Saturday, 19 December 2015

Propaganda Ketulusan

Propaganda. Sebuah kata yang seringkali dikaitkan dengan hal-hal yang berbau negatif. Secara definisi, propaganda adalah penerangan (paham, pendapat, dan sebagainya) yang benar atau salah yang dikembangkan dengan tujuan meyakinkan orang agar menganut suatu aluran, sikap, atau arah tindakan tertentu.[1] Tentunya propaganda selalu dilakukan di ruang-ruang publik. Adapun bentuk dari propaganda tersebut bisa saja disajikan dalam bentuk yang terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi. Apapun medianya, propaganda telah banyak dilakukan dari zaman baheula hingga sekarang. Bedanya, sekarang lebih banyak memanfaatkan kecanggihan teknologi. Siapa yang paling menguasai teknologi, dialah yang paling di atas angin untuk menghembuskan propaganda.
            Banyak sekali bentuk propaganda yang dilakukan di zaman sekarang. Lewat media bacaan, media audio, hingga media visual. Apa yang dilakukan orang-orang media di zaman sekarang, jangan dikira semata-mata hanya mencari nafkah untuk diri dan keluarganya saja. Namun lebih jauh dari itu, mereka sesungguhnya memiliki misi-misi tersendiri untuk dikonsumsi khalayak ramai, agar khalayak secara sadar ataupun tidak sadar ikut menyukseskan misi tersebut. Itulah yang namanya propaganda. Sayangnya, mayoritas misi-misi yang ada di media sekarang, justru dalam hal-hal negatif bahkan cenderung merusak. Sayangnya lagi, kebanyakan di antara kita justru sukarela ikut menyukseskan misi tersebut, dalam keadaan sadar ataupun tidak sadar.
            Sejatinya propaganda telah dilakukan semenjak zaman Adam dan Hawa. Ketika mereka berdua masih hidup damai di surga, datanglah setan menggodanya untuk memakan buah keabadian. Sungguh, Adam tidaklah tergoda. Namun, apalah daya, perempuan memang perempuan; kodratnya dirayu dan digoda. Setelah Hawa termakan bujuk rayu, Adam mengikuti. Seketika tersingkaplah aurat mereka, hingga mereka diturunkan ke bumi oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Propaganda yang paling santer terjadi adalah di masa Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Muhammad adalah  tukang sihir, Muhammad adalah orang gila yang mengaku nabi; sebutan-sebutan yang dihembuskan sebagai propaganda untuk menjatuhkan sosok terpuji bernama Muhammad. Hingga hari ini pun, propaganda untuk menjatuhkan sosok tersebut selalu terjadi dan tak pernah benar-benar berhasil. Muhammad adalah teroris, Muhammad adalah pengidap pedofilia, Muhammad tukang main perempuan; propaganda murahan yang tak pernah berhasil karena memang selalu terbantah dengan sendirinya.
            Adapun, Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat yang berkenaan dengna propaganda. “Dan demikianlah untuk setiap nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan (dari golongan) manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan.”[2]
            Propaganda melalui media kata-kata, memang mudah saja hilang terbawa angin, atau ditelan bumi. Dewasa ini, propaganda yang terjadi gencar dilakukan melalui media cetak –buku- dan film. Buku memang hanya dibaca oleh kalangan tertentu. Tentunya, peminat buku lebih sedikit ketimbang peminat film, setidaknya di Indonesia. Jika saya tanyakan kepada pembaca semua, siapa yang sama sekali belum pernah menonton film? 99% pembaca pasti tidak menjawab, karena hampir semua dari kita pernah menonton film. Film apapun. Secara tidak sadar, terkadang kita mengikuti apa yang dilakukan tokoh-tokoh dalam film. Sebut saja film animasi berseri Captain Tsubasa. Booming di era 90-an, Captain Tsubasa berhasil menghipnotis anak-anak Jepang untuk mencurahkan perhatiannya kepada sepak bola. Hasilnya, tidak terlalu mengecewakan. Jepang sukses menjadi tuan rumah perhelatan sepak bola terakbar tahun 2002 itu bersama Korea Selatan, dan inilah pertama kalinya Jepang mampu melewati fase grup dan menembus 16 besar. Selanjutnya, Jepang tidak pernah absen berpartisipas di Piala Dunia. Propaganda “bola adalah teman” milik Tsubasa secara tidak langsung membakar semangat anak-anak Jepang untuk bermain sepak bola. Kini, pecinta bola mana yang tak mengenal nama-nama seperti Keisuke Honda, Shinji Kagawa, hingga bintang-bintang kawakan macam Shunsuke Nakamura dan Hidetoshi Nakata.
            Ribuan, bahkan ratusan anak-anak di Indonesia, terpengaruh untuk berceloteh “aku siap, aku siap, aku siap” setelah munculnya film animasi seri Spongebob Squarepants menerobos dunia film kartun. Sayang seribu sayang, film tersebut sejatinya bukanlah diperuntukkan bagi anak-anak. Kita seharusnya belum lupa, ketika film V For Vendetta mendulang kecaman dari berbagai pihak karena jelas sekali pesannya berisi tentang perjuangan menuntut keadilan, dan penghinaan terhadap pihak-pihak tertentu –yang memang nyatanya terjadi. Kita juga seharusnya belum lupa, manakala film yang diadaptasi dari novel karya Dan Brown berjudul The Da Vinci Code, berhasil membuat para uskup di Vatikan kebakaran jenggot –meskipun mereka tidak berjenggot. Terakhir, satu film –yang juga diadaptasi dari novel- Indonesia, berjudul 5 CM, berhasil membuat pemuda-pemuda labil di Indonesia, menjadikan kegiatan naik gunung sebagai ajang gaya-gayaan dan pamer tulisan-tulisan memuakkan di atas gunung. Hasilnya, tidak terlalu buruk, Semeru sebagai latar belakang film, kini seperti pasar saja. Antrean mengular, hingga sampah-sampah berserakan di pelbagai sudut. Miris. Itulah hasil propaganda.
            Sekarang, kita mungkin sering muak melihat kualitas sinetron dan film Indonesia. Dengan mudahnya kita mencampakkan acara televisi dan film Indonesia. Namun, adakah upaya dari kita untuk mengubah itu semua? Sah-sah saja kita berpikir individualis, “Ah, yang penting aku sih gak suka nonton. Biar gak jadi bodoh.” Namun, ini tidak menjamin generasi muda dan sanak famili kita untuk tidak menjadi korban propaganda sampah-sampah tersebut. Maka penting bagi kita untuk melakukan sesuatu. Buatlah media tandingan, buatlah tulisan tandingan, buatlah film tandingan. Bukan berarti kita harus mengekor, namun ini berangkat dari kesadaran untuk membuat perubahan ke arah yang lebih baik. Kalau memang belum bisa, setidaknya kita bisa membantu saudara kita yang berusaha melakukan upaya tersebut. Karena bila hari ini kita masih belum berusaha untuk membuat ataupun membantuk menyukseskan upaya-upaya tersebut, itu sama saja dengan kita membiarkan generasi selanjutnya terancam mengalami kemunduran karena terpengaruh propaganda-propaganda yang ada.
            Sedikit curhat untuk mengakhiri pembicaraan ini. Suatu hari, saya dihubungi oleh seseorang yang bertindak sebagai produser dalam film Tausiyah Cinta, yakni Suwandi Basyir untuk membicarakan sebuah proyek. Selanjutnya kami melakukan pembicaraan dengan sutradaranya, Humar Hadi. Ternyata saya ditawari memerankan seorang tokoh bernama Afian dalam film tersebut. Saya tergiur, bukan karena main film akan mendatangkan banyak keuntungan, semisal popularitas dan kekayaan. Namun, karena misi di balik proyek tersebut. Belakangan saya mengetahui, production house yang menggawangi mereka bukanlah PH yang punya banyak uang untuk menggarap film. Kalau hanya mencari popularitas, jelas saya tidak serta-merta menemukannya. Karena memang tokoh yang ditawari oleh Mas Ibas dan Bang Umank –panggilan akrab mereka- justru tokoh yang harus disembunyikan, hingga orang-orang baru tahu tokoh tersebut setelah selesai menonton. Kalau uang yang dituju, jelas sekali bukan. Karena kami di sini, justru harus bersusah-susah bersama untuk menyukseskan penggarapan film ini. Namun, begitulah penggarapan film tersebut memang demi melawan propaganda negatif yang dilakukan oleh film-film lain. Memang perlawanannya tidak sepadan, namun dengan langkah kecil yang dicicil, kita harus yakin bahwa semuanya akan indah pada waktunya, cepat atau lambat. Karena karya yang dibangun dengan ketulusan hati, akan dinikmati oleh mereka yang hatinya tulus pula, dan jangan remehkan kekuatan hati. Setelah film ini ditolak oleh XXI karena disinyalir tidak ada penontonnya, justru kini berhasil membungkam anggapan tersebut. Agenda nonton bareng (nobar) yang digelar di kurang dari 12 titik di kota-kota besar Indonesia, justru berhasil menyedot hingga lebih dari tujuh ribu penonton. Jumlah yang cukup fantastis, mengingat film-film Indonesia sekarang sulit sekali untuk menembus angka ribuan penonton, meskipun sudah nangkring di bioskop lebih dari seminggu.
            Inilah propaganda ketulusan, yang berawal dari ketulusan, dan untuk ketulusan. Maka, bila kita tidak bisa melakukan kebaikan, hal terbaik yang harus dilakukan adalah kita membantu mereka yang sedang berjuang melakukan kebaikan. Masihkah kita ingin membiarkan saudara-saudara kita mengonsumsi sampah-sampah yang mereka dapatkan melalui tontonan?



[1] Kamus Besar Bahasa Indonesia
[2] Al-An’am (6): 112

1 comment:

  1. pas baca postingan ini tepatnya pas udah nyampe paragraf ke-7, sempat mikir, mungkin yang dimaksud kak zaky tuh kayak 'Tausiyah Cinta' gitu ya?, film yang bisa dibilang mem'baper' hehehe alias membawa perubahan dari film film yang sudah ada sebelumnya. ternyata bener, diparagraf selanjutnya emang ngebahas TC.
    tapi pas nobar filmnya belum bener bener ending kak.. itu yang bikin syedih :'(

    ReplyDelete

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com