuan dengan predikat "dia ibu sekaligus ayah dikeluarga ini" masih belum bisa memenuhi kata "ketegasan dan kebijaksanaan" masing2 punya kelebihannya sendiri..

    Boleh saya tambahkan?
    Tanpa ayah ibarat sususan kartu yang disusun segitiga keatas, lalu seketika kartu yg paling bawah dicabut..semua berantakan

    ReplyDelete

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com