Tuesday, 31 January 2017

Wahai Api, Jadilah Dingin dan Berikanlah Keselamatan

Seorang pemuda yang membawa risalah baru, mencoba menyebarkan risalah tersebut ke seluruh sudut kota yang dapat dijangkaunya. Namanya Ibrahim. Ayahnya yang bernama Azar menolak risalah yang mulia itu. Bahkan sampai hati menganggap anaknya sendiri sebagai orang gila. Ibrahim, yang telah mendapatkan risalah itu melalui banyak perenungan, proses rasionalisasi, dan kemudian memercayai agama itu sepenuhnya; tentu saja tidaklah mudah menyerah. Lantas Ibrahim melakukan sebuah aksi nyata untuk membungkam golongan ayahnya, yakni para penyembah berhala. Ibrahim mendatangi tempat peribadatan mereka yang di dalamnya banyak terdapat berhala dengan beragam ukuran. Tanpa ada rasa takut dan khawatir sedikitpun, Ibrahim menghancurkan patung-patung tersebut dengan kapak yang dipegangnya. Alih-alih menghancurkan seluruh berhala itu, Ibrahim membiarkan satu berhala yang paling besar, dan menggantungkan kapaknya itu ke leher berhala yang paling besar.
            “Tanyakan pada berhala yang paling besar itu!” jawaban Ibrahim kepada orang yang bertanya perihal siapa yang menghancurkan berhala-berhala itu. “Bagaimana mungkin berhala besar itu dapat menghancurkan berhala lainnya, sedangkan ia hanyalah sebuah patung?” Pertanyaan ini justru menampar dirinya sendiri. Jika memang mereka hanya patung yang tak mungkin bergerak, bagaimana mungkin patung-patung itu dapat menolong mereka, mengakomodasi keinginan mereka, atau sekadar menjawab pertanyaan mereka? Demikian pula halnya ketika Ibrahim dengan beraninya mendebat Namrud si penguasa lalim nan otoriter. “Tuhanku dapat menghidupkan dan mematikan.” Ibrahim menantang Namrud. “Aku pun mampu melakukannya.” Namrud menjawab dengan perasaan tidak mau kalah, seraya memerintahkan pengawalnya untuk memanggil dua orang, yang satu dibunuh dengan dipenggal kepalanya, yang satunya lagi dibiarkan hidup. Sebuah logika dangkal yang diperlihatkan oleh Namrud. Namun, Ibrahim tetap melayaninya dengan berkata, “Tuhanku memunculkan matahari dari timur kemudian menghilangkannya di barat, coba kau lakukan yang serupa!” Namrud merasa bagai disambar petir, tak mampu berkata-kata untuk membantah Ibrahim lagi. Praktis, percakapan itu harus berakhir dengan kemenangan mutlak yang ditorehkan Ibrahim.
            Syahdan, keluarlah karakter asli penguasa otoriter. Namrud memerintahkan staf-staf kerajaannya untuk mempersiapkan pembunuhan Ibrahim dengan cara dibakar dengan dikelilingi warga, layaknya api unggun di malam perkemahan. Ibrahim, yang tak memiliki cukup kawan, harus kalah, setidaknya untuk sementara. Ibrahim dibawa paksa oleh para loyalis Namrud, ia diletakkan di tengah-tengah kayu bakar. Dinyalakanlah api hingga kobarannya hampir mencakar langit. Ketika api semakin berkobar, warga dan para loyalis Namrud berpesta-pora atas matinya ‘si pembuat onar’. Namun, ada komunikasi gaib yang terjadi antara Sang Penolong dengan media penghukum ‘si pembuat onar’, yang tak lain adalah api. Sang Penolong adalah pencipta api, juga pencipta Ibrahim. Sang Penolong inilah yang selalu dipuja dan dipuji oleh Ibrahim. Ibrahim yang semakin dekat dengan Sang Penolong ketika gagal dalam mencari wujud-Nya di langit; ia kira Sang Penolong itu berwujud bintang, nyatanya bukan. Ia kira Sang Penolong berwujud bulan, nyatanya bukan. Ia kira Sang Penolong berwujud matahari, nyatanya Dia lebih besar dari segalanya. Dengan keyakinannya, Ibrahim memuji-Nya sebagai Dzat Yang menciptakannya dan Yang memberi petunjuk kepadanya, Yang memberinya makan dan minum, Yang menyembuhkannya ketika sakit, dan Dia-lah yang sangat diharapkannya untuk mengampuni kesalahannya di Hari Kiamat.
            Selain dialog gaib antara Sang Penolong dengan api itu, ada pula aksi tersembunyi yang dilakukan oleh para makhluk Sang Penolong, di antara mereka adalah dari kalangan cicak dan semut. Semut-semut melakukan hal yang dipandang mustahil, yakni mencoba memadamkan api dengan hanya setitik air. Sedangkan cicak-cicak sebaliknya, mereka justru mencoba meniup api, agar api itu terus berkobar membumbung tinggi, meskipun sesungguhnya para cicak itu mengerjakan sesuatu yang hampir mustahil. Tidak lama kemudian, Sang Penolong, dengan segala keagungan dan kebijaksanaan-Nya berfirman kepada api, “Wahai api, jadilah dingin dan menjadi keselamatan bagi Ibrahim.” Seketika menjadi dinginlah api itu, dan tidak berpengaruh apa-apa kepada Ibrahim kecuali memberikan keselamatan.
            Segala apapun yang tertulis dalam al-Qur’an, atau apapun yang terkatakan lewat lisan utusan-Nya, selalu mengandung pelajaran yang sangat berharga bagi siapapun yang berpikir, asalkan hatinya masih terbuka untuk mendekap kebenaran. Para nabi dan rasul itu ada yang diberikan mukjizat oleh-Nya untuk dapat menunjukkan bahwa apa yang dibawa oleh para utusan-Nya adalah kebenaran yang mutlak tanpa bisa ditawar-tawar. Maka serumit apapun mukjizat, dan semustahil apapun kemungkinan datangnya keajaiban, pastilah mudah dipercaya adanya bagi orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. Dari satu peristiwa yang disebutkan di atas, dapat menjadi ribuan hikmah dan pelajaran bagi umat yang lahir setelahnya.
            Lihatlah, cicak telah resmi menjadi hewan terlaknat hingga hari kiamat disebabkan oleh ulahnya meniup api yang membakar Nabi Ibrahim ‘alayhissalam. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam menganjurkan kepada para umatnya untuk membunuh cicak.  Padahal apa yang dilakukan cicak pada saat itu tergolong pekerjaan yang sia-sia belaka. Segala perbuatan, sekecil apapun, akan ada balasannya.
            Negeri ini sedang mengalami darurat kerukunan. Darurat yang disebabkan oleh satu orang yang tidak mengerti makna kebhinnekaan yang sesungguhnya, tetapi mengaku sebagai orang yang paham. Orang ini menganggap al-Qur’an sebagai alat kebohongan yang menurutnya kerap digunakan oleh para oknum politik busuk agar tidak memilih pemimpin non-muslim, yang notabene termasuk pula dirinya. Lucunya lagi, ia mengaku memahami al-Qur’an dan bisa saja menghafalkannya karena itu hal yang mudah. Orang seperti ini –dan juga tentunya para pendukungnya- tidak menyadari bahwa dialah pembuat keonaran sesungguhnya. Salah, tetapi tidak menyadarinya, malah menuding orang lain yang bersalah. Bodoh tetapi tidak merasa bodoh, malah menuduh orang lain yang bodoh. Sebagaimana Namrud yang bungkam ketika ditantang Ibrahim. Begitupun pendukungnya yang persis seperti penyembah berhala di zaman Ibrahim yang bungkam ketika Ibrahim mengatakan bahwa berhala yang paling besar-lah yang melakukan penghancuran terhadap berhala lainnya.
            Manakala keadaan sekarang sudah sedemikian jelas antara yang haq dan yang bathil, yang hitam dan putih, yang benar dan yang salah, yang pintar dan yang bodoh, yang Ibrahim dan yang Namrud; mengapa masih ada segolongan umat Islam yang tidak melihat kejelasan itu? Apakah tidak pernah diajarkan kepada mereka bagaimana menghormati orang berilmu dan menjauhi orang yang tidak pandai menjaga mulutnya dari ocehan-ocehan kasar? Apakah sampai hati mempercayai tuduhan-tuduhan tak berdasar yang menghina para ulama, padahal sulit bagi kita untuk menyamai kesalihannya, bahkan untuk mendekati kesalihannya saja sulit? Apakah mereka lupa bahwa nabi mereka juga dahulu banyak dituduh, dicemooh, dan dicaci? Ya, para lelaki bersorban dan berpeci itu memang bukan nabi, tetapi apakah mereka lupa bahwa ulama adalah penerus para nabi? Kemana pelajaran agama yang mereka dapatkan sedari keci, atau jangan-jangan memang tidak lagi menganggap agama sebagai pegangan yang sakral nan harus ditaati?
            Sadarlah. Ingatlah bahwa pendukung Fir’aun harus mati menderita menelan air laut hingga ditenggelamkan sehina-hinanya! Ingatlah bahwa pernah ada kaum yang harus ditenggelamkan oleh air bah setinggi gunung ‘hanya’ disebabkan oleh ejekan mereka yang tidak percaya soal proyek pembangunan kapal oleh Nuh ‘alayhissalam.

            Mungkin saja, ‘api’ yang terus membakar umat Islam hingga detik ini justru menjadi ‘dingin’ dan memberikan ‘keselamatan’. Mungkin saja, ada dialog tersembunyi antara Sang Penolong dengan ‘api’ yang semakin membubung tinggi. Mungkin saja, banyak ‘semut’ yang mendapat rahmat hingga haram untuk dibunuh, sedangkan banyak ‘cicak’ terlaknat yang dianjurkan untuk dibunuh. Mungkin saja, pesta pora yang dirayakan oleh para ‘pendukung Namrud’ justru akan mendatangkan azab yang pedih, yang tak pernah terpikirkan oleh mereka. Sebagaimana Namrud yang dapat dikalahkan oleh seekor nyamuk, kemudian tewas sebagai makhluk yang hina.

1 comment:

  1. Saya Atas nama IBU SALMAH ingin berbagi cerita kepada anda semua bahwa saya yg dulunya cuma seorang TKW di SINGAPURA jadi pembantu rumah tangga yg gajinya tidak mencukupi keluarga di kampun,jadi TKW itu sangat menderita dan di suatu hari saya duduk2 buka internet dan tidak di sengaja saya melihat komentar orang tentan AKI SOLEH dan katanya bisa membantu orang untuk memberikan nomor yg betul betul tembus dan kebetulan juga saya sering pasan nomor di SINGAPURA,akhirnya saya coba untuk menhubungi AKI SOLEH dan ALHAMDULILLAH beliau mau membantu saya untuk memberikan nomor,dan nomor yg di berikan AKI SOLEH 100% tembus (4D) <<< 4 0 3 1 >>> saya menang togel (179,juta) meman betul2 terbukti tembus dan saya sangat bersyukur berkat bantuan AKI SOLEH kini saya bisa pulang ke INDONESIA untuk buka usaha sendiri,,munkin saya tidak bisa membalas budi baik AKI SOLEH sekali lagi makasih yaa AKI dan bagi teman2 yg menjadi TKW atau TKI seperti saya,bila butuh bantuan hubungi saja AKI SOLEH DI 082-313-336-747- insya ALLAH beliau akan membantu anda.Ini benar benar kisah nyata dari saya seorang TKW trimah kasih banyak atas bantuang nomor togel nya AKI wassalam.

    KLIK DISINI ((( BOCORAN * TOGEL * JITU ( 4D ) HARI * INI )))

    ReplyDelete

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com