Thursday, 3 March 2016

Penduduk Pahit Lidah di Negeri Gemah Ripah

Nusantara memiliki banyak kekayaan. Tidak hanya kekayaan alam yang dimiliki oleh Nusantara, tetapi juga kekayaan budaya dan bahasa. Perpaduan kekayaan ini menjadikan Indonesia bertahan sebagai pemegang banyak rekor dunia. Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau yang membuatnya menjadi negara kepulauan terbesar di dunia. Bahkan tiga pulau di antaranya termasuk dalam enam besar pulau terbesar di dunia. Indonesia juga negara maritim terbesar dunia, memiliki wilayah perairan seluas 93.000 km persegi, dan pantai seluas 81.000 km persegi atau 25% wilayah pantai di dunia. Indonesia merupakan negara dengan suku bangsa terbanyak di dunia, dimana terdapat setidaknya 740 suku bangsa/etnis. Satu wilayah Papua –termasuk Papua Barat- saja sudah memuat 270 suku. Indonesia juga memiliki 583 bahasa daerah dan dialek dari 67 bahasa induk, yang mana Bahasa Jawa adalah bahasa yang paling banyak penuturnya. Tanpa berlelah-lelah mencari data pun saya akan percaya. Karena saya merasakannya sendiri ketika berada di kampung halaman. Kampung halaman saya terletak di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan. Di Sumatera Selatan, jangankan antar kabupaten/kota, terkadang antar desa saja sudah berbeda bahasa. Sampai di sini saja, dunia pun sudah mengakui bahwa Indonesia adalah negara yang kaya. Tidak sedikit penelitian yang menyatakan bahwa Atlantis yang hilang, sebenarnya adalah Indonesia.
            Sebuah lagu yang dipopulerkan Koes Plus berjudul Kolam Susu berlirik, “Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”, memang terjadi betul di negeri ini. Tanah Indonesia sangat subur. Ketika para sejarahwan secara tidak langsung membela penjajah dengan mengatakan Portugis, Spanyol, Belanda dan penjajah lainnya ke Indonesia awalnya ‘hanya’ bertujuan mengambil rempah-rempah karena tanah Indonesia yang subur, ternyata invasi bangsa asing ke Nusantara bahkan sudah lebih lawas lagi. Tahu apa yang digunakan oleh orang-orang Mesir zaman Fir’aun untuk mengawetkan mumi? Ya, mereka menggunakan kapur barus sebagai pengawet sekaligus pengharum. Untuk mendapatkan kapur barus, mereka harus berlayar jauh hingga ke daerah Barus, Sumatera Utara. Itulah mengapa disebut kapur barus, karena asalnya memang dari Barus. Ada bagian dari Nusantara ini yang tanahnya tidak subur, tetapi toh tidak kehilangan akal untuk menyejahterakan dirinya. Ada yang menambang emas dan permata, ada pula yang menjadikan ‘tongkat’ sebagai makanan pokoknya, yakni singkong. Ada pula yang ‘memanen’ garam untuk mendulang uang. Faktor-faktor tersebut menjadikan Indonesia berjuluk Gemah Ripah Loh Jinawi (Tentram makmur, subur tanahnya).
            Namun pertanyaan yang paling mendasar adalah, mengapa Indonesia masih sulit move on dari garis kemiskinan? Pengelolaan sumber daya yang kurang efisien dan keengganan untuk keluar dari zona nyaman adalah beberapa sebab di antara penyebabnya yang lain. Seorang kawan pernah berceloteh, “Allah itu adil ya. Dia Menciptakan tanah yang tidak subur, tapi penduduknya berpikir maju, jadi mereka melancong ke negeri orang untuk mengelola SDA-nya. Dia Menciptakan negeri yang subur seperti Indonesia ini, tapi penduduknya bodoh karena serakah. Bukan bodoh dalam arti harfiah.” Freeport berhasil dengan ‘gemilang’ mengubah bukit di Timika menjadi kawah. Silakan cari gambar bukit Grasberg sebelum dikeruk untuk diambil emasnya, dan bedakan dengan Grasberg yang sekarang. Lucunya, pemegang kepentingan di pihak Indonesia puas dengan mendapat ‘bagi hasil’ yang besarnya hanya 1% dan bonus kerusakan alam! Selain itu, fakta bahwa Indonesia sebagai negara maritim terbesar, tidak didukung dengan jumlah kapal selam yang dimiliki; yakni hanya 2 unit saja! Saat ini, jumlah kapal selam Indonesia hanya 2 unit saja, tidak lebih dan tidak kurang. Kedua unit kapal selam Indonesia ini adalah jenis U-209 berbobot 1300 ton buatan Jerman yang dibeli sekitar tahun 1977 dan mulai digunakan Angkatan Laut Indonesia sejak tahun 1981. Kedua unit kapal selam Indonesia dari jenis ini adalah KRI Cakra (401) KRI Nanggala (402). Negeri yang kaya, namun penduduknya tidak bermental kaya.
            Saya teringat akan seorang tokoh yang menjadi raja folklore Sumatera Bagian Selatan, ‘Si Pahit Lidah’. Rakyat Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, dan Lampung, pasti tidak asing dengan cerita rakyat tentang Si Pahit Lidah. Bahkan kisah tentangnya pernah diangkat ke layar kaca berjudul Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat. Dikisahkan bahwa Si Pahit Lidah adalah seorang pangeran bernama Serunting dari daerah Sumidang, anak keturunan raksasa bernama Putri Tenggang. Dijuluki Si Pahit Lidah karena kesaktiannya yang bisa mengutuk apapun dan siapapun menjadi batu hanya dengan sekali ucap. Temuan-temuan arkeolog berupa gua, batu, dan patung dipercaya rakyat sekitar sebagai hasil kutukan dari Si Pahit Lidah.
            Kesaktian Si Pahit Lidah ini seakan menjalar ke lidah-lidah penduduk Indonesia. Seringkali penulis temui rakyat kecil yang berprofesi sebagai pedagang atau penjual jasa seperti becak, ojek, dan jasa angkut yang mengeluhkan pemerintah yang kinerjanya buruk, wakil rakyat yang hobi tidur dan korupsi,  hingga cuaca pun acapkali menjadi kambing hitam kekesalannya. Sayangnya, ‘kesaktian’ Si Pahit Lidah juga menjalar ke lidah-lidah para birokrat dan pemegang kekuasaan. Kalau sudah dituduh tidak becus, yang dilakukan adalah mengambinghitamkan pihak lain, dan tidak jarang rakyat yang ditanya balik, “sudah berbuat apa untuk negara?”. Seakan sulit sekali duduk bersama dan turun sejenak melihat ke bawah dengan seksama apa yang sebenarnya terjadi, dan apa yang sebenarnya dibutuhkan. Karena pemimpin dan rakyatnya berpahit lidah, maka yang terjadi di sekitarnya justru seakan menjadi batu dan sulit untuk diambil manfaatnya. Seolah menjadi batu, karena sumber dayanya kadung diambil orang lain. Seolah menjadi batu, karena terlalu sering mengutuki nasib, sehingga tidak mampu memanfaatkan celah harapan yang ada di sekelilingnya. Seolah menjadi batu, karena semuanya dipandang salah dan tidak mendengarkannya.
            Ketika melawan Si Mata Empat, Si Pahit Lidah dikalahkan karena kesaktian Si Mata Empat yang dapat melihat apapun yang ada di sekitarnya tanpa harus berbalik badan. Kesaktiannya dapat membantu mengalahkan Si Pahit Lidah karena ia mampu memanfaatkan segala potensinya demi mengalahkan Si Pahit Lidah. Tulisan ini, bukan untuk mengawang-awang bagaimana kita menjadi Si Mata Empat. Namun, bagaimana kita dapat memanfaatkan segala potensi kita untuk menciptakan cahaya, sehingga terbitlah harapan untuk berubah ke arah yang lebih baik. Bukan hanya mengutuk kegelapan dan nasib yang buruk, sehingga mata kita buta terhadap seberkas cahaya yang muncul di hadapan kita.

            Negeri ini akan tetap gemah ripah jika rakyatnya tidak terus-terusan berpahit lidah. Kekayaan yang dimiliki haruslah menjadi senjata untuk kemajuan, bukan justru menjadi senjata untuk saling menyerang antar saudara.

1 comment:

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com