Thursday, 7 January 2016

Futur Literasi

Futur, secara bahasa memiliki dua makna. Pertama yaitu terputus setelah bersambung, terdiam setalah bergerak terus. Kedua yaitu malas, lamban atau kendur setelah rajin bekerja. Futur secara istilah merupakan suatu penyakit yang dapat menimpa seseorang yang berjuang di jalan Allah. Futur yang paling ringan menyebabkan seseorang terhenti setelah terus-menerus melakukan ibadah. Futur, kata berasal dari bahasa Arab yang akar katanya adalah: Fatara – Yafturu – Futurun, yang artinya menjadi lemah dan menjadi lunak. Intinya makna dari futur adalah berhenti setelah giat bergerak.
Futur. Istilah ini saya kenal sejak saya mengenal suatu gerakan dakwah. Gerakan dakwah tersebut menyebut kadernya yang menghilang tiba-tiba setelah aktif berdakwah dengan sebutan futur. Sehingga futur ini adalah ungkapan negatif, dan dianggap sebagai penyakit yang mengganggu produktivitas gerakan dakwah. Dalam konteks dakwah, futur adalah satu penyakit yang menimpa aktivis dakwah dalam bentuk rasa malas, menunda-nunda, berlambat-lambatan dan yang paling parah ialah berhenti dari melakukan amal dakwah. Sedangkan sebelumnya ia adalah seorang yang aktif.
Beberapa bulan ini saya mengalami kemalasan dalam membaca, dan produktivitas menurun dalam hal menulis. Berlarut-larut hingga tidak sadar ketika gairah untuk membaca dan menulis itu hampir hilang seluruhnya. Maka saya pinjam istilah futur ini, karena saya yang tadinya aktif membaca dan menulis, tiba-tiba malas melakukan dua aktivitas tersebut.
Saya sempat dicap “Berandal Kutu Buku”. Masa awal-awal kuliah, penampilan saya cukup buruk –untuk tidak disebut memuakkan. Rambut gondrong, celana yang sobek-sobek, dan bersandal. Bukanlah hal buruk apabila kita memakai sandal, namun ini masalahnya saya bersandal ketika kuliah. Namun saya tak pernah lupa membawa buku di tas saya. Bukunya pun tak tanggung-tanggung tebalnya. Kemanapun saya membawa buku dalam tas ransel. Jadilah banyak yang menyebut saya kutu buku. Tetapi berpenampilan tidak seperti kutu buku kebanyakan. Orang-orang yang mengenal saya sekarang mungkin menyatakan saya pantas menyandang predikat kutu buku, apalagi sekarang saya berkacamata. Namun, mereka yang mengenal saya sejak lama tentu tidak berpendapat demikian.
            Kebiasaan saya membaca 30 halaman per hari, dan menulis setidaknya 3 halaman per hari. Membaca 30 halaman itu belum dihitung membaca qur’an dan pesan-pesan kurang penting di media sosial ataupun whatsapp. Sebanyak apapun aktivitasnya, pokoknya harus saklek peraturannya. Tidak boleh dilanggar. Maka ketika bepergian dalam waktu yang lama, saya merasa kurang jika hanya membawa satu buku bacaan. Biasanya membawa 2 atau 3 buku. Namun ternyata titik jenuh itu selalu ada di setiap lini. Beberapa bulan belakangan ini saya mengalami kemalasan dan kehilangan gairah dalam membaca. Sehingga pikiran terasa kosong, dan pembicaraan pun sering kurang berbobot. Inilah dampak dari kurang membaca. Kurang memperkaya otak dengan bacaan-bacaan bergizi.
            Masa-masa malas ini saya namakan futur literasi. Entah sudah pernah ada atau belum yang membuat istilah ini. Yang jelas, karena bagi saya ini penyakit yang berbahaya. Malas baca, malas menulis itu berbahaya! Mengapa? Rasanya tak pernah bosan saya berpesan kepada siapapun; bahwasanya kegemilangan peradaban itu terletak pada kebiasaan membaca dan menulis rakyatnya. Pembicaraan tentang Andalusia tak pernah lekang oleh waktu, karena ulama-ulama ketika itu gandrung sekali menulis. Begitupun peradaban gemilang di Baghdad pada masa kejayaan Khilafah Abbasiyah, karena ulama-ulama dan para ilmuwan yang sungguh produktif dalam menulis. Jika mereka produktif menulis, pastilah jauh lebih produktif dalam membaca. Karena –tolong camkan baik-baik- sesungguhnya menulis adalah membaca, dan membaca adalah menulis. Ketika kita menulis, kita sedang membacakan kembali apa yang terdata di pikiran kita. Ketika kita membaca, kita sedang menuliskan di pikiran kita atas apa yang kita baca. Maka kedua hal ini adalah hal yang tidak mungkin terpisahkan. Ibarat bersuci dengan shalat.
            Ada beberapa data menarik yang disajikan oleh Prof. Raghib as-Sirjani dan Amir al-Madari. Prof. Raghib As-Sirjani mencatat bahwa angka buta huruf yang terjadi di negeri muslim mencapai 37 persen. Ini baru jumlah yang tercatat, menurutnya angka riil-nya bisa di atasnya. Sementara Amir Al-Madari menyampaikan hasil riset tingkat konsumsi buku rata-rata per-orang per-tahun di dunia. Disebutkan, orang Jepang rata-rata membaca 40 buku pertahun, orang Eropa 10 buku dalam setahun, sementara bangsa Arab hanya 1/10 buku setahun. Jika diasumsikan bahwa jumlah halaman buku adalah 200 halaman, maka bangsa Arab hanya membaca 20 halaman setiap tahun. Mirisnya, publik memandang Arab adalah Islam, dan Islam adalah Arab.[1] Jelas sekali penyebab utama kemajuan dan kemunduran sebuah peradaban berasal dari lini ini, lini budaya literasi. Oh ya, kira-kira dimana posisi Indonesia dalam budaya baca ini? Mungkin sebaiknya kita tidak tahu sama sekali, supaya tidak terlalu menanggung malu. Membaca itu kebutuhan, bukan hobi. Membaca itu sama halnya dengan makan, minum, bernafas. Karena tanpa membaca, kita tidak akan mengerti apa-apa.
            Bangsa ini sudah dari dulu futur literasi. Lemah syahwat dalam belajar, namun rakus meraih kekuasaan. Orang cerdas pun tidak diberi tempat di sini. BJ. Habibie contoh besarnya. Dr. Warsito mungkin menyusul. Dr. Warsito berkarya dengan menciptakan ECCT untuk menyembuhkan kanker pun tak digubris oleh para petinggi. Tetapi saham Freeport terus-menerus jadi bahasan hangat. Jelas sekali kata ‘kemajuan’ menjadi kata yang cukup sulit dicari dari kamus peradaban Bangsa Indonesia.
            Tulisan ini bukan untuk sombong-sombongan tentang budaya baca yang ada pada diri saya. Sama sekali bukan. Justru untuk memantik siapapun yang berdiri di atas Bumi Nusantara ini. Hei, saya yang bodoh ini bisa banyak membaca dan menulis, mengapa kalian yang pintar ber-IPK hampir 4 tidak bisa melakukannya? Saya yang pemalas ini bisa membaca 30 halaman per hari dan menulis paling tidak 3 halaman per hari? Mengapa kalian yang rajin mencuci, menjemur, dan menyetrika baju sendiri tidak mampu melakukannya? Ini masalah peradaban. Tentunya kita akan bangga manakala anak kita kelak menjadikan kita, orang tuanya, sebagai ensiklopedi berjalan. Mereka tak perlu jauh-jauh keluar rumah untuk belajar, karena kita siap mengajarkan. Seperti halnya para pembangun negeri kita. Mereka banyak yang tak pernah mencicipi bangku sekolah formal, namun prestasinya sangat membanggakan. Jangan sampai anak-anak jauh dari orang tuanya hanya karena menilai orang tuanya kurang berwawasan.
            Biasanya banyak pertanyaan sejenis, “Bagaimana cara menumbuhkan minat membaca?” Sebetulnya mudah saja. Apalagi jika kita muslim. Perintah pertama yang diberikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah membaca. Perintah itu wajib dilaksanakan atau tidak? Setiap muslim apalagi mukmin, pasti melaksanakan segala perintah Allah. Allah memerintahkan kita untuk membaca. Kalau kita tidak melakukan apa yang diperintahkan-Nya, lalu apa status kita di hadapan Tuhan kita?



[1] Raghib as-Sirjani & Amir al-Madari. Spiritual Reading. Aqwam: Solo.

6 comments:

  1. Bagus istilahnya. Tapi tak apalah kadang malas membaca, karena bosan dong baca 30 halaman kertas tiap hari. Dalam keadaan futur tersebut mungkin bisa disambi dengan membaca pikiran orang lain, membaca cuaca atau membaca kata hati sendiri :P toh sama-sama membaca

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, membaca bukan sekedar membaca buku.

      Delete
  2. Kebiasaan membaca buku memang bagus. Tapi bagaimana cara memilih buku yang bagus? Terutama buku tentang pengetahuan. Entah itu pengetahuan agama ataupun pengetahuan lain yang bisa menambah wawasan kita? Karena saat ini banyak buku-buku yang ya bisa dibilang menyesatkan.
    Boleh request tulisan tentang tips memilih buku bacaan yang baguskah?
    Kalo boleh ditunggu postingannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa dilihat dari siapa penulisnya dan penerbitnya. Baiknya meminta rekomendasi dari yang menguasai bidangnya

      Delete

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com