Wednesday, 24 October 2018

Realita Komoditas ‘Hijrah’ Kita


            Ketika beberapa tahun lalu seorang kawan berkata kepada saya, “Syari’at Islam sangat seksi untuk dijadikan bahan jualan,” saya tersentak, tersinggung, lalu mendebatnya. Apa yang membuatnya berkata seperti itu, apa alasan mendasar yang membuatnya berani berkata seperti itu. Katanya, karena semakin ke sini makin marak saja produk-produk berlabel syari’ah. Hotel syari’ah, bank syari’ah, pariwisata syari’ah, manajemen syari’ah, apa-apa syari’ah. Katanya itu adalah contoh bahwa syari’ah menjadi label dagangan yang menguntungkan. Namun, apapun itu, setuju atau tidak setuju, memanglah kita patut merenung.
            Sebagian pihak memang menganggap produk syari’ah lebih aman dan terpercaya. Sebagiannya lagi menganggap produk syari’ah seringkali lebih merugikan, mereka menyorot contohnya dari bank syari’ah. Sistem bagi hasil yang katanya justru lebih kecil keuntungannya ketimbang bank konvensional. Well, kita tidak akan memperdebatkan rugi-untungnya menggunakan bank syari’ah. Karena bahasan kita memang bukan itu. Setelah maraknya produk-produk syari’ah, selera pasar kemudian bergerak lebih ke kanan, lebih ke brand muslim. Penjualan busana muslim dari yang mahal yang murah meriah, hijab syar’i yang dulunya asing tetapi kini mulai banyak digandrungi, celana laki-laki di atas mata kaki yang nyunnah kini laris dan semakin terdongkrak oleh fesyen secara umum, bahkan bukan cuma hijab syar’i yang panjang dan lebar, tetapi juga cadar yang semakin banyak muslimah percaya diri mengenakannya tanpa memandang golongan dan lingkungannya.
            Islam mulai menarik banyak kalangan. Dahulu, kalangan selebriti, kalangan jet set, kalangan borjuis, kalangan menengah ke atas yang hidupnya serba mewah dianggap jauh dari kehidupan bernuansa Islam. Bahkan hingga tahun 2000-an awal, pengunaan kerudung oleh kebanyakan perempuan biasanya dicurigai berasal dari golongan Islam tertentu, yang tentunya negatif di mata masyarakat pada umumnya. Akan tetapi lihatlah tahun-tahun setelahnya hingga sekarang. Kita akan aneh melihat perempuan muslimah, rajin sholatnya, tetapi jarang menggunakan kerudung. Bahkan –maaf- tidak sedikit akan kita dapati perempuan berkerudung di tempat-tempat hiburan malam, atau tempat-tempat manapun yang memang tidak lazim jika terdapat orang-orang religius berkumpul di sana. Di satu sisi kita akan bersyukur bahwa penggunaan pakaian yang menutup aurat menjadi marak dan lazim, tetapi di sisi lain ini menjadi PR baru untuk memahamkan bahwa pakaian haruslah sejalan dengan perilaku. Karena pakaian adalah pelindung pertama seorang manusia, sebelum diteliti lebih dalam lagi kepada hati dan pikirannya.
            Fenomena ini merembet ke figur-figur publik. Kita melihat banyak sekali artis yang hijrah, alhamdulillah. Sebuah kata yang di zaman sekarang semakin santer didengar, bahkan menjadi salah satu tema kajian keislaman yang paling menarik untuk diikuti, terutama bagi kawula muda. Hijrah, akhirnya menjadi sebuah kata untuk menentukan mana yang sudah benar mana yang masih belum benar. Simpelnya, bagi wanita yang tadinya belum berkerudung, kemudian berkerudung, dapatlah dia disebut hijrah. Atau tadinya sudah berkerudung tetapi belum menutupi dada, kemudian mantap mengenakan kerudung yang lebih lebar dan menutupi dada, bahkan sampai ke bawah lagi, dapatlah dia disebut hijrah.
            Apakah fenomena hijrah ini suatu kebetulan dan spontanitas? Tentu tidak. Sebagaimana yang disebut oleh teman saya di atas, bahwa Syari’at Islam telah menjadi merk dagang yang sangat laris. Segala sesuatu akan menemui titik jenuhnya, begitu juga dalam kehidupan manusia. Orang-orang akan jenuh terus-terusan jauh dari agama, karena tanpa agama, hidup mereka sama saja tanpa norma dan aturan. Mereka butuh sesuatu untuk mengerem maksiat-maksiatnya, mereka akan merasa haus akan wejangan yang menyejukkan, mereka akan mencari apa yang selama ini sesungguhnya mereka butuhkan walau kadang tidak diinginkan. Itulah agama, itulah Islam, yang selama ini tertera di KTP mereka walau mereka tidak sepenuhnya menyadari bahwa tulisan ‘Islam’ itu dibubuhkan sejajar dengan tulisan ‘agama’. Lantas, apakah fenomena ini akan bertahan lama? Iya, akan bertahan, tetapi mungkin tidak begitu lama. Masyarakat juga akan jenuh dengan pamor hijrah yang ‘begitu-begitu saja’. Mengapa saya katakan begitu-begitu saja?
            Sekarang, coba sebutkan sosok figur publik hijrah yang Anda ketahui. Kemudian, sebutkan apa alasannya berhijrah. Lalu, kemukakan dalam benak Anda sekalian, apa hikmah di balik kisah hijrahnya. Terutama bagi Anda yang pernah mendatangi event yang diisi oleh sosok tersebut, pasti Anda bisa membayangkannya. Bagi Anda yang belum pernah datang ke event yang mereka isi, saya berikan contoh saja. Misal, sosok hijrah A awalnya adalah seorang aktor yang telah membintangi banyak sekali film dengan berbagi genre dan konten. Tidak jarang dalam film-filmnya, si A harus beradegan hal-hal yang dilarang agama. Kemudian, dalam pengembaraannya, di suatu malam, di pojok sebuah masjid, dirinya merenung, dan merasakan getaran berbeda dalam dirinya yang membuatnya mantap untuk berhijrah. Begitulah ceritanya, kemudian cerita itu disebarkan ke publik Lalu si A ini diundang kemana-mana untuk bercerita soal hijrahnya. Sampai di sini, coba bayangkan, ketika si A sudah semakin tenar, dan jadwalnya semakin padat, adakah waktu yang dimilikinya untuk belajar ilmu-ilmu agama agar penceritaan kisah hijrahnya lebih berisi dan empuk disantap masyarakat? Mungkin waktunya ada, tetapi tidak banyak. Sayangnya, pengembaraan kisah hijrahnya tidak berhenti sampai di situ. Si A ‘hanya’ untuk bercerita itu saja, mematok tarif sekitar 10 juta rupiah per event tanpa pertanggungjawaban apakah si peserta mengerti atau sekadar ingin foto-foto saja, atau memang tarifnya adalah biaya untuk foto-foto dengan penggemarnya, kemudian tanpa pertanggungjawaban pula apakah ilmu yang disampaikannya sahih atau tidak. Hal ini, jika dibiarkan terus akan seperti bola salju yang menggelinding dan menghempaskan diri sosok tersebut.
            Kita patut bahagia banyak sosok hijrah yang jadi panutan, sehingga banyak orang awam yang tidak canggung-canggung lagi ikut kajian keislaman, atau berbusana sesuai sunnah karena contoh mereka adalah figur publik. Seorang publik figur saja tidak malu, masa sih kita yang bukan apa-apa ini malu menampakkan keislamannya? Maka sosok seperti itu adalah tanggung jawab kita bersama. Pujilah mereka sebagai hadiah atas tekadnya berhijrah, tetapi jangan sampai berlebihan. Karena mereka butuh waktu belajar, demi kesempurnaan hijrahnya. Hijrah itu proses, bukan hasil akhir. Setinggi-tinggi hijrah adalah ketika mereka sudah mampu mengikuti perintah Allah, “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". (30) Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung,” (QS. 24:30-31). Inilah perintah yang paling penting untuk hijrah kita, untuk mencapai derajat orang beriman. Lalu harus meningkat ke derajat orang bertakwa, dan kemudian derajat orang yang ihsan.
            Kita harus saling merangkul sebagai saudara dalam iman. Karena sesungguhnya setiap kita sedang dalam proses hijrah, proses berpindah dari satu keburukan kepada kebaikan, bukan dari satu keburukan kepada keburukan yang lain. Kita semua dalam proses hijrah, proses berpindah dari satu kebaikan kepada kebaikan yang kebaikannya lebih baik, bukan dari satu kebaikan kepada keburukan. Seyogianya saling memuji jika berada dalam kebaikan, pujian yang mengingatkan, bukan pujian yang melalaikan. Sepatutnya saling mengingatkan jika berada dalam keburukan, mengingatkan yang menentramkan, bukan mengingatkan yang menjatuhkan. Stop memuja-muja, menggemarinya bak pangeran yang sangat tampan hingga tanpa sadar kita mengembalikannya ke jurang jahiliyah yang sudah mereka tinggalkan. Hargailah sepantasnya. Begitu pun kepada yang merasa sosok hijrah. Sepatutnya Anda menjadi penunjuk jalan, sebagai orang yang sudah berpengalaman dalam proses melepaskan diri dalam maksiat. Bukan malah jual mahal, seolah-olah ilmu kalian lebih luas daripada langit dan bumi. Ingat, ulama kita di luar sana dicaci-maki hanya karena asistennya minta bayaran yang pantas untuk ustadznya, mengingat jadwalnya yang padat dan sampai harus meninggalkan anak-istrinya. Padahal ilmu Anda dengan ilmu ulama mungkin tidak lebih dari ujung kukunya yang rutin dipotong sepekan sekali. Ulama kita di luar sana, bahkan ada yang tidak pernah memiliki rumah sendiri karena sedemikian ikhlas dan ingin membersihkan diri dari harta yang syubhat, mereka tidak pernah memikirkan bayaran ketika menyampaikan ilmu. Bahkan penginapan yang mereka terima hanyalah rumah warga yang sangat sederhana.
            Kembalilah menginjak bumi, kembalilah ke jalan Allah subhanahu wa ta’ala. Jangan biarkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab semakin yakin, bahwa syari’at Islam, hijrah, dan lain-lain itu memang hanya menjadi tameng dari maksiat-maksiat kita, hanya menjadi merk dagang untuk mempertebal dompet kita.

*ditulis untuk mengingatkan diri sendiri.

0 comments:

Post a Comment

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com