Tuesday, 18 October 2016

Mempertanyakan yang Harus Dipertanyakan

http://i678.photobucket.com/albums/vv147/falasik/berhentimenyalahkanoranglain.png

Masih hangat diperbincangkan soal calon gubernur DKI Jakarta petahana, Basuki Tjahaja Purnama, alias Ahok yang mengingatkan masyarakat sebuah daerah di Kepulauan Seribu agar tidak mudah dibodohi orang lain, hingga dibohongi dengan surah al-Maaidah ayat 51. Meskipun Ahok sudah meminta maaf secara terbuka, namun gelas yang pecah tidak mungkin dapat rapat kembali. Itulah yang terjadi pada umat Islam yang merasa terhina oleh tutur kata Ahok yang sungguh tidak sopan. Ini bukan sekali-dua kali Ahok melakukan blunder di hadapan publik. Beberapa kali Ahok kerap dan memang patut disalahkan karena berkata tidak pantas di muka publik, terlepas dari benar atau salah tindakannya.
Memang pada kenyataannya tiada manusia yang dibenci oleh seluruh manusia yang lain, pun tiada manusia yang dicintai oleh seluruh manusia yang lain. Toh tidak sedikit pihak muslim membela perbuatan dan perkataan Ahok. Salah satunya siapa lagi kalau bukan Nusron Wahid, yang belakangan juga ramai diperbincangkan di dunia maya sebab sikapnya berkoar-koar membela Ahok dan menyalahkan MUI dalam sebuah forum diskusi yang ditayangkan oleh sebuah stasiun televisi nasional. Tetapi inti tulisan ini bukanlah untuk membicarakan soal Ahok dan Nusron.
            Saya sebagai penulis tunggal –setidaknya hingga tulisan ini saya publikasikan- dalam situs ini ingin membicarakan soal mendudukkan kembali siapa yang harus disalahkan, siapa yang harus dibenarkan, dan juga siapa yang harus dipertanyakan. Disadari atau tidak, umat manusia –khususnya umat Islam- dari zaman ke zaman belum selesai dalam membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan prinsip. Masih banyak muncul pertanyaan semacam, “apakah Islam itu ideologi?”, atau pertanyaan, “apakah al-Qur’an benar-benar otentik atau sudah diubah sebagaimana Injil dan Taurat?”. Lucunya pertanyaan-pertanyaan remeh seperti itu dipertanyakan oleh umat Islam sendiri, bahkan para akademisi di kampus-kampus Islam. Padahal sudah seharusnya umat Islam mengetahui dengan jelas jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Memang ada kesalahan terstruktur yang tidak disadari sedari dulu, yakni soal penanaman paham yang kuat kepada umat Islam sejak dini. Kita –umat Islam- bahwa shalat lima waktu itu wajib, zakat itu wajib, puasa Ramadhan wajib, shalat tarawih sunnah, memotong kuku pada hari Jumat itu sunnah atau makan daging babi itu haram, tanpa pernah diberitahu sebab-sebabnya. Padahal, untuk menetapkan sebuah amalan itu wajib atau sunnah, tidaklah semudah itu. Ada petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan dalam hukum Islam, sebagaimana dalam hukum yang lain. Ahkamul khamsah yang sudah kita ketahui sejak kecil tidak muncul secara bim salabim abrakadabra lalu muncullah hukum wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Tetapi mengalami proses pengkajian yang panjang oleh para ulama dan juga fuqaha (ahli fikih). Bahkan dalam Mazhab Hanafi, Imam Abu Hanifah menetapkan hal yang berbeda, yakni menjadi fardhu, wajib, mandub/sunnah,  makruh  tanzihiyan, makruh tahrimiyan, haram dan mubah. Semua itu melalui proses pengkajian yang cukup panjang.
            Semenjak runtuhnya supremasi kejayaan Islam yang diwajahi oleh Dinasti Ottoman di awal abad ke-20, umat Islam kehilangan kekuatan hampir di segala aspek. Itulah awalan yang membuat kebanyakan bagian dari umat Islam hanya menjadi penonton hingga detik ini. Percepatan informasi, kecanggihan teknologi, kemajuan peradaban, dan keistimewaan lainnya hanya bisa dinikmati umat Islam tanpa mereka bisa menciptakannya. Bersamaan dengan itu, mulai muncul kembali tokoh-tokoh Islam yang ingin mengembalikan kejayaan. Sebut saja Hasan al-Banna dengan Ikhwanul Muslimin-nya, atau Taqiyuddin an-Nabhani dengan Hizbut Tahrir-nya. Mereka kembali mengingatkan kepada umat Islam tentang janji-janji Allah dan Rasul-Nya, tentang keutamaan menegakkan syariat, tentang kenikmatan di akhirat kelak. Mereka mencoba memantik semangat umat Islam yang lama tertidur panjang dalam buaian mimpi. Sementara di pihak Barat, muncul pula upaya-upaya untuk mencederai usaha mereka. Maka dibuatlah penelitian untuk mengkritisi teks al-Qur’an, mendekonstruksi syariat, hingga mengundang para pemuda muslim untuk dibina oleh mereka dengan dalih pewarnaan dalam keilmuan.
            Diskusi tentang integritas al-Qur’an sebenarnya bukanlah ‘karya’ orisinil dari Barat, tetapi sudah terjadi pada periode awal Islam. Soal ini telah dibahas oleh para cendekiawan terdahulu macam Abu ‘Ubayd al-Qasim ibn Sallam, Imam al-Baqillani, hingga Jalaluddin as-Suyuthi.[1] Namun, atas kealpaan umat Islam, juga kecerdikan cendekiawan Barat, isu-isu semacam itu seolah-olah menjadi hal yang baru. Disamping itu, kodifikasi dan penulisan al-Qur’an menjadi sebuah kitab yang baku sudah sangat ciamik dilakukan oleh Zaid bin Tsabit atas perintah Abu Bakr ash-Shiddiq. Utamanya Zaid mengumpulkan ayat-ayat dari hafalan-hafalan orang lain, kemudian diperbandingkan, diteliti, barulah ditulisnya dalam lembaran sebagai teks yang baku.[2] Kecerdikan para tokoh Barat sebenarnya sudah mulai terlihat ketika mereka menyontek habis-habisan kemudian menggubahnya menjadi karya yang baru lewat teori-teori yang dikemukakan Ibnu Sina soal kedokteran, al-Khawarizmi soal matematika, Ibnu Khaldun soal sosial, dan ilmuwan-ilmuwan muslim lainnya. Ujung-ujungnya syariat Islam dipertanyakan kembali, mulai dari jilbab, isu poligami, hukum yang bias gender, hingga soal politik dan pemerintahan. Fase umat Islam yang hingga memasuki abad ke-18 sudah sesuai dengan siklusnya, harus mengulang kembali dari awal. Dimana umat Islam tidak memiliki apa-apa untuk dipamerkan ke hadapan khalayak ramai. Pertanyaannya adalah, apa dan siapa yang harus disalahkan, dibenarkan, dan dipertanyakan?
            Tulisan-tulisan semacam ini sesungguhnya sudah banyak sekali. Tulisan yang berisikan tentang semangat umat Islam yang mulai menurun dan bagaimana melecutnya sudah banyak sekali beredar. Salah satu yang paling terkenal adalah kumpulan jawaban dari pertanyaan seorang ulama sekaligus raja asal Sambas, Kalimantan Barat, Basyuni Imran kepada Syaikh Syakib Arsalan yang dibukukan dengan judul Limaadza Ta’akhkharal muslimin wa Limadzaa Taqaddama Ghayruhum. Namun, kesadaran umat Islam belum juga sepenuhnya mencapai titik puncak. Maka, kejadian tempo hari soal Ahok yang berbicara soal “dibohongin pake surat al-Maidah 51” diikuti dengan reaksi umat Islam di berbagai penjuru negeri adalah hal dapat dikatakan terlambat meskipun tindakan semacam ini memang sangat perlu. Juga kesalahan-kesalahan logika yang dipamerkan oleh Nusron Wahid yang tanpa malu-malunya seharusnya membuat umat Islam terus belajar, bahwa seorang muslim tidak boleh segegabah itu. Ketika Nusron mengatakan bahwa hanya Allah dan Rasul-Nya yang berhak menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an, sungguh Nusron seolah tak pernah menengok sejarah dan hadis-hadis Rasulullah. Meskipun saya masih tetap yakin, bahwa ilmu agama Nusron masih jauh di atas ilmu agama yang saya miliki. Seorang santri seperti Nusron, tidak mungkin lupa dengan hadis, “Ambillah bacaan Al Qur'an dari empat orang. Yaitu dari 'Abdullah bin Mas'ud, kemudian Salim (maula Abu Hudzaifah), lalu Ubay bin Ka'ab dan Mu'adz bin Jabal”.[3] Jelas sekali Rasulullah berpesan bahwa siapapun bisa menafsirkan isi al-Qur’an seperti dirinya, asalkan memenuhi syarat dan ketentuan sebagaimana yang dimiliki oleh keempat orang tersebut. Sedangkan Nusron juga mengetahui tentang hadis yang menyebutkan zaman  terbaik adalah zaman Rasulullah, kemudian setelahnya (sahabat), kemudian setelahnya, dan seterusnya. Artinya ia tidak perlu membahas soal gubernur beragama Nasrani di zaman Khilafah ‘Abbasiyah, karena kita sebagai umat Islam harus mengikuti zaman terbaik, yakni zaman Rasulullah. Untuk apa kita berlelah-lelah mengikuti zaman yang kebaikannya jelas di bawah zaman Rasulullah.
            Akhirnya, mungkin kita harus banyak berterima kasih kepada orang-orang seperti Ahok dan Nusron Wahid, karena atas ‘jasa’ mereka-lah umat Islam dapat bersatu turun ke jalan menunjukkan solidaritasnya sebagai umat Islam yang marah karena kitab sucinya dilecehkan sebagaimana yang terjadi beberapa hari lalu. Ternyata, kita harus menyalahkan diri kita sendiri, membenarkan orang-orang yang menghujat kita, dan mempertanyakan keislaman kita.




[1] Dr. Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, (Depok: Gema Insani, 2008), hlm. 24.
[2] Prof. Dr. M. M. Al-A’zami, The History of The Qur’anic Text: from Revelation to Compilation A Comparative Study with the Old and New Testaments, alih bahasa Sohirin Solihin dkk., (Depok: Gema Insani, 2005), hlm. 90.
[3] Shahih Bukhari No. 3476

1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com