Tuesday, 27 June 2017

Setelah Menang, Lalu Apa?

Pernah menonton sepak bola? Apa yang terjadi setelah seorang pemain sepak bola mencetak gol? Atau pernahkah menonton Moto GP, Formula 1, dan sejenisnya? Apa yang terjadi ketika seorang pebalap berhasil naik podium setelah ajang balap usai? Atau pernahkah membaca sejarah tentang kisah-kisah perang zaman dahulu? Apa yang terjadi ketika sebuah pasukan –kerajaan Mongol misalnya- meraih kemenangan atas pasukan lain?
            Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas –sekalipun Anda belum pernah menonton atau membacanya- relatif senada. Bergembira, berpesta-pora, bahkan ada yang mengekspresikan kegembiraannya secara berlebihan hingga mencelakai diri sendiri. Kemenangan adalah sebuah keadaan dimana kita memperoleh hasil yang lebih baik daripada yang diperoleh orang lain atau pesaing kita. Oleh sebab itu, banyak sekali orang yang terlena ketika meraih kemenangan.
            Mental adalah satu elemen terpenting dalam menjalani persaingan. Seorang yang bermental pemenang bukanlah mereka yang selalu meraih kemenangan di setiap perombaan, tetapi seorang bermental pemenang adalah mereka yang siap menerima apapun hasilnya, kalah maupun menang dalam setiap persaingan yang dilakoninya. Maka jangan heran bila kita melihat mereka yang mengalami kekalahan langsung meluap emosinya dengan melampiaskannya kepada lingkungan sekitarnya. Bahkan hingga melukai orang lain. Rasanya telah sangat akrab di negeri kita, ketika ada sekelopok suporter tim sepakbola yang mengalami kekalahan lantas membuat kerusuhan setelah pertandingan baik di dalam stadion maupun di luar stadion. Ada pula calon anggota dewan yang mengalami stres dan sakit jiwa tatkala mendapati dirinya gagal menjadi anggota dewan, padahal sudah jor-joran mengeluarkan dana untuk kampanye. Ada juga yang lebih parah, siswa sebuah sekolah diberitakan bunuh diri karena tidak lulus Ujian Nasional! Begitulah yang terjadi apabila mereka tidak memiliki mental pemenang dalam jiwanya. Na’udzubillah min dzalik.
            Pasukan perang Mongol berpesta pora setiap selesai mengalami kemenangan. Sejak zaman keemasan yang dimotori oleh Genghis Khan, hingga kepemimpinan Raja Mongol yang muslim semodel Timur Leng sekalipun, tetap saja budaya itu tidak berubah. Kendatipun hal seperti ini menjadi hal lumrah bagi siapapun yang menang, namun Islam mengajarkan kerendahhatian bagi mereka yang menang.
            Tidak banyak yang tahu bahwasanya Allah mengajarkan hamba-Nya tentang adab menyikapi kemenangan yang diraih. Dalam surah An-Nashr, Allah mengajarkan para hamba-Nya untuk senatiasa mawas diri, sekalipun kita mengalami kemenangan yang besar. Meskipun mayoritas umat Islam sudah menghapal dengan baik surah Madaniyyah (turun setelah Rasulullah hijrah ke Madinah) ini, namun nyatanya mayoritas pula yang tidak memahami makna dari surah yang hanya berisi tiga ayat ini.
            Surah An-Nashr adalah surah terakhir dalam Al-Qur’an yang turun secara keseluruhan. Dari ‘Ubaidillah bin ‘Abdillah bin ‘Utbah, ia berkata: Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu 'anhuma bertanya kepadaku: “Engkau tahu surat terakhir dari al Qur`an yang turun secara keseluruhan?" Ia menjawab: “Ya, idza ja`a nashrullahi wal fath”. Beliau menjawab: “Engkau benar”. (HR. Muslim).
            Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama, tentang keadaan saat diturunkannya surah ini, apakah turun sebelum atau setelah terjadinya peristiwa fathu makkah (penaklukkan Kota Mekkah). Terlepas dari itu semua, kita dapat membuat sebuah kesimpulan, bahwa surah An-Nashr diturunkan berkaitan dengan peristiwa penaklukkan Kota Mekkah. Yaitu pertolongan Allah kepada kaum muslimin untuk merebut dan mengislamkan Kota Mekkah dari tangan kaum kafir Quraisy. Ibnu Katsir dalam tafsirnya pun menyatakan bahwa kata fathu pada akhir ayat pertama merujuk kepada peristiwa Fathu Makkah.
            Serangkaian firman Allah dalam surah ini memaparkan banyak makna. Di antaranya adalah banyaknya nikmat serta pertolongan yang Allah turunkan kepada para hamba-Nya, wajibnya seorang hamba bersyukur manakala meraih kemenangan dan kebahagiaan, dan kewajiban bagi setiap muslim untuk senantiasa beristighfar (meminta ampun) dan bertobat. Hari ini hingga beberapa hari ke depan masih kental dengan nuansa Idul Fitri, yang bagi sebagian orang benar-benar dimaknai sebagai hari kemenangan, tetapi bagi sebagian orang yang hanya sebatas diucap di lisan saja.
            Betapa banyak yang betul-betul menang setelah Ramadhan mereka yang tak disia-siakan, betapa banyak yang betul-betul menang atas berkualitasnya tadarus mereka, betapa banyak yang betul-betul menang atas berkualitasnya waktu yang mereka bagi-bagi untuk keluarga, untuk ibadah, hingga untuk memenuhi hak atas saudaranya, bahkan betapa banyak yang betul-betul menang dalam mudik-mudik mereka, dalam bermedsos ria mereka, dalam senda gurau mereka. Sebaliknya, betapa banyak yang menyia-nyiakan Ramadhan mereka, betapa banyak yang kejar target tilawah namun hasilnya hanya khatam tanpa ada pemahaman dan kesadaran yang baru, betapa banyak yang mudik, bermedsos ria, dan senda gurau mereka justru menghasilkan maksiat yang lebih besar, alih-alih ibadah yang lebih besar.
            Fasabbih, maka bertasbihlah kepada Allah di hari kemenangan kita. Bertasbih di waktu pagi dan petang. Bertasbih untuk menyucikan-Nya dari penuhanan kita kepada Ramadhan, penuhanan kita kepada selain-Nya. Bertasbih untuk mengingat kesucian-Nya yang telah memberikan kita kemuliaan dan kesucian Ramadhan, hingga kita diberikan kesempatan menapaki garis finish di ‘Idul Fitri.
            Bihamdi rabbika, dengan pujian kepada-Nya, kita bersyukur atas kesempatan melipatgandakan amalan kita di Bulan Ramadhan. Kita bersyukur atas ampunan-Nya atas dosa-dosa kecil kita yang telah lampau. Kita bersyukur atas dibelenggunya setan-setan dan neraka yang ditutup hingga kita tidak merasakan godaan dan hawa panasnya neraka. Kita bersyukur dengan adanya momen Ramadhan dan Syawal, bisa kembali berkumpul bersama keluarga dan kerabat, yang mungkin saja di bulan-bulan yang lain tidak sempat bersemuka sama sekali.
            Wastaghfirhu, maka senantiasalah meminta ampunan kepada-Nya setelah mendapat kemenangan. Tiada satupun pihak yang dapat memberikan kita kemenangan selain Dia. Tiada satupun kemenangan yang mendatangkan berkah kecuali karunia dari-Nya. Sebab meminta ampun adalah tindakan tahu diri bagi kita yang senantiasa bermaksiat, namun masih selalu diberikan kebahagiaan oleh-Nya. Sebab meminta ampun adalah perbuatan terpuji yang membuat kita tidak melampaui batas dalam merayakan kemenangan. Sebab meminta ampun adalah perbuatan para nabi, sekalipun mereka sudah memegang jaminan ampunan dari Rabb yang mengutus mereka.

            Setelah kemenangan yang kita terima, marilah kita menang dalam mudik-mudik kita, kemenangan dalam swafoto-swafoto kita, kemenangan dalam sungkem-sungkem kita, kemenangan dalam kenikmatan ketupat serta opor-opor kita, dengan iringan tasbih, tahmid, dan istighfar kita.

0 comments:

Post a Comment

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com