Monday, 31 July 2017

Bangsa Ashabul Kahfi?

Kisah Ashabul Kahfi bukanlah kisah yang asing di telinga umat Islam. Kisah ini termasuk kisah yang populer dan beberapa orang mungkin sudah mendengarnya sejak masa kanak-kanak. Bahkan seharusnya kisah ini sudah sangat dihafal oleh umat Islam hingga hikmah-hikmahnya, karena disunnahkan untuk membacanya setiap Jumat. Dan kisah Ashabul Kahfi ini terletak di tempat yang sangat strategis, yakni di awal-awal surah al-Kahfi.
            Kisah itu begitu menggugah, karena walau bagaimanapun, mereka lari bukan sekadar lari. Tetapi lari dari kejaran tentara raja zalim yang memaksa mereka menggadaikan keimanan mereka. Jumlah mereka hanya enam orang, kemudian di jalan bertemu dengan orang yang satu ideologi dan satu tujuan, jadilah jumlah mereka menjadi tujuh ditambah dengan satu anjing. Apa yang mereka lakukan memang benar-benar hal yang sudah di ambang putus asa. Mereka lari, kemudian masuk ke gua. Padahal, secara logika, mudah saja balatentara itu menemukan mereka di dalam gua. Namun, pada kenyataannya mereka selamat dari kejaran balatentara tersebut. Mereka tertidur lelap di dalam gua, dibersamai dengan seekor anjing. Setelah 309 tahun, mereka terbangun, merasa baru melewatkan sehari atau setengah hari. Tetapi apa yang mereka dapatkan ketika salah satunya keluar gua sangat mengagetkan. Ternyata zaman dan kondisinya sudah berubah total. Raja yang dulu bernafsu sekali menzalimi mereka, kini sudah berganti dengan raja yang adil dan beriman.
            Saya membayangkan, bangsa di negeri yang kita cintai ini, di zaman sekarang adalah bangsa Ashabul Kahfi. Tetapi bukan tindakan revolusionernya yang ingin saya sorot secara tajam, melainkan tidurnya yang panjang sekali. Jumat lalu, tepat pada tanggal 28 Juli 2017, saya shalat Jumat di Masjid Jogokariyan. Memang disengaja shalat di sana, karena setelah shalat Jumat akan diadakan tabligh akbar untuk menggalang dukungan pembebasan al-Aqsha. Tanpa saya nyana sebelumnya, ternyata khatib Jumat waktu itu adalah Ustadz Irfan S. Awwas, seorang mubaligh yang terkenal keras dan tegas dalam menyampaikan kebenaran agama Islam. Pada saat itu saya senang sekali, sebab selain isi khutbah yang pasti berbobot, juga penyampaiannya yang berapi-api tentu saja membuat saya jauh dari hantu Jumatan yang selalu hinggap di mata saya. Hantu itu lebih dikenal dengan sebutan ‘ngantuk’.
            Singkatnya, Ustadz Irfan menyampaikan tentang kesempurnaan Islam sekaligus menyinggung masalah keumatan, terutama masalah al-Aqsha yang hingga saat ini masih diblokir oleh Israel. Berkali-kali Ustadz Irfan berkata “Umat Islam ini masih tidur panjang”, yang walau kalimat seperti itu sudah akrab sekali di telinga saya, tetapi entah mengapa pikiran saya langsung terbang kepada kisah Ashabul Kahfi. Padahal jelas berbeda antara tidurnya Ashabul Kahfi dengan ‘tidur’nya umat Islam saat ini. Tidurnya Ashabul Kahfi jelas tidur yang amat berkualitas, karena tidurnya memang ditakdirkan Allah untuk menjauh dari rezim zalim. Tapi tidurnya umat Islam di negeri ini? Ashabul Kahfi minoritas, sedangkan bangsa ini mayoritas umat Islam. Ashabul Kahfi tak kuasa melawan rezim, tetapi umat sekarang?
            Jadi, sebetulnya tulisan ini memang sengaja saya buat singkat. Kita jelas menang jumlah, kita jelas masih memiliki ‘alim ‘ulama, kita jelas punya banyak saudara yang sejatinya mampu membantu. Namun, apa yang membuat kita tidak bisa bergerak bangkit, melawan, dan memenangkan pertempuran. Saya teringat dengan tulisan-tulisan Syaikh Syakib Arsalan yang kemudian dibukukan berjudul Limaadzaa Ta’akhkharal Muslimuun wa Limaadzaa Taqaddama Ghayruhum. Tulisan itu secara jelas mengungkapkan mengapa umat Islam tertinggal dari umat lainnya, dan sangat relevan tulisan-tulisan itu dengan kondisi saat ini. Tetapi masalahnya, tulisan itu dibuat hampir seabad yang lalu. Saat teknologi tidak secanggih dan semelenakan seperti sekarang.

            Berapa lama lagi kita masih akan tidur? Apakah juga selama dan selelap Ashabul Kahfi yang mencapai tiga abad lamanya. Saya yakin tidak, tetapi sampai kapan?

0 comments:

Post a Comment

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com