Saturday, 1 October 2016

Jangan Berharap "Asal Jangan"

Ini soal harapan. Ya, tulisan ini soal harapan. Setiap orang pasti pernah berharap dalam hidupnya. Apa yang diharapkan pastilah sesuatu yang diinginkan. Keinginan yang menjadi harapan pun pastilah atas dasar pertimbangan tertentu. Misalnya saja ketika pasangan suami-istri mendapatkan momongan. Mereka pasti akan memberikan nama yang terbaik bagi anaknya, dengan harapan nama tersebut menjadi doa dan bisa menginspirasi sang anak ketika dewasa kelak. Maka para orang tua pastilah berharap anaknya menjadi anak yang berguna bagi keluarga, bangsa, bahkan agama. Tidak ada harimau yang memakan anaknya sendiri. Begitupun manusia yang lebih mulia daripada harimau. Manusia bukan hanya tidak ingin mencelakakan anaknya sendiri, namun lebih dari itu, manusia berharap anak-anaknya dapat meneruskan cita-cita dan perjuangannya kelak. Atas dasar harapan yang tinggi itulah, hampir mustahil apabila para orang tua berharap anaknya sekadar “asal jangan durhaka”.
            Harapan itu tidak ada batasnya. Harapan dibatasi oleh pelakunya sendiri. Nyatanya sah-sah saja berharap setinggi-tingginya, asalkan jangan memaksakan keadaan. Itulah yang dilakukan para nabi di masa lampau. Salah satunya adalah harapan yang dipatri oleh Nabi Zakariyya ‘alayhissalam, “Dan aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku.”[1]Sejatinya mempunyai anak adalah termasuk ketetapan-Nya. Ada yang ditakdirkan memiliki anak banyak, ada yang ditakdirkan hanya memiliki seorang anak, ada pula yang ditakdirkan tidak memiliki anak sama sekali. Sayang seribu sayang, lelaki tua ini adalah seorang nabi yang Allah limpahkan karunia padanya. Tidak memiliki putra, berarti tidak memiliki pelanjut estafer perjuangan. Tubuh Zakariyya ‘alaihissalam telah ringkih, rambutnya sudah memutih, hatinya bersedih, kemudian berdoa dengan suara lirih. Tentunya sebuah harapan yang sangat melangit apabila ia meminta anak di usia setua itu. Tentunya harapan yang dibangun oleh Zakariyya bukanlah sekadar harapan “asal jangan tak berketurunan”, tetapi harapan akan ada orang yang melanjutkan risalah dakwahnya.
            Belakangan ini, harapan “asal jangan” menjadi populer. Apalagi penyebabnya kalau bukan pilkada DKI yang akan menampilkan tiga pasang calon gubernur dan wakil gubernur. Harapan awal yang dibangun umat Islam dari kalangan islamis –karena banyak umat Islam dari kalangan abangan- di Jakarta beberapa kali menyuarakan agar umat Islam mengusung satu pasangan calon saja. Dikarenakan mereka tidak menginginkan Ahok, yang notabene beragama non-Islam untuk memimpin DKI Jakarta. Harapan umat semakin tinggi manakala muncul koalisi kekeluargaan yang dibangun oleh beberapa partai, sebut saja PPP, PAN, Demokrat, PKB, Gerindra, dan PKS. Sembari menunggu PDIP bergabung, koalisi tersebut memunculkan sejumlah nama yang akan diusung. Selain Sandiaga Uno, nama-nama yang muncul menyentuh nama Ridwan Kamil, Yusril Ihza Mahendra, Yusuf Mansur, hingga walikota perempuan fenomenal, Tri Rismaharini yang rencananya akan dicabut dari kursi walikota Surabaya untuk dipinang warga DKI. Namun, harapan tinggallah harapan. Hingga batas kesabaran koalisi kekeluargaan habis, PDIP belum juga bergabung, yang artinya Risma pun semakin sulit dijangkau.
            Jengah, koalisi kekeluargaan mulai pecah. Gerindra dan PKS, sebagai dua partai pemilik kursi parlemen terbanyak di DKI setelah PDIP, mantap mengangkat duet Sandiaga Uno-Mardani Ali Sera. Publik yang awalnya mulai membayangkan peta persaingan yang semakin menguatkan Ahok, kemudian mulai pesimis terhadap pasangan calon yang diusung oleh Gerindra-PKS. Namun di menit-menit akhir, Mardani hilang dari peredaran, menyisakan Sandi yang belum jelas akan dipasangkan dengan siapa. Yusril yang setahun belakangan ini mulai digadang-digadang untuk menduduki kursi DKI 1 semakin muncul ke permukaan. Perundingan yang dilakukan PKS dan Gerindra pun menemui mufakat, bahwa Yusril takkan diusung oleh mereka. Desas-desus beredar bahwa syahwat politik yang terlalu besar dalam diri Yusril membuat Gerindra dan PKS enggan mengusungnya. Yusril berencana untuk nyapres di 2019. Artinya, Yusril akan mengikuti jejak Jokowi. Bedanya, Jokowi digambarkan oleh media sebagai manusia tanpa dosa yang bergelimang prestasi sebagai pemimpin daerah. Sedangkan Yusril tergambar di media sebagai orang cerdas yang angkuh dan belum teruji apabila diberi kesempatan memimpin sekian juta rakyat dalam sebuah provinsi. Selain itu, status Yusril yang masih menjabat sebagai pimpinan sebuah partai juga menjadi masalah tersendiri bagi Gerindra dan PKS. Wajar, mereka saja sulit mengusung tokohnya dalam pilkada DKI, masak harus mengajukan tokoh dari partai lain? Jelas rasa gengsi menyelimuti. Bayangan pertarungan antara anak Belitung Barat (Yusril) dengan anak Belitung Timur (Ahok) pupus sudah. Harapan yang tadinya muncul agar Ahok kalah telak atas head to head yang ada, sirna begitu saja. Karena di menit-menit akhir, peta pertarungan berubah.
            Koalisi kekeluargaan pecah, dengan menyisakan Gerindra berjuang berdua bersama PKS yang secara mengejutkan mengusung Anies Baswedan yang disandingkan dengan Sadiaga Uno sebagai wakilnya. Sedangkan yang lain bergabung mengusung Agus dan Sylvi. Menariknya, Anies adalah orang yang dianggap berpandangan liberal soal agama, dan tentunya ini bertentangan dengan ideologi Islam yang dianut para kader PKS. Artinya, kader-kader PKS yang dulunya sering ‘menghujat’ Anies, setidaknya akan memuji dan mencari kebaikan Anies dalam setahun ke depan, atau justru enam tahun ke depan apabila Anies-Sandi terpilih. Hal ini tidak mengherankan, karena dahulu ketika pemilihan presiden pun kader-kader PKS yang awalnya ‘menghujat’ Prabowo dan tokoh partai lain, berbalik mendukung dan memuji habis-habisan ketika PKS memutuskan untuk mendukungnya.
            Sementara itu, pencalonan Agus sebagai calon gubernur dari Demokrat dinilai hanya ingin memenuhi ambisi ayahnya yang tidak ingin namanya tenggelam di kancah perpolitikan Indonesia. Agus yang memang cukup cerdas dari segi akademik dan kemiliteran, dengan mudahnya melepas status ketentaraannya untuk maju di pilkada DKI. Entah peluang apa yang sedang dibaca ayahnya. Yang jelas, kalah atau menang, Agus akan melanjutkan kiprah ayahnya di dunia politik pasca pilkada DKI. Sedangkan PDIP sebagai partai –yang mengaku- raja di DKI akhirnya menjatuhkan pilihan kepada pasangan Ahok-Djarot. Risma yang tadinya digadang-gadang akan dimajukan, nampaknya hanya akan disimpan untuk diusung menjadi Jatim 1, atau bahkan menjadi RI 1 di 2019 apabila Jokowi nantinya ‘susah dibilangin’. Karena di masa yang akan datang, PDIP akan menghadapi nama-nama yang terbilang berat dan bersih, Ridwan Kamil misalnya.
            Akhirnya, harapan umat Islam yang tadinya menginginkan head to head antara calon muslim dengan calon non-muslim sekarang buyar. Lagi-lagi hanya karena syahwat politik yang tak terbendung demi menggapai kekuasaan. Anekdot pun berkembang di tengah masyarakat, “Mau Agus atau Anies, yang penting asal jangan Ahok”. Publik seolah haram berharap setinggi-tingginya soal pemimpin DKI, karena kondisi yang memaksa demikian. Harapan yang dibangun dengan “asal jangan” hanyalah harapan kosong yang dibalut dengan keputus-asaan. Pada akhirnya mereka yang berharap akan kecewa dan berbalik melawan, tetapi tidak menutup kemungkinan harapan itu justru berakhir manis, atau malah melebihi ekspektasi. Yang jelas, para islamis di DKI bisa mendapat pahala atas harapan “asal jangan”-nya karena berikhtiar agar tidak memilih pemimpin non muslim –yang menzalimi umat.
             



[1] Maryam (19): 3

2 comments:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by a blog administrator.

      Delete

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com